
Luna bangun dari tidurnya dan menghirup udara yang terasa sangat dingin. Gadis itu sudah menyalakan pemanas ruangan, namun tetap saja hawa dingin membuat napasnya tak terasa nyaman. Gadis itu ingin bergelung di dalam selimut lebih lama, namun dia jugaa harus bangun dan menjelajahi negeri para Oppa yang sangat dia idamkan sejak lama.
" Dingin banget kayak dia. Kenapa gue kabur ke sini waktu dingin gini sih? Kenapa gue gak googling dulu coba? Emang dasar gak pernah pakai rencana matang Lo Lun," ujar Luna yang bangun dari tidurnya namun tetap memakai selimut sampai kamar mandi. Gadis itu mandi dengan air hangat yang cenderung panas lalu segera memakai pakaian yang tebal.
Setelah memastikan pemanas ruangan mati, gadis itu keluar dari kamar dan pergi bersama teman yang sekaligus menjadi translatornya di tempat ini. Mereka pun memutuskan untuk berjalan – jalan dan menikmati wisata kuliner yang ada di negara itu. Yah, meski Luna berkata tak mau berhubungan dengan keluarganya, tetap saja papanya itu membiayai hidupnya seratus persen.
Bahkan Luna langsung diberikan uang saku yang sangat banyak untuk biaya hidupnya sekaligus dengan pesan jika uang itu habis, Luna wajib meminta lagi pada Tuan Wilkinson. Ah, Luna harus bersyukur lahir dari keluarga ini. Mereka benar – benar tak menghubungi Luna, mereka hanya membiayai hidup Luna.
" Lun, kalau Lo mau ngomong, Lo agak bisik aja ya ke gue. Karna orang sini tuh suka aneh kalau lihat orang yang gak bisa bahasa korea. Takutnya sih Lo kena rasisme di sini. Gak semua gitu sih, tapi kan antisipasi aja," bisik teman Luna yang membuat gadis itu mengangguk.
Untung saja Luna memiliki kulit pusat nan bersih, sehingga mereka tak memandang Luna dengan aneh ( tidak bermaksud unyuk menyinggung pihak manapun, jika tidak berkenan mohon dimaafkan). Gadis itu langsung mampir ke sebuah pujasera menjual makanan khas korea. Luna meminta teman Luna itu membeli untuk mereka.
" Ini enak banget, asli, Lo juga ngerasa enak gak sih?" tanya Luna yang menatap ke arah Lira, temannya. Lira menggelengkan kepalanya dan menatap makanan yang masih dia pegang. Dia tak suka rasanya, mungkin karna dia memiliki lidah Indonesia yang kental, sementara Luna yang sering 'bermain' ke luar negeri hingga lidahnya mudah beradaptasi.
" Lun, gawat, Lo jangan nengok, Lo bakal nyesal kalau nengok," ujar Lira yang panik menatap seseorang yang tidak jauh dari mereka. Luna itu seperti anak TK, sudah dibilang jangan, otaknya malah memproses untuk melakukannya hingga gadis itu menoleh bertepatan dengan orang itu menatap ke arah Luna.
Sontak saja gadis itu merasa kaget. Dia hendak berbalik, namun dia merasa percuma dia lari, lelaki itu pasti akan menemukannya. Gadis itu sudah menduga, harusnya dia tak percaya pada papanya. Papanya sangat sayang pada orang ini, bahkan mungkin lebih menyayangi orang ini dibanding Jordan. Entah apa yang sudah orang ini lakukan sehingga papanya menganggap lelaki ini sangat berharga.
" Boleh minta waktunya sebentar? Aku perlu bicara sama kamu sebentar," ujar orang itu yang membuat Luna menatap ke arah Lira. Namun gadis itu tak peka dengan pandangan minta tolong Luna, gadis itu malah pamit dan membiarkan mereka berdua berjalan bersama.
" Jangan di sini, di taman yang ada di sana aja," ujar Luna dengan tenang. Gadis itu tak bertingkah sama sekali, dia sangat tenang. Bahkan Lelaki itu merasa canggung dengan Luna yang seperti ini, dia lebih nyaman menghadapi Luna yang berisik dan ramai, dia sudah terlalu terbiasa dengan Luna yang seperti itu.
" Kamu tahu kan kalau aku ke sini mau minta maaf?" tanya Lelaki itu yang membuat Luna mengangguk. Gadis itu tak mau melihat ke arah lelaki yang ada di sampingnya, dia memilih menatap pohon yang tak memiliki bunga karna saat ini musim dingin, mereka ditutupi oleh salju.
" Aku tahu aku yang udah bikin kamu berubah sampai kayak gini. Aku yang udah bikin kamu sampai pindah ke negara ini dan bahkan aku yang udah bikin kamu sekecewa ini, aku minta maaf," ujar Darrel yang tak ditanggapi oleh Luna. Gadis itu masih berjalan santai ke arah lain, tetap menikmati suasana yang santai.
