
" Dith, Lo dah tidur? Gue bosen dith," ujar Luna yang mencoba tidur namun tidak berhasil.
" Berisik, gue dah tidur, gak bisa denger Lo ngomong," sahut Radith tanpa membuka matanya.
" Oohh, jadi barusan Lo gak dengar gue ngomong apa?" tanya Luna memelankan suaranya agar Radith tidak terganggu dalam tidurnya.
" Yaps," jawab Radith singkat. Luna hanya mengangguk sebagai jawaban. Radith sudah tidur, percuma saja dia berbicara, Radith tak akan medengar.
Namun ada yang aneh, jika Radith tidur berarti dia tidak mendengar apa yang Luna katakan. Bila Radith tidak mendengar, harusnya kan....
" Kok Lo bisa nyahut?!" Tanya Luna setengah berteriak, membuat Radith menutup telinganya agar sinyal perusak telinga dari suara cempreng gadis itu tidak masuk ke telinganya.
" Berisik Luna," ujar Radith dengan halus namun penuh penekanan. Rasanya mengantuk sekali harus menatap layar laptop selama ujian, bolehkah Radith beristirahat sebentar saja?
" Radith, bangun, katanya mau tidur," ujar Luna dengan sengaja sambil menggoyang - goyangkan tubuh Radith.
" Luna diem deh, semenit aja," ujar Radith menutup wajahnya dengan tangan. Luna menjauh dari Radith dan merengut, nsmun gadis itu menuruti perkataan Radith.
" satu, dua, tiga, empat." Saking menurut pada lekaki itu, Luna mulai menghitung dengan suara pelan.
Namun Radith yang memiliki pendengaran tajam pun masih bisa mendengarnya, jelas saja Radith menjadi geli dengan tingkah Luna. Gadis itu diberi asupan apa sih oleh keluarganya selama ini?
Radith langsung terjaga dan tidak memiliki mood untuk tidur, namun dia masih memejamkan mata, menunggu Luna selesai menghitung hingga nantinya gadis itu kembali mengusiknya.
Bodohnya lagi, Radith ikut menghitung bersama Luna dlm hatinya, membuatnya menahan tawa karena geli sendiri dengan tingkahnya.
" Radith, udah enam puluh detik," ujar Luna menggoyangkan tubuh Radith.
" ck, gue kan minta satu menit bukan enam puluh detik," ujar Radith dengan galak dan kesal.
" Oohh, iya juga ya," jawab Luna sambil menggaruk kepalanya, mungkin pelajaran PKn membuat otaknya sedikit melepuh dan error, sehingga membuatnya disconnected.
" Tapi kan sama aja dith! Satu menit itu enam puluh detik, Lo ngerjain gue Ya!!" Seru Luna dengan kesal sambil memukul mukul Radith dengan gemasnya.
" hahaha, ampun Lun ampun, gue bercanda elaah, berhenti, berhenti gak!!" Seru Radith sambil tertawa terbahak - bahak membuat Luna bertambah kesal dan mulai menggelitiki perut Radith.
Luna tahu itu adalah titik tergeli Radith saat ada seseorang yang menggekitikinya karena dulu dia sudah mencoba semua titik, tapi titik inilah yang paling berpengaruh untuk Radith.
" Luna, stop gak! Ih gak lucu Lun, minggir gak!" ancam Radith sambil menggeliat kegelian sementara badannya tidak bisa bergerak karena Luna menindih tubuhnya.
Jujur saja Radith takut sesuatu di bawah sana merespon pergerakan Luna hingga membuat sesuatu itu bangun dari tidurnya.
Radith segera bertindak dengan memiting tangan Luna dan membalikkan posisi hingga dia ada di atas, lelaki itu memandang setiap senti bagian tubuh Luna, mulai dari rambut yang indah, mata yang menatapnya dengan geli, bibir ranum yang tersenyum lebar, sepasang telinga tanpa anting.
Pandangan Radith turun, ditatapnya leher putih yang jenjang dengan kalung berwarna emas yang menghiasi lehernya, bahu kecil yang pasti sangat enak jika dipeluk. Lelaki itu menurunkan lagi pandangannya, dilihatnya.....
