Hopeless

Hopeless
Simulasi Dulu, Neng



"Bang Alex dari dulu memang menyeramkan, Ris, wajar kalau kamu takut," ucap Om Ilham seraya terkekeh, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari kakak iparnya tersebut.


Setelah Faris agak tenang karena mendapatkan perhatian dari Nezia yang telah mengusap keringat pemuda tersebut, calon suami Nezia itu kembali berjabat tangan dengan sang calon ayah mertua.


"Beneran sudah siap, Nak Faris?" tanya Ayah Alex pelan, seraya tersenyum hangat.


"InsyaAllah, Faris siap," balas pemuda ganteng tersebut, mantap.


Dengan mengucap basmallah, Ayah Alex mengucapkan ijab untuk menikahkan satu-satunya anak perempuan yang dimiliki, dengan suara bergetar dan netra yang berkaca-kaca.


Ayah dua anak tersebut, menyerahkan putri bungsunya untuk dinikahi Faris, pemuda yang diharapkan dapat membimbing sang putri dan membahagiakan Nezia selamanya.


Bu Nisa yang sedari tadi menatap sang suami, ikut mengucurkan air mata, begitu pula dengan sang calon mempelai wanita. Nezia menangis haru dalam diam, hanya punggungnya saja yang terlihat sedikit berguncang, menahan isakan.


"Saya terima, nikah dan kawinnya Nezia Putri Alexander binti Alexander Jonathan Junior dengan mas kawinnya tersebut, tunai." Suara Faris yang terdengar bergetar, membuat tangis Nezia benar-benar pecah.


"Sah," ucap dua orang saksi, yang diberengi oleh semua keluarga yang hadir, membuat Nezia semakin tergugu.


Rasa haru sekaligus bahagia memenuhi dan menyesakkan rongga dadanya. Bahagia karena akhirnya Nezia menemukan seseorang yang akan dapat menjadi imam yang baik bagi dirinya.


Ya, Nezia sudah sangat yakin, bahwa Faris adalah sosok terbaik yang di hadirkan oleh Sang Maha Kuasa untuk menggantikan mantan calon suaminya yang ketahuan berselingkuh.


Faris mengucapkan rasa syukur dalam hati, usai mengucapkan qabul sebagai penerimaan dirinya atas Nezia untuk menjadi istri, pendamping hidup, sekaligus belahan jiwanya.


Pemuda yang saat ini mengenakan stelan jas berwarna putih tersebut mengusapkan kedua telapak tangan di wajah, seraya mengusap bulir bening yang hampir saja menetes. "Alhamdulillahirobbil'alamiin."


Faris kemudian menoleh ke arah sang istri dan tersenyum manis pada wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya tersebut.


Ya, Faris juga merasa sangat terharu. Do'anya selama ini telah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, do'a agar dirinya mendapatkan istri yang sholehah.


Pemuda tersebut bahkan mendapatkan bonus, selain istrinya adalah wanita yang cantik dan baik, Nezia juga berasal dari keluarga kaya raya dan juga baik.


"Jangan menangis, Sayang," bisik Faris yang kemudian mengambil tissue dan mengusap lembut air mata wanita yang telah sah menjadi istrinya.


"Cie ... romantisnya pengantin baru," ledek Mirza yang duduk di barisan bangku belakang kedua mempelai.


Faris sekilas menoleh ke belakang dan tersenyum pada kakak sepupu Nezia tersebut.


Pemuda yang telah resmi menjadi menantu di keluarga Alexander tersebut kemudian memasangkan cincin kawin di jemari manis Nezia dan wanita cantik itu lantas mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim.


Bergantian, Nezia memasangkan cincin di jari manis Faris. Pemuda ganteng yang telah menjadi suami Nezia itu kemudian mencium kening sang istri dengan segenap jiwanya. "I love You, Neng Ganis," bisik Faris di telinga Nezia, membuat jantung pengantin wanita tersebut berdebar.


Nezia tersenyum, tersipu malu.


Setelah semua acara mereka lalui, semua orang kemudian ikut khusyuk mengaminkan ketika Kakek Ilyas membaca do'a sebagai penutup rangkaian acara ijab qabul tersebut.


