Hopeless

Hopeless
Chapt. 107



Luna baru saja selesai makan saat seseorang mengetuk pintu kamar inapnya dan masuk ke dalam. Rupanya Adel dan Key kembali datang dengan riangnya, mungkin mereka merasa sedang piknik atau beristirahat di hotel bintang lima.


“ Lun, Lo ada camilan atau makanan gitu gak? Gue laper nih,” ujar Key yang duduk di sofa tanpa tahu malu, Luna sendiri sampai menggelengkan kepalanya karna tingkah seenaknya yang dilakukan oleh Key dan Adel.


“ Kalian tuh datang jenguk orang sakit bukannya bawa makanan kek, bunga kek, boneka kek, malah Cuma duduk gitu aja, minta makan pula, dasar.” Luna memprotes dengan wajah tak suka dan lirikan mautnya, namaun Key dan Adel tidak takut sedikitpun.


“ Kelihatan miskinnya kalau Lo gitu Lun, gue sama Key kesini mau bertamu bukan mau jengukin Lo, mumpung ada wifi gratis, kenceng lagi.”


“ Heh Upil Firaun! Rumah Lo pada kan juga ada wifinya, kalau perlu gue pasangin sih di rumah kalian, gue bayarin, daripada kalian ngegembel disini.”


“ Bilang aja Lo mau berduaan terus sama Kak Darrel, pamali woy. Kalau kta orang jaman dulu, ada dua orang pacaran yang ketiga itu setan,” ujar Key sambil mengeluarkan laptopnya dan menyalakan benda itu.


“ Gak Cuma ketiga, tapi ada keempatnya juga,” jawab Luna menyindir Key dan Adel, namun tampaknya Key tidak mengerti, sementara Adel berdecak dan enggan menanggapi kedua orang itu.


“ Lah? Ke empat? Baru tahu gue,” ujar Key menatap ke atas seolah berpikir. Luna sendiri langsung tertawa ngakak karna kebodohan Key, apakah berteman lama dengan Lucy membuat otaknya sedikit melemah.


“ Lah ini, satu ( menunjuk dirinya sendiri), dua ( menunjuk Darrel), tiga ( menunjuk Key), empat ( menunjuk Adel).”


Key akhirnya sadar ternyata Luna mengatainya, gadis itu otomatis merajuk dan enggan meneruskan pembicaraan, Key meletakkan laptopnya dan berjalan ke arah kulkas yang ternyata berisi banyak makanan dan minuman penggugah selera.


“ Hah, gak salah kan gue Del ngajakin Lo kesini, nih camilan yang disediakan Luna khusus buat kita,” ujar Key mengeluarkan SEMUA isi kulkas itu dan menjejerkannya di lantai karna mereka memilih untuk duduk di lantai dibanding dengan sofa yang empuk.


“ Kak Darrel semalam beneran tidur disini kak?” Tanya Key yang mulai mengawali obrolan dengan lelaki yang sedari tadi hanya diam dan menyimak obrolan mereka.


“ Iya, tadi malam saya menginap disini, memang kenapa?” Tanya Darrel dengan wajah bingungnya.


“ Baku amat sama dedek emesh,” desis Key pelan sambil memegang pipinya, padahal dia berusaha santai, namun Darrel malah membuat suasana menjadi canggung karna kalimatnya yang terbilang sopan.


“ Terjadi sesuatu gak kak tadi malam?” Tanya Adel dengan ngawur untuk mengambil alih situasi yang canggung. Darrel langsung mngerti maksud Adel, lelaki itu tertawa dan mengangguk.


“ Ada dong, anget pula, join gak?” Tanya Darrel dengan nada bercanda, Adel tertawa terbahak – bahak saat mengetahui prince charming seperti Darrel ternyata bisa nyambung dengan pembahasan seperti ini.


“ Lun, kalau gini mah gue mau aja Lun nikung Lo, Kak Darrel tau aja gue suka yang anget – anget,” ujar Adel dengan nada bercanda, meski Luna tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Key? Gadis itu masih merajuk dan memasang earphone di kupingnya.


