
" Kamu tidur dulu aja, nanti kalau udah sampai aku bangunin," ujar Darrel saat melihat Luna mengantuk. Gadis itu hanya diam dan menatap jalanan yang sepi sedari tadi, gadis itu masih tak menyadari dia meninggalkan ponselnya dan Darrel sengaja menyimpannya di dashboard, berharap Luna sadar dan mencarinya, namun nyatanya gadis itu tidak mengingatnya sama sekali.
" Luna gak mau tidur, orang Luna belum ngantuk," ujar Luna dengan sewot lalu kembali pada aktivitasnya. Gadis itu memegang jendela yang berembun karna kondisi di luar sana sedang hujan cukup deras. Luna menulis beberapa kata, entah apa yang dia tulis di sana. Luna tersenyum setelah menulis itu.
" Nulis apa?" tanya Darrel yang ikut penasaran dengan apa yang Luna tulis, Darel kembali melihat Luna melalui spion, namun segera beralih pada jalanan saat dia di klakson oleh mobil lain. Namun gadis itu tak mau menjawab, dia hanya mengambil selimut yang ada di kursi belakang dan menidurkan dirinya lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu.
" Kepo," jawab Luna singkat lalu memejamkan matanya. Darrel hanya menggelengkan kepalanya karna gemas dengan tingkah Luna. Lelaki itu menyalakan musik dan menyetel musik pengantar tidur untuk Luna smebari berharap dia tidak ikut terbawa suasana dan malah mengantuk. Lelaki itu kembali fokus pada jalanan agar Luna bisa tidur.
Darrel tahu kebiasaan Luna setelah menangis kencang adalah tidur untuk waktu yang lama. Meski gadis itu tidak ingin tidur, pada akhirnya gadis itu akan memejamkan matanya juga, dan gadis itu akan melupakan semua perasaan buruknya saat dia bangun dari tidurnya. Hal itu adalah salah satu kelebihan yang dimiliki Luna, gadis itu berhati lembut dan pemaaf.
Lelaki itu menyetir mobil dengan baik sampai ke depan rumah Luna, namun dia tak tega untuk membangunkan Luna. Alhasil, dia sendiri yang mengangkat gadis itu dan membawanya ke dalam kamar dengan hati – hati. Darrel disambut oleh pelayan yang ada di sana dan membantu Darrel untuk membuka pintu.
" Mba, besok pagi siapin antiseptik baru ya, sama sabun mandi Luna diganti aja, diganti pakai yang mengandung antiseptik. Terus kalau bisa juga beli antiseptik buat ruangan, pokoknya ruangan Luna dibuat steril, kasihan dia kalau ketakutan tiap hari," ujar Darrel sambil berjalan membawa Luna yang berbalut selimut.
" Baik tuan muda, saya akan siapkan semua. Saya juga dapat kabar dari psikiater nona, nona bisa perlahan sembuh dari phobianya jika meminum obat dan ikut terapi. Tapi Nona tidak pernahmau meminum obatnya karna nona sudah meminum banyak obat untuk ataksia yang dia derita. Saya tidak berani membantah tuan."
" Loh, dari dokter udah ada obat buat phobia Luna? Kok saya gak tahu sama sekali? Sejak kapan?" tanya Darrel dengan nada sedikit tinggi, membuat Luna menggeliat dan mengarahkan kepalanya ke arah dada bidang Darrel, mencari kenyamanan yang ada di sana. Darrel menghela napasnya karna ternyata Luna tidak bangun.
" Benar tuan, setahu saya sejak nona pergi berkonsultasi, Nona sudah diberi obat untuk phobianya itu, tapi nona membuangnya di tempat sampah, saya menemukan obat itu dan membuangnya, saya tidak berani mengingatkan Nona, saya takut malah Nona salah paham dengan niat saya dan menjadi marah, maafkan saya," ujar pelayan itu yang membuat Darrel mengangguk paham.
