Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 52



Luna bangun dari tidurnya dengan wajah lesu. Gadis itu sudah tak berselera untuk melakukan apapun. Namun dia selalu ingat pesan Radith kemarin, dia boleh saja bersedih, namun dia tetap harus makan agar energinya terisi. Dia juga masih harus memikirkan cara untuk bertemu dengan Darrel dan meluruskan semua. Jujur saja, gadis itu masih tak berani menghubungi Darrel sejak kemarin.


Gadis itu berjalan dengan rambut yang berantakan, dia bahkan tak mencuci wajahnya terelbih dahulu, entah mengapa dia enggan untuk berpenampilan 'pantas' seperti biasanya. Toh semua itu sudah tak berguna karna Darrel mencampakkannya dengan begitu mudah. Gadis itu akan bertindak senaknya setelah ini, tak peduli dengan perkataan orang lain.


" Chef, hari ini masak apa?" tanya Luna yang sudah bersandar pada meja yang ada di sana. Chef itu menengok dan langsung terkejut dengan penampilan Luna yang sama sekali tak dia sangka dia akan melihat gadis itu yang seakan tak memiliki antusias untuk melanjutkan hidupnya.


" Saya belum membuat makanan khusus untuk nona, apakah Nona sedang ingin makan sesuatu? Saya akan buatkan segera," ujar Chef itu setelah beberapa saat terdiam. Luna berpikir apa yang ingin dia makan. Sebenarnya dia hilang selera, namun dia merasa lapar jadi dia akan memaksakan diri untuk mengisi perutnya yang malang.


" Itu aja Chef, mie setan, atau bakso setan, ceker setan juga boleh. Pokoknya yang setan – setanan," ujar Luna yang membuat chef itu tertawa, Luna mengatakannya dengan nada kesal. Hanya ada dua alasan jika Luna sudah seperti ini, pertama, saat Luna sedang marah atau patah hati dan yang kedua saat gadis itu kedatangan bulannya. Tentu chef tak tahu pilihan mana yang benar.


" Nona, jika saya memasak setan setan seperti itu, bagaimana nanti Nona mendapatkan uang lebih banyak?" gurau Chef itu yang membuat Luna terkekeh sepersekian detik. Gadis itu menjentikkan jarinya dan mengangguk – anggukan kepalaya, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Chef itu.


" Benar juga ya chef. Tapi gak papa, nanti juga beranak pinak kok Chef. Udah ih ngomongnya, Luna udah lapar mau makan orang," ujar Luna dengan gemas, Chef itu tak lantas langsung membuatkan makanan tak sehat seperti itu untuk Luna, Chef itu menggelengkan kepalanya dan mendekat ke arah Luna untuk menatap gadis itu.


" Nona tidak boleh makan makanan seperti itu, itu akan membuat Nona sakit perut. Saya akan membuatkan ceker malaikat, akan terasa manis dan menyegarkan di mulut. Bagaimana?" tanya Chef itu yang membuat Luna cemberut, dia benar – benar ingin memakan makanan pedas, bukan hanya dia sedang frustasi, dia hanya ingin makan agar napsu makannya bertambah.


" Nona, jika nona tidak bernapsu makan, saya akan buatkan makanan yang akan menambah napsu makan nona tanpa harus menyakiti diri nona sendiri. Apakah nona tahu jika seseorang diare, dia tidak akan nyaman melakukan apapun?" tanya Chef itu yang membuat Luna mengangkat bahunya.


" Lagian Luna juga gak berencana untuk melakukan apapun lagi. Terserah deh chef, Luna lapar, buatkan apapun, kasih racun tikus juga boleh. Terserah pokoknya," ujar Luna dengan pasrah dan menundukkan kepalanya dan meletakkan kepalanya di meja. Chef hanya menggelengkan kepalanya dan mulai bekerja untuk menuruti apa yang Luna inginkan. Luna hanya menunggu dengan patuh karna dia sudah tak ada tenaga.


Gadis itu harus melewati malam yang membuatnya galau dan bahkan saat dia berhasil terlelap, bayangan Darrel yang berkata ' aku mau batalin pernikahan kita.' Terus berputar di kepala gadis itu, membuat gadis itu ingin melepas kepalanya agar dia bisa hidup dengan nyaman.


" Silakan nona, ini cream soup ayam, nona pasti akan suka," ujar chef yang sudah menyelesaikan hidangan pertama. Gadis itu langsung mengangkat kepalanya dan mengambil sendok tanpa berkomentar apapun. Gadis itu langsung mengambil makanan yang ada di mangkok dan memasukkannya ke dalaam mulut dengan minat.


" Chef, punya saran makanan yang kaya akan kalsium gak? Atau bikin saraf kita baik gitu? Luna tuh sampai Luna kalau Luna punya ataksia, harusnya Luna makan makanan yang bagus buat tulang sama buat saraf," ujar Luna yang membuat Chef itu berpikir meski tangannya tetap memasak. Chef itu menggelengkan kepalanya.


