
Hari ketiga mereka ada di tempat itu. Pak Indra tak main – main dengan ancamannya. Dengan tega lelaki itu membangunkan Darrel dan Radith lalu meminta mereka menyaksikan bagaimana pak Indra membangunkan Luna. Dengan santai pria itu mengambil selang dan mulai mengisi akuarium itu dengan air, hal itu tentu membuat Darrel dan Radith merasa kaget.
Luna sendiri langsung bangun saat merasakan basah pada kakinya. Gadis itu langsung panik dan menggeliat, namun semakin banyak dia bergerak, dia semakin merasakan sakit pada semua tubuhnya. Gadis itu tetap berusaha untuk melepaskan diri, namun hasilnya sia – sia. Alhasil dia hanya bisa memekik sambil menangis, berharap belas kasihan dari pak Indra.
" Ampun, Ampun, lepasin Luna. Ampun, lepasin Luna," ujar Luna yang membuat Darrel dan Radith makin merasa miris. Nmaun mereka tak bisa melakukan apapun, bahkan mungkin saja pak Indra melakukan sesuatu yang buruk pada mereka jika mereka berteriak. Darrel sendiri langsung memalingkan wajahnya karna tak tahan melihat Luna yang tersiksa.
Air berhenti menglir dan mengisi akuarium sebatas leher Luna. Jika gadis itu bergerak, air akan terciprat dan itu tidak akan baik untuknya, gadis itu memilih pasrah dan diam saja di air yang cukup dingin itu. Mungkin Pak Indra sengaja melakukan hal ini untuk memandikannya. Luna belum mandi selama lebih dari tiga hari.
" Kau akan terus pada kondisi yang seperti ini sampai ayahmu datang. Dia tidak boleh meremehkanku dan menganggap apa yang aku katakan sepele. Semakin dia lama datang, semakin laam kau teremdan seperti itu, bahkan aku tak peduli kulitmu akan mengelupas karna hal ini," ujar Pak Indra yang sudah duduk lagi di sofa.
Pria itu membuka berkas yang dia bawa dengan gmbira, dia mengecek isi dan membacanya satu persatu, lalu segera bnagkit dari duduknya dan menghampiri Darrel. Darrel sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh pak Indra hingga dia tak begitu tertarik. Pak Indra sendiri langsung jongkok di hadapannya.
" Aku sudah mengambil alih semua harta keluarga Atmaja. Sekarang keluarga Atmaja benar – benar tak memiliki apapun lagi. Kau akan hidup miskin setelah keluar dari tempat ini. Ah, bahkan kalian semua akan hidup miskin, untukmu juga Radith," ujar pak Indra yang membuat Radith tak mengerti.
" Aku akan membuat semua hartamu masuk ke harta Wilkinson dan aku akan mengambil semua," ujar pak Indra yang membuat Radith terdiam. Dia bahkan tak pernah terlibat dengan perseteruan ini, namun dia harus ikut meenanggung akibatnya. Radith mencoba untung tenang dan tak menganggap hal itu suatu hal yang besar. Dia hanya ingin selamat dari tempat ini.
" Hah, aku tak sabar menunggu kedatangan ayahmu. Apakah kita harus bermain – main sebentar? Apa yang akan kita mainkan sekarang?" tanya pak Indra yang tidak betah untuk diam. Sebenarnya orang itu sedang gugup, dia waspada akan apa yang akan dilakukan oleh tuan Wilkinson. Dia menyiapkan banyak jebakan darat untuk orang itu.
" Ah ya, sebenarnya aku ingin memeberi kalian makan, tap iaku bisa melihat kalian sedang tidak napsu makan, entah apa yang akan aku lakukan? Aku juga tak bisa memaksa kalian untuk makan bukan?" tanya Pak Indra dengan nada yang mengejek, dia memegang pipi Luna dan menatap gadis itu dengan kasihan.
" Aku nyaris merasa kasihan padamu, namun aku masih mengingat jika kau adalah anak dari musuh terbesarku, aku tak akan membri ampun untukmu. Jangan terlalu menyalahkanku nona, aku hanya orang luar, kau harus menyalahkan ayahmu sendiri. Aku harap kau bisa melakukan itu," ujar Pak Indra yang sok merasa kasihan.