" Terima kasih atas infonya, kamu boleh pergi. Saya akan mengantar Luna ke kamarnya," ujar Darrel yang dituruti oleh pelayan itu. Pelayan itu langsung pergi ke arah selatan dan membiarkan Darrel masuk ke dalam lift sendiri. Darrel langsung menutup pintu Lift dan memencet tombol 3 yang ada di sana dengan hidungnya.
" Untung gue mancung loh, tombol Lift ini bisa ditekan dengan mudah. I'm so proud of you Darrel Atmaja," ujar Darrel yang tersenyum bangga pada pantulan dirinya yang terdapat di kaca. Darrel sangat suka berkaca dan memuji dirinya sendiri jika dia berhadapan dengan cermin, apakah dia harus berkonsultasi ke psikiater juga? Mungkinkah dia menderita narsisme? Hahaha.
Darrel membuka pintu kamar Luna setelah memencet kode pengunci pintu tersebut. Pintu terbuka dan Darrel langsung menuju ke kasur besar itu karna tangannya mulai pegal. Luna tambah berat semakin hari, mungkin karna gadis itu jarang beraktivitas hingga lemak dalam tubuhnya tidak diolah dengan benar.
" Aku sayang banget sama kamu loh, kamu baik – baik ya selama aku pergi, jangan nakal. Tunggu sebentar lagi, aku bakal bikin kita jadi satu, aku bakal bikin kamu ikut kemanapun aku pergi, aku bakal bikin kamu jadi nyonya Atmaja. I love you," ujar Darrel saat Luna sudah tidur dengan tenang.
Darrel menarik selimut yang ada di tepi kasur dan menyalakan pendingin ruangan gar suasana tidak bertambah pengap. Darrel mengelus kepala Luna dan mendekat untuk memberi kecupan hangat pada dahi gadis itu. Darrel mengecupnya cukup lama sebagai perpisahan sementara karna dia memang dalam mode yang sangat sibuk beberapa waktu ini.
Darrel hendak bangkit dari posisinya, namun Luna malah menarik lehernya, membuat Darrel terkaget dan tertarik sampai membentur pundak Luna cukup keras, namun nambaknya Luna baik – baik saja, nyatanya gadis itu masih memejamkan matanya dan napasnya pun masih teratur. Darrel merasa jantungnya berdebar ada posisi ini.
" Luna, ini kita Cuma berdua di kamar. Itu pintunya udah kekunci, kalau aku gak sayang sama kamu, udah dari kapan coba aku bakal makan kamu? Ini aku udah tahan – tahan, malah kamu yang mancing aku. beuuhh, si kembar, kau akan menjadi milikku cepat atau lambat, aku akan menahannya untuk saat ini. Tunggu aku," ujar Darrel dengan asal.
Lelaki itu perlahan melepaskan tangan Luna dari lehernya, lalu kembali mengusap kepala Luna sebelum akhirnya memastikan selimut dan pendingin ruangan beres, lalu keluar dari kamar itu untuk pergi ke bandara. Darrel merasakan tulangnya remuk karna harus bekerja seperti ini setiap hari.
Mungkin pesawat adalah rumah kedua baginya. Dia sering harus tidur dalam pesawat karna tanggung jawabnya yang besar. Darrel harus memegang perusahaannya sendiri, dan Mr. Wilkinson juga merasa Darrel memiliki hak untuk separuh aset perusahaan karna Darrel akan menjadi salah satu pewaris harta Mr. Wilkinson. Sementara Jordan malah bahagia dengan keputusan Mr. Wilkinson yang membagi perusahaan untuk Darrel dan Jordan.
Seyakin itu mereka pada hubungan Luna dan Darrel. Mereka yakin Darrel akan menjadi pendamping yang baik untuk Luna, maka dari itu Darrel dilatih untuk menjadi bagian keluarga Wilkinson, meski pada akhirnya Luna lah yang menjadi anggota keluarga Atmaja. Meski sebenarnya Darrel belum siap untuk menjalaninya.
