
" Luna, bangun, Radith udah sampai di rumah sakit Wilkinson. Kamu mau jengukin dia sekarang atau nanti?" tanya Darrel dengan lembut karna Luna tertidur di kakinya. Lelaki itu mengelus kepala Luna dan memainkan pipi gadis itu agar segera bngun dari tidurnya. Luna menggeliat dan terganggu atas perbuatan Darrel. Luna menepis tangan Darrel dari pipinya.
Gadis itu bangun dan duduk sambil mengucek matanya, namun tangannya langsung dipegang oleh Darrel. Darrel tahu tak baik terlalu sering mengucek mata, meski rasanya gatal atau sangat ingin, sebisa mungkin kita kurangi gerakan itu, karna dapat melukai mata kita. Gesekan itu akan meembuat mata lecet dan akhirnya menimbulkan masalah pada diri kita sendiri.
" mau ke rumah sakit sekarang atau nanti? Radith juga udah sadar kok, tapi aku Cuma bisa antar kamu dan ketemu Radith sebentar, habis itu aku harus pergi ke restoran dan ke perusahaan papa, nanti kamu pulang diantar supir, gak papa kan?" tanya Darrel yang dijawab anggukan lemah dari Luna.
" Kak Darrel keluar dulu, Luna mau ganti baju, ngantuk banget nih," ujar Luna dengan lemas sambil mendorong Darrel, lelaki itu terkekeh dan mengusap kasar rambut Luna yang berantakan, membuat rambut itu semakin tak karuan hingga pemiliknya berdecak kesal.
" Hahahha, biar gak cantik, biar gak ada orang lain yang naksir, buruan ganti bajunya, keburu Radith pingsan lagi, jangan sampai ketiduran loh ya, nanti aku khilaf kalau kamu ketidurannya waktu ganti baju," ujar Darrel dengan kerlingan mata genit, membuat Luna geli sekaligus jijik mendengar nada bicara lelaki itu.
" Geli kak, gak usah kayak gitu ah, sana hus, sana pergi dari sini, keburu Luna tambah ngantuk," ujar Luna yang kembali mengunap lebar tanpa ditutup, sampai tangan Darrel yang menutup mulut itu karena gemas dan risih melihatnya. Luna selalu melakukan hal yang tak disukainya, namun dia tak pernah marah untuk hal itu, dia hanya memaklumi dan terus memakluminya.
Darrel segera keluar dari sana sementara Luna mengganti pakaiannya agar lebih layak dilihat orang banyak. Gadis itu menggulung rambutnya di atas dan membubuhkan bedak bayi tipis di wajahnya. Gadis itu mengambil tas dan memakai flat shoes santai, lalu keluar dari kamarnya segera, takut Darrel yang keburu tak sabar dan masuk ke dalam kamarnya. ( Meski tak mungkin sih)
" ck, dibilang jangan cantik – cantik loh, aku gak mau kamu ditaksir sama orang di rumah sakit," ujar Darel dengan nada kecewa. Luna tentu bingung karna perkataan Darrel, perasaan gadis itu biasa saja, bahkan hanya memakai kaos dan celana kulot, penampilan yang sangat santai.
" emang ada yang aneh atau mencolok ya kak? Ini kaos udah kaos santai banget loh kak, celananya juga gak ketat – ketat bikin ngiler kaum cowok macam kak Darrel, apa yang salah?" tanya Luna mengangkat tangannya sejajar dengan bahu, menilai penampilannya sendiri.
" Engga baju kamu, engga celana atau sepatu kamu. Tapi kamu memang udah asli cantik dan aku gak suka, aku gak suka kalau kamu nanti jadi bahan cuci mata orang lain. Apalagi ini, ini rambut kenapa dicepol sih? Leher kamu bikin napsu tahu gak sih, gak usah dicepol aja," ujar Darrel yang membuat Luna memicingkan mata dengan malas.
" Kak Darrel aja yang napsu an, nih leher Luna nih, nih, nih, orang Luna gak ngapa ngapain juga kak Darrel mikir aneh – aneh, dasar, gitu kok masih ada aja sih yang dukung kak Darrel buat jadi jodoh Luna, mesum gitu," ujar Luna yang malah menantang Darrel dengan mendekatkan lehernya ke wajah Darrel.
Darrel bisa mencium wangi leher Luna yang sangat menggoda. Leher jenjang yang putih mulus tanpa cacat, siapa yang tak tergoda? Namun Darrel sadar, dia harus menajga bukan merusak, lelaki itu akhirnya memutuskan untuk memalingkan wajahnya agar Luna tak makin menjadi dan membuatnya lepas kendali. Darrel lealki normal coy, apalagi dia sedang dalam masa pubertas.
" Ayo berangkat sekarang, keburu sore, aku juga buru – buru mau ke restoran nih," ujar Darrel dengan panik dan langsung pergi dari sana, membuat Luna tertawa cukup keras dan renyah karna lelaki itu berusaha menahan sesuatu, Luna merasa kasihan sekaligus takut hingga akhirnya Luna menghentikan aksinya dan mengikuti Darrel.
