
Mereka berdua menghabiskan waktu di pantai dan pulang saat matahari sudah terbenam. Darrel sedikit kecewa karna permintaan Luna yang sederhana, padahal dia sudah menyiapkan segala sesuatu jika Luna meminta hal yang sulit atau hal yang mahal sekalipun. Mereka pulang ke rumah Luna dan membantu Luna untuk sampai ke kamarnya.
Namun di tengah perjalanan menuju kamar Luna ( Hmm, seakan rumah Luna sangat luas dan besar, yah memang kenyataannya begitu sih) mereka bertemu dengan Danesya yang masih sibuk memakan buahnya. Gadis itu akan kembali ke Inggris tak lama lagi, dan dia harus melakukan diet ketat sebelum pemotretan. Akhirnya gadis itu memilih untuk memakan buah dan sayur tanpa Karbo dan protein.
" Luna kenapa?" tanya Danesya yang tak tahu dentang keadaan Luna. Gadis itu langsung penasaran dan menghampiri Darrel yang tampak terdiam dan melihat ke arah Luna yang juga diam. Danesya semakin dekat dan tiba – tiba saja memukul kaki Luna tanpa peringatan.
" Lo apa – apa in ****? Main pukul aja sih," heran Darrel yang tampak kesal dengan perlakuan Nesya, namun si pelaku tampak serius memandang Luna yang seakan tak merasakan apapun meski dia memukul Luna cukup keras. Hal itu membuat Darrel tidak jadi marah dan mengerti maksud Danesya melakukan itu. Toh Luna tidak bisa merasakan sakit lagi pada kakinya.
" Sejak kapan?" tanya Danesya dengan wajah serius dan berlutut untuk memegang kaki Luna. Gadis itu menggerakkan kaki Luna lutut dan tekuk perlahan dan bergantian, tak ada ekspresi kesatikan yang ditunjukkan oleh Luna, Danesya mengambil kesimpulan Luna bukan cidera, berarti gadis itu mengalami kelumpuhan saraf yang membuat sensor di kakinya tidak bisa merespon rasa sakit maupun geli.
" Tadi pagi sih, tapi sering kambuhnya udah dari lama, gue gak tahu kalau sekali kambuh itu udah bahaya banget. Akhirnya tadi pagi gue divonis lumpuh," ujar Luna dengan tenang, meski begitu Danesya bisa merasakan Luna terluka, yang namanya ikatan batin terhadap saudara kembar memang tidak bisa diragukan.
" Kalau Lo mau tukar kamar sama gue gak papa, atau Lo mau sekamar sama gue? Atau Lo mau kamar tamu yang ada di sebelah gue? Rasanya lebih enak dibanding Lo tidur di lantai tiga, mau apa – apa juga susah kan?" tawar Danesya yang dijawab gelengan kepala oleh Luna.
" Lo lupa ya? Di lantai tiga tuh juga ada dapurnya, ada kamar mandinya, bahkan balkon kamar gue lebih enak buat tempat nongkrong dibanding lantai satu. Lo gak usah khawatir, lagian gue juga susah mau kemana – mana, paling di kamar aja," ujar Luna dengan pedih. Danesya sangat tahu Luna tidak suka dikasihani, dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak berbelas kasihan pada Luna.
" Ya terserah Lo sih, eh tapi gue tuh mau bilang, malam ini gue tidur di lantai 3 ya, sekalian pinjem ruang yang atapnya kaca. Gue mau di sana sama orang," ujar Danesya yang membuat Luna emnatapnya curiga.
" Orang? Maksud Lo Roy? Gilak, sejak kapan kalian sedekat itu coba? Lo udah pacaran sama dia? Emang dia udah gak saiko lagi?" tanya Luna beruntun yang membuat Danesya menutup mulut gadis itu. Kini dia percaya yang dikatakan Papanya jika Luna memang spesies yang berisik, bertambah berisik setiap harinya.
" Bisa gak, gak usah berisik? Bisa gak, gak usah kepo sama urusan orang lain? Pusing gue dnegarnya. Pokoknya gue mau pinjam kamar dan ruangan itu dan Lo gak boleh banyak tanya, sekian, terima kasih," ujar Danesya yanag langsung berdiri dan meninggalkan Luna yang masih tak sadar dengan apa yang terjadi.
