
" Yuk pulang," ajak Angga saat mereka sudah menyelesaikan percakapan dan hari pun sudah mulai petang. Luna yang masih menikmati suasana taman di depannya tampak sedikit kecewa, meski akhirnya dia juga mengangguk dan megikuti langkah Angga
Mereka berjalan beriringan menuju motor Angga, sekali lagi beberapa preman yang ada disana memberi jalan dan tersenyum pada mereka, Luna hanya membalas senyum mereka dengan canggung.
" Kenapa preman itu malah sopan dan tunduk banget sama kak Angga?" Tanya Luna setelah sampai di motor Angga dan lelaki itu mulai memakai helmnya.
" Mereka semua pernah gue tolongin waktu ditangkap polisi, padahal posisinya mereka gak lagi ngapa ngapain, apesnya malah mereka kena sweeping dianggap anak berandalan, padahal mereka baik Loh aslinya, tahu balas Budi pula," ujar Angga menaiki motornya diikuti Luna.
" Kalau gitu kenapa tadi kak Angga harus pegang tangan aku waktu jalan?" Tanya Luna dengan heran, pasalnya saat pulang pun mereka tak berani menggoda Luna, padahal Luna tidak digandeng oleh Angga.
" Modus aja gue, kapan lagi bisa gandengan tangan sama kesayangannya Darrel Atmaja," jawab Angga dengan jujur dan tanpa beban, membuat Luna merengut sebal karna dikerjai oleh lelaki itu.
Mereka menyisir jalanan kota yang kini cahaya digantikan oleh lampu gemerlap yang indah, sayang saja itu sama halnya dengan memboros listrik dan tidak memberikan kesempatan saudara kita di daerah tambang untuk bernapas. Susah juga kan jika sudah seperti ini?
" Rumah Lo dimana?" Tanya Angga sedikit keras saat memelankan motornya, namun tampaknya Luna tidak mendengar apa yang Angga katakan.
" Woy Luna!! Rumah Lo dimana?" Ulang Angga lebih keras agar Luna dapat mendengar suaranya.
" Eh? Apa kak?" Rupanya Luna belum mendengar suaranya.
Luna hanya mendengar Angga berbicara, namun tidak bisa tahu isinya, suara angin yang masuk ke telinganya lebih keras dibanding suara Angga.
" Rumah Lo Dimana?" Tanya Angga kesekian kalinya, jika Luna masih tak mendengar, dia akan menghentikan motornya.
" Iya kak," jawab Luna yang tidak sesuai pertanyaan, sesuatu yang biasa terjadi jika kita menaiki motor sebagai sarana transportasi. Angga sendiri sungguh meminggirkan motornya dan berhenti, melihat ke arah belakang dan menatap Luna dengan kesal
" Rumah Lo dimana? Daritadi gue nanya itu, malah dijawab Iya," tanya Angga dengan kesal dan frustasi, Luna sendiri hanya terkekeh dan menggaruk lehernya, memang dia kan tidak mendengar apa yang Angga katakan, wajar dong.
" Jawab lah woy, malah nampang imut gitu, astaga, baru sehari gue sama Lo, udah frustasi aja gue," ujar Angga mengelus dadanya, mencoba bersabar dan tidak menurunkan Luna di tempat ini.
" Rumah Luna di daerah Angkasa perumahan Pura, tahu kan?" Jawab Luna sambil membenarkan posisi helm Angga yang kebesaran di kepalanya.
" Seriusan disana? Tajir dong Lo," sahut Angga yang kembali menstater motornya dan melaju dipinggir. Yang Angga tahu, jalan Angkasa merupakan tempat berkumpulnya orang orang kelas atas, yah meski mereka individual dan tidak pernah berkumpul sih.
Apakah Luna salah satu dari mereka? Jika ya, untuk apa Luna bersekolah di STM Taruna? Untuk apa gadis itu bersusah payah masuk sekolah semi militer sedangkan harta keluarganya sangat cukup meski dia di rumah saja Selama sisa hidupnya.
