Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 19



Luna sudah berada lagi di kantor Radith, kali ini tanpa kehadiran Karin. Sepertinya gadis itu sudah kapok pergi ke tempat ini, atau mungkin juga dia sudah mulai 'belajar' cara menajdi kepala kantor yang baik dan benar? Yah, setidaknya untuk beberapa hari ke depan Radith tak akan terpaksa menyambutnya padahal Radith masih memiliki banyak kerjaan. Walau sebagai gantinya dia harus melihat Luna merusuh.


" Gue masih gak nyangka aja gitu Dith ternyata Keyla ngelakuin itu semua. Emang kalau cewek atau orang nikah cepat itu karna nabung dulu ya Dith?" tanya Luna yang bingung. Radith hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tentu hal itu tak bisa menjadi patokan.


" Sebenarnya gak harus nabung dulu baru bisa nikah muda. Bisa jadi orangnya emang udah siap buat nikah, bisa jadi juga memang mereka patok umur nikah segitu. Entah kenapa aja gue langsung ngerasa waktu kemarin Lo bilang teman Lo nikah. Gue kayak udah tahu dia bukan tipe orang yang siap komitmen," ujar Radith sambil melihat lagi lembar yang akan dia tanda tangani.


" Kalau gue dith? Gue wajah wajah udah siap nikah belum? Kalau gue nikah udah pantas belum?" tanya Luna yang memegang pipinya dengan imut, membuat Radith meringis ngeri melihat wajah Luna yang diimut – imutkan, lelaki itu kembali melihat ke arah kertas setelah melihat wajah Luna.


" Dari wajah dan umur, Lo udah bisa aja nikah muda. Tapi dari segi sifat, gue takut nanti orang gak bisa bedain mana emak mana anak, sifat Lo belum dewasa dan masih sangat kekanakan. Untuk nikah, silakan Lo mikir lagi tentang hal itu," ujar Radith yang membuat Luna terdiam.


Radith mengatakan hal yang bersebrangan dengan pendapat orang lain. Tapi yang dikatakan Radith selalu tentang kejujuran dan kebanyakan hal itu merupakan hal baik untuk Luna. Sepertinya Luna harus memikirkan tentang hal ini lagi. Dia tak bisa gegabah dengan keputusan yang akan berpengaruh di sisa hidupnya.


" Lo ingat gak kalau besok ada dies natalis? Gue diundang, besok gue mau ke sana. Lo mau ikutan gak?" tanya Radith yang membuat Luna berbinar. Gadis itu mengangguk tanpa berpikir lagi. Tadinya dia mau pergi ke tempat dies natalis bersama Darrel, siapa sangka akhirnya dia malah pergi bersama Radith.


" Gak usah pakai baju yang norak, tapi jangan pakai kaos. Ya Lo sesuaiin sendiri lah, besok pagi gue jemput karna gue diminta kasih sambutan sebelum jalan santainya. Jadi Lo jangan tidur malam, karna kalau Lo telat bangun, bakal gue tinggal," ujar Radith yang serius memperingati gadis itu.


Luna kembali mengangguk dan berjanji akan menjadi anak yang baik agar Radith tidak kesal. Gadis itu bahkan pamit untuk pulag agar dia bisa menyelesaikan episode drakor agar sesuai targetnya dan tidur lebih awal. Radith yang tak bisa mengantar pun hanya meminta supir untuk mengantar Luna agar sampai di rumah dengan selamat.


" Wahai drakor – drakorku sayang, kalian harus gue tonton sekarang biar gue bisa tidur awal. Come to mama," ujar Luna yang sudah menyalakan teleisi dan memilih episode yang akan dia tonton. Gadis itu mulai fokus dengan film yang ada di depannya. Sebenarnya dia cukup bosan, namun dia juga penasaran akan kelanjutannya.