" Untung perjalanannya lama, gue bisa tidur dulu di pesawat, kalau Cuma sebentar, yakin deh, lima tahun lagi gue udah ada di rumah sakit karna pembengkakan otak, duh, amit – amit. Gue kan mau punya anak enam terus bikin tim volli," ujar Darrel dengan asal agar tidak mengantuk selama perjalanan menuju bandara.
Sebelum take off, Darrel menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Luna, serta meminta Luna untuk menjaga diri, jaga kesehatan dan jaga hati, selayaknya seorang kekasih yang mengirim pesan pada pasangannya. Setelah mengirim pesan itu, Darrel segera mematikan ponselnya dan masuk ke dalam pesawat untuk beristirahat.
*
*
" Kak Darrel," ujar Luna dnegan agak panik dan langsung mencari ponselnya. Namun gadis itu tak bisa menemukan ponsel dan tas miliknya. Gadis itu berusaha mengingat lagi kapan terakhir kali dia mengenakan tas itu, dan dia langsung menepuk jidatnya saat mengingat jika ponsel miliknya masih ada di mobil milik Darrel.
Luna segera beranjak dari kasur dan berlari ke arah pintu untuk mencari ponselnya yang lain. Dia sangat membutuhkan tas miliknya, karna dia harus menemukan barang – barang penting yang ada di dalam dompet dan tas miliknya. Termasuk kartu kredit, Kartu debit dan segala macam kartu yang lain. Luna harus memastikan benda itu tak terbawa oleh Darrel.
Gadis itu berusaha menelpon ke nomor Darrel, namun nomornya tidak aktif, membuat Luna mengacak rambutnya yang tadinya sudah seperti singa jantan. Gadis itu kahirnya hanya mengirim pesan pada Darrel untuk menelponnya jika lelaki itu sudah sampai atau sudah menyalakan ponselnya. Luna berjalan menuju meja makan untuk sarapan setelah meletakkan ponsel itu ke dalam lemari kaca.
Luna tak perlu takut ponsel – ponsel miliknya kehabisan daya karna ada satu orang khusus yang dia minta untuk mengontrol kondisi ponsel – ponsel miliknya, orang itu bekerja untuk mengisi daya ponsel – ponsel miliknya hingga dapat dia gunakan kapanpun dia mau. Pekerjaan yang sangat mudah bukan? Berminat untuk melamar kerja di keluarga Wilkinson?
Gadis itu melihat makanan yang seharusnya membuat seleranya bangkit, namun dia sangat tidak bernafsu melihat makanan kaya akan gizi yang ada di hadapannya. Luna memilih untuk memanggil pelayan yang ada di sana dan meminta pelayan itu memberikan makanan itu pada satpam atau pelayan lain. Setelah itu Luna meminta koki untuk datang ke meja makan.
" Chef, tolong buatkan bubur ayam aja ya, Luna lagi pingin makan bubur ayam. Gak papa kan Chef?" tanya Luna dengan sopan. Koki itu tentu saja tak keberatan untuk membuatkan makanan Luna, toh dia tidak rugi sedikitpun. Dia bersiap untuk membuat bubur ayam terbaik yanng ada di Indonesia ini.
Luna menyantap makanan itu dengan nikmat dan menghabiskan satu mangkok itu tanpa sisa, membuat perutnya terasa penuh dan dia harus merebahkan dirinya sejenak di kursinya. Luna mengelus perutnya yang membuncit dengan gemas, dia seperti orang yang sedang mengandung untuk saat ini.
" Kayaknya gue harus nge gym deh sekarang, tapi sama siapa ya? Apa gue ajak Radith aja ya?" tanya Luna pada meja yang dia tatap. Gadis itu langsung berjalan ke arah kamarnya untuk meminum obatnya yang berjumlah 8 butir itu. Gadis itu langsung mengambil ponsel untuk menghubungi Radith.
