
Entah mengapa Radith merasa tak fokus dengan pekerjaannya, lelaki itu terus memikirkan tentang satu nama, bahkan orang kepercayaan yang menyampaikan informasi pun sampai dia abaikan. Entah mengapa perasaannya merasa tak enak. Padahal orang yang dia pikirkan jelas sudah menjadi milik orang lain, bahkan orang itu akan menjadi sah milik orang lain dalam hitungan hari.
" Tuan, sepertinya tuan tidak fokus, apakah ada sesuatu yang menganggu pikiran tuan? Apakah perlu saya rescedulle semua jadwal tuan untuk hari ini?" tanya orang itu yang membuat Radith melihat ke arah jam yang ada di tangannya. Lelaki itu menatap ke arah asistennya dan menganggukkan kepala, dia segera mengambil kunci mobil dan langsung pergi dari sana.
" Batalkan semua acara saya pad ahari ini, jika ada yang mencari bilang sajas saya gak ada dan gak bisa diganggu, sampaikan itu ke sekretaris setelah itu pergi ke rumah Lunetta, saya akan pergi ke sana," ujar Radith yang diangguki oleh orang itu. Radith bergegas untuk turun dan masuk ke dalam mobilnya.
" Gue pasti udah gila, tapi gue gak bisa bohong kalau gue masih khawatir sama dia. Lo idiot Dith. Gimana Lo bisa suka sama orang kayak dia dan Lo seakan kena karma udah bikin dia sakit hati, sekarang Lo khawatir terus sama dia, dan Lo akan menjadi orang yang paling bodoh kalau sampai kapanpun Lo tetap suka sama dia," ujar Radith dengan frustasi.
Saat sudah dekat dengan rumah yang dituju, dia melihat mobil yang tak asing melintas berlawanan arah dengannya. Mobil itu melaju sangat kencang dan tak beraturan, membuat Radith menatap mobil itu dari spion dengan bingung.
" Lo melakukan hal yang sia – sia, mereka pasti udah pergi berdua dan Lo Cuma jadi orang bodoh yang datang ke rumahnya tanpa hasil. Mau sampai kapan Lo dungu kayak gitu? Mau sampai kapan?" tanya Radith yang memukulkan kepalanya sendiri ke stir mobilnya. Dia hendak berbalik, namun satpam rumah Luna sudah ada yang melihatnya, ada baiknya jika dia berbasa – basi sedikit.
Radith melajukan mobilnya dan membuka kaca jendela lalu menampilkan senyum sopannya. Satpam rumah itu juga tersenyum dan salah satu lainnya langsung membuka gerbang dengan menekan tombol yang nantinya akan membuat pagar bergerak dengan sendirinya.
" Itu tadi Luna sama Darrel ya yang barusan pergi? Kenapa mereka kayak buru – buru gitu?" tanya Radith dengan sedikit gugup, satpam itu saling berpandangan dan menatap jalanan yang kosong seakan masih ada Darrel di sana, padahal lelaki itu sudah pergi sejak tadi. Radith bahkan sampai membatin, namun dia masih tahu sopan santun hingga tak menegur mereka.
" Tadi memang mobilnya tuan muda Darrel, tuan. Tapi tidak ada nona Lunetta di sana. Saya yakin kok, tadi tuan muda Darrel kelihatan lagi gak enak, mungkin mereka bertengkar. Oh maaf, saya sudah lancang, tolong jangan laporkan saya," ujar satpam itu sambil menutup mulutnya. Radith langsung mengangguk dan memasukkan mobilnya ke halaman rumah Luna.
Lelaki itu masuk ke rumah Luna tanpa mengetuk, hendak pergi ke arah lift namun dia melihat banyak pelayan yang berkerumun ke arah dapur, membuat lelaki itu membatalkan niatnya dan meminta semua pelayan itu menyingkir agar dia bisa lewat.
Mata Radith membulat dan lelaki itu segera berlari ke arah Luna yang sudah seperti orang gila. Radith langsung mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke kamar terdekat. Sementara menggendong, lelaki itu meminta pelayan memanggil dokter dan mengambil kotak PPPK yang ada di rumah ini. Mereka semua langsung menyebar dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Radith.