*


*


*


" Lo belum bangun? Buruan! Gue gak bisa telat, gue gak enak sama guru – guru yang ada di sekolah." Luna yang masih bersiap – siap pun hanya mendengarkan ocehan Radith yang menelponnya. Bahkan dia bangun sangat pagi setelah sekian lama. Hal ini patut diapresiasi, namun Radith malah sudah datang sehingga terkesan dia terlambat bangun.


" Sabar, ini gue Cuma tinggal pakai sepatu, gak usah ngeburu – buru gue, nanti gue malah jadi banyak yang ketinggalan," ujar Luna sambil mengeek isi tas kecilnya. Dia membawa power bank, dompet dan ponsel, memastikan juga ada celah kosong karna dia tahu Radith akan menitipkan ponsel padanya.


Radith menunggu Luna dengan sabar. Tak sampai lima menit, gadis itu sudah berjalan cepat ke mobilnya dan masuk begitu saja. Radith reflek melihat Luna dari atas sampai bawah. Gadis itu memakai kemeja santai yang memang biasa digunakan untuk olah raga, lengkap dengan sneakers putih yang masih tampak baru.


" Lo mau ikut jalan santainya? Gue ke sana Cuma mau nyampein sambutan loh, gue gak mau kalau disuruh ikut jalan," ujar Radith sambil menyalakan mesin mobilnya dan menutup jendela yang tadi dia buka. Lelaki itu meninggalkan halaman rumah Luna, tak lupa menyapa satpam yang ada di sana dengan klakson mobilnya.


" Iya gue tahu. Orang selama gue peserta aja gue malas disuruh jalan, apalagi waktu gue jadi tamu. Mending gue duduk manis lihat yang dapat doorprise deh dith. Gue kan Cuma gak mau salah kostum, makanya gue pakai baju kayak gini," ujar Luna yang menatap style yang menurutnya tak membut Radith malu, dia bahkan memakai training yang santai namun tak sederhana.


" Ya udah gimana Lo aja deh," ujar Radith yang mengedikkan bahunya dan kembali fokus pada jalanan. Jika Luna bisa tidur lebih awal, Radith malah baru memejamkan matanya selama tiga jam. Lelaki itu harus melembur tugas – tugasnya untuk hari ini karna hari ini dia mengosongkan jadwalnya. Jika tak dicicil kemarin, besok dia akan kesulitan.


Mereka sampai di sekolah yang sudah ramai. Bahkan terdapat banyak stan pameran yang juga memamerkan karya sekolah lain. Luna langsung berjalan ke arah SMK yang memiliki jurusan kuliner, dia mau membeli banyak makanan enak yang ada di tempat ini, terutama makanan yang tak bisa dia beli saat dia masih bersekolah di sini.


Radith dan Luna berjalan ke arah kepala sekolah yang langsung menyambut Radith dengan sangat sopan. Membuat Luna sedikit takjub melihat hal itu. Memang sejak awal Radith merupakan anak kesayangan kepala sekolah, namun baru kali ini Luna melihat kepala sekolah tampak segan pada Radith.


Acara pun dimulai pukul enam pagi. Dimulai dengan doa dan menyanyikan lagu Indonesia raya yang dipandu oleh tim paduan suara. Mereka menyanyikan lagu Indonesia raya dengan khidmat sampai lagu selesai. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari kepala sekolah dan ketua panitia, cukup membosankan, seperti biasa.


" Baiklah, dalam terselenggaranya acara ini, kalian bisa melihat banyaknya hadiah yang ada di belakang saya nih, sekarang mari kami persilakan bapak Radithya David selaku donatur utama terselenggaranya acara ini untuk memberikan sepatah dua patah kata untuk kami semua," ujar MC yang membuat Radith langsung bangkit menuju panggung.


" Selamat Pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan pada saya. Di sini saya mau menyampaikan tentang …" Radith mulai menyampaikan amanatnya sebagai alumni sekaligus donatur utama hadiah – hadiah yang ada di belakangnya. Dia menyampaikan pada anak – anak untuk menekuni bakat dan minat mereka dan mencari peluang dengan itu untuk membuka usaha.