" Radith? Ini kan hari minggu, Lo gak pergi ke pabrik kan? Gym bareng gue yuk dith, gue gabut banget, terus nih perut gue mulai membuncit. Lo mau kan temenin gue nge gym?" tanya Luna pada lelaki itu. Radith tak menjawab beberapa saat, sepertinya lelaki itu belum bangun dari tidurnya.
" Bukannya Lo punya Instruktur sendiri? Kenapa Lo gak sama orang itu aja sih? Mager gue Lun, capek banget dari senin sampai sabtu gak ada rehat, gue mau males – malesan di hari minggu, boleh kan gue dapat itu semua?" tanya Radith dengan nada malas, benar dugaan Luna, lelaki itu masih tidur.
" Gue ke apartemen Lo setengah jam lagi, kalau Lo belum bangun, ntar gue yang bakal bangunin Lo. Sekalian gue bakal menegakkan sesuatu tapi bukan keadilan, biar Lo kerepotan," ujar Luna yang membuat Radith mendesis kesal. Lelaki itu tahu Luna sudah dewasa, namun tetap saja dia risih jika Luna mengancamnya dengan topik itu.
" Lo kalau ancam – ancam gue terus. Jangan salahin gue kalau gue khilaf dan bikin Darrel menyesal seumur hidupnya karna keduluan sama gue. Lo mau kayak gitu?" tanya Radith yang membuat Luna terkejut, dia tak menyangka Radith membalasnya kali ini, biasanya lelaki itu hanya mengalah dan menurut.
" Buruan ah siap – siap, gak mau tahu Lo harus temein gue ke tempat gym, setelah itu Lo mau tidur di sana jugaa gak masalah. Gue Cuma gak mau pergi ke sana sendirian," ujar Luna yang langsung mematikan telpon secara sepihak dan bersiap untuk mandi.
Luna memakai tank top berwarna merah muda dan celana olah raga selutut. Gadis itu membalut tubuhnya lagi dengan jaket agar tidak mengundang perhatian yang tak enak pada orang lain. Gadis itu segera menyiapkan barang yang perlu dia bawa dan langsung bergegas menuju apartemen Radith, dia yakin meski enggan, Radith akan menuruti perkataannya.
Luna masuk ke dalam apartemen Radith saat berhasil menekan kode yang ada di pintu tersebut. Luna menunggu Radith yang sepertinya sedang mandi. Gadis itu melepas jaket yang dia pakai dan mengambil majalah yang ada di meja lalu membacanya. Radith tak akan lama jika mandi, Luna sudah tahu hal itu.
Benar saja, tak lama kemudian, Radith keluar dari dalam kamar mandi, dan lelaki itu tampak terkejut dengan kehadiran luna yang tak bising sama sekali. Radith memandang Luna dari atas sampai bawah, namun sesaat kemudian Radith hanya berfokus pada satu titik, membuat lelaki itu menelan salivanya dengan susah payah. Yang dilakukan oleh Darrel bahkan bisa dirasakan oleh Luna.
" Ada yang berdiri tegak, tapi bukan keadilan." Luna langsung menyindir lelaki itu, membuat lelaki itu langsung memalingkan wajahnya dan berjalan ke arah kamar. Luna tertawa melihat Radith yang memerah dan salah tingkah, bercanda yang seperti ini, entah sejak kapan Luna mulai menyukainya.
" Gue Cuma temenin Lo ke sana, tapi jangan paksa gue buat ikutan olah raga. Awas aja Lo," ujar Radith dari dalam kamarnya.
" Udah, Lo mending cepat ganti bajunya terus kita berangkat. Awas, tissue di kamar jangan dihabisin, sayangi bumi woi," ujar Luna dengan keras dari tempat duduknya.
" HEH!" Teriak Radith dari dalam kamarnya, membuat Luna tertawa terbahak – bahak atas reaksi Radith yang sudah dia duga.