" Kalau untuk penguat tulang, nona bisa memakan olahan susu, atau ikan salmon, untuk sayurnya ada bayam, brokoli dan kentang. Tapi jika untuk saraf, akan lebih efektif jika nona tak memikirkan sesuatu yang berat. Apalagi ataksia memang tidak akan pernah bisa disembuhkan secara total. Nona harus berpikir rileks dan tak melakukan sesuatu yang berat untuk menghindari kambuhnya penyakit itu."


" Tapi Luna selalu berpikiran berat chef. Bentar lagi nona pasti kambuh – kambuhan nih, hahaha," ujar Luna yang sebenarnya bergurau, namun gurauan itu terlalu gelap untuk membuat chef tertawa. Chef itu memilih tak menjawab dan menyiapkan makanan lain untuk gadis itu.


Luna menyelesaikan makannya dengan baik, bahkan dia makan cukup banyak dari biasanya. Yah, dia memegang prinsip seseorang yang sedang sedih atau marah harus makan banyak agar moodnya kembali normal. Sudah sangat lama dia tak makan puas seperti ini karna dia selalu menjaga bentuk tubuhnya. Mungkin dia harus berterima kasih pada masalahnya kali ini.


" Luna bali kke akamr dulu ya, kalau ada yang nyari Luna bilang aja Luna gak ada, paling juga gak ada yang nyari Luna. Oke chef, terima kasih atas makanannya," ujar Luna yang menumpuk piring dan mangkoknya menjadi satu lalu menyingkirkannya untuk memebersihkan makanan yang ada di meja. Gadis itu mulai belajar menerapkan self service di rumahnya.


Setelah memastikan meja bersih, gadis itu membawa piring dan mangkok di tangan kiri dan gelas di tangan kanan. Dia membawanya ke wastafel dan meninggalkannya di sana. Jika sudah sampai sini sudah menjadi tugas pembantu yang ada di rumah ini. Luna langsung naik ke kamarnya saat selesai melakukan tugasnya, kembali merebahkan dirinya dan akan keluar kamar jika dia merasa lapar.


Sampai di kamar gadis itu berjalan ke arah lemari kecil di sebelah kulkas. Dia mengambil beberapa snack yang ada di sana dan mengambil kotak es krim dalam kulkas, dia juga mengambil satu kotak jus buah dingin yang dia simpan di dalam kulkas.


Gadis itu juga tak menyangka dia memiliki hasrat untuk makan yang besar, padahal belum ada sepuluh menit dia merasa kenyang, dia sudah merasa lapar lagi. Gadis itu membuka kotak es krim itu dan langsung menyuaokan es krim es krim itu ke dalam mulutnya dengan minat. Luna juga menyalakan televisinya dan menonton film di televisi itu.


Tak lama Luna mendengar pintu kamarnya diketuk. Gadis itu malas untuk berjalan, dia memilih untuk membiarkan saja orang itu terus mengetuk pintunya. Namun lama – lama dia merasa telinganya sakit dan dia tak sabar, membuat gadis itu mengambil sebuah remot dan membuka kunci pintunya.


Remot itu akan mengubah warna merah di pintu depan menjadi hijau, menandakan pintu itu sudah tak terkunci. Luna kembali meletakkan kepalanya dengan nyaman sambil menonton televisi saat pintu kamarnya terbuka dengan sempurna. Orang yang tak sabar itu langsung masuk ke dalam kamar Luna dengan mulut yang menganga.


" Gue pikir Lo bakal depresi terus bunuh diri. Ternyata Lo pilih cara lain. Lo mau jadi diabetes atau obesitas gitu?" tanya orang itu yang membuat Luna menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya dan kembali menikmati dunianya. Dia kembali menyuapkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya.


" Lo khawatir? Maksud Lo tadi Lo dari rumah, terus langsung ke sini karna khawatir sama gue? Astaga, Lo manis banget. Sini gue telan sekalian," ujar Luna dengan senyumnya, namun dia langsung menghilangkan senyumnya dan memakan snack coklat yang sudah terbuka bersama dengan sesendok es krim lagi. Gadis itu berdcak dan menatap ke arah Radith.


" Tolong ambilin es krim lagi dong di dalam kulkas, masih ada kan di sana?" tanya Luna dengan wajah yang imut, namun Radith tak terpengaruh sama sekali, lelaki itu hanya mnggelengkan kepalanya, membuat Luna berdecak karna Radith menolak permintaan tolongnya. Gadis itu langsung meletakkan es krim yang dia bawa di nakas dan berjalan ke arah kulkas sendiri.


" Buat apa coba Lo buru – buru ke sini dan ninggalin semua kerjaan kalau bukan bantuin gue? Lo khawatir gue bunuh diri atau depresi kan? Harusnya Lo bantuin mempermudah apa yang gue lakuin biar gue gak tambah depresi," ujar Luna yang tak dijawab oleh Radith.


" Emang gue pernah bilang kalau gue ninggalin semua kerjaan Cuma buat Lo? Emang Lo sepenting apa coba? Gue emang lagi gak ada kerjaan aja makanya gue main ke sini. Udah lama juga gue gak menjajah kamar Lo, eh ternyata kamar Lo sudah terjajah waktu gue ke sini," ujar Radith dengan gigi yang meringis risih melihat kamar Luna yang berantakan.