Luna tak menjawab Angga karna dia tak bisa mendengar apa yang Angga katakan. Lelaki itu memakai helm fullface, hingga suara yang dia katakan tertabrak oleh penyangga yang menutup mulutnya.
Angga memasuki kawasan perumahan Pura dimana Luna tinggal, Luna mengarahkan agar Angga masuk ke gang dimana hanya ada rumahnya berdiri.
" gilak, ini rumah atau taman bermain? Kok Luas banget sih Lun?" tanya Angga penasaran, lelaki itu hanya melihat dari luar dan dia sudah merasa kagum, bagaimana jika lelaki itu melihat bagian dalam rumah Luna yang cenderung glamour?
" Biasa aja kalik ah, Luna tahu kak Angga gak semiskin itu," ujar Luna sambil turun dari atas motor, Angga tertawa cukup keras mendengar respon Luna, sepertinya Luna mulai merasa akrab dan nyaman dengan keberadaan Angga.
" Tahu dari mana Lo kaalau gue bukan orang miskin?" tanya Angga penasaran dengan senyum lebar yang masih menghiasi wajahnya.
" Sepatu itu merk asli kak, harganya paling murah juga dua puluh lima juta. Jam tangan juga Roleks limited edition, gak perlu disebut lah harganya," ujar Luna merapikan rambutnya dan memberikan helm yang dia pakai ke Angga.
" Kalau ini KW gimana tuh?" tanya Angga dengan alis yang naik sebelah.
" Bisa aja sih, tapi Luna tahu ini Ori kok, udah gak usah sok miskin gitu ah," ujar Luna mengibaskan tangannya sedikit sombong, membuat Angga kembali tertawa, mungkin ini alasan Darrel sangat mencintai Luna, gadis itu membawa atmosfer kebahagiaan dan keceriaan.
" Makasih udah diajak jalan – jalan, ditraktir makan, terus diceritain semua," ujar Luna tersenyum dan memegang ranselnya agar tidak terlihat canggung.
Luna langsung berjalan masuk saat memastikan motor Angga tak terlihat lagi disana, gadis itu bisa tersenyum lega setelah beberapa hari ini banyak yang mengganjal hatinya, tentu saja karna mengetahui bahwa Darrel masih menyimpan hati untuknya.
*
*
*
" Lhoo, Rel? Kok Lo dah dateng sih? Gilakmen, ini masih jam berapa?" Angga kaget melihat Darrel yang sudah duduk manis sambil memainkan ponselnya. Darrel melirik Angga tanpa berniat membalas sapaan lelaki itu.
" gue gak nyangka kalau Lo pengkhianat," ujar Darrel pelan saat Angga duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Angga mengernyitkan dahinya bingung, kenapa Darrel bergumana tidak jelas? Apakah llaki itu masih setengah sadar dan akhirnya ngelindur?
" Lo ngomongin apa sih? Lo masuk angin ya?" tebak Angga menggelengkan kepalanya karna Darrel bersikap aneh, jauh lebih aneh dari belakangan ini.
" Lo gak usah sok polos dan sok jadi sahabat gue, gue tahu Lo ada main kan sama mantan gue? Brengsek juga ya Lo," tuduh Darrel dengan wajah sinisnya. Angga langsung menangkap bahwa Darrel melihatnya bersama Luna, lelaki itu tersenyum miring dan emenatap Darrel tanpa takut.
" Yah, ketahuan dong gue, tadinya sih gue mau kasih tahu Lo waktu kita resmi jadian, tapi ternyata Lo udah tahu duluan, yaudah deh, gue masih dekat sama dia , belum jadian sih, ditunggu hari bahagianya ya," jawab Angga dengan tengilnya, namun Darrel taak menganggap hal itu sebagai gurauan.
" Sejak kapan?" tanya Darrel dengan nada dinginnya, namun Angga tak mengerti arah pembicaraan Darrel hingga lelaki itu hanya mengangkat sebelah alisnya.
" Sejak kapan Lo ada main sama dia? Sejak kapan Lo ada rasa sama dia?" tanya Darrel mengulangi sekaligus memperjelas pertanyaannya, membuat Angga mengangguk paham apa yang Darrel bicarakan.