Tak perlu waktu lama untuk sampai di rumah sakit, Luna turun dari mobil sementara Darrel mencari tempat parkir. Mereka bersama sama masuk ke dalam rumah sakit itu dan menuju lantai paling atas dimana Radith berada. Benar saja, selama Luna berjalan, dirinya tak jauh dari pandangan nakal orang di sekitarnya.
Darrel yang menyadari Luna jadi pusat perhatian akhirnya mendekat dan merangkul gadis itu. Untung saja dia lebih tinggi dari Luna yang juga tinggi, hingga dia merasa bangga dan pantas pantas saja melakukan hal ini. Luna membiarkan saja apa yang dilakukan Darrel, apalagi dia juga sebenarnya risih di tatap seperti itu.
" wah, cocok sekali ya bu pasangan suami istri itu, yang cowok ganteng, yang cewek cantik, pasti anaknya bagus nanti, sayang sih, masih muda kok sudah menikah, apa mungkin hamil duluan ya bu?" ingin Luna menyumpal mulut ibu yng mengghibah di depannya, sepertinya ibu itu belum pernah memakan sepatu seharga lima ratus ribu miliknya.
" Kayaknya enggak deh bu, bisa aja mereka kakak Adik, itu wajahnya agak mirip juga kalau dilihat, apalagi gak adil ah kalau yang ganteng ketemu sama yang cantik, lha terus nanti anakku dapat yang kayak apa? Wong wajahe kayak tambalan ban bocor."
" Pffttt." Luna spontan tertawa mendengar pengakuan ibu yang lain, dia cukup geli karna melihat perubahan wajah Darrel saat ibu itu mengatakan mereka adalah adik kakak, namun dia tak dapat meahan tawanya saat ibu itu menghina darah dagingnya sendiri. Padahal sebuah produk itu kan ikut pabriknya, sama saja ibu itu menghina dirinya sendiri.
" Huusshh, gak usah ketawa, nanti jadi masalah. Kamu mau dapat masalah sama Ibu – Ibu? Nyusahin Lon nanti jadinya," ujar Darrel menutup mulut Luna yang siap untuk tertawa, gadis itu tertawa dalam mulut Darrel dan mengangguk paham, tak mau dia berurusan dengan ibu rumpi.
Mereka masuk ke dalam lift dan langsung saja, tawa Luna meledak saat pintu lift tertutup. Tawanya sangat natural dan renyah, membuat Darrel juga tertawa saat mendengar suara gadis itu. Penah kan kalian mendengar bahwa tawa itu menular? Jika tak percaya, cobalah kalian menatap orang yang sedang tertawa renyah, atau sekadar melihat video orang tertawa, jika kalian tak ikut ketawa mungkin saja da yang salah dalam diri kalian.
Ah, perlukah author berutahu juga jika itu adalah indikasi seorang psikopat? Jika kalian tak percaya, kalian bisa research sendiri. Karna seorang psikopat tak memiliki empati terhadap orang lain, hingga dia tak akan bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, termasuk tawa atau tangisan. Yah, semacam itu lah.
Kembali pada Luna dan Darrel yng kini sudah keluar dari lift dan menuju kamar Radith yang tak jauh dari lift tersebut. Luna mengintip dari kaca yang ada di pintu, dilihatnya Radith sedang menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa minat. Luna melihat lagi ke arah kakinya yang berbalut kassa.
" Kalian gak mau masuk?" tanya Radith sedikit berteriak tanpa melihat ke arah pintu, ah, bakat lelaki itu masih belum hilang ternyata. Dia mudah peka terhadap keadaan padahal dia tak melihat apapun. Luna terkekeh sedikit mengingat bakat alami itu. Gadis itu mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.
" Astaga Radith, gue kira Lo mati tahu gak! Gue kan gak siap uang dua rebu buat santunan, gue juga terlalu sicuk buat layat," ujar Luna dengan tengilnya sambil berjalan ke arah kulkas yang ternyata kosong. Darrel tertawa melihat hal itu dan mendekat ke arah Radith yang hanya diam tanpa menyahuti Luna.
" Gak papa, Luna udah tahu semua. Gue kan gak bisa nyembunyiin sesuatu dari nyonya besar, pasangan yang baik tuh harus terbuka apapun keadaannya," ujar Darrel dengaan bangganya, namun tidak dengan Radith yang menyesal memancing Darrel untuk berkata seperti itu.
" Bucin Lo njir, gak usah bahas suami istri di sini. Di sini gue pemeran utamanya, gak mau tahu, kalau kalian ngejadiin gue nyamuk, gue gigit sampai tewas Lo kak," ancam Radith dengan wajah serius yang membuat Luna terkekeh karna sikap Radith yang kekanak – kanakan.
" Weeiitss, Lo harus makasih sama gue, karna gue mau pergi sekarang, bokap udah nelfonin gue, Luna gue tinggal di sini, jangan Lo colek, apalagi Lo jilat, kalau gak mau gue gigit. Sampai sini paham?" tanya Darrel yang membuat Luna malu dan kembali menabok lelaki itu. Sepertinya Luna memang bakat menjadi penabok, kenapa gadis itu tak menyalurkan bakatnya ke hal yang lebih positif? Menabok kasur agar menjadi empuk misalnya.