" Lo mau mesum di kamar gue? Parah! Gak boleh ****!" pekik Luna yang membuat Danesya melambaikan tangannya, membiarkan Luna bergelut dengan pikiran negatifnya. Mana mungkin dia berbuat mesum di rumahnya sendiri? Bersama orang yang baru dikenalnya tak lama ini pula. Dia tidak segila itu. Meski dia lama tinggal di barat, dia tetap orang Indonesia dan menerapkan norma dalam hidupnya.
" Dia gak akan mesum di kamar aku kan kak?" tanya Luna dengan lugu dan bingung, gadis itu mendongak dan menatap Darrel yang mengedikkan bahu sebagai jawaban. Dia tidak mengenal Danesya dan dia tidak mengenal Roy, Darrel tentu tak bisa memutuskan apa yang akan terjadi karna dia tak tahu sifat keduanya.
" Ya udah kamu berdoa aja dia gak aneh – aneh, lagian kan banyak cctv di rumah ini. Di ruang yang atap kaa juga ada cctv kan? Toh juga Danesya harusnya udah tahu mana yang benar dan mana yang salah, biarin aja," ujar Darrel memberi pendapatnya yang membuat Luna mengangguk. Lelaki itu mengantarkan Luna ke kamarnya agar gadis itu bisa segera tidur.
*
*
*
Luna bangun dari tidurnya dan langsung melihat jam yang berhenti di angka 10. Ternyata gadis itu berhibernasi cukup lama, pantas saja badannya pegal saat tadi bangun. Gadis itu masih tidak bisa menggerakkan kakinya, membuatnya bingung harus melakukan apa untuk menghilangkan kebosanan. Iseng saja Luna mengambil ponselnya dan menghubungi Radith untuk memberitahukan keadaannya yang sekarang.
' ntar gue mampir rumah Lo kalau udah pulang sekolah.' itulah pesan yang terakhir Luna dapat. Gadis itu mengambil remote dan menyalakan televisi yang ada di kamar itu, menonton channel khusus kartun untuk menghilangkan kesunyian yang ada di dalam kamar. Tiba – tiba saja dia teringat Danesya, gadis itu sedang melakukan apa?
" Lo tadi malam jadi ngajak Roy ke rumah? Kalian gak melakukan sesuatu yang buruk kan di kamar gue? Kamar gue masih suci tuh, jangan dinodai." Danesya langsung mematikan panggilan dan tak lama kemudian Danesya masuk ke dalam kamar Luna dengan membawa kamera.
" Gue tuh gak aneh – aneh kembaran gue yang cantik tapi masih cantikan gue. Kemarin gue Cuma photo shot sama dia, dan ternyata dia ada bakat ****, foto hasil jepretan dia keren – keren, nih Lo lihat sendiri." Danesya mengulurkan kamera yang langsung diterima oleh Luna. Gadis itu tampak memencet – mencet kamera dan kagum dengan hasilnya.
" Kenapa gak Lo bawa dia ke Inggris biar dia ketemu sama fotografer di sana? Dia kan bisa belajar banyak," ujar Luna memberi usul yang membuat Danesya berpikir dan langsung menjentikkan jarinya, menyetujui usul Luna dan langsung keluar dari sana tanpa mengatakan apapun.
" WOY!! TUTUP LAGI PINTUNYA!" Teriak Luna dengan keras dan melengking. Danesya menengok dan kepalanya menatap Luna dengan cengiran dan menunjukkan 'V' lalu menutup pintu kamar Luna dan benar- benar pergi dari sana.
*
*
*
" Kenapa Lo gak langsung kabarin gue tentang kaki Lo?" tanya Radith dengan kesal saat memasuki kamar Luna. Saat hendak kemari dia sudah ijin dengan Darrel dan Darrel ternyata tidak bisa datang ke rumah Luna dan lelaki itu tentu malah bersyukur karna Radith bisa menemani Luna.
Demi kesehatan dan kebahagiaan Luna, Darrel rela menyampingkan egonya dan membiarkan Radith terus berada di samping Luna, coba bayangkan lelaki mana yang kuat dan iklas saja kekasihnya bersama lelaki lain yang notabene pernah disukai oleh kekasihnya? Rasanya hanya Darrel di dunia ini yang sanggup untuk melakukannya.
