
" Duh, kalau Luna emang jalan dari panti, gak mungkin dia sejauh ini, apa dia dapat tebengan ya? Tapi masak iya sih? Duh Luna, sampai kapan coba kamu bakal bikin aku khawatir kayak gini?" Darrel terus menjalankan mobilnya dengan pelan sambil melihat jalan sekitar kalau – kalau dia melihat Luna berjalan, namun dia tak kunjung menemukan gadis itu.
Darrel akhirnya mencari jalan yang sedikit lebih luang dan berputar arah, karna dia memiliki pikiran Luna mungkin berjalan ke arah yang salah. Sebelum hari semakin petang dan bertambah gelap, lebih baik dia menemukan gadis itu, apalagi tempat sekitar sini cukup sepi, dia takut Luna terluka dan tak ada yang mengetahuinya.
Darrel kembali melewati panti asuhan, berhenti sejenak untuk memastikan Luna tidak berada di sana dan kembali menjalankan mobilnya setelah dia yakin Luna tak ada di sana. Lelaki itu menjalankan mobilnya sedikit cepat. Kekhawatiran dalam hatinya bertambah besar dan dia merasa sesuatu terjadi pada Luna.
Namun beruntung, Darrel masih bisa melihat Luna dari kejauhan, sudah berjalan tanpa alas kaki dan memegang sepatunya di tangan. Gadis itu tampak melindungi sepatunya kerna memang jalanan yang berlumpur akan merusak sepatu itu. Jika diingat lagi, sepatu itu adalah pemberian Darrel untuk Luna, gadis itu pasti merasa sepatu itu sangat berharga hingga tak mau merusaknya, manis sekali.
Lelaki itu mematikan mesin mobilnya dan memilih untuk berjalan di belakang Luna, dia ingin tahu apa yang Luna pikirkan sampai dia melakukan hal ini. Bukankah Luna yang mengajaknya untuk pergi ke tempat itu? Mengapa sekarang Luna merasa kessal dan pergi tanpa berpamitan? Pertanyaan itu ada di dalam pikiran Darrel.
" Apa waktu udah bikin hubungan ini gak istimewa lagi? Bahkan kak Darrel gak coba buat kasih tahu gue kalau dia pulang ke Indonesia dan bahkan bisa datang ke tempat itu. Apa gue terlalu berlebihan? Tapi wajar kan kalau gue ngerasa dibohongin sama kak Darrel? Gue gak ketemu dia hampir satu bulan, sedangkan dia dua minggu lalu ada di Indonesia."
" Mungkin Lo yang terlalu naif Lun, orang gak akan pernah sama setelah bertahun – tahun, apa lagi Lo emang gak bisa apa – apa, wajar lah dia bosan sama Lo," ujar Luna yang mulai melamun dan sengaja berjalan dengan cara yang tidak benar. Gadis itu seakan sengaja membuat lumpur itu mengenai dan mengotori kakinya.
Namun Luna salah perhitungan, ketika dia memasukkan kakinya ke dalam lumpur itu, dia malah tersandung batu, membuat tubuhnya condong ke depan dan tersungkur. Darrel yang berjark cukup jauh langsung berlari dan menghampiri Luna. Jika dia tahu Luna akan jatuh, dia pasti akan menangkapnya.
" Luna, astaga, kamu kok bisa nyungsep gini sih. Kalau ini season satu, pasti aku udah datang tepat waktu terus pegang kamu sebelum kamu jatuh, Authornya nyebelin banget di season dua ini," ujar Darrel yang membuat Luna mengernyitkan keningnya karna bingung.
" Ngomong apa sih? Kok gak jelas banget? Season satu apanya? Mending kak Darrel bantu Luna, kalau gak mending pergi dari sini sekarang," ujar Luna dengan kesal. Kakinya sedikit terperosok dan rasanya cukup menyakitkan. Hal itu tentu membuat Darrel berniat untuk sedikit menggoda gadis itu. Darrel bangkit dan membuat Luna memandangnya dengan heran.
" Ya udah kalau begitu, aku pergi dari sini sekarang," ujar Darrel dengan wajah datar dan memandang Luna dengan prihatin, lalu membalikkan tubuhnya tanpa melangkahkan kakinya sedikitpun. Luna yang melihat itu tentu saja marah, gadis itu langsung menangis tanpa aba – aba dan membuat Darrel berbalik karna kaget.