Pak Indra kembali berdiri dan menghampiri Darrel. Lelaki itu hanya meringkuk dengan keringat dingin yang sudah membasahi kepalanya. Darrel sudah tak memiliki energi lagi. Dia sudah merasakan sakit yang luar biasa akibat pukulan dan penyakit bawaannya sendiri, dia hanya bisa berharap semua akan segera berhasil.
" Darrel Atmaja. Kemarin kau sangat bersemangat dan bahkan kau bisa mengata- ngataiku dengan hebohnya. Namun kini kau hanya meringkuk seperti anak kucing kehilangan induknya. Apa kau merasa lelah? Apa kau akhirnya menyadari siapa lawanmu saat ini? Kau harus melakukan itu sejak awal agar aku tak harus menyakitimu seperti ini."
Pak Indra terus mengolok – olok anak – anak itu satu persatu. Sampai akhirnya dia bosan dan duduk di sofa untuk menunggu kedatangan tuan Wilkinson. Dia tak henti tersenyum jahat karna tahu apa yang dia inginkan akan segera menjadi kenyataan, dia tak sabar menjadi orang paling kaya di kawasan tuan Wilkinson berkarya.
Sekitar satu jam kemudian, terdengar suara helicopter yang sangat keras, menandakan tuan Wilkinson sudah datang. Pak Indra langsung memerintahkan orang – orangnya untuk menjaga 'sandera' mereka lebih baik lagi. Namun ternyata tak ada yang mencurigakan, tuan Wilkinson benar – benar datang hanya dngan pengawalnya seperti biasa, beliau juga membawa sebuah map seperti yang Pak Indra inginkan.
" Aku sudah datang dan aku membawa apa yang kau inginkan. Jadi kau bisa lepaskan mereka sekarang," ujar Tuan Wilkinson tanpa melihat ke anak – anak. Beliau langsung duduk dan meletakkan map yang dia bawa ke atas meja. Mata pria itu langsung melebar saat melihat kondisi anak – anaknya.
" APA APAAN INI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU?!" Teriak Beliau dengan emosi yang menggebu. Pak Indra langsung melambaikan tangannya, meminta Tuan Wilkinson untuk tenang, namun napas pria itu masih tak bsia teratur dengan tangan yang masih terkepal kuat, dia tak bisa terima Luna diperlakukan seperti itu.
" Kau harus tenang, aku sudah pernah bilang padamu, jika kau terlambat datang, mereka akan menerima akibatnya. Aku tak melakukan kesalahan dalam hal ini. Aku bahkan tak melukai Lunetta. Aku hanya memandikannya tanpa melepas ikatannya," uujar Pak Indra tanpa dosanya. Tuan Wilkinson tak bisa menerima alasan itu, namun beliau mengalah dan kembali duduk.
" Bagus kau datang dengan semua yang aku butuhkan. Kau harus menandatangani surat perjanjian ini dulu. Di sini menyatakan kau menarik semua set yang dimiliki oleh Radithya dan Kau akan memberikan itu padaku," ujar pak Indra tanpa beban sama sekali. Namun tdiak dengan tuan Wilkinson, beliau tak bisa menerimanya.
" Dia tak ada urusannya dnegan kekayaanku. Bahkan aku hanya meminjamkan modal yag nantinya akan dia bayar kembali. Dia memiiki kekayaannya sendiri. Bagaimana bisa kau mengambil hartanya saat masalahmu hanya padaku?" tanya Tuan Wilkinson yang tak membuat pak Indra menyerah. Pak Indra hanya mengdikkan bahunya dan menyodorkan kertas itu.
" Jika kau tak melakukannya, mereka akan mati," ujar Pak Indra dengan cuek, membuat tuan Wilkinson tak punya pilihan lain. Tuan Wilkinson mengambil sebuah pulpen, namun sebelum menandatangani kertas tersebut, tuan Wilkinson teringat sesuatu, beliau langsung meletakkan pulpennya dan menatap pak Indra yang bingung kenapa beliau berhenti.
" Aku tak akan melakukannya sebelum kau lepaskan mereka. Bagaimana jika kau tak menepati janjimu? Aku bahkan tak bisa percaya lagi padamu," ujar Tuan Wilkinson yang membuat pak Indra terdiam. Pak Indra memandang ketiga anak yang sudah tak bertenaga lagi, apalgi Darrel yang bahkan tak sanggup untuk mengangkat kepalanya.