" Aku pamit dulu, doain meetingnya lancar biar perusahaan jadi stabil, aku bisa ngumpulin banyak uang, terus jadi kaya raya, terus bisa ngelamar kamu jadi istri aku, doa in ya dinda," ujar Darrel dengan wajah dramatis dan langsung pergi dari sana setelah puas melihat Luna tersipu.
" gue gak nyangka selera Lo yang kayak gitu Lun, menggelikan, menjijikan, hii, gue yang cowok aja geli lihatnya," ujar Radith bergidik merinding membayangkan apa yang Darrel lakukan. Tentu dia melakukan itu saat Darrel sudah keluar dari tempat ini.
" Parah Lo, kalau mau ghibah tuh di depan orangnya, lagipula nih ya, kalau Lo suka malah gue yang jadi geli dith, kak Darrel masih lurus, gak usah lo ganggu," ujar Luna yang membuatnya mendapat lirikan dari Radith. Luna terkekeh dan meminta damai pada Radith.
" Lirikan matamu, menarik hati. Oh senyumanmu, manis sekali. Tapi sayang – sayang, aku tak tergoda a a," ujar Luna sambil menyanyi dan mencolek dagu Radith, membuat lelaki itu menepis tangan Luna dan mengusap dagunya dengan kasar karna rasa geli langsung menjalar ke seluruh wajahnya. Satu keanehan yang Radith miliki, lelaki itu tak bisa jika orang lain memegang sesuatu yang ada di kepalanya saat dia tak siap, dia akan merasakan geli luar biasa jika hal itu terjadi.
" Kalau Lo ke sini Cuma buat nyakit dan bikin gue tambah sakit, dengan hormat Lo mending pulang deh Lun, serius, geli gue lihat Lo jadinya," ujar Radith yang membuat Luna geli sendiri mendengarnya.
" Lo gak napsu makan ya? Gue tahu Lo gak akan doyan makanan rumah sakit. Lo mau makan apa?" tanya Luna yang memandang nampan berisi makanan yang masih cukup penuh. Radith melihat nampan itu dan mengangguk. Makanan rumah sakit cenderung hambar, dan dia tak suka.
" Lo mau beliin gue emang kalau gue pengen sesuatu? Tumben baik? Malah bikin gue curiga, mana mau Lo yang manja gini keluar terus panas panasan buat nyari makan," ujar Radith yang membuat Luna menjadi sebal dan sedikit menyesal berbaik hati pada Radith.
" Bukan gue lah dith, ngapain juga gue repot – repot ngelakuin itu, gue bisa suruh orang buat beliin, lagi punya ada gojreng yang bisa antar makanan kemana saja, gak usah kayak orang susah deh," ujar Luna yang membuat Radith sedikit tertawa. Tentu Radith tahu hal itu, sengaja saja ingin membuat Luna kesal karna ulahnya, jika dipikir lagi, sudah lama sekali dia tak merasakan hal seperti ini.
" Mau sate ayam aja, bawang sama cabai nya dipisahin, soalnya nanti kepedesan, disini udah ada cabe – cabean sih," ujar Radith tanpa filter yang membuat Luna menabok keras kepalanya. Radith mengaduh keras penuh Drama, membuat Luna menaboknya sekali lagi agar lelaki itu lekas sadar.
" Yang sakit kaki Lo bukan kepala Lo, gue nampol gak keras - keras amat njir, gak usah lebay, belum lepas juga itu kepala," ujar Luna dengan santai tanpa dosa, membuat Radith berdecak dan memegangi kepalanya. Jujur saja, rasanya memang menyakitkan. Luna memang seorang gadis, namun dia sudah hampir satu tahun ada di STM, mungkin gadis itu sudah tertular bar – bar.
" tunggu bentar, satenya lagi di pesenin. Gue khawatir sama kaki Lo, menurut cerita kak Darrel ngeri banget soalnya, kok bisa sampai kayak gitu loh dith?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan yang membuat Radith bingung mau menjawab apa.
" Gue juga gak tahu, gue juga gak sadar kan kena apa. Tapi sebenernya gak parah banget, mungkin karna gue buat lari jadi lukanya tambah lebar dan jadi biru, lagian gue gak begitu ngeh birunya kayak apa, soalnya gue langsung pingsan pas udah keluar dari sana," ujar Radith yang membuat Luna mengangguk paham.
" Sakit jiwa tuh orang yang sengaja bikin Lo sama Kak Darrel celaka, apalagi pak supirnya sampai meninggal di dalam mobil. Kok ada ya orang jahat kayak gitu?"
" Lo harus tahu dan belajar satu hal. Dunia gak akan pernah kasihan sama Lo, dunia akan selalu ngasih kesulitan ke Lo, tinggal gimana Respon Lo buat hadapin itu, Lo mau nyerah dan jadi pecundang, atau cari jalan keluar gimana pun caranya. Semua ada di tangan lo."
*
*
*
Next Part belum tahu wkwkwk gak ada Draft, diusahakan secepatnya
muaaahh