Begitu pula dengan Faris dan Nezia, mereka berdua menengadahkan tangan ke langit, mengaminkan do'a sang kakek yang mengharapkan pernikahan mereka berdua langgeng dan sakinah mawaddah warohmah hingga kelak ke syurga-Nya.


🌹🌹🌹


Kamar tersebut telah disulap menjadi kamar pengantin yang bertabur bunga mawar yang harumnya semerbak memenuhi ruangan yang luas. Bukan hanya di atas ranjang, bahkan di dalam 𝘣𝘒𝘡𝘩𝘢𝘱 pun telah dipenuhi taburan mawar merah.


"Sini, Neng. Aku bantuin buka aksesorisnya," tawar Faris yang langsung mendekat, begitu Nezia mendudukkan diri di meja rias.


Nezia tersenyum dan mengangguk. Telaten, Faris melepas satu persatu aksesoris yang memenuhi kepala sang istri, termasuk hijab Nezia


"Boleh lihat rambutnya tergerai, tidak?" pinta Faris seraya menatap sang istri melalui pantulan cermin di hadapan mereka berdua. Kedua tangan Faris menangkup pundak Nezia.


Istri cantik Faris tersebut mengangguk dan kemudian segera membuka ikatan rambutnya.


Faris segera mengambil sisir dan kemudian menyisir rambut hitam, panjang dan lembut milik Nezia. Aroma wangi shampo menguar, memenuhi rongga penciuman Faris.


Pemuda itu kemudian mencium puncak kepala sang istri dengan dalam dan menikmati keharuman rambut Nezia.


"Kamu cantik sekali, Neng," bisik Faris sambil membungkukkan badan dan mensejajarkan kepalanya dengan kepala Nezia. Pemuda tersebut menatap sang istri dengan intens dari arah samping, membuat Nezia menoleh ke kanan.


Degup jantung Nezia langsung berpacu cepat, ketika jarak wajah mereka hanya beberapa inci saja. Nezia bahkan dapat merasakan hangatnya hembusan napas sang suami.


"Kang, Inez mau ganti pakaian dulu, ya," pamit Nezia yang ingin segera beranjak karena grogi berada sedekat itu dengan laki-laki untuk telah menikahinya.


"Kenapa, hem? Sudah gerah? Begini saja dulu, Neng. Aku masih pengin berduaan sama kamu," cegah Faris yang masih memegang pundak Nezia.


"Kita masih punya waktu cukup untuk berduaan, kan?" lanjutnya bertanya.


Nezia mengangguk, membenarkan.


Ya, mereka berdua memang memiliki waktu yang cukup panjang untuk berduaan hingga bakda magrib nanti. Sebelum acara resepsi yang akan di gelar pada jam tujuh malam, dimulai.


"Neng, kita ngapain yuk, untuk mengisi waktu," ajak Faris seraya tersenyum menggoda.


Nezia mengerutkan dahi. "Mau ngapain memangnya, Kang?" tanya Nezia yang pura-pura belum mengerti, sementara jantungnya semakin berdetak tak karuan.


"Ya, ngapain aja, Neng. Main petak umpet juga boleh," balas Faris yang tersirat makna di balik ucapannya.


Nezia terkekeh pelan karena menganggap jawaban sang suami hanyalah banyolan semata. "Kita ini bukan anak kecil, Kang. Masak main petak umpet," protes istri Faris tersebut, masih dengan tawanya.


"Kita memang bukan anak kecil, Neng, tetapi kita mau bikin anak kecil. Kita main petak umpet di dalam selimut sana, yuk," balas Faris yang semakin mendekatkan wajah, hingga membuat jantung Nezia semakin cepat berdetak.


Nezia langsung menghentikan tawanya. "Se-sekarang, Kang?" tanya Nezia tergagap.


Istri Faris tersebut merasa belum siap jika harus melakukannya sekarang, apalagi ini masih terlalu sore dan malam nanti mereka juga masih ada satu acara lagi.


Faris menggeleng-gelengkan kepala, seraya tersenyum lebar mengetahui kegugupan sang istri. "Kita simulasi dulu, Neng."


β˜•β˜•β˜•β˜•β˜• bersambung ...