Luna bisa merasakan aura di sekitarnya berubah saat Radith ada di atas sana. Mereka langsung kagum dengan motivasi yang diberikan pada Radith, bahkan mereka langsung mengaku bahwa calon suami idaman mereka dalah Radith. Mereka bahkan mengaku – aku bahwa mereka adalah istri Radith. Entah mengapa Luna merasa sebal mendengar hal itu.


Radith turun dari posisinya, menghampiri Luna yang dipenuhi dengan aura gelap dan tersenyum pada gadis itu, namun malah gadis – gadis kecil ini yang heboh dengan senyum Radith. Mereka kira Radith tersenyum pada mereka. Luna sendiri hanya diam dan malas menanggapi bocah – bocah yang ada di dekatnya.


" Lo mau sarapan dulu apa gimana? Kayaknya ini masih lama deh, kan masih harus jalan dulu. Kalau mau sarapan dulu yok kita pergi dulu terus ke sini lagi, gue pamit dulu ke guru kalau emang iya," ujar Radith yang diangguki oleh Luna, membuat lelaki itu berjalan berbalik untuk berjalan ke mobilnya.


" Heh, Lo tuh gak boleh bahagia di atas penderitaan orang lain. Mereka kecewa banget tuh waktu gue nitip ponsel, kayaknya perlu gue hibur dulu deh," ujar Radith yang hendak berbalik, namun Luna menggeret kerah baju lelaki itu, membuat Radith makin tertawa dan mengikuti langkah kaki Luna yang membawanya ke mobil yang tadi dia parkirkan.


" Lo mau bubur ayam atau soto? Kalau pagi yang gampang di cari itu," ujar Radith yang melihat jam tangannya. Luna akhirnya memilih untuk makan bubur ayam. Radith langsung melajukan mobilnya menuju tempat penjual bubur ayam yang dia tahu rasanya enak. Mereka bisa melihat anak – anak yang berjalan berurutan meninggalkan sekolah.


" Ternyata dulu kita sepanjang ini waktu jalan santai. Bener – bener bikin penuh jalan sampai sepanjang itu anak - anaknya, hahaha," ujar Luna yang tak henti melihat ke arah anak – anak yang mengantre untuk menyebrang jalan agar tak menimbulkan kemacetan yang berkepanjangan.


Mereka akhirnya sampai di penjual buur ayam pinggir jalan. Setelah memastikan Luna tak begitu masalah dengan tempatnya, mereka turun dari dalam mobil dan memulai memesan dua porsi bubur ayam dengan Luna yang tidak memakai kacang dan Radith tidak memakai cakwe. Mereka menunggu pesanan datang sembari mengobrol hal yang tidak penting.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Radith langsung mengambil sambal dan mengaduk bubur yang ada di mangkoknya, membuat Luna langsung melongo dan menatap Radith dengan pandnagan mata yang terkejut. Lelaki yang ditatap pun menatap balik Luna lalu menanyakan kenapa Luna melihatnya sampai seperti itu.


" Kenapa Lo makannya diaduk gitu sih? Bikin geli tahu gak sih dith, masak makan bubur dicampur kayak gitu, ih," ujar Luna yang menggelengkan badannya dan langsung bergidik dengan badan yang bergetar. Radith dengan reflek mengangkat sebelah alisnya dan menatap Luna dengan heran. Lelaki itu menatap Luna dan mangkoknya bergantian.


" Lah kalau gak diaduk gimana nih bumbu sama komponen – komponen pendukungnya kecampur? Aneh Lo,"' ujar Radith yang langsung memasukkan satu sendok penuh bubur ke dalam mulutnya. Luna masih menggetarkan kepalanya karna tak menyangka Radith mengaduk jadi satu bubur ayam tersebut sehingga terlihat seperti makanan sisa.