Bahkan Luna kagum dnegan dirinya sendiri, dia bisa mengabaikan Darrel dan bersikap dia tak terpengaruh sama sekali dengan lelaki itu. Luna menyadari satu hal saat ini. Gadis itu sadar jika selama ini dia bukan tak bisa bersikap mandiri, namun orang di sekitarnya yang tak pernah mengijinkannya melakukan sesuatu sendiri.
Dia selalu dituruti hingga dia akan merasa kesal jika permintaannya tak dituruti, dan dia juga mudah terpengaruh ( mudah luluh) jika orang di sekitarnya merasa sedih atau memeohon padanya. Namun setelah dia mengalami semua hal buruk tempo hari, dia bisa berubah, dia tak mudah terpengaruh dan bahkan menganggap tak ada orang yang bisa dikasihani di dunia ini.
Tidak, Luna bukan kehilangan hati nurani. Gadis itu hanya merasa lelah menjadi orang yang hangat. Itu sebabnya pula Luna memilih Korea Selatan sebagai destinasinya selain Jepang, karna di sini orang – orang bersikap Individual, Luna membutuhkan orang – orang seperti itu untuk 'belajar', setidaknya dia mau di kemudian hari tak akan dimanfaatkan oleh siapapun lagi.
" Aku tahu kamu gak akan maafin aku dalam waktu dekat. Aku akan tunggu sampai kapanpun itu, aku gak akan paksa kamu. Aku tahu semua yang dipaksakan gak akan pernah baik. Aku percaya kamu akan membaik suatu hari nanti dan kamu bakal membuka hati kamu buat aku lagi."
" Kak Darrel ingat gak waktu kita ke London Eye, kak Darrel nangis dan kak Darrel minta Luna buat percaya sama kak Darrel apapun yang terjadi. Kak Darrel ingat itu kan?" tanya Luna memotong pembicaraan lelaki itu. Luna mendudukan dirinya di kursi yang ada di sana, diikuti oleh Darrel yang duduk di sebelahnya.
" Saat itu, Luna udah percaya sama kak Darrel. Bahkan sampai Luna tahu kak Darrel akan menikah sama orang lain, Luna masih percaya kalau ada alasan logis untuk semua maknaya Luna datang ke panti saat itu. Tapi saat lihat kak Darrel yang menatap Luna dengan tatapan depresi Luna sadar akan satu hal kak," ujar Luna yang membuat Darrel merasa penasaran.
" Kak Darrel gak bisa percaya sama Luna. Kak Darrel gak percaya kalau Luna mau dan bisa menampung semua yang kak Darrel pendam. Apa itu adil? Kak Darrel minta Luna buat percaya, tapi kak Darrel sendiri gak bisa lakuin itu."
Darrel tak menjawab. Dia juga baru menyadari hal itu. Selama ini dia mengira perasaan itu muncul karna dia tak mau merepotkan Luna, namun saat Luna mengatakannya, dia baru sadar jika selama ini dia takut Luna tak mau mendengar, dia takut Luna tak mau menerima dan dia takut Luna akan pergi darinya. Ternyata semua rasa itu muncul karna dia tak bisa percaya pada Luna.
" Seandainya kemarin kak Darrel cerita ke Luna masalah Karel, gak mungkin kan kak akhirnya jadi kayak gini? Dan Luna baru sadar, kak Darrel tahu berita itu sebelum datang ke Inggris kan? Makanya kak Darrel buru – buru datang ke Inggris buat nyusul Luna. Apa Luna salah?" tanya Luna dengan nada santainya. Darrel menggelengkan kepalanya, dia membenarkan apa yang Luna katakan.
Bagaimana bisa Darrel melupakan semua hal itu? meski pada akhirnya dia tersadar dan membuat rencana untuk mengajak Luna bertunangan resmi, tetap saja dia harus melukai perasaan gadisnya. Dia harus membuat Luna yang tulus dan polos menangis seperti orang yang kehilangan akal. Lagi – lagi, karna dia tidak percaya pada Luna dan hatinya.
" Karna semua udah berlalu, Luna gak mau ungkit semua hal itu, Luna mau hidup ini berorientasi ke depan. Luna akan melupakan semua dan memulai hidup baru. Hidup yang benar- benar baru," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam. Apakah itu artinya tak ada kesempatan lain untuknya? Apakah Luna hanya memberikan satu kesempatan an dia sudah menyia – nyiakan kesempatan itu?
" Luna gak bisa lagi jadi kekasih kak Darrel. Tapi Luna tetap bakal simpan semua pemberian kak Darrel. Luna tahu kak Darrel masih kaya dan gak akan minta semua benda itu dikembalikan. Biarkan hati Luna sembuh dengan sendirinya. Kalau memang Luna benar – benar udah cinta sama kak Darrel, Luna akan kembali lagi ke kak Darrel," ujar Luna yang membuat Darrel mengangguk paham.
