Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 53



" Lo serius gak ada tujuan apa – apa Dith datang ke sini?" tanya Luna yang mulai jengah lelaki itu hanya tidur di sofa sambil memegang ponsel yang Luna yakin digunakan untuk bermain game karna lelaki itu tampak fokus. Saat ini Radith persis seperti Radith saat masih sekolah, lelaki itu tak memikirkan hal lain selain game.


" Enggak ada," ujar Radith dengan santai tanpa menghentikan permainannya. Luna langsung memutar bola matanya dan kembali memasukkan es krim lagi ke dalam mulutnya dengan nikmat. Gadis itu hendak mengganti channel, namun Radith tak mau memberikan remot pada Luna, membuat Luna terpaksa menonton tayangan yang tidak dia suka.


" Lo kalau gak ada kerjaan dan gak mau dikasih kerjaan mending Lo pulang aja sih Dith. Ntar kalau tiba – tiba kak Darrel ke sini dan dia ngira yang macam – macam malah gue yang susah. Ini gue yakin ada sesuatu yang gak beres," ujar Luna sambil mengawang, Radith langsung meletakkan ponselnya dan menatap ke arah Luna.


" Buat apa Lo khawatir sama tuh orang lagi, orang itu juga gak akan peduli sama Lo. Mending Lo lupain dia dan mulai hidup baru dengan bahagia," ujar Radith dengan santai, lelaki itu kembali memainkan game yang tertunda dan harus memulainya dari awal.


" Kok Lo ngomongnya gitu, gak mungkin lah. Pasti dia ada sesuatu, apalagi dia kan udah sering prank gini, tunggu aja nanti tiba – tiba dia ajak gue nikah gitu aja," ujar Luna dengan yakin. Radith malah terkekeh mendengar hal itu, dia fokus pada ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya dia merespon Luna.


" Kali ini dia gak bakal lakuin hal yang menye – menye gitu di depan Lo. Dia bakal kayak gitu di depan istri dan anaknya, dan Lo nangis aja di pojokan nunggu dia," ujar Radith tanpa sadar. Namun semua hal itu terlanjur di dengar oleh Luna. Luna langsung terdiam dan menatap lelaki itu dengan tatapan kosong. Radith masih tak menyadari perkataannya.


" Apa yang Lo maksud dengan istri dan anaknya. Lo lagi ngomongin Darrel yang mana?" tanya Luna dengan bingung. Pertanyaa yang keluar dari mulut Luna membuat Radith tersadar sampai menjatuhkan ponselnya. Alhasil ponsel itu menimpa wajahnya yang tampan dan membuatnya kesakitan.


" Bukan apa – apa. Gue baru ingat kalau gue ada acara, gue harus pulang sekarang," ujar Radith dengan cepat dan langsung berdiri. Namun lelaki itu kalah sigap. Luna sudah mengambil remot untuk mengunci pintu dan mengunci pintunya tanpa berkata apapun. Radith memandang kaget pintu yang sudah berwarna merah. Kini hanya Luna yang bisa membuka pintu itu.


" Lo jelasin dulu apa maksudnya dan kenapa Lo langsung panik gitu, atau gue gak akan pernah buka pintu itu sampai kapanpun," ujar Luna dengan wajah yang dingin. Sudah lama Radith tak melihat Luna yang sedingin itu. gadis itu selalu saja bersikap hangat dan akan rewel jika kesal, namun kini wajahnya tampak tegang.


" Lo harus janji gak akan melakukan hal bodoh kalau gue kasih tahu kebenarannya, Gue juga gak nyangka, dan gue juga bakal kasih tahu Lo, tapi gak gini caranya." Radith masih memandang Luna, gadis itu tampak menunggu jawabannya, namun pandangan mata gadis itu kosong dengan kotak es krim yang masih ada di tangannya.