" Shit! Cukup thor cukup!" Seru Radith yang langsung berdiri dan merapikan baju serta celananya. Luna sendiri langsung menatap Radith dengan bingung.
" Lo kenapa? Kok Thor? Lo ngomong sama siapa?" tanya Luna yang bingung dengan gelagat Radith.
" Bu.. Bukan apa apa, Gue laper, yok cari makan," ujar Radith dengan gagap tanpa memandang Luna, lelaki itu berjalan meninggalkan Luna.
Radith merasa tak nyaman saat berjalan, pikirannya terbang memikirkan apa yang baru saja dia lihat. Luna yang memiliki darah luar negeri membuat gadis itu lebih bongsor dan memiliki tubuh lebih sintal dibanding teman sebayanya.
" Shit!! Sejak kapan gue mikirin kayak gini sih! Bahaya nih bahaya," ujar Radith sambil memukul kepalanya sendiri.
" Radith, kok jalan Lo aneh sih? Terus dari tadi ngomel sendiri, Kenapa?" tanya Luna yang menyetarakan langkahnya dengan Radith.
" Ada yang ganjel," jawab Radith yang masih enggan menatap Luna, dia takut salah fokus.
" Mana? Mau gue bantu keluarin?" tanya Luna menawarkan bantuan dengan wajah polosnya.
" Gak, gak, gak usah, makasih, yok cari makan," Ujar Radith yang langsung meninggalkan Luna begitu saja membuat Luna menatap lelaki itu heran.
Luna akhirnya hanya mengedikkan bahu dan berlari untuk mengejar Radith yang sudah jauh, takut akan ditinggal di tempat seperti ini sendirian.
" Kita mau cari makan dimana?" Tanya Luna dengan antusias, gadis itu sudah naik di motor Radith dan menggulung rambutmya karena dia tidak membawa helm.
" Warung soto pinggiran mau? Yang aman kalau gak pakai helm," Tanya Radith yang belum menyalakan motornya, siapa tahu Luna enggan makan di tempat seperti itu.
" Oke sip, yang penting makan, gue udah lapar, " ujar Luna mengelus perut Ratanya, membuat Radith mengangguk dan menyalakan motornya.
Tak butuh waktu lama, Radith memberhentikan motornya dan melepas helmnya, sementara Luna langsung turun dari motor Radith.
" Radith, disini makanannya enak kah?" tanya Luna sedikit ragu melihat tempat di depannya.
" Enak kok, Lo bakal ketagihan," ujar Radith dengan tersenyum dan masuk ke dalam warung sederhana tersebut.
" Bu, soto dua, sama balungannya semangkok ya bu, minumnya es teh aja dua," ujar Radith memesan makanan dan duduk di bawah kipas angin.
Luna mengikuti Radith dan duduk di sebelah lelaki itu.
" Duduk sana sih, biar ngobrolnya enak," ujar Radith menunjuk kursi di depannya, membuat Luna mengangguk patuh dan berjalan menuju tempat yang dimaksud Radith dan duduk dengan tenang.
Radith mengambil sate telur puyuh dan memakannya, membuat Luna mengernyit heran karena tidak pernah memakan itu.
" Itu apa? Enak?" tanya Luna dengan heran.
" Enak kok, nih coba satu dulu," ujar Radith mengulurkan sate miliknya ke arah Luna.
Dengan patuh gadis itu membuka mulutnya dan memakan satu sate yang diberikan Radith. Gadis itu tampak mengunyah sambil berpikir, sesaat kemudian gadis itu tersenyum lebar dan menanggukkan kepalanya.
" Enak!" seru Luna yang terdengar kampungan, bahkan beberapa orang disana menatap mereka dengan tatapan aneh, Radith sendiri hanya cuek dan menikmati ekspresi Luna yang tampak bahagia.
Tak lama dua mangkok soto datang, namun Luna menatap heran mangkok di depannya. Ini soto? Kenapa bentuknya aneh?
( Soto Ayam Khas Semarang, Source : Google)
( Soto Ayam Khas Betawi, Source : Google)
" Kok sotonya aneh?" tanya Luna yang enggan menyentuh mangkok di depannya.
" Ini soto khas Semarang, memang beda sama soto betawi, tapi enak kok, dicoba aja dulu, sini gue racikin," ujar Radith menarik mangkok Luna ke arahnya.