" Gak guna, gak guna, dia udah gak peduli lagi sama gue. Dia udah gak sayang sama gue. Dia lebih pilih Karel dibanding gue, bodo amat, gue gak akan mau maafin dia, huaaaa." Darrel langsung berjongkok dan memeluk Luna meski gadis itu kotor oleh lumpur. Luna memberontak dan mulai memukul kepala Darrel dengan asal, membuat seluruh wajah dan kepala lelaki itu dipenuhi oleh lumpur.
" Aku bercanda sayang, aku bercanda. Aku gak mungkin lah tinggalin kamu di tempat kayak gini, udah, bangun, banyak bakteri loh di lumpur ini," ujar Darrel yang membuat Luna membeku seketika. Gadis itu teringat sesuatu yang belakangan hari ini sangat mengganggu dirinya. Dia melihat kakinya dan seluruh badannya yang dipenuhi benda menjijikan itu.
" Huuuaaaa, Huuuaaa, Kotor, badan Luna, badan Luna kotor. Huaaa." Darrel makin terkejut karna Luna semakin menangis dan kali ini tampak wajah ketakutan Luna melihat lumpur – lumpur itu. Dengan sigap Darrel mengambil ketiak Luna dan langsung mengangkat badan gadis itu sampai dia terduduk.
" Ayo kita ke panti terus kamu mandi, dari pada kamu tambah kotor loh," ujar Darrel yang membuat Luna makin keras menangis, gadis itu menyentk kakinya dan menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia tidak mau dan tidak akan mau untuk kembali ke tempat itu, bahkan dia berencana mneutup tempat itu secepatnya.
" Ya udah kalau gak mau ke sana. Aku dengar ada sendang di dekat sini, kamu mau? Di perkampungan gini kan banyak sendang gitu," ujar Darrel yang membuat Luna emmbuka matanya dan melihat Darrel dengan wajah bertanya, namun dia masih tak bisa menghentikan tangisnya karna dia masih sangat takut dengan lumpur – lumpur ini.
" Sendang itu kolam air bersih, kayak sumber mata air gitu, tapi gak sumber mata air juga sih, pokoknya gitu, kamu mau? Aku lihat ada di sekitar sini," ujar Darrel yang membuat Luna makin kencang menangis. Hal itu tentu saja membuat Darrel semakin bingung karna dia tak merasa melakukan sesuatu yang salah. Apa yang membuat Luna menangis?
" Sesering itu kah kak Darrel ke tempat ini? Kenapa kak Darrel bahkan hafal tempat – tempat yang ada di sekitar sini? Jadi bener kak Darrel sering diam – diam ke sini tanpa kasih tahu Luna?" tanya Luna dengan terbata karna terhalang tangisnya. Darrel langsung mengusap kepala Luna dan mengajak gadis itu masuk ke mobil.
" Aku sama bang Jordan kan ada proyek di tempat ini Lun, mau perluasan lahan mumpung tanahnya masih murah dan belum terjangkau pihak lain. Aku juga udah sering bilang ke kamu, tapi kamunya yang nolak buat pergi ke sini kan? Lupa?" tanya Darrel pelan, Luna mengangguk paham dan enggan untuk menjawab, gadis itu langsung terdiam setelahnya.
" Mau gak ke sana? Dari pada kamu kotor kayak gini sampai rumah, terus itu bakteri – bakterinya lagi pesta di kulit kamu, hiiii." Darrel malah menakut – nakuti Luna dengan sengaja, membuat Luna kembali terisak dan memandang tubuhnya yang amat kotor. Darrel yang melihat itu langsung berhenti berbicara dan segera datang ke tempat yang dimaksudkan olehnya.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud oleh Darrel. Lelaki itu menepikan mobilnya dan melihat Luna yang masih meremas tangannya sendiri. Lelaki itu mengeluarkan handuk dari sebuah wadah yang ada di kursi belakang dan sebuah sabun yang juga bisa digunakan sebaai sampo. Darrel memberikan kedua benda itu pada Luna
" Kamu sekarang mending mandi dulu, di kursi belakang masih ada baju kamu kok, aku ingat pernah simpan. Tapi Cuma baju sama celana, jadi… yah kamu paham kan?" tanya Darrel yang dijawab gelengan kepala oleh Luna. Darrel menepuk kepalanya dengan gemas.