" Kalau suka sih ya sejak Lo cerita tentang dia, gue langsung stalk dan tertarik sama sia, kalau ada main, gue rasa bukan ada main ya, gue sama dia sama sam ajomblo, bebas dong?" sepertinya Angga memang sengaja memancing emosi Darrel pagi ini.
" Gue gak lagi main main ya Ngga, lo gak usah macam – macam sama sia," ujar Darrel dengan nada menyeramkan, bahkan Angga sampai menelan salivanya sendiri. Namun lelaki itu tak menunjukkan ketakutannya di depan Darrel.
" Salah gue diaman? Gue jomblo, dia jomblo, wajar dong gue deketin dia, bentar lagi gue mau nembak dia dan jadiin dia pacar gue, hidup bahagia seperti negeri dong.."
~ BUGH!!!
Tanpa ampun Darrel memberikan bogem mentah untuk Angga, Angga bahkan sampai mengeluarkan liur berwarna merah, mungkin gusinya sobek di dalam sana karna tinjuan Darrel yang menyakitkan.
" Udah gue bilang gak usah macam – macam, gue gak lagi bercanda," ujar Darrel memberi peringatan pada sahabatnya itu, namun nampaknya tak ada kata kapok dalam kamus Angga, lelaki itu masih memandang Darrel remeh.
" Lo gak bisa bahagiain dia, buat apa Lo bertahan. Satu lagi bos, dia Cuma mantan Lo, Lo gak berhak atur dia mau sama siapa, paham Lo?" Darrel menggelengkan kepala takjub atas keberanian Angga, tidak menyangka sahabatnya sendiri melakukan hal sebrengsek ini padanya.
" Lo tahu kan gue masih dan akan terus sayang sama dia? Kenapa Lo sengaja dekatin dia dan bahkan ajak dia ke tempat yang gue ceritain ke Lo dulu gue sering kesana sama Fera?" tanya Darrel tanpa sadar.
" udah gue duga, Lo gak lupa sama Fera, kenapa Lo harus pura – pura lupa sama dia? Lo takut Luna cemburu? Atau Lo takut bakal bingung pilih siapa?" tanya Angga dengan nada menyindir. Sejak awal Angga tahu Darrel berbohong mengenai ingatannya tentang Fera, nampak jelas Darrel masih mengingat gadit itu, namun mungkin karna suatu hal Darrel memilih untuk berpura – pura lupa.
" Lo gak usah alihin pembicaraan, disini masalah antara Lo sama Luna bukan gue sama Fera," ujar Darrel dengan tangan yang masih terkepal.
" Kalau Lo ingat dia, kenapa Lo terima tawaran kontrak dia padahal sebenarnya Lo mudah aja dapat suntikan dana dari keluarga Wilkinson. Gue gak sebodoh itu Rel, Lo masih ada rasa kan sama Fera? Kalau Lo masih ada rasa sama Fera, kenapa Lo gak mau Luna sama orang lain? Egois lo sat!" cerca Angga dengan emosi.
Angga sudah muak dengan Darrel yang seakan menjadi korban atas hancurnya hubungan Luna dan lelaki itu, padahal disisi lain pun Darrel masih tidak bisa memutuskan harus memilih siapa. Fera yang snagat dia nantikan kedatangannya kini telah kembali dengan rasa yang sama, namun disisi lainnya hatinya sudah terpenuhi oleh Luna.
" Lo marah karna diri Lo sendiri! Lo yang gak tahu harus berbuat apa sekarang makanya Lo uring uringan. Gue muak sama Lo, kalau Lo laki, Lo harus bisa putusin siapa yang Lo pilih! Lo gak bisa tahan dua duanya! Laki bukan Lo?" tanya Angga dengan keras dan galak. Darrel terdiam beberapa saat sebelum akhirnya lelaki itu berdiri dan pergi dari ruang kelas.
Angga sendiri hanya menghela napasnya, meski tidak sesuai yang dia rencanakan, semoga saja hasilnya lebih baik dari yang dia rencanakan sebelumnya.