Radith menghela napasnya melihat Luna. Kali ini dia tak bisa berlikah dan dia akan memberitahu Luna. Apapun itu dia tak bisa menyembunyikannya lama – lama dari Luna. Luna juga berhak untuk mengetahuinya, tapi bagaimana jika gadis itu sungguh depresi? Radith langsung menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan bayangan mengerikan di dalam kepalanya.


" Alasan Darrel gak bisa nikah sama Lo, alasan Darrel batalin semua karna dia bakal nikah sama orang lain, dan orang itu hamil," ujar Radith yang membuat Luna melongo, gadis itu menggelengkan kepalanya dan tak percaya dengan yang Radith katakan, namun Luna juga tahu jika Radith tak mungkin main – main, apalagi masalah ini cukup serius untuk menjadi bahan bercanda.


" Kalau Lo bohong, ini gak lucu banget dith. Gue udah cukup tertekan sama semua, kalau sampai Kalian bohongin gue untuk tujuan napapun, gue gak akan pernah maafin kalian," ujar Luna yag membuat Radith menunduk, meski respon Luna tak seekstrim yang Radith bayangkan, tetap saja gadis itu tampak syok dan membuatnya khawatir.


" Gue juga berharap semua bohong Lun, maaf," ujar Radith yang membuat Luna menggelengkan kepalanya. Gadis itu tak menyangka alasan Darrel mengakhiri semuanya karna lelaki itu melakukan hal yang sama sekali tak Luna duga.


Tanpa berkata apapun, Luna langsung mengambil ponselnya dan pergi dari sana. Bahkan dia tak sadar menumpahkan es krim di kasurnya itu. gadis itu tak peduli, dia segera keluar dari kamar setelah memakai cardigan miliknya, dia langsung turun ke lantai bawah dan meminta supir untuk mengantarnya ke seuatu tempat.


" Luna? Lo mau kemana? Gak ada gunanya Lun," ujar Radith yang berusaha mengejar Luna. Lelaki itu harusnya tahu Luna akan bertindak bodoh dan berbahaya jika mengetahui fakta ini, namun dia masih membiarkan Luna keluar dari kamar ini. Lelaki itu segera menyusul Luna dan masuk ke dalam mobilnya.


Benar dugaan Radith, gadis itu pergi ke rumah Darrel. Luna tak menangis, namun matanya sangat merah, tangannya tremor dan wajahnya tampak menahan sesuatu. Radith ingin mencegah Luna, namun dia merasa akan menjadi sia – sia, lebih baik dia tak mengurusi Darrel lagi dan mencari kebahagiaan dalam hidupnya.


" Percuma Lo kayak gini Lun. Gak berguna, gak ada gunanya. Lo Cuma buang – buang waktu," ujar Radith yang tak digubris oleh Luna. Gadis itu mengetok ngetok pintu rumah Darrel, namun lelaki itu tak ada di sana. Luna mencoba untuk membuka pintu rumah itu dan ternyata terkunci. Sepertinya memang tak ada orang di rumah ini.


Luna langsung berlutut dan berakhir dengan posisi duduk, tangan Luna juga masih menempel di pintu. Gadis itu langsung menunduk dan bahunya bergetar. Radith tentu saja tak tega melihatnya. Lelaki itu langsung berjongkok dan mendekap Luna agar gadis itu bisa menangis tanpa khawatir. Radith mengelus Luna untuk menenangkan gadis itu.


Luna mulai menangis kencang, suaranya teredam kanra dia menempelkan waahnya di pundak Radith. Entah mengapa hidupnya harus sepahit ini, bahkan dia sudah benar – benar mempercayakan hatinya pada Darrel, namun lelaki itu malah menghancurkan hatinya. Apakah Darrel sengaja melakukannya? Apakah Darrel ada dendam pada dirinya?