~ tok tok tok


“ MASHUUKKK!!” Teriak Key dengan percaya dirinya, Luna bahkan melongo beberapa detik karna terkejut dengan teriakan Key, apakah gadis itu masih bisa mendengar suara pintu yag diketuk? Tapi di telinganya kan masih tersambung earphone.


“ Gak ada lagunya, gak usah bingung gitu Lo pada,” ujar Key yang mengangkat ujung lain earphone yang ternyata hanya dia masukkan ke dalam saku tanpa menyambung ke perangkat manapun.


Pintu terbuka dan menampakkan sosok yang cukup lama ini tidak Luna temui. Luna tersenyum senang bahkan sampai berbinar saat sosok itu melangkah masuk dan mendekat ke arah nya.


“ Nah loh, nah loh, perang dunia ke lima,” ujar Key pelan dan berpura – pura fokus pada laptopnya, sementara Adel langsung berpura – pura melihat sekitar dan mencari remot televisi.


“ Panci, piring, gelas, hajar deh hajar, gak ikut ikut,” ujar Adel yang tidak melihat ke arah mereka, Luna yang paham maksud Adel langsung melotot, gadis itu tidak mau Darrel salah paham atau suasana kamar ini yang dingin menjadi panas.


“ Kata kak Darrel lo dirawat disini, nih gue bawain gula kapas,” ujar Radith yang meletakkan satu kotak berisi gula kapas di atas nakas yang ada di dekat Luna.


“ Kok dikit?” Tanya Luna yang protes dan berusaha meraih gula kapas itu, Darrel yang melihat itu pun berdecak dan mengambilkan gula kapas itu untuk Luna, padahal gadis itu bisa saja bangun, namun dia memilih untuk menggapai – gapai dengan posisi tidurnya, Luna kan mager guys.


“ Pak bosnya minta gak bawa yang aneh – aneh soalnya Lo sampai kesini karna keracunan, jadi gak boleh makan sembarangan,” ujar Radith mengedikkan bahunya dan menunjuk Darrel dengan dagunya, membuat Luna menatap Darrel dan memicingkan matanya.


“ Kak Darrel ya yang suruh Radith lakuin itu?” tuduh Luna yang sampai menunjuk – nunjuk Darrel dengan jarinya, Darrel mengangguk dan mengakui kalau itu semua memang perbuatannya, toh semua itu Darrel lakukan untuk kebaikan Luna.


“ ANJIIR!!! SUAMI PERTAMA SAMA SUAMI KEDUA AKUR NJIR!” Seru Key yang takjub dan tak menyangka Radith bisa sampai di tempat ini karna permintaan Darrel, bahkan tak tampak wajah keberatan yang ada di wajah lelaki tampan itu.


“ Udah baik, ganteng, tajir, perhatian, pengertian, gak cemburuan, masa depan terjamin, Astaga, Luna beruntung banget sih dapet satu yang kayak gitu, kalau gue mah boro –boro ,” ujar Adel yang meratapi nasibnya, bahkan dia tak pernah memiliki kekasih, dan kini rasanya akan sulit karna Rafa selalu menjadi benalu yang menempel padanya.


“ Rafa lo kemanain njir? Gue udah iklasin dia buat Lo, gue gak terima ya kalau Lo gak akuin dia,” ujar Key dengan wajah yang terkhianati, Adel memutar bola matanya karna Key selalu membahas masalah ini.


“ Gue gak pernah pacaran sama dia, dan gue gak pernah minta Lo buat ngelepasin dia, jadi gue gak ada kewajiban untuk ngejaga perasaan dia, got it?” Tanya Adel memastikan bahwa Key mngerti ucapannya dan tidak membahasa masalah yang jujur saja membuat Adel muak.


“ Lah tapi kan…”


Ucapan Adel terpotong karna suara dering ponsel yang berasal dari kantong Darrel, lelaki itu mengambil ponselnya dan menempelkannya ke telinga lalu berbicara beberapa hal. Wajah Darrel berubah serius, namun kharismanya malah bertambah membuat Adel tersenyum – senyum karenanya.


