
"Udah, ayo cukupp temu kangen sama mama, sekarang kita pulang aja, laper gak? Mau makan di rumah atau di luar?" tanya Mr. Wilkinson yang sudah berdiri dari tempatya dan memandang untuk bertemu dengan anak – anaknya. Jordan tampak memandang papanya dengan gelisah, namun papanya menggeleng, membuat Jordan menurut dan mengangguk ringan.
Luna mengangguk dengan pikiran dan pandangan yang masih kosong, gadis itu bangun dibantu oleh Danesya yang juga masih bingung dengan cerita Luna, meski begitu Mr. Wilkinson ataupun Jordan tak mampu memberi jawaban, terlebih kedua orang itu tampak tertekan. Danesya tak berani mengulang pertanyaan Luna meski dia juga penasaran, apakah kondisi Luna separah itu?
" Papa, kita makan di restoran jepang aja yuk ? Udah lama banget Danesya gak makan makanan Jepang," ujar Danesya sambil memapah Luna karna gadis itu masih sempoyongan dalam langkahnya, entah apa yang gadis itu pikirkan, apakah masih memikirkan kejadian tadi? Tapi bagaimana jika akhirnya semua hal itu hanyalah halusinasi Luna semata?
" Boleh, kalau yang lain juga setuju, Papa juga udah lama banget gak makan di sana," ujar Mr. Wilkinson yang memandang Jordan dan Lunetta, ternyata kedua orang itu mengangguk setuju dan menurut saja, membuat Mr. Wilkinson ikut mengangguk dan pergi dari sana bersama mereka menuju restoran Jepang yang tak jauh dari sana.
Mereka memesan beberapa makanan dan menunggu, sembari menunggu Luna mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Darrel karna seharian ini dia tak mengabari lelaki itu seharian ini karna kesibukannya meraih mimpi. Benar saja, banyak panggilan dan pesan yang terabaikan, Luna membalas pesan Darrel yang khawatir padanya, lelaki itu memang selalu manis, bahkan Luna hanya di rumah saja dicari sampai sebegitunya.
Luna melihat tangannya yang bergetar saat memegang ponsel, mata Luna sedikit melotot melihat apa yang terjadi, mengapa tiba – tiba tangannya bergetar? Mengapa tiba – tiba ponsel di tangannya begitu berat? Luna sampai melepaskan ponsel itu begitu saja dan menatap tangan kosongnya dengan wajah yang cengo dan penuh tanya.
Tak lama kemudian makanan pun datang, Luna menatap ramyeon yang ada di hadapannya, Luna mengambil sumpit dengan susah payah karna keadaan tangannya. Gadis itu bahkan sampai nyaris meneteskan air mata karna bingung dan frustaasi, mengapa tiba – tiba seperti ini? Luna tak pernah mengalami yang seperti ini, kenapa baru kali ini Luna mengalami hal ini?
" Aaa, sini abang suapin, udah lama banget gak nyuapin adik abang," ujar Jordan yang mengambil alih sumpit di tangan Luna dengan cepat dan menyuapi gadis itu dengan sabar. Luna