Radith membaringkan Luna yang terus menyentuh wajahnya padahal tangan gadis itu masih terdapat beling hingga beberapa beling itu sampai melukai wajahnya. Radith langsung mengambil tangan Luna dan menjauhkan tangan itu dari wajah Luna. Gadis itu masih menangis, dan bahkan langsung menubrukkan dirinya ke pundak Radith, membuat baju lelaki itu penuh dengan darah.
" Lo kenapa sampai seperti ini? Lo kenapa? Siapa yang jahat? Kasih tahu gue, gue bakal bunuh orang itu," ujar Radith dengan lembut meski tangan lelaki itu sudah terkepal kuat sementara tangan yang satu lagi masih memegangi kedua tangan Luna yang masih meneteskan darah. Lelaki itu tak tahu apa yang membuat Luna menyakiti dirinya sendiri.
Tak lama dokter masuk ke kamar Luna dan memeriksa gadis itu. Dokter langsung mengambil pinset dan kassa yang ada di kotak PPPK itu, pelan – pelan dokter mencabut satu persatu beling yang ada di tangan Luna, membuat gadis itu menggigit pundak Radith untuk menyalurkan rasa sakitnya sementara Radith tak keberatan sama sekali.
Lelaki itu fokus pada cara kerja dokter sampai dokter itu memberikan obat merah dan membungkus telapak tangan Luna dengan kassa. Dokter itu beralih pada wajah Luna membuat Radith memberikan jari telunjuknya ke bibir gadis itu agar gadis itu bisa menggigitnya karna gadis itu tak bisa menggunakan tangannya untuk mencubit Radith.
Luna menerima jari itu dengan senang hati dan menggigit jari itu saat dokter mulai mengobati wajahnya. Radith meringis menatap jarinya yang mungkin sebentar lagi putus karna Luna menggigitnya sangat kuat. Jika tahu seperti itu, Radith akan memberikan bolpoint atau spidol untuk digigit oleh gadis itu. Radith menahan semua rasa nyeri di jarinya sampai dokter selesai.
" Asin," ujar Luna sambil terisak dan melepaskan jari Radith dari mulutnya. Radith berdecak mendengar hinaan itu, namun dia tak mau membahasnya. Radith langsung mengambil dagu Luna dan memutarnya ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
" Lukanya tidak dalam, sudah saya obati, namun pasti akan membekas, saya harap kejadians eperti ini tak terjadi lagi, itu akan sangat berbahaya jika pecahan beling tersebut sampai ke nadi Luna, untuk saja pecahan itu hanya mengenai telapak tangan Luna. Saya harap apapun masalahnya, kamu jangan sampai melakukan hal seperti ini lagi," ujar dokter dengan senyumnya.
Luna tak menjawab sama sekali, gadis itu masih terisak sesekali dan menunduk, Radith yang mewakili Luna untuk menegucapkan terima kasih. Membuat dokter itu mengangguk dan pamit pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya di tempat lain. Radith mengantar dokter itu sampai ke depan kamar dan langsung masuk ke dalam kamar lagi.
" Lo kenapa? Lo ada masalah apa sampai mau bunuh biri kayak gitu? Lo gak sayang nyawa? Lo boleh mati, tapi gak kayak gitu, ntar kalau Lo jadi arwah gentayangan, gue eyang bingung, gue gak mau jadi korbannya. Untung gue datang teapt waktu tadi," ujar Radith yang tak dijawab oleh Luna.
Radith mulai mengomel dan menceramahi Luna tentang dosa yang akan Luna terima jika gadis itu sengaja mengakhiri hidupnya. Luna membiarkan saja lelaki itu mengomel sesukanya, salah siapa dia tak bertanya dan malah menyimpulkan sendiri dari apa yang dia lihat. Namun saat Radith mulai membahas tentang pernikahannya, Luna mulai menangis lagi.
" Lo? Ini ada hubungannya sama Darrel? Sama pernikahan kalian? Kenapa? Lo hamil dan dia gak mau tanggung jawab? Atau Lo gak sabar buat nikahin dia sampai Lo paksa dia nikah hari ini makanya tadi dia pergi sambil marah?" tanya Radith yang membuat Luna menangis makin keras.