" Haduh, masak aku harus jelasin juga? Kamu kan udah dua puluh dua tahun Lun, masak gak ngerti?" tanya Darrel dengan sedikit frustasi, Luna tetap menggelengkan kepalanya dengan polosnya.
Gadis itu keluar dari mobil dan masuk ke dalam ebuah bilik kecil yang dia duga sebagai sendang itu. Luna tak menyangka masih ada tempat seperti ini di kota ini. Mungkin tempat ini memang belum dijangkau oleh orang kota yang tamak, jika sudah, pasti orang tamak itu akan merusak keasrian tempat ini.
" Dua orang di tempat sepi kayak gini, ceweknya lagi mandi, duh, rasanya gue mau berbuat hal yang sudah legal di umur gue. Hahaha," ujar Darrel dengan pelan agar Luna tak bisa mendengarnya. Lelaki itu kembali memeriksa sekitar, memastikan tidak ada yang mengintip atau melihat calon istrinya itu.
Luna keluar dari dalam sendang itu satu jam kemudian, membuat Darrel heran apa saja yang dilakukan oleh gadis itu. Luna keluar dengan senyumnya dan mengembalikan handuk basah serta botol sabun yang kini kosong, padahal tadi botol itu masih terisi nyaris penuh. Dia tentu langsung melihat Luna seakan menanyakan tentang isi botol itu.
" Luna ngerasa gak bersih – bersih, jadi Luna mandi lagi berkali – kali, terus sabunnya habis, padahal belum bersih, ya udah deh Luna keluar," ujar Luna dengan wajah polosnya. Gadis itu bahkan langsung masuk ke dalam mobil dan mngeluarkan antiseptik, lalu menyemprotkannya ke bagian tubuh yang bisa dia jangkau, terutama di bagian kaki.
Darrel menggelengkan kepalanya lagi dan menatap Luna dengan sedikit kasihan. Gadis itu akan tersiksa jika terus mengalami kondisi kejiwaan yang seperti ini. Bahkan jika bertambah parah, Luna akan menyemprotkan antiseptik ke setiap barang yang dia pegang. Setidaknya itulah yang dibaca oleh Darrel tentang penderita Mysophobia.
" Kursi bagian depan kotor semua, kamu duduk di tengah aja. Kalau mau tidur juga gak papa. Gak usah disemprot antiseptik, udah aku semprot tadi," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Gadis itu langsung duduk di kursi tengah sementara Darrel masuk ke dalam mobil di kursi kemudi untuk membawa mereka pulang.
" Gimana rasanya mandi di tempat kayak igtu? Bersih kan airnya?" tanya Darrel pada Luna karna gadis itu diam saja sedari tadi. Luna melihat ke arah Darrel dan memalingkan wajahnya lagi, dia masih neggan untuk bicara pada lelaki itu karna maslaah di panti asuhan tadi. Hal itu membuat Darrel merasa sedih, dia tak menyangka reaksi Luna akan sampai seperti ini.
" Kita udah pacaran enam tahun loh Lun, masak masalah kecil aja jadi kayak gini?" tanya Darrel yang membuat Luna melihat Darrel dengan sewot. Tak perlu Darrel memberitahunya, Luna juga sudah ingat tentang hubungan mereka yang sudah snagat lama itu.
" Justru kalau kak Darrel ingat kita udah enam tahun, kak Darrel gak bohong sama Luna, kak Darrel gak main – main di belakang Luna. Apa Luna sebegitu membosankannya sampai kak Darrel suka sama cewek lain?" tanya Luna dengan air mata yang kembali mengalir dari matanya. Kali ini bukan karna Mysophobia, namun karna hatinya sakit mengingat hal itu lagi.
" Kamu itu salah paham sayang, aku gak pernah ada main sama cewek lain manapun, masalah perusahaan aja bikin kepala aku botak rasanya. Mana berani aku ada main sama cewek lain?" tanya Darrel yang merasa tuduhan Luna tak berdasar, dia bahkan sangat mencintai Luna sejak awal, tak mungkin berpaling semudah itu.
