
Teriknya matahari membuat Luna terusik dalam tidurnya. Gadis itu menggeliat dan hendak beranjak turun dari tempat tidur. Namun kakinya tak bisa digerakkan, sebaliknya, tangan gadis itu bergetar sendiri tanpa bisa dia kendalikan. Luna terdiam dan memandang tangannya yang tampak eperti epilepsi, gadis itu ingin tertawa, namun juga dia takut dan merasa ingin menangis.
Luna menunggu cukup lama sebelum akhirnya getaran itu berhenti sendiri. Luna mencoba untuk mencubit kakinya, dan saat dia bisa merasakan sakit, gadis itu mulai menggerakkan kakinya perlahan. Gadis itu turun dari kasurnya dan berjalan sangat pelan menuju pintu depan. Setiap langkah yang Luna ambil akhirnya beriring dengan air mata yang jatuh dari matanya.
" Padahal sebelum ini gue bisa jalan atau bahkan lari semau gue, sebahagia gue, kemana pun itu. Kenapa hidup mudah selaki beerputar? Bahkan rasanya gue langsung jatuh tanpa ada persiapan," ujar Luna pelan sambil memegang kakinya yang sedikit dia paksa agar bisa berjalan. Gadis itu akhirnya bisa memegang gagang pintu dan membukanya.
Baru beberapa langkah dari kamar Jordan, gadis itu sudah kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Untungnya Jordan sedang ada di dekat situ dan langsung berlari untuk menolong Luna. Pria itu menopang tubuh Luna tanpa bicara apapun, Luna mengusap air matanya dan menatap ke arah Jordan. Jordan mengangguk dan tersenyum untuk menyaakinkan Luna.
Perlahan gadis itu kembali melangkah dengan Jordan yang menjadi penopangnya. Luna kembali merasa sedih dan terharu, gadis itu kembali menangis dan berusaha kuat untuk menghentikan tangisnya. Jordan yang melihat itu nyaris saja ikut menangis, lelaki itu memilih untuk menghapus air mata yang memenuhi wajah cantik adik cantiknya.
" Masih pagi, gak boleh nangis, ayo semangat, meja makan udah dekat," ujar Jordan dengan nada bercanda. Luna bahkan sampai terkekeh mendengar apa yang Jordan katakan. Luna tahu Jordan peduli, namun lelaki itu tak mau sampai Luna merasa jika Jordan kasihan padanya. Hal itu tentu akan membuat mental Luna jatuh. Jordan sangat mengerti hal itu hingga Jordan memilih untuk menganggap semua baik – baik saja.
" Selamat pagi anak Daddy yang dua lagi, kalian lama banget sih, tuh Danesya udah habis tiga piring," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Danesya tersedak. Gadis itu menatap daddynya dengan tatapan tak terima, namun setelah itu dia hanya memalingkan wajahnya dan melanjutkan lagi makannya.
" Jordan mimpi indah pa, jadi males bangun tadi, haha," ujar Jordan dengan santai sambil mengambil dua lembar roti tawar dan pisau selai setelah tadi mendudukkan Luna di kursi. Tak ada yang membahas kenapa Luna sampai dipapah oleh Jordan, semua menganggap tak ada sesuatu yang terjadi.
Jujur saja, yang mereka lakukan membuat Luna menjadi tenang. Gadis itu tak perlu merasa bahwa dia merepotkan, perlu dikasihani bahkan tidak berguna saat keadaan seperti ini. Nyatanya keluarganya masih tetap memperlakukannya sama, tak membahas penyakitnya dan hidup selayaknya keluarga normal, Luna beruntung lahir dari keluarga yang seperti ini, sanagat membuatnya nyaman.
" Kamu sekolah dijemput sama Darrel atau diantar Jordan?" tanya Mr. Wilkinson sambil menusukkan garpu ke buah yang sudah dipotong – potong. Di usia sekarang beliau tentu memerlukan asupan Vitamin yang berasal dari macam buah – buahan, setidaknya itulah yang dikatakan oleh dokter pribadinya. Bukan berarti beliau menjadi Vegetarian yah.
" Di jemput sama Darrel lah, Jordan kan harus Flight ke kota hujan, pesawat Jordan juga udah mepet, ya kan ;un/ kamu diantar Darrel kan?" tanya Jordan yang mendapat tatapan tajam dari Mr. Wilkinson. Apakah Jordan lupa bos besarnya ada di sini? Bagaimana mungkin penerbangan itu jauh lebih penting dari Lunetta?
" Iya Dad, Luna dijemput sama Kak Darrel, nanti pulangnya sekalian mau diajak jalan – jalan katanya, gak tahu kemana, boleh kan dad?" tanya Luna sedikit takut. Dia tak pernah ijin seperti ini pada Daddynya sebelumnya. Meski status mereka ayah dan anak, jika terpisah begitu lama ternyata juga terasa canggung.
" Bilang ke Darrel untuk ijin ke Daddy sendiri, kalau dia gak berani ijin ke daddy ya gak usah pergi, kalau kamu mau jalan jalan sama Jordan atau Danesya, kalau gak sama pak Indra aja," ujar Mr. Wilkinson dengan datar yang membuat Luna sedikit terkekeh karna isi pikirannya sendiri
" Ijin ke daddy buat tunangan sama Luna aja berani, apalgi Cuma ijin ajak Luna jalan – jalan, beuuh, easy peachy ya Dad," ujar Luna dengan riang diiringi dengan tawa yang mengejek. Suasana di meja makan menjadi hidup hingga mereka bisa menghabiskan saparan masing – masing dengan hati dan suasana hangat, sebelum akhirnya mereka sibuk dengan keperluan massing – masing.
Tuan Wilkinson dengan koran paginya, Danesya yang sudah berhubungan dengan teman luar negerinya entah apa yang mereka bahas, Luna yang duduk manis di sofa menunggu kedatangan Darrel serta Jordan yang mungkin saat ini sudah sampai ke Bandara. Meski sibuk, setidaknya mereka sudah luangkan waktu untuk bersama dan menceritakan banyak hal. Sesuatu yang selama ini hilang dari keluarga mereka.
" Dad, Dad kan bos besar, biasanya juga sibuk banget, kok sekarang nyantai aja sih sama Koran gitu? Jadi aneh lihatnya," ujar Luna yang merasa suntuk dengan keberadaan papanya yang hanya memakai kaos dan celana boxer, membolak balik koran seperti seseorang yang tak ada kerjaan lain.
" Nah itu kamu tahu kalau Daddy bos besar, dimana mana bos besar tuh tinggal lihat anak buahnya kerja, Bos besar kan sebagai otaknya, karyawan itu kaki tangannya, jadi semua bisa bekerja sama dengan baik. Daddy kan udah tua, biar Daddy fokus sama dunia santai Daddy dong," ujar Mr. Wilkinson sambil mengerucutkan mulutnya dengan lucu.
Luna melongo melihat papanya yang persi seperti anak kecil. Apakah semua orang tua bersikap seperti ini? Makin bertambah usia mereka, makin manjalah sifatnya. Atau hanya Mr. Wilkinson karna selama ini beliau sangat sibuk dan harinya pun terlihat suntuk? Entahlah, Luna tak mau memikirkan hal tak penting itu terlalu lama, terlalu menjadi beban pikirannya.
Tak lama kemudian Mobil Darrel memasuki halaman rumah Luna, membuat kedua orang yang ada di sana menegok, bahkan Mr. Wilkinson sampai melipat lagi korannya dn memasang wajah galak sebelum bertemu dengan Darrel.
Darrel masuk ke dalam rumah itu setelah mengetok dan langsung menyalami Wilkinson sebelum akhirnya menghampiri Luna dan mengulurkan tangannya. Luna menatap tangan itu dengan alis yang berkerut, melihat apakah ada sesuatu di tangan itu dan Darrel mau memberikan untuk Luna.
" Salim sama calon suami," ujar Darrel dengan tengilnya sambil memasanag wajah ceria yang tanpa batas. Luna langsung berdecih kesal dan menepis tangan itu dari hadapannya. Darrel tertawa melihat respon Luna, namun tawanya langsung hilang saat Mr. Wilkinson menatapnya tajam dan menyuruhnya duduk di sofa dengan dagunya. Darrel meringis dan duduk di sofa sesuai perintah beliau.
" Om, Darrel mau ijin nganter Luna ke sekolah, terus nanti pulang sekolah mau ajak Luna jalan – jalan, katanya Luna pengen beli boneka baru, boleh kan om?" tanya Darrel dengan santai namun tetap dengan nada yang sopan dan enak didengar. Mr. Wilkinson menggeleng takjub melihat Darrel yang kelewat santai.
" Kamu harus tahu, ada orang yang bicara begitu pada Om, besoknya dia sudah Om kirim ke Wakanda. Kamu ya gak ada takut – takutnya sama Om, Om kan mau jadi dingin, nyemerin, ditakutin sama calon mantu kayak novel – novel action di luar sana," ujar Mr. Wilkinson yang membuka kembali lembaran kordan dan mengabaikan Darrel. Beliau merajuk permisaahhh.
" Om, kata papa saya mah kalau udah berumur gak boleh ngaambekan Om, mending bahagia bersama –sama. Maaf kalau Darrel bikin Om ngerasa kayak gitu, Darrel Cuma kelewat nyaman aja sama Om, makanya Om udah kayak papa Darrel sendiri. Masak sama papanya harus tegang dan takut sih Om."
" Pandai juga kamu menjilat dan bersilat lidah kayak gitu. Ya sudah ya sudah, kalian lekas berangkat biar gak buru – buru di jalan, dan kalau kamu mau ajak Luna pergi, kamu yang harus bayarin semua. Tunjukkan kalau kamu itu lelaki sejati," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Luna malu.
Bahkan membeli sendiri besert toko – tokonya Luna masih sanggup jika melihat jumlah saldo yang ada di beberapa kartu debitnya. Belum Black card yang diberikan oleh Daddynya untuk memenuhi kebutuhannya. Luna kan tak perlu meminta pada Darrel, Luna tak mau terkesan memanfaatkan Darrel untuk memenuhi keperluannya.
" Tenang aja om, jangankan Cuma boneka, bahkan sampai yang jaga pun kalau Luna mau bisa Darrel usahakan," ujar Darrel dengan ngawur yang membuat mereka semua tertawa setelahnya. Darrel dan Luna pamit untuk berangkat sekolah bersama memakai mobil Darrel yang kala itu dirusak oleh Lucy, semua sudah diperbaiki dan seperti baru. ( padahal biaya perbaikan nyaris sama dengan harga baru mobil itu)
Darrel melajukan mobilnya dengan santai. Menikmati jalanan pagi yang sudah padat, sambil sesekali bernyanyi karna dia tahu lagu yang diputar oleh Luna. Luna juga bernyanyi dan menggunakan ponselnya sebagai microphone, mereka melakukan itu selama perjalanan sampai akhirnya masuk ke gerbang sekolah dan berjalan ke kelas masing – masing.
" Kamu mau beli yang mana? Beruang apa panda?" tanya Darrel saat Luna memeluk kedua boneka itu. Luna memandang kedua boneka yang ada di tangannya lalu menatap Darrel dengan tatapan yang tak dapat diartikan lagi. Darrel mengangguk dan mengambil alih kedua boneka itu di tangannya.
" Ini dihitung permintaan pertama gak Lun?" tanya Darrel mengingat janjinya kala itu. Luna menggeleng sebagai jawaban, tentu bukan permintaan seperti ini yang Luna mau. Luna ingin permintaannya berguna dan berkesan, bukan hanya minta dibelikan sesuatu atau sekadar diajak ke suatu tempat.
" Kak, itu kok Lucu ya kak," ujar Luna menunjuk sebuah boneka anjing super besar yang terpampang di bagian boneka raksasa. Darrel mengambil boneka itu tanpa protes dan tanpa bicara, membawa boneka itu di tangannya sampai dia kewalahan. Akhirnya da tiga orang berpakaian hitam bertampang garang yang membantu Darrel memabwakan boneka – boneka itu.
" Kak, Mereka lucu deh kak, wajahnya garang, tampangnya seram, tapi bawanya boneka unyu – unyu, kan lucu kak," ujar Luna berbisik. Darrel juga tertawa melihat orang – orangnya yang dengan wajah datar membawa boneka besar itu. Mereka mengambil beberapa boneka besar lain dengan total sepuluh orang yang membantu mereka untuk memabwa boneka – boneka itu.
" Kamu serius ini udah semua? Mau beli yang lain gak? Atau mau bawa mbak mbak nya yang jaga itu?" tanya Darrel yang malah dengan sengaja menggoda Luna. Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan menggeleng, cukup sepuluh boneka besar saja untuk hari ini, itupun mereka harus meminta supir membawa satu mobil lagi agar boneka – boneka itu bisa dibawa pulang.
" Kak, nanti pulangnya mampir ke makam mama ya, gak tahu kenapa Luna pengen ke sana," ujar Luna yang diangguki saja oleh Darrel. Mereka keluar dari toko boneka yang diiringi tatapan bahagia dari staff yang ada di sana. Mereka pergi dari sana menuju ke toko bunga, membawakan oleh – oleh untuk mama Luna.
Sesampainya di sana Luna tampak diam dan menatap nisan itu dengan tatapan yang dalam. Sementara Darrel menaburkan bunga yang tadi mereka beli dipinggir jalan, serta satu bucket bunga mawar putih dan merah yang sangat cantik untuk menghiasi makam itu. Luna menghela napasnya berkali – kali, tampak memendam beban yang berat.
" Panas banget udaranya, aku mau beli minum dulu, kamu kalau mau ngobrol atau cerita ke mama kamu cerita aja, aku gak akan ganggu," ujar Darrel yang laangsung paham dan bangkit dari jongkoknya, mencium puncak kepala Luna dan langsung pergi dari sana.
" Mama, tadi pagi Luna kambuh lagi tanpa bisa Luna cegah, kalau semisal frekuensi sembuhnya bertambah terus gimana ma?" tanya Luna yang mulai menumpahkan keluh kesahnya. Darrel tak tahu jika Luna hari ini kambuh karna memang tak ada yang membahas hal ini. Luna mengelus nisan putih bersih yang memang sering dibersihkan oleh orang suruhan papanya.
" Luna, mama tahu kamu capek, mama tahu kamu kesakitan, tapi kamu tahu kan kalau mama sama Papa sangat sayang sama kalian bertiga?" tanya Mama Luna yang muncul entah dari mana. Bahkan Luna tak sadar entah sejak kapan mereka sudah berada di taman berbunga yanag indah.
" Luna tahu ma, Luna juga tahu kalau mama rela korbanin nyama mama buat lahirin Luna. Maaf ma, bahkan kelahiran Luna pun sudah bisa dibilang gak berbakti sama mama," ujar Luna dengan sedih. Mamanya itu langsung mengelus kepala Luna dengan penuh kasih sayang.
" Mama tidak pernah menyebut itu pengorbanan karna mama senang melakukannya. Begitu pula kamu, kalau kamu melakukan sesuatu dengan iklas dan gembira, hal itu tidak akan menjadi sebuah pengorbanan, karna pengorbanan itu suatu keharusan mau atau tidak mau kita. Tapi disini kan kita pakai hati kita sendiri untuk melakukan itu," ujar Mama Luna yang sebenarnya tak dipahami oleh gadis itu.
" Tapi kalau kamu lelah atau udah gak mau lanjutin ini semua, kamu bisa ikut mama, di sana ada taman yang sangat indah, jauh lebih indah dari di sini. Kalau kamu mau, kita ke sana, kita hidup bahagia, kamu bisa lepaskan semua beban kamu. Di sana kamu gak akan pernah merasakan sakit, kamu gak akan pernah bersedih, kamu gak akan pernah mengalami kepahitan."
" Luna mau ma, Luna mau ikut mama, Luna mau ke sana aja. Tapi bang Jordan, Daddy, sama Danesya gimana ma? Masak kita gak ajak mereka juga?" tanya Luna dengan bingung.
" Mereka harus tetap di sini, mereka bakal ikut sama kita kalau waktunya tepat. Ayo, kita ke sana sekarang," ujar mama Luna yang menggandeng tangan Luna menuju taman yang dipenuhi oleh cahaya dan bunga yang indah.
" LUNETTA!!!"
Luna menengok ke belakang dan melihat orang – orang yang dia sayang memanggil – manggil namanya dan memintanya untuk kembali. Luna melambaikan tangannya karna dia harus pergi bersama mamanya. Mama yang tak pernah ada seumur hidupnya.
Namun Luna juga langsung merasa sedih, apalagi Luna harus benar – benar meninggalkan mereka, Luna harus melupakan mereka demi hidup bersama mamanya.
" Kalau kamu ikut mama, kamu gak akan pernah bisa kembali sama mereka, kamu pikirkan lagi, kamu mau sama siapa?" tanya Mama Luna dengan sangat lembut.
Luna kembali menatap orang – orang itu. Di sana ada Darrel, Radith, Daddy, Danesya dan bang Jordan, mengulurkan tangan mereka dan meminta Luna kembali, Luna merasa bimbang, pandangannya berganti antara mereka dan mamanya.
" Maaf ma, Luna mau kembali sama mereka, tapi bukan berarti Luna gak sayang sama mama, tapi banyak hal yang harus Luna selesaikan sama mereka, Luna gak bisa ikut mama."
" Lunetta, Luna, Luna bangun. Kamu kok bisa ketiduran di sini sih? Astaga."
Luna membuka matanya yang ternyata sudah berair. Gadis itu tampak bingung dan menatap Darrel yang menatapnya dengan bingung dan kahwatir. Baru ditinggal sebentar, Darrel mendapati Luna sudah tergeletak. Awalnya dia pikir Luna pingsan, namun dari napasnya yang tipis dan teratur, Darrel yakin Luna hanya tertidur.
" Tadi Cuma mimpi?" tanya Luna pelan dengan kesadaran yang masih hilang entah kemana.