“ Lun, aku harus pergi ke resto, ada klien yang mau jadi investor, tapi dia Cuma mau bahas ini sama aku, jadi aku harus ninggalin kamu disini, kamu gakpapa?” Tanya Darrel yang menampakkan wajah tak enaknya, Luna mengangguk dan tersenyum.


“ Gak papa kok kak, lagipula semua kan udah clear, Luna disini sendiri juga gak masalah,” jawab Luna untuk menenangkan Darrel, lelaki itu mengangguk dan pamit dari hadapan mereka, tak Lupa mengacak rambut Luna dan mencium puncak kepala gadis itu sebagai perpisahan.


“ Gue juga mau Key dicium kepalanya kayak gitu,” ujar Adel dengan wajah kepingin sambil mengatupkan kedua tangannya, Key mengangkat alisnya sebelah dan menatap Adel.


~ cup


Dan dengan polosnya Key mencium pundak kepala Adel, persis seperti yang dilakukan Darrel. Adel pun menatap Key dengan tatapan garang, memprotes tindakan Key yang menurutnya menggelikan.


“ Bukan kayak gitu maksud gue bego, gue mau kak Darrel nya yang gitu ke gue, bukan Lo ih,” ujar Adel kesal sambil mengusap kepalanya yang tadi dicium oleh Key, sementara Key hanya mengedikkan bahu karna tak merasa tindakannya salah, kan tadi Adel tidak menyebutkan nama Darrel.


“ Lo beli dimana dith gula kapas ini?” Tanya Luna yang mulai mencuil gula kaps itu dan memasukkannya ke mulutnya, membiarkan gula kapas itu larut karna air liurnya dan membuat lidahnya terasa manis. Luna menikmati sensari rasa ini meski gadis itu sadar tak baik memakan gula kapas terlalu banyak.


“ Del, gue harus balik nih, Lo mau disini atau balik?” Tanya Key tiba – tiba setelah mengecek ponselnya, Adel tampak bimbang karna dia tidak yakin meninggalkan luna berdua dengan Radith saja, namun dia juga tak mau menjadi obat nyamuk bagi mereka berdua.


“ Gue ikut deh, Lun kita balik yah, udah sore juga, kalau besok Lo masih mau nginep disini kabarin ya, besok kita mampir,” ujar Adel sambil melambaikan tanganya dan beranjak dari tempatnya duduk. Key pun melaukan hal yang sama, membuat Luna melotot dan berteriak sekencang – kencangnya.


“ KEYLA! BALIK LO KESINI! ITU MAKANAN LO BERANTAKIN WOY!!”


“ Udah sih ah gak usah teriak teriak, kayak orang utan aja sih Lo, geli gue lihatnya,” ujar Radith yang duduk di sebelah Luna dan mulai mengeluarkan ponselnya. Lelaki itu memiringkan layar ponselnya dan mulai melakukan rutinitasnya, bermain game.


“ Lo tuh lagi jengukin gue, kok malah asyik sendiri sih?” Tanya Luna yang kesal dan tidak terima dia diabaikan karena sebuah permainan yang bahkan Luna tak mengerti cara memainkannya.


“ Lah, terus gue mau ngapain sama Lo? Gak ada yang mau diomongin juga. Harus gitu gue nanya kenapa Lo bisa keracunan? Gimana ceritanya? Lo baik – baik aja? Harus gue Tanya gitu?” Tanya adith dengan sewotnya, membuat Luna geram dan menyumpal mulut lelaki itu dengan gula kapas. Radith dengan senang hati menerima gula kapas itu dan memakannya dengan nikmat.


“ Ya setidaknya ajarin gue main, biar gue bisa download sendiri terus gak ngeganggin Lo main kayak gini,” ujar Luna yang dengan sengaja memencet – mencet layar ponsel Radith hingga membuat pergerakan Radith di dalam Game itu jadi terhambat.