" Terus kak Darrel mau ngejelasin kayak gimana tentang karel? Tentang kak Darrel yang datang ke panti asuhan tanpa kasih tahu Luna? Apa kak Darrel punya alasan juga? Apa kak Darrel mau nyangkal hal itu juga?" tanya Luna dengan sinis, tuduhan itu membuat Darrel menghela napasnya dan memijit pelipisnya.
" Hari itu aku ke panti asuhan karna disuruh sama bang Jordan. Aku diminta buat nanyain kalau panti butuh lahan lebih luas, habis itu aku balik lagi ke Paris. Itu pun aku ke panti gak sampai setengah jam Lun, aku gak ada apa – apa dan buat niat aku sendiri buat ke sana tanpa kamu," ujar Darrel yang masih belum bisa membuat Luna merasa puas.
" Kenapa kak Darrel gak bilang sama Luna? Apa susahnya pamit sama Luna? Walau gak ketemu atau gak nyamperin Luna, setidaknya Luna tahu kak Darrel dimana dan luna gak kaget waktu orang lain yang kasih tahu Luna, kenapa kak?" tanya Luna yang masih tak bisa terima dengan jawaban Darrel.
" Iya, aku gak bilang karna aku gak mau kamu ngerasa sedih, aku pulag ke Indonesia tapi gak nyamperin kamu. Tapi akhirnya aku coba ngehubungin kamu, kamu nya yang gak bisa dihubungin, sementara aku harus cepat – cepat take off, aku harus matikan hpku lagi."
" Emang iya Luna gak bisa dihubungin? Ponsel Luna nyala terus kok, gak pernah mati sama sekali," ujar Luna dengan penuh pembelaan, merasa alasan Darrel tak masuk di akal dan tak bisa diterima oleh dirinya.
" Nah, gini nih kalau cemburu buta, sampai gak ingat, cepat pikunnya. Dua minggu lalu ponsel kamu jatuh dari balkon terus mati total, kamu ga lansung beli sampai dua hari. aku aja ingat kamu cerita tentang hal itu kok, tapi aku lupa gak kasih tahu kamu tentang panti," ujar Darrel yang membuat Luna terdiam.
" Jadi, kak Darrel gak ada apa – apa sama Karel? Kak Darrel gak suka sama dia?" tanya Luna pelan, gadis itu ingin memastikan sekali lagi untuk membuatnya lega. Darrel menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tegas, dia menatap Luna melalui spion dengan sekilas.
" Buat dapetin kamu itu susah banget Lun, bahkan buat bikin kam u sayang sama aku juga susah, kamu pikir aku bakal main api dengan mudah? Gak akan. Aku terlanjur cinta mati sama kamu, aku anggap Karel sebagai adik aku, itu pun kamu sendiri yang minta aku buat carikan dia donor mata. Aku gak ada hubungan spesial sama dia," ujar Darrel yang membuat Luna melega.
" Iya Luna percaya, maaf udah buat kak Darrel marah sama Luna, Maaf kalau Luna kekanak – kanakan," ujar Luna dengan pelan. Dia tahu Darrel marah atau sedikit kecewa, terdengar dari cara bicara lelaki itu yang terburu – buru.
" Aku gak marah, aku Cuma gak nyangka kamu sampai sejauh itu, kabur – kaburan dari aku. padahal aku udah bilang aku bakal jelasin semua ke kamu, tapi kamu gak percaya sama aku. Lain kali, kalau kamu ada apa – apa, tanyain dulu ke aku, aku gak mungkin bohong sama kamu," ujar Darrel dengan nada yang lembut.
Luna tersenyum hangat mendengar hal itu. Darrel memang masih bersikap lembut, namun lelaki itu mulai menegaskan pada Luna perannya sebagai lelaki, yang nantinya akan menjadi kepala keluarga. Dia tak ingin Luna terlalu mendominasi dan membuat hubungan mereka menjadi tidak imbang dan tak sehat.
Ah, cara Darrel menjaga utuhnya hubungan ini, Luna semakin mencintainya.