Lelaki itu mengambil jeruk nipis, kecap dan yang terakhir kuah sate ayam, membuat Luna semakin heran, darimana lelaki itu tahu racikannya?
" Emang beneran dicampur kuah satenya?" tanya Luna mengambil alih mangkok Soto yang kini tampak lebih penuh.
" Yaps, biar rasanya makin enak, Lo coba dulu, kalau gak doyan gak usah dihabisin," ujar Radith sambilmenyendokkan soto ke mulutnya.
Luna yang melihat itu tentu menjadi lapar dan ngiler, akhirnya gadis itu mengikuti Radith dan menyendokkan soto tersebut ke mulutnya.
Awalnya Luna merasa asing dengan bumbu yang ada, gadis itu tampak terdiam dan merasakan hal yang aneh di mulutnya. Tidak mirip sama sekali dengan soto yang biasanya dia makan.
" Kalau gak doyan gak usah dihabisin, makan sate nya aja, " ujar Radith yang menangkap ekspresi wajah Luna.
Luna menggeleng dan mengambil sesendok lagi soto dalam mangkok itu, dan dia mulai bisa menikmati rasa yang ada di dalam soto itu. Terasa banyak rempah yang membuat cita rasa yang menggugah selera.
Radith yang melihat Luna makan dengan lahap pun turut senang dan melanjutkan kembali makannya yang tertunda. Radith mengambil salah satu balungan yang menjadi ciri khas warung soto ini.
Luna tampak diam dan mengamati Radith yang sepertinya merasakan kenikmatan saat memakan sisa daging yang menempel pada tulang itu. ( Balung = Tulang)
" Enak banget ya dith?" tanya Luna yang tertarik dengan apa yang dimakan oleh Radith.
" Enak, nih, coba aja, sensasinya beda," ujar Radith mendorong mangkok balungan itu ke arah Luna.
Pelan - pelan Luna mengambil salah satu tulang dan mengamatinya, lalu mulai menggigiti sisa daging yang ada. Benar kata Radith, ada sensasi berbeda saat memakannya, rasanya gemas namun nikmat.
" Biasa aja makannya, kalau kurang tinggal pesan lagi," ujar Radith sambil terkekeh melihat ekspresi Luna yang terkesan norak.
Luna mengangguk dan akhirnya menghabiskan satu mangkok penuh soto, sementara Radith dua mangkok. Luna memakan dua sate telur puyuh dan membungkus satu, sementara Radith hanya makan satu telor puyuh.
" Kenapa harus dibungkus?" tanya Radith yang berdiri hendak membayar.
" Mau dikasih ke Chef di rumah, biar bisa masak ini," ujar Luna menunjukkan giginya dan tersenyum senang.
" Ya elah, gue juga bisa massk begini, masak chef rumah Lo gakbisa," ujar Radith yang sudah berjalan menuju penjual untuk membayar.
Luna sedikit merenung dan mengamati mangkok kosong di depannya. Tanpa sadar dia membandingkan Radith dan Darrel.
Darrel selalu memanjakannya dan bahkan sanggup memberikan apapun yang Luna inginkan, Darrel selalu mengajaknya ke tempat makan mewah dan cukup mahal ( hanya sekali saja Darrel mengajaknya di warung pinggiran saat memakan bubur ayam). Luna senang dengan perlakuan Darrel, namun makan di tempat mewah sudah merupakan keseharian bagi Luna
Sedangkan Radith, lelaki itu selalu membawa Luna ke warung pinggiran, mengajak Luna merasakan sensasi makan yang tak pernah dia rasakan serta menghapus pandangan buruk Luna mengenai warung pinggiran karena ternyata memiliki cita rasa yang tidak bisa diragukan.
Manakah yang lebih baik? Mengapa Luna semakin meragukan bahwa dia telah bahagia dan melupakan Radith? Luna menatap cincin yang ada di kalungnya, lalu menggelengkan kepalanya agar pikiran buruk itu segera hilang.
" Lo udah selesai belum?" Tanya Radith yang dijawab anggukan oleh Luna. Gadis itu segera bangkit dan menghampiri Radith yang sudah keluar dari warung itu.