" Oke, gue tahu masalahnya serius, mumpung gue mau dengar, Lo cerita ke gue dengan lengkap," ujar Radith yang langsung berubah serius. Luna menatap Radith dengan mata yang berkaca – kaca, namun gadis itu bisa melihat Radith yang khawatir padanya, meembuat gadis itu yakin untuk menceritakan hal ini pada Radith.
" Gue, gue gak jadi menikah. Kak, kak Darrel ke sini buat minta putus sama gue, gue gak tahu, hiks hiks, gue gak tahu salah gue apa, hiks hiks, ta, tapi, tapi, tadi malam dia, dia," ujar Luna yang tak sanggup melanjutkan kalimatnya dan malah menangis, membuat Radith membuka mulutnya karna menunggu apa yang dikatakan oleh gadis itu.
" Etdaah, nyosor aja kayak angsa betina. Gue udah serius loh ini, gue mau dengar cerita Lo loh ini. Kenapa sama dia? Dia bolos sekolah? kerjaan dia banyak? Atau dia selingkuh?" tanya Radit yang berusaha menebak apa yang ada di pikiran Luna. Gadis itu malah menangis tambah keras.
" Benar dia selingkuh? Lo yakin dia selingkuh? Jangan bilang kalau Lo nuduh dia selingkuh dan dia marah, kalian bertengkar dan malah putus? Sumpah agk lucu kalau kayak gitu," ujar Radith membayangkan adegan adu mulut mereka berdua, rasanya tak pantas jika Darrel memerankan peran antagonis seperti itu.
" Tadi malam, gue gak bisa, tidur. Gue, telpon dia. Tapi, tapi, gue dengar suara cewek, gue, gue gak tahu siapa. Gue kira gue mimpi, tapi tadi tiba – tiba kak Darrel datang, dia, dia bilang mau batain pernikahan dan mau putus, gue, gue gak tahu ada apa, tapi, tapi gue yakin, kalau yang gue dengar, bukan mimpi," ujar Luna tersendat – sendat karna dia masih sambil menangis.
" Lo yakin dia selingkuh? Udah bertahun tahun kalian pacaran, masak baru sekarang dia sadar kalau Lo pantas diselingkuhi? Mana ada cowok yang mau sama cewek tengil, manja, gak bisa apa – apa, berisik kayak Lo," ujar Radith tanpa sadar membuat Luna menjerit dan menangis lebih keras.
Lelaki itu berteriak persis di telinga Radith, membuat lelaki itu menyingkirkan taangan Luna yang ada di lehernya dan melepaskan pelukan Luna lalu memeriksa apakah kupingnya baik – baik saja karna beberapa saat yang lalu terasa sakit dan berdengung.
" Oke, anggap Lo benar dan dia selingkuh, apa yang Lo lakuin ini benar? Apa dnegan Lo nyakitin diri sendiri dan bunuh diri kayak tadi itu dia bakal balik sama Lo?" tanya Radith dengan tajam, dia tahu Luna bodoh, tapi dia tak tahu jika iman Luna sangat lemah.
" Kalau gue gak datang, Lo pasti udah mati karna kehabisan Darah, Lo tahu itu kan? Pembantu yang ada di sini banyak, mereka Cuma tontonin Lo yang berdarah – darah tanpa melakukan apapun, Lo pikir apa yang bakal terjadi kalau Gue gak datang? Kenapa Lo bodoh banget sih?" tanya Radith yang membuat Luna merasa kesal.
" Bisa gak Lo berhenti sebut gue bodoh dan biarin gue ngomong dulu? Kenapa Lo nyebelin banget sih? Gue tahu gue bodoh, iya gue gak bisa apa – apa. Tapi, tapi gue punya otak, Lo pikir gue bakal bunuh diri gitu aja? Enggak lah! Gue gak gila," ujar Luna yang membuat Radith terdiam.
" Gue Cuma nangis – nangis, gue, gue gak nyangka kak Darrel bakal kayak gitu, ta.. tapi gue gak kepikiran buat bunuh diri, gue terlalu lemas dan gue jatuh, gue lupa kalau gue habis jatuhin gelas waktu dia minta putus. Jadi pecahan gelas itu gak sengaja kena ke tangan gue."