~ meanwhile beberapa saat sebelum Radith sampai di rumah Luna dengan selamat


" Sebenarnya kita ada ebebrapa peluang dengan mereka, jika kita bisa meyakainkan mereka tentang perluasan lahan ini. Apalagi produk yang kita produksi ini cukup meyakinkan," ujar salah seorang yang ada di rapat internal perusahaan itu.


Sementara yang lain tampak fokus dan sibuk, hanya ada satu orang yang tak berminat gabung dalam pembicaraan mereka, orang itu hanya diam menatap ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang yang sedari pagi mematikan ponselnya.


" Pak Radith, apakah bapak ada saran atau ingin perubahan terhadap ini? Saya akan membuatkan laporannya jika bapak sudah setuju, dan jika bapak setuju, saya akan menyiapkan daftar perusahaan yang cukup meyakinkan agar kita bisa menanam saham di sana," ujar orang itu yang membuat Radith terkejut dan menatap satu persatu orang yang ada di sana dengan blank.


" lakukan saja yang disepakati oleh yang lain. Saya akan anggap ide kalian bagus jika kalian semua menyetujuinya. Anggap saja sebagai penghargaan kerja keras kalian," ujar Radith yang membuat mereka tersenyum senang. Mereka senang bekerja dengan Radith karna mereka sering dipermudah oleh lelaki itu. meski sebagai atasan, dia selalu memperlakukan staff lain sebagai teman.


Meski tak jarang dia mengeluarkan perintah untuk merevisi laporan dan kontrak yang menurutnya tak sesuai, hal itu tentu membuat mereka berkembang dan semakin baik setiap harinya. Tak heran sampai saat ini belum ada orang yang memutuskan untuk mengundurkan diri atau bahkan mengeluh tentang pekerjaan mereka.


" Jika sudah selesai, saya minta tolong buat kalian langung siapkan saja semua hal yang harus saya tanda tangani, saya percayakan kepada kalian, terima kasih, saya harus pergi ke suatu tempat," ujar Radith yang keluar dari ruang itu meski sebenarnya mereka belum selesai melakukan rapat.


Lelaki itu berjalan cepat sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Namun dia masih tak bisa menghubungkan panggilan ke orang itu. Radith sampai harus sedikit berlari untuk menuju mobilnya dan meminta asistennya untuk menyetir. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi dia menyetir dengan keadaan tak fokus. Lebih baik dia duduk di kursi penumpang sambil mencoba untuk menelpon gadis itu.


Bahkan saat sampai di rumah Luna, lelaki itu langsung berlari masuk dan menaiki tangga menuju lantai tiga. Lelaki itu sampai blank dan lupa jika di rumah ini terdapat lift. Setelah 'perjalanan' tiga lantai yang melelahkan itu, dia langsung menyerbu kamar Luna dengan ketukan pintu tanpa henti sampai gadis itu mau membuka kunci pintunya


(Biarlah hal itu tetap menjadi rahasia kita)


~


" Oh? Radaith yang peengusaha muda lagi gak sibuk? Luna tercengang mendngarnya," ujar gadis itu yang kembali duduk di kasurnya, gadis itu meraih ponsel miliknya dan menyalakannya, melihat itu Radith langsung meluruskan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.


Sementara Luna langsung tercengang saat melihat 50 panggilan tak terjawab dari nama yang sama. Gadis itu langsung tertawa melihat ke layar ponselnya dan menunjukkan ponsel itu ke orang yang sudah menutup matanya dengan sempurna itu. Luna tak peduli, dia tahu jika orang itu tak tidur, orang itu hanya selelu menjunjung tinggi harga dirinya.


" Ada gitu orang yang katanya Cuma mau main tapi telpon sampai lima puluh kali gini? Waw, Luna tercengang di telpon sama orang penting seperti bos Radith," ujar Luna sambil tertawa puas, namun tak membuat Radith membuka matanya, lelaki itu tetap menutup matanya dengan napas yang teratur.


" Ah, mari kita lihat cctv di rumah ini untuk melihat tuan Radith yang meluangkan waktu untuk main ke gubug milik Luna," ujar gadis itu yang mengubah saluran menjadi saluran cctv yang ada di rumahnya. Radith sudah mengepalkann tangannya dan menahan diri untuk tak membuka mata, namun dia juga tak bisa membiarkan Luna melihat dia yang panik.


" Heh! Gak usah nyalah," ujar Radith yang langsung bangun dengan mata yang terbuka lebar. Luna tertawa sampai terbahak – bahak melihat lelaki itu yang salah tingkah. Bahkan lelaki itu berdiri, memindah saluran dan langsung membawa remot agar Luna tak bisa mengubah saluran Radith.


" Annyeong Haseyeo Radith oppa. Apa tidurmu nyenyak dan kau bermimpi indah?" tanya Luna dengan nada imut dan menggoda, Radith hanya menghembuskan napasnya kasar mendengar ejekan itu.


Luna cukup bersyukur dengan kehadiran Radith. Lelaki itu tak melakukan banyak hal, namun cukup membuat Luna tertawa di tengah kondisinya yang 'menyedihkan.'