" Aku bisa paham, aku paham kenapa kamu seperti ini dan aku paham kamu pasti perlu waktu. Bahkan jika di kemudian hari kamu menemukan cinta yang baru. Lelaki yang bisa jaga kamu tanpa harus nyakitin kamu kayak aku, aku bakal ngerasa bahagia buat kamu," ujar Darrel dengan tulus.
Untuk pertama kali setelah kejadian itu, Darrel melihat Luna tersenyum. Lelaki itu bisa melihat Luna tersenyum meski itu hanyalah senyum yang tipis. Luna memilih untuk diam dan memainkan kakinya yang tertimbun salju. Padahal Darrel saja sudah merasa sangat kedinginan, namun gadis itu malah masih bisa beermain dengan benda itu.
" Kita putus dari kasus pacar atau tunangan. Tapi bukan berarti kita putus sebagai teman kan? Kita masih bisa berteman kan? Kamu mau maafin aku kan?" tanya Darrel yang mengeluarkan jari kelingking dari jaketnya dan menyodorkan tangan itu ke Luna. Luna menatap tangan itu sesaat, namun kemudian dia mengeluarkan juga jariya dan menautkan jarinya ke Jari lelaki itu.
" Luna akan maafin kak Darrel. Lagipula Luna jug a berterima kasih. Kejadian kemarin itu kayak tamparan keras buat Luna dan membuat Luna membuka mata dalam waktu singkat. Luna langsung sadar sikap baik luna gak selamanya berbalik dengan hal baik ke Luna."
" Luna hidup dengan terlalu naif dan percaya bahwa setiap orang itu baik dan dia memiliki kesempatan untuk bahagia. Tapi Luna tak pernah sampai berpikir jika kebahagiaan orang itu akan menyebabkan penderitaan untuk Luna," ujar Luna yang masih tak dimengerti oleh Darrel, lelaki itu memeilih untuk menyimak saja.
" Luna sadar. Saat kita ingin orang bahagia, kita tetap harus memprioritaskan kebahagiaan kita. Luna selalu memberikan punggung Luna untuk diinjak oleh mereka agar mereka bisa menyebrangi bara api dengan nyaman. Luna selalu berpikir mereka sudah menderita dan berhak bahagia, tapi nyantanya itu metode yng keliru."
" Terima kasih sudah memberikan tamparan itu dan buat Luna sadar, sampai akhirnya Luna tahu apa yang ingin Luna lakukan di kemudian hari dan dengan cara apa Luna akan menikmati hidup. Terima kasih untuk semua hal itu," ujar Luna yang membuat Darrel tersenyum tipis.
Luna menghadap ke depan dan bermain napasnya sendiri, dia bisa melihat asap keluar dari dalam hidungnya saking dinginnya suhu di tempat ini. Sementara Darrel sibuk mencari sesuatu di kantong kajetnya yang tebal, mungkin lelaki itu kesulitan karna benda yang dia cari terselip di jaket tebal itu.
" I have something for you," ujar Darrel mengeluarkans esuatu dari kantongnya. Luna menatap benda yang Darrel keluarkan dan gadis itu langsung melebarkan mulutnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya tanpa sadar, membuat lelaki itu tersenyum tipis karna respon Luna yang sedikit mengecewakan dirinya.
" Kalau itu untuk Luna, Luna gak bisa terima. Luna sudah bukan siapa – siapa kak Darrel, Luna gak mau terima barang seperti itu dari kak Darrel," ujar Luna yang membuat Darrel menggeleng.
" Ini kalung liontin tanda persahabatan kita. Walau kamu udah bukan pacar aku, kamu masih bisa jadi sahabat aku kan? Kamu mau kan terima dan pakai liontin ini kapanpun dimanapun?" tanya Darrel yang membuat Luna berpikir.
" Hanya sebagai teman kan?" tanya Luna memastikan. Lelaki itu menganggukan kepalanya dan membuat Luna tersenyum tipis dan mengangguk. Darrel meminta ijin untuk memasangkan kalung itu di leher Luna dan menatap kalung yang berkilau di kulit putih mulus itu.
" Yeppo," ujar Darrel pelan. ( Yeppo bermakna cantik dalam bahasa Korea)
" Ya, Luna tahu Luna Yeppo," jawab Luna santai dan kembali menatap ke depan.
" Pasti semua cewek mau jadi teman kak Darrel kalau mereka tahu temenan sama kak Darrel bisa dapat kalung liontin emas berhias berlian asli kayak gini," ujar Luna dengan lirih sambil menatap ke kalungnya sebentar.
" Apa Lun?" tanya Darrel yang ternyata tak mendengar apa yang Luna katakan.
" Gwenchanayo, ( Tidak apa – apa) Luna Cuma ngerasa kedinginan," ujar Luna sambil menghembuskan napas yang berasap itu.