" Terus Lo malah usap – usap wajah Lo pakai tangan yang lagi ada belingnya gitu? Lo mau atraksi? Apa gak kerasa sakit?" tanya Radith yang membuat Luna menggelengkan kepalanya. Gadis itu sesenggukan dan mengelap air matanya. Gadis itu berusaha untuk berhenti menangis, namun ternyata rasa sesak di hatinya tak membuat dirinya ebrhenti menangis.
" Gue udah gak bisa ngerasain sakit di tangan atau wajah gue. Lo ngebayangin gak sih rasanya orang yang Lo suka malah suka sama orang lain dan Lo diputusin waktu kalian mau menikah? Itu sakit banget Dith, dan gak pernah gue abyagin gue bakal ngalamin hal kayak gini."
' Lebih sakit Lun? Yang Lo rasain atau yang gue rasain? Gue yang tetap menjadi malaikat pelindung buat Lo, tanpa bisa milikin Lo lagi, tanpa bisa bilang ke Lo kalau gue suka sama Lo, bahkan relain Lo nikah sama orang lain. Gue juga sakit, tapi Lo gak tahu.'
" Lo gak usah nangis, belum tentu Darrel selingkuh, gue gak percaya dia selingkuh. Mending Lo tenangin diri dan fokus sama Luka Lo ini, kalau berbekas, wajah Lo gak mulus lagi, lebih memberi alasan Darrel buat selingkuh," ujar Radith dengan asal. Lelaki itu memang tak bisa mengontrol mulutnya jika masalah seperti ini di depan Luna.
" HUAAAAAA RADITH JAHAAT!!" Teriak Luna yang kembali menangis kencang, membuat Radith memundurkan duduknya dan melihat Luna yang mulai mencak – mencak seperti orang gila. Radith merasa jika dia membujuk Lun, itu akan percuma.
Masalah kecil saja Luna sangat cengeng, apalagi masalah sebesar ini. Luna kan menangis seminggu penuh dan menjadi pada hari yang harusnya menjadi hari H dia menikah. Entah mengapa Radith sudah bisa menduga hal itu. Radith menggelengkan kepalanya agar bayangan yang menggelikan itu segera pergi dari pikirannya. Dia kembali melihat Luna yang tak tenang sama sekali.
" Lo silakan nangis dulu sampai besok atau kapan terserah. Gue pusing banget di sini, yang jelas Lo gak boleh coba bunuh diri atau ngelukain diri Lo sendiri, sisanya terserah. Jangan lupa makan, karna nangis itu butuh tenaga ekstra," ujar Radith yang membuat Luna terisak – isak.
" Lo mau kemana? Lo pergi? Lo mau pergi di saat gue terluka kayak gini? Gue kira Lo bakal di sini temenin gue sampai tenang. Ternyata semua cowok sama aja," ujar Luna yang membuat Radith mengelus dadanya.
" Syukurlah, gue mirip sama Kim Jong Un," ujar Radith yang membuat Luna terdesak liurnya sendiri, dia membayangkan Radith yang mirip dengan nama presiden di suatu negara itu.
" Kenapa? Kim Jong Un kan ganteng, yang Lo agung – agungin tuh karna pinter nyanyi, imut, pinter nari juga, grub siapa tuh? Eko? Eko Patrio?" Tanya Radith yang membuat Luna mengernyitkan dahinya.
" Itu Kim Jong In ****! Bukan Kim Jong Un! Beda server, hahahahha, Radith ****!" ujar Luna yang tertawa ngakak meski tangisnya masih belum mereda.
" Sama juga Jong Jong an! Korea korea juga. Eittss gak usah Lo debat, gue gak peduli soalnya. Lo lanjutin nangis aja yang tenang dan kusyuk, gue mau balik ke kantor, kerjaan gue banyak banget," ujar Radith yang membuat Luna menganggukan kepalanya.
" Makasih," ujar Luna lirih, Radith mengangguk dan langsung pergi dari hadapan Luna dengan wajah tersenyumnya.
Saat Radith sudah keluar dari kamar Luna, dalam hitungan detik senyum itu hilang dan wajahnya berubah dingin nan menyeramkan. Tangan lelaki itu terkepal kuat dan langsung berjalan cepat pergi dari rumah Luna.