“ Gak usah nyebelin dulu, habis ini gue ajarin Lo sekali tapi ntar dulu, gue selesaiin satu permainan dulu. Udah lama gue gak makan ayam,” ujar Radith tanpa mengalihkan pandangannya setelah menangkis tangan Luna yang menutupi lyar ponsel.


“ Hah? Apa hubungannya sama makan ayam? Lo laper? Pakai jasa Grebjek aja, gue ada promo,” ujar Luna antusias dan mengambil ponselnya untuk mengecek apakah promo yang dia dapatkan masih berlaku atau tidak.


“ Masih ada nih dith, Lo jadi mau makan ayam?” Tanya Luna sambil menunjukkan ponselnya, Radith tak menengok sedikitpun, lelaki itu menurunkan tangan Luna dan melanjutkan permainannya.


“ Bukan ayam yang itu, kalau main ini dan memang juga satu bakal dapat gelar makan malam pakai ayam, gitulah pokoknya,” ujar Radith yang membuat Luna semakin berpikir keras, namun dia enggan bertanya lagi pada Radith karna dia yakin akan semakin bingung dengan penjelasan lelaki itu.


Tak lama Radith pun menyelesaikan permainannya dan memberikan ponselnya pada Luna, Luna menatap ponsel Radith dengan bingung, namun dia tetap menerima ponsel itu.


“ Caranya, Lo jalan aja, kalau ada musuh ya tembak, cari senjata di dalam rumah, terus ini buat lompat, ini buat ganti senjata, ini buat jalan, ini buat nembak, paham kan?” Tanya Radith yang melihat ke arah Luna, gadis itu tampak mengulangi pelan – pelan arahan yang tadi diberikan Radith lalu memposisikan diri untuk memulai permainan.


Luna dijatuhkan oleh pesawat di sebuah padang rumput yang luas, Luna pun mulai menekan layar dan menggerakkan jarinya untuk mencari rumah yang dimaksud oleh Radith, namun memang jaraknya cukup jauh dari rumah – rumah itu.


“ Udah nih? Gini doang? Jalan jalan doang? Terus nanti gue bisa makan ayam gitu ya dith?” Tanya Luna yang terus menggerakkan jarinya meski wajahnya kini menatap wajah Radith, meski masih tamoan Darrel, sikap dan sifat serta kenangan itu selalu membekas di hati Luna.


Mau sebagaimanapun Luna melupakan Radith dan menerima Darrel, lelaki itu tetap aka nada di tempat tersendiri bagi Luna, tak mungkin bisa Luna melupakan semua rasa yang dia miliki, ya, tak mungkin bisa.


“ Awa itu Lo bakal di..”


~ daar


“ Yah ketembak deh,” ujar Radith lirih yang ikut meratapi karakternya dalam permainan itu sudah tewas karna dibunuh oleh musuh yang berkeliaran.


“ Lah? Game nya gitu doang? Gue baru jalan jalan, udah taman aja? Atau gue mati?” Tanya Luna dengan wajah bingungnya karna dia tadi melamun dan tahu – tahu karakter itu mati, kan tidak masuk akal.


“ Yaudah berarti emang Lo gak ngerti main beginian, siniin biar gue yang mainin,” ujar Radith mengambil kembali ponselnya dan masuk lagi ke arena permainan. Radith mulai berfokus pada gamenya, membuat Luna merasa suntuk dibuatnya. Luna mulai iseng dengan memainkan kuping Radith.


“ Radith, gue mau lihat, gue mau main juga ujar Luna yang menarik tangan Radith agar turun dan dia bisa melihat ponsel Radith. Lelakiitu mengangguk dan meminta Luna duduk duduk agar poisisi tanganya tak terlalu jauh dan tetap nyaman memainkan permainan ini.


“ YES !!! BUYAAH!” Seru Luna saat Radith berhasil memenangkan pertandingan dan memenangkan satu ekor ayam untuk makan malam.


“ Bukan Buyah, tapi ayam makan malam, kalau yang buyah itu satunya ini, buriq, game buat ponsel kentang, masak rumah gak ada intunya? Kan lucu.”


Luna yang mengangguk saja, meski sejujurnya dia tak mengerti apa yang Radith katakan