" Justru yang aneh itu Lo. Makan bubur ayam kok gak diaduk, gimana bumbunya bisa nyampur jadi satu? Rasanya pasti gak enak lah kalau kayak gitu," ujar Radith sambil memasukkan lagi bubur ke dalam mulutnya, Luna yang hendak menelan bubur pun langsung tersedak mendengar hal itu.


" Lo salah lah. Kan diambilnya satu – satu biar nih mangkok jadi rapi. Gak kayak Lo tuh, kayak makanan sisa yang dijadikan satu, masak kayak gitu bisa dimakan," ujar Luna yang malah berubah dari heran jadi mencibir. Radith yang tak terima pun membalas perkataan Luna dengan teori – teorinya dalam memakan bubur ayam.


Pengunjung lain bahkan oenjual bubur ayam ini tak menyangka hal sepele membuat pasangan muda yang ada di depannya bertengkar, bahkan merkea tak ada yang mau mengalah dan semakin menaikkan nada bicara, tak kenal tempat. Padahal mereka menjadi bahan tontonan orang – orang lain yang ada di tempat ini.


" Kalau Lo masih ngeyel lagi, mending Lo pulang sendiri, males gue kalau harus debat sama Lo masalah kayak gini. Intinya, bubur ayam itu diaduk biar enak, bumbunya nyampur jadi satu." Luna hendak menjawab, namun Radith memberi isyarat gadis itu untuk diam, membuat Luna khirnya memanyunkan bibirnya dan memakan sisa bubur dalam mangkoknya dengan kesal.


Radith membayar makanan mereka dan mereka segera masuk ke dalam mobil untuk kembali ke sekolah. Luna menutup pintu dengan kasar, membuat Radith menengok kaget dan menggelengkan kepalanya, sementara Luna masih enggan menatap ke arahnya. Radith menghela napasnya dan menyalakan mesin mobilnya lalu segera pergi dari tempat itu.


" Naik mobil bagus kayak naik angkot yang pintunya macet, nutup pintu kenceng amat. Untung gak copot pintu mobil gue," ujar Radith menyindir Luna, namun gadis itu tak bergeming sedikitpun, membuat Radith sedikit kesal sekaligus frustasi karna diabaikan oleh Luna. Bagaimana mungkin masalah bubur ayam membuat Luna sekesal ini?


" Iya – iya Lun, bubur ayam enak kalau gak dicampur. Besok lagi kalau beli bubur ayam gak akan gue aduk biar makannya enak, gak kayak makanan sisa," ujar Radith yang akhirnya mengalah. Luna langsung menatap ke arah Radith, bahkan mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki itu. Membuat lelaki itu menatap Luna dengan risih.


" Gitu kek dari tadi, kan gak bikin ribut," ujar Luna yang langsung mengubah ekspresi kesalnya menjadi senyum. Bahkan gadis itu langsung menyalakan musik yang ada di mobil itu dan mulai menyanyi mengikuti alunan lagu yang diputar. Sementara Radith tak merespon sama sekali, tak mau memperkeruh suasana dan membuat Luna makin kesal.


Meski dalam hati dia tetap mengomel dan mengatakan hal yanag sama berulang kali.


' bubur ayam itu enak kalau diaduk.' – batin Radith.


*


*


*


HALOHAAAAAAA


Luna sama Radith berantem gaes, kalau kalian tim mana nih? Tim yang diaduk atau tim yang gak diaduk? Kalau author sih tim gak diaduk. Gak bisa makan makanan yang dicampur wkwkwk.


Fun Fact about author.


Kalau authornya makan, pasti lauknya ada piring sendiri. Misal lauknya lebih dari satu, pasti author kasih piring yang beda – beda. Misal Author makan ayam goreng, terong balado, sayur. Nah author bakal pakai 3 piring dan satu mangkok ( sama nasi soalnya) jadi cuciannya banyak sendiri hahahahah.


Kalau kalian gimana nih? Komen di bawaaahhhhh.


Saranghaja!