" Lo gak salah, Lo gak usah mikir yang macam – macam, Lo gak salah. Lo korban di sini. Gue bakal cari tahu semua buat Lo. Tapi gue mohon, jangan nangis, gue gak bisa lihat Lo nangis kayak gini. Gue mohon Lun," ujar Radith yang tak membuat Luna lega. Gadis itu masih terisak hebat, menumpahkan semua sesak yang sedari tadi dia tahan.


" Dia gak ada di sini. Kita pulang aja, gue gak mau Lo berlarut – larut kayak gini. Lo gak boleh sakit Cuma karna masalah ini," ujar Radith yang membuat tangisan Luna sedikit reda, gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap Radith dengan wajah yang sangat jelek.


" Kalau Lo gak mau gue sedih, gak mau gue nangis kenapa Lo malah ngomong gitu ke gue? Dah gitu ngomognnya santai banget lagi," tanya Luna yang membuat Radith menggaruk kepalanya meski tak gatal. Lelaki itu juga merasa bersalah, dia tak sadar mengatakan semua pada Luna.


" Ya maaf, Lo lagian nanya pas gue lagi ngegame, mulut gue gak ada remnya kalau lagi ngegame," ujar Radith sambil menggaruk kepalanya. Luna langsung memutar bola matanya. Namun sesaat kemudian gadis itu mulai menggetarkan bibir dan bahunya, dia teringat kembali akan perlakuan jahat Darrel padanya. Melihat itu tentu saja Radith merasa heran.


" Lo pasti tahu kan siapa ceweknya? Lo harus kasih tahu gue sekarang siapa eweknya biar gue gak sedih lagi. Ayo Radith, kasih tahu gue siapa ceweknya," ujar Luna yang kembali menjadi Luna yang manja. Radith tampak tak tenang, dia tak bisa menambah beban Luna dengan mengatakan hal itu.


" Kalau gue kasih tahu, Lo bakal kecewa dan Lo bakal gak nyangka. Gue gak mau bikin Lo kena jackpot buat masalah ini," ujar Radith yang tak membuat Luna puas, gadis itu bahkan memasang puppy eyes terbaiknya dan membuat Radith tak tahan. Lelaki itu akhirnya berkata.


" Gue bakal antar Lo ke rumahnya, tapi tolong Lo jangan panik, jangan melakukan hal yang membuat ribut. Janji sama gue?" tanya Radith yang membuat Luna mengangguk dan mengangkat kelingkingnya. Radith membantu Luna berdiri dan mengajak gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Meski tak yakin, lelaki itu tetap mengantar Luna ke rumah gadis yang akan menjadi 'nyonya' Atmaja.


Luna membuka mulutnya saat tahu rumah yang dimaksud oleh Radith. Luna sampai mematung beberapa saat dan akhirnya dia tersadar. Gadis itu menatap ke arah Radith dengan mata yang kosong. Lelaki itu hanya mengangguk lemas. Luna menggelengkan kepalanya pelan dan tiba – tiba keluar dari mobil dan berlari.


Sontak saja Radith kaget dan berusaha mengejar Luna, namun gadis itu seakan mendapat kekuatan lebih dan langsung menerobos masuk. Ternyata orang yang tadi dia cari juga ada di tempat ini. Orang itu tampak membicarakan sesuatu dengan dua orang lain yang ada di sini. Luna langsung menggelengkan kepalanya.


" Lo, ternyata Lo yang bakal jadi nyonya Atmaja? Kenapa? Kenapa Lo tega gini sama gue? Kenapa Lo gak tahu diri banget? Kalau bukan karna gue, Lo gak akan bisa ngelihat kayak sekarang, bahkan selamanya Lo bakal buta! Ini yang Lo lakuin buat berterima kasih sama gue?" tanya Luna dengan pedas.


" Luna, nak, dengar bunda dulu Nak."


" Maaf Bunda, Luna gak lagi bicara sama Bunda. Luna gak mau kasar sama Bunda, jadi tolong Bunda jangan menjawab Luna dulu," ujar Luna yang masih mencoba sopan pada orang tua yang ada di hadapannya. Bunda tak mampu membalas Luna, bunda hanya duduk lagi ke kursinya.


