
Faris yang semalam berkirim pesan pada sang calon bidadari syurganya menjelang tidur, terbangun dengan wajah yang berseri-seri begitu mendengar suara adzan dari ponsel yang alarm-nya berbunyi pada pukul tiga dini hari dengan nada dering yang diganti suara adzan, untuk membangunkan tidurnya.
Senyum pemuda berwajah manis tersebut mengembang sempurna, semakin menambah pesona calon pengantin tersebut.
Dia raih ponsel yang masih mengumandangkan adzan dan kemudian mematikannya. Faris kemudian membuka aplikasi perpesanan untuk melihat kembali obrolannya tadi malam dengan Nezia.
"Assalamu'alaikum, Neng Ganis. Lagi apa, Neng? Udah mau bobok, belum?" tulis Faris yang disertai emoticon tersenyum.
Tak butuh waktu lama, pesan pemuda ganteng tersebut dibaca oleh Nezia dan langsung dibalas. "Ini, Inez baru saja mau tidur. Akang sendiri lagi, apa?"
"Aku sedang memikirkan kamu, Neng. Sepertinya, aku rindu berat," tulis Faris kembali, yang disertai emoticon memeluk.
"Ish, Akang gombal, deh. Tadi 'kan baru ketemu? Lagian, belum boleh peluk-peluk, tahu!" balas Nezia, disertai emoticon cemberut.
"Peluknya 'kan, jarak jauh, Neng. Bukan beneran. Terus, kapan boleh peluk beneran?" tulis Faris, bertanya. Pertanyaan yang terselip sebuah pengharapan.
"Besok, ya, Kang. Setelah ijab qabul," balas Nezia yang disertai emoticon tersipu malu.
Faris kembali tersenyum membaca π€π©π’π΅ tersebut. "Yes ... itu artinya, Neng Ganis benar-benar sudah membuka hatinya untukku," gumam Faris dengan tersenyum senang.
"Ah, aku enggak sabar menunggu matahari terbit," lanjutnya seraya beranjak.
Dia simpan kembali ponselnya di atas nakas dan pemuda tersebut segera menuju kamar mandi yang berada di sudut kamar untuk mengambil air wudhu.
Gegas, Faris mengenakan baju koko dan sarung. Pemuda itu kemudian melaksanakan sholat malam seperti kebiasaannya selama ini.
Usai sholat tahajjud empat raka'at dengan dua kali salam, pemuda tersebut nampak khusyuk berdo'a. Faris menengadahkan tangan ke langit, meminta pada Sang Pencipta, agar pernikahannya nanti mendapatkan keberkahan dan kebahagiaan.
Pemuda bertubuh tinggi tegap itu kemudian mengambil al-qur'an dan mulai membaca kitab suci tersebut dengan tartil. Suaranya yang sedikit berat, terdengar menenangkan.
Beberapa menit berlalu, satu surat yang cukup panjang telah dia selesaikan dan Faris segera mengakhiri bacaannya.
"Shodaqallahul'adziim ...." Faris kemudian menutup kitan suci tersebut dan mengembalikan ke tempatnya semula.
Tepat di saat Faris hendak keluar dari kamar untuk menunaikan shalat shubuh dengan berjama'ah bersama sang kakak, terdengar pintu kamarnya di ketuk. Pemuda itu pun segera membuka pintu kamarnya.
"Dik, sudah siap? Kakak pikir, kamu belum bangun?" tanya Mutia yang ternyata hendak membangunkan sang adik. Wanita yang tutur katanya lembut itu telah mengenakan mukena dan siap untuk sholat shubuh.
"Sudah, dong, Kak. Bangun jam tiga tadi," balas Faris.
"Syukurlah," ucap Mutia. "Kakak pikir, kamu enggak bisa bangun karena begadang ngobrol sama Inez," lanjutnya seraya tersenyum menggoda sang adik.
"Kok, kakak tahu?" Dahi Faris berkerut dalam.
"Ya tahulah ... kata Mas Imron, kamu masih online padahal hampir tengah malam, terus waktu kakak cek nomor Inez, dia juga masih online," balas Mutia.
"Ck ... kakak, nih, lama-lama jadi π΄π±πͺπ°π―π’π΄π¦!" gerutu Faris, berdecak kesal.
Mutia terkekeh pelan. Faris pun kemudian ikut terkekeh, membayangkan dirinya yang kembali merasa menjadi seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"Yuk, ah! Sudah ditunggu sama Mas Imron," ajak Mutia.
Kakak dan adik itu kemudian menuju kamar yang digunakan khusus untuk sholat, di mana suami Mutia telah menunggu.
πΉπΉπΉ
Keesokan harinya, semua keluarga besar Nezia bersiap untuk menuju hotel tempat di mana pelaksanaan akad nikah, sekaligus resepsi pernikahan Nezia dan Faris akan dilangsungkan.