Mereka kembali ke basecamp diikuti oleh dua pengawal yang tadi juga ikut makan namun tidak bergabung dengan mereka ( Tentu saja mereka membayar sendiri makanan itu)
" Radith, ajarin main ini dong," ujar Luna memegang sebuah meja dengan alas hijau dan sebuah stick panjang untuk memainkannya.
" Males gue Lun, kapan kapan aja ya," ujar Radith merebahkan dirinya di sofa (lagi)
" Gue ganggu sampai Lo kena stroke kalau gak mau ajarin gue," ancam Luna sambil menunjuk ke arah meja Billyard tersebut.
Radith berdecak dan bangkit menuju meja itu, daripada Luna nekat membuatnya stroke, lebih baik menurutinya, toh tak ada rugi baginya. Paling Luna lekas bosan saat tidak bisa memainkannya.
Lelaki itu menata bola dicetakan lalu membuka cetakannya sehingga bola tersusun rapi, dia mengambil dua stick dan menunjukkan pada Luna cara memegang stick dengan benar.
Setelah Luna bisa memegang dengan benar, Radith menunduk ke arah meja dan menyimulasikan cara menyodok bola dengan benar.
Luna hanya mengangguk seakan paham dan mengikuti gerakan Radith. Radith meletakkan sebuah bola dan meminta Luna menyodok bola itu. Dengan konsentrasi penuh Luna melakukan apa yang tadi Radith tunjukkan.
Namun yang dilakukannya sia sia karena stick yang harusnya mendorong bola meleset, malah membuat Luna tersungkur di meja itu.
Radith yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, tidak berniat untuk menertawai Luna, lebih baik membantu gadis itu agar lekas bisa dan tugasnya selesi.
" Gini Loh," ujar Radith yang berdiri di belakang Luna dan memegang stick yang juga di pegang oleh Luna.
Posisi seperti ini membuat Luna tidak bisa bergerak, Luna berdegub kencang saat Radith ada diposisi seperti ini.
Napas Luna oun tercekat sampai gadis itu menahan napasnya, hal itu diketahui Radith, membuat lelaki itu geli sendiri dan malah sengaja menggoda Luna.
" Gue emang ganteng, gak usah deg deg an sampai tahan napas gitu juga kalik," ujar Radith sambil terkekeh pelan, membuat Luna yang menjadi obyek pun merasa sebal.
" Gue tahan napas karna keringet Lo bau banget, gak tahan gue," ujar Luna yang malah sengaja menutup hidung dengan tangannya.
" Ohh gitu, nih sekalian gue ketekin biar bau gue nempel," ujar Radith yang kemudian langsung meletakkan ketiaknya di kepala Luna dan menyikap gadis itu agar tidak bisa bergerak.
Luna sampai kaget dan terbatuk batuk karena kelakuan Radith. Lelaki itu tidak bau badan, bahkan sangat wangi meski memakai sedikit parfume. Luna hanya bercanda, namun Radith malah membalasnya seperti ini.
" Males ah sama Radith!" Seru Luna mendorong kasar Radith dan kembali duduk di Sofa dengan kesal, Radith sendiri senantiasa terkekeh dan menyusul gadis itu untuk duduk.
" Mau beli arummanis gak? Kalau jam segini ada yang jual di dekat taman kota," ujar Radith yang membujuk Luna.
Mendengar Arummanis ( gula kapas) membuat Luna melupakan amarahnya dan menatap Radith dengan tatapan pingin.
" Yok gas, Lo yang bayar," ujar Luna antusias dan berjalan ke arah luar. Radith yang melihat itu hanya menggeleng takjub.
Sungguh, lebih sulit membujuk anak TK dibanding Luna. Gadis itu mudah disuap oleh hal yang bahkan sangat mudah didapat.
Radith akhirnya berdiri dan menyusul Luna sebelum gadis itu menghilang atau membuat masalah di luar sana.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
PS Dari Author : Iya, tahu. Maaf banget telat Up, seharian kemarin (28/7) Author sakit sampai gak bisa apa apa ( biasanya memang nulis waktu malem jadi di acc Admin pagi) Alhasil Authornya baru ngetik malam ini (29/7)
Terimakasih Supportnyaaa