Darrel tak mengatakan apapun, lelaki itu hanya menunduk dan tak berani menghadapi Luna, begitu juga dengan Karel. Gadis itu hanya diam dan bahkan sudah sedikit terisak. Mereka seperti maling yang tertangkap basah. Luna masih belum puas, bahkan Radith yang sudah berdiri dan berusaha menenangkan gadis itu pun tak membuat gadis itu membaik.


" Gue yang berusaha bikin Panti Asuhn ini jadi rumah yang nyaman buat kalian semua, gue yang minta ke kak Darrel buat nyari donor mata dan dokter mata terbaik, gue gak nyangka yang gue tolong ternyata ular berbisa. Oh enggak, benalu, Cuma bisa numpang di pohon induk dan perlahan bikin induk itu mati. Manusia gak tahu di untung!"


" Terus kamu mau apa? Minta mata ini kembali?" tanya Karel dengan bergetar karna takut, namun anak itu masih berusaha melawan Luna.


" Ya! Balikin mata itu! lepas mata itu sekarang!" tantang Luna dengan berteriak. Radith sampai harus membekap gadis itu, sementara Bunda, Darrel, Karel dan bahkan anak – anak yang sedang bermain langsung menengok kaget.


" Lo jangan keterlaluan. Lo itu orang berpendidikan, gak gitu caranya," ujar Radith yang masih berusaha membuat gadis itu tenang.


" Buat apa gue pakai otak gue waktu ngomong sama orang yang bahkan gak punya hati? Yang satu nusuk dari belakang, yang satu dengan gak tahu malunya khianatin gue. Pengkhiatan semua," ujar Luna dengan tajam.


" Bunda, Luna gak nyangka Bunda bisa salah didik anak sampai jadi pelakor yang gak bisa hargai hubungan orang lain. Luna kecewa sama bunda," ujar Luna dengan nada sinis. Karel hendak menjawab, namun Luna langsung menunjuk wajah anak itu dengan galaknya.


" Lo diam! Lo gak pantas buat ngomong apa – apa. Lo bahkan gak jauh lebih berharga dari debu yang ada di sepatu gue!" ujar Luna yang membuat Karel tersentak, anak itu bahkan langsung meloloskan satu air mata dari mata itu.


" Luna cukup! Kamu keterlaluan." Akhirnya orang yang dari tadi diam angkat bicara. Lelaki itu berdiri dan menggelengkan kepalanya, tak menyangka dengan Luna yang bersikap sekasar ini.


" Kamu jangan keterlaluan, kamu gak pantas buat ngomong kayak gitu ke orang lain," ujar Darrel dengan nada lembut, nyaris membuat Luna tersentuh oleh perkataan lelaki itu.


" Lalu siapa yang pantas? Kak Darrel?" tanya Luna yang membuat lelaki itu tak bisa menjawab lagi, Luna yang melihat itu langsung merasa muak, gadis itu menghembuskan napasnya berkali – kali sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya, namun sebelum benar – benar pergi, gadis itu berkata.


" Silakan siapkan diri kalian. Besok pagi, bangunan di sini akan rata dengan tanah," ujar Luna yang membuat Bunda kaget dan mengejar Luna, namun gadis itu sudah berjalan cepat tanpa mau bernegosiasi sama sekali.


" Jangan terlalu menyalahkan Luna, wajar kalau dia kecewa," ujar Radith menatap Darrel kan Karel bergantian. Lelaki itu pamit pada bunda dan langsung pergi dari sana untuk menyusul Luna.


Bunda langsung terduduk di lantai dengan lemas, dia menatap Karel dan Darrel secara bergantian. Wanita itu langsung berdiri, meninggalkan Karrel dan Darrel yang tak berkata apapun.