" Lo kalau datang ke sini Cuma buat ngomel, mending Lo pulang aja deh dith, gue malah jadi pusing dengar Lo kayak gitu," ujar Luna sambil mematikan televisi dan membuang mukanya dari Radith. Lelaki itu menghela napasnya dan mendekat, di saat seperti ini, rasanya tak baik berdebat dan membuat Luna marah. Tugasnya adalah memenuhi apapun yang Luna inginkan.
" Ya udah iya maaf, sekarang Lo mau apa? Lo mau kemana? Gue siap antar kemana pun untuk hari ini," ujar Radith yang menyender pada pintu sambil memutar – mutar kunci yang ada di tangannya.
" Lo mau bawa gue naik motor? Lo ngeledek gue?" tanya Luna dengan nada sinis yang dibuat – buat. Radith menegakkan tubuhnya dan menggaruk lehernya yang mendadak terasa gatal. Benar juga, dia tak mungkin mengajak Luna pergi menggunakan motor, akan sangat merepotkan dengan keadaan Luna yang seperti ini.
" Lo gak usah sedih – sedih gitu deh, gak enak tahu gak sih dilihatnya. Mending kita tuh Fun, Fun aja, Lo mau ke pasar malam gak? Di sana banyak gula kapas, kalau Lo mau Gue beliin satu kedai buat Lo. Mumpung gue udah dikasih Black Card sama abang Lo."
" Cih, ngajak jalan anak orang kok minta dimodalin orang, ngeselin juga ya Lo," ujar Luna yang kemudian juga terkekeh geli karna Radith yang tak tahu malunya menyombongkan harta yang bukan miliknya. Luna meminta Radith untuk keluar sementara dia akan berganti pakaian, sebelumnya dia sudah meminta pelayan untuk menyiapkan baju yang akan dia pakai.
Luna memasuki mobil dan Radith melipat kursi roda itu lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Lelaki itu mulai melajukan mobil yang mereka tumpangi menuju pasar malam yang sudah buka mulai sore hari. Sebenarnya bukan tempat yang tepat untuk Luna, Radith hanya berpikir melihat banyak orang dan wahana akan membuat pikiran gadis itu sedikit rileks.
" Maih sore kok udah ramai banget sih?" tanya Luna dengan antusias. Gadis itu keluar dari mobil dibantu oleh Radith dan langsung didorong oleh lelaki itu memasuki keramaian pasar malam yang baru saja buka.
" Gue gak bisa mainan semua ini dith, percuma juga Lo ajak gue ke sini," ujar Luna yang sedikit sedih melihat banyaknya wahana yang ada di sana. Radith sudah tahu hal itu akan keluar dari mulut Luna dan tentu dia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.
" Kita kan di sini buat keliling - keliling, belanja, beli makanan sampai puas, gue tunjukin caranya nawar di pasar malem kayak gini, gue jago loh kalau urusan tawar menawar." Luna membulatkan mulutnya dan memilih membiarkan Radith melakukan sesukanya. Lelaki itu mengajak Luna ke bagian aksesoris dimana banyak menjual gelang, kalung dan pernak – pernik lain.
" Lo pilih, Lo mau yang mana?" tanya Radith yang membuat Luna emnoleh dan mengamati semua benda yang ada di sana. Matanya tertuju pada dua buah gelang sederhana yang diikat menjadi satu. Gadis itu menunjuk gelang tersebut dan Radith yang mengambilkannya.
" Ini berapa Bu?" tanya Radith sambil mengangkat gelang tersebut.
" Dua puluh ribu aja buat kamu, ganteng. Biasnaya saya kasih harga dua puluh lima ribu loh," ujar penjual itu dengan ramah.
" Mana ada kayak gini dua puluh ribu, kalau sepuluh ribu saya ambil," ujar Radith yang mulai melakukan penawaran.
" Wah, ya gak bisa nak, kalau segitu sama saja bikin bangkrut saya dong," jawab penjual itu memelas.
" Ya udah kalau gak boleh, cari di sana aja Lun, lebih bagus, lebih murah juga," ujar Radith yang langsung meletakkan gelang tersebut dan langsung pergi dari sana.
" Eh nak, ya sudah boleh lah untuk penglaris. Sepuluh ribu juga gak papa," ujar Penjual itu yang membuat Luna melongo sementara Radith tersenyum senang. Lelaki itu mengeluarkan dompetnya dan mengambil satu lembar sepuluh ribuan untuk membayar gelang tersebut.
" Lihat, gue jago kan nawarnya?" tanya Radith yang diacungi jempol oleh Luna. Lelaki itu bisa mendapat barang dengan separuh harga, itu artinya penjual memang sengaja melambungkan harga tinggi di tempat ini, karna Luna yakin dnegan separuh harga itupun penjual sudah mendapat untung yang cukup.
" Lo mau makan apa? Ada pantangan gak buat makan apa aja?" tanya Radith setelah memberikan gelang tersebut pada Luna. Luna menggeleng dan akhirnya mereka mulai memakan banyak makanan yang ada di sana. Radith sangat antusias memberi Luna makan sebanyak – banyaknya dan semua itu tentu saja lezat.
" Dith, naik itu yuk," ujar Luna sambil menunjuk ke arah biang lala yang besar, Radith mengangguk dan mengiyakan saja lalu membeli tiket untuk berdua. Banyak pasang mata mengamati mereka, ada yang menatap kagum, ada yang menatap kasihan, ada pula yang menatap iri sambil mencibir, namun Radith tak mau ambil pusing dan berpura – pura tak melihat itu semua.
" keren banget dari atas sini," ujar Luna sambil menatap ke arah luar jendela kaca yang ada di sana. Gadis itu tersenyum namun tiba – tiba saja menangis, membuar Radith takut dan langsung memegang tangan gadis itu.
" Kenapa? Ada yang sakit?" tanya lelaki itu khawatir. Luna menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya.
" Sekarang gue lumpuh dith, gue gak tahu berapa lama lagi gue bisa bertahan hidup karna semua terjadi sangat cepat. Gue takut kalau gue gak bisa lihat indahnya kota ini lagi, gue takut kalau gue dilupain sama kalian semua, gue takut menghadapi kematian gue dith, gue takut banget."
" Gue takut kelihangan semua orang yang gue sayang dith, gue takut bikin bang Jordan, papa, Danesya, kak Darrel dan bahkan Lo sedih karna kepergian gue. Gue tahu selama ini Cuma gue yang suka dan Lo enggak, tapi tetep aja rasanya sesak kalau harus mengakhirinya dengan cara kayak gini."
Radith langsung menutup mulut Luna dan memandang lekat ke arah mata gadis itu.
" Lo dengar apa yang gue bilang karna gue gak akan pernah ngulangin lagi."
" Lunetta.."
" Gue gak pernah gak suka sama Lo, sejak awal gue kenal sama Lo, Gue udah suka sama Lo, gue sayang sama Lo, tapi ada Blenda yang buat gue kubur dalam – dalam semua rasa itu. Gue gak suka Lo sakit, gue gak suka Lo menderita dan gue benci Lo nangis. Jadi tolong, jangan lakuin hal yang bikin gue terluka juga. Ngelihat Lo kayak gini udah bikin gue sesak Lun."
" Gue udah kehilangan Blenda, adik kesayangan gue. Gue gak mau kehilangan Lo, persetan Lo bakal jadian atau jodoh sama siapa, gue tetap bakal sayang sama Lo. Maafin gue baru bisa bilang semua ini sekarang karna gue cukup waras untuk gak ganggu pacar orang. Tapi sikap frustasi Lo tadi bener – bener bikin gue hilang akal, jadi gue mohon, jangan pernah lakuin hal kayak gitu lagi Lun, gue mohon."
" Radith…" Luna sampai tak tahu harus mengatakan apa, dia bisa melihat Radith sangat terluka dan bahkan mata lelaki itu memerah.
" Gue mohon Lo bertahan, gue mohon Lo bisa kuat lewatin ini smeua demi gue, demi Darrel dan demi semua orang yang sayang sama Lo, gue mohon sama Lo." Radith mendekat dan semakain mendekat, membuat Luna menutup matanya dan merasakan jantungnya berdebar cepat dan kuat.
Gadis itu dapat merasakan keningnya menghangat dengan benda kenyal yang meneympel di kening itu, lalu Radith menempelkan keningnya ke kening Luna hingga napas mereka beradu dan membuat Luna makin gemetar karena gugup.
Pertama kali dalam hidupnya, Radith mengakui semua perasaan itu ke Luna. Apa yang harus dilakukan Luna ke depannya? Radith tampak menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata.
" Lunetta, gue sayang sama Lo, dan akan selalu seperti itu."