" Oke, tapi karna hanya ada dua file di sini, kau hanya boleh membawa pergi dua orang dan sisanya akan menjadi tumbalku, karna setelah kau menandatangani semua ini, tak ada lagi yang bisa kau pertaruhkan denganku," ujar pak Indra yang membuat Radith dan Luna menatap ke arah tuan Wilkinson. Mereka menunggu keputusan dai tuan Wilkinson.
" Kau harus memikirkan siapa yang akan kau selamatkan. Jika Lunetta adalah yang pertama, aku akan segera melepaskannya sekarang dan dia tak perlu mati kedinginan di air es itu,," ujar pak Indra yang kembali membuat tuan Wilkinson khawatir. Bukan hanya tuan Wilkinson, ada satu anak yang sangat merasa khawatir di sini.
Melihat hubungan yang terjadi selama ini, tuan Wilkinson selalu berpihak pada satu anak diantara mereka, itu artinya sudah dipastikan yang satu lagi tak akan selamat dari tempat ini karna sudah dipastikans alah satu dari dua orang itu adalah Lunetta. Tuan Wilkinson hanya perlu memikirkan matang – matang siapa orang selanjutnya yang akan dia tolong .
" Lepaskan Lunetta dan aku akan menandatangani kertas ini," ujar tuan Wilkinson yang mengangkat surat perjanjian bersisi harta Radith yang dialihkan. Pak Indra langsung tertawa dan menggelengkan kepalanya, dia meminta tuan Wilkinson menandatangani terlebih dahulu sebelum dia melepaskan Luna. Tuan Wilkinson pun mengikuti apa yang diinginkan oleh pak Indra.
Luna keluar dari rumah itu dengan tubuh yang sudah basah kuyup, meninggalkan empat pria yang masih dalam keadaan panas untuk mencapai kesepakatan. Tuan Wilkinson meletakkan lagi pulpen yang dia pegang dan menatap ke arah dua anak yang tampak mengenaskan.
" Bagaimana mungkin aku harus meninggalkan salah satu di antara mereka di tempat ini? Aku tak bisa melakukannya," ujar tuan Wilkisnon sambil memegang kepalanya frustasi. Namun pak Indra tak mau tahu, pak Indra meminta salah satu orangnya untuk melakukan sesuatu. Dengans enang hati mereka melakukan apa yang pak Indra minta
~ plaaakkk
Mereka meninju bibir bagian ujung Radith, bahkan lelaki itu sampai terpelanting dan tali yang mengikatnya membuat goresan merah di tangannya. Radith langsung terkapar mendapat tinjuan itu, paalagi dia belum makan sejak tadi malam, dia tak memiliki tenaga lagi. Melihat Pak Indra tak main – main tentu membuat tuan Wilkinson semakin bimbang.
" Tolong beri pilihan lain aku harus melepaskan mereka berdua. Mereka masih terlalu muda dan aku tak bisa membiarkan mereka mati sia – sia," ujar Tuan Wilkinson yang mulai melemah, hal itu tentu membuat pak Indra takjub. Beliau tak menyangka tuan Wilkinson bisa lemah sampai seperti ini.
" Wah, aku senang melihatmu sampai memohon seperti ini. Jika aku tahu ini adalah kelemahanmu, aku akan melakukannya sejak lama, kenapa aku harus menunggu belasan tahu nutnuk melakukannya?" tanya pak Indra dengan nada yang mengejek, namun tuan Wilkinson tak peduli, dia hanya mau baik Radith maupun Darrel bisa diselamatkan.
" Tapi sayangnya aku tak bisa mengabulkan hal itu, itu bertentangan dengan asas yang aku miliki. Aku sudah mengatakannya padamu, kau tak lagi berguna jika kau sudah menandatangani perjanjian ini. Kau hanya perlu memilih, menyelamatkan salah satu di antara mereka, atau membunuh keduanya?" tanya pak Indra yang membuat tuan Wilkinson sedikit frustasi.
" Kau bahkan akan tetap membunuh kami semua jika aku sudah menandatangani surat ini. Jika kau tak bisa melakukannya, kau bisa bunuh kami dan surat itu tak akan bisa berarti lagi," ujar tuan Wilkinson yang membuat kesabaran pak Indra habis. Pria itu mengesap minuman yang ada di dalam gelas dan menatap tuan Wilkinson dengan garang.
" Aku bahkan bisa membunuhmu dan membuat surat pernyataan dengan sidik jarimu. Aku hanya menawarkan jalan ini karna mengingat kebaikanmu yang sudah mempekerjakanku di rumahmu. Aku manusia yang masih memiliki rasa balas budi, jangan uji kesabaranku," ujar pak Indra yang tak dijawab oleh tuan Wilkinson.
Tuan Wilkinson kembali melihat kedua anak yang menatap mereka dengan wajah yang pasrah. Tuan Wilkinson langsung memejamkan matanya dan berusaha untuk meyakinkan dirinya siapa yang akan dia selamatkan. Dia sudah menyiapkan satu nama, namun dia tak akan membiarkan yang lain dalam masalah.
" Kau jangan berpikiran yang berlebihan. Jangan berpikir seolah kau punya pilihan lain atau menyelamatkan keduanya. Bahkans eluruh daerah sini sudah aku isi dengan penjagaku dan mereka tak segan melukai kalian jika aku memerintahkannya. Akau tak akan main – main lagi, tanda tangani sekarang dan kau silakan pilih satu orang yang akan kau selamatkan," ujar pak Indra dengan tegas.
" Baiklah, aku akan menanda tangani hal ini. Tapi kau ingatlah. Dunia memiliki hukum tabur tuai, apa yang kau tanam akan kau tuai di kemudian hari, kau jangan pernah menyesal jika hal itu terjadi," ujar Tuan Wilkinson yang mengambil kembali pulpen yang sempat dia letakkan. Pak Indra tentu saja tertawa bahkan sampai terbahak mendengar apa yang dikatakan oeh tuan Wilkinson.
" Kau bisa simpan ceramah itu saat kau berhasil keluar dari rumah ini. Yang aku butuhkan sekarang hanya tanda tanganmu. Aku akan menuai yang kutabur? Ya, aku akan menuai kekayaan dengan hal ini, aku akan menjadi orang paling kaya jika semua asetmu menjadi milikku," ujar Pak Indra dengan Jumawa*
" Aku sudah selesai menanda tanganinya. Sekarang kau harus lepaskan mereka untukku," ujar tuan Wilkinson yang membuat pak Indra mengecek surat yang ditanda tangani oleh tuan Wilkinson. Pak Indra mengangguk puas dan menyimpan berkas itu di sebuah map. Pak Indra menatap kedua anak yang tampak tak bernyawa itu satu persatu.
Tuan Wilkinson terdiam, dia tahu dia harus memilih satu di antara mereka, akhirnya dia menganggukkan kepalanya pelan dan menatap ke arah pak Indra.
" Lepaskan Radith untukku," ujar tuan Wilkinson yang membuat Pak Indra, Darrel bahkan Radith menengok kaget. Pak Indra tak menyangka tuan Wilkinson akan meminta Radith untuk melepaskanya.
" Aku tahu kau bingung dan kau mengira aku akan melepaskan Darrel karna aku sangat menyayanginya. Namun seperti yang kau tahu, aku mementingkan bagaimana aku mendapat keuntungan yang besar. Dan untuk saat ini, aku lebih memerlukan Radith untuk meraih keuntungan."
" Darrel tak berguna untukku. Lihat? Dia bahkan sudah tak sanggup melakukan apa – apa. Wilkinson sudah tak membutuhkan dia lagi," ujar tuan Wilkinson dengan tegasnya. Darrel langsung menatap ke arah tuan Wilkinson dan menganggukan kepalanya. Dia akan menurut apapun yang diperintahkan oleh tuan Wilkinson.
" Baiklah, lepaskan Radith." Tuan Wilkinson menundukkan kepala dan memejamkan mata serta menghembuskan napasnya. Tanda dia sangat berat untuk membuat keputusan sepenting ini.
*
*
*
*
Jumawa : Sombong
Hayooooo Siapa yang udah suudzon dan nebak "Pasti Darrel yang diselametin dulu." :(