Hotel yang sama, di mana kemarin Faris menyelematkan gadis cantik itu dari pengaruh obat laknat yang diberikan orang suruhan almarhumah Rasti.
"Dik, sudah siap?" tanya wanita cantik berhidung mancung, yang kemudian menghampiri sang adik ipar.
Ya, wanita cantik berwajah khas timur tengah itu adalah istrinya Abraham, menantu sulung keluarga Alexander Jonathan.
"Cuma bawa ini, Dik?" tanya istri Abraham kembali, memastikan.
"Iya, ibu yang menyiapkan kemarin. Inez juga enggak tahu isinya apa," balas Nezia seraya melirik koper yang ditunjuk kakak iparnya.
"Ya, sudah. Ayo, sudah ditunggu sama yang lain!" ajaknya, sambil membawakan koper milik Nezia keluar dari kamar.
"Sini, Non. Biar bibi bawa ke mobil dulu," pinta salah seorang asisten rumah tangga di kediaman Ayah Alex, begitu mereka berdua membuka pintu kamar Nezia.
"Oh ... iya Bi. Terimakasih," ucap ibu satu anak tersebut dengan tersenyum ramah, senyum yang menambah kecantikannya naik berkali-kali lipat.
Bibi tersebut mengangguk hormat dan kemudian segera berlalu menuruni anak tangga sambil menenteng koper milik putri majikannya.
"Nanti kalau di tempat acara jangan senyum-senyum terus ya, Yang!" bisik Abraham, melarang. Pemuda tampan tersebut tau-tau sudah berada di samping sang istri dan langsung melingkarkan kedua tangan di pinggang istrinya.
"Dasar, bucin! Posesif!" cibir Nezia, dengan bibir mengerucut.
Abraham terkekeh. "Biarin! Bucin sama istri sendiri 'kan, suatu keharusan," balas Abraham.
Sementara wanita cantik yang berada dalam pelukan posesif Abraham, tersenyum. "Sebentar lagi kamu juga akan tahu, seberapa posesif suami kamu, Dik," ucapnya.
"Ayo, Mas, Dik!" Suara sang ibu yang memanggil dari bawah, menyudahi obrolan mereka bertiga.
Iring-iringan mobil keluarga besar Alamsyah dan Antonio, keluar dari pintu gerbang yang tinggi menjulang milik keluarga Ayah Alex. Mobil-mobil mewah tersebut melaju pelan menyusuri jalanan komplek perumahan ellit yang mulus seperti jalan tol, untuk menuju ke hotel bintang lima.
Setelah hampir setengah jam melaju di jalanan ibukota, rombongan keluarga besar tersebut pun tiba di hotel, bersamaan dengan kedatangan keluarga besar Faris dari kota kembang.
Pihak management hotel menyambut tamu-tamu istimewa tersebut dan mengantarkan mereka ke lantai tujuh yang sudah dikosongkan, atas permintaan keluarga besar Antonio kemarin.
"Mbak Tia, nanti jam sepuluh ajak seluruh anggota keluarga ke ballroom, ya. Kita adakan pertemuan keluarga sebelum akad nikah nanti sore," ucap Abraham.
"Oh ... iya, Mas Bram. Siap," balas Mutia.
Sementara di salah satu bangku yang terdapat di koridor, tepatnya di dekat kamar yang akan mereka berdua tempati nanti malam, nampak Faris dan Nezia sedang duduk berdua. Mereka nampak sangat serius. Entah apa yang mereka bicarakan.
Keseriusan mereka terganggu dengan hadirnya Yoga dan Duta, yang datang bersama keluarga kecilnya.
"Hais, belum halal udah mojok aja!" seru Duta.
"Eit, siapa yang mojok?" kilah Faris. "Kita enggak mojok, Mas. Kalau mojok, tuh, di sebelah sana," lanjutnya terkekeh, seraya menunjuk ke sebuah sudut ruangan.
"Iya-iya, calon pengantin selalu benar," ucap Duta, mengalah.
"Ris, udah dicek belum kamarnya? Sesuai sama keinginan, enggak?" tanya Ana yang bertugas menghandle kamar pengantin untuk Faris dan Nezia.
"Belum, Mbak," balas Faris.
"Kita lihat yuk, Neng!" ajak Faris. "Sekalian gladi bersih," lanjutnya cengengesan, yang langsung mendapatkan timpukan dari Duta dan Yoga.
"Mau digebukin sama keluarga AA, lu!"
βββββ bersambung ...
Malam, Best π₯°
Yuk, sambil nungguin Kang Faris gladi bersih malam pertama, eh π€
Mlipir dimari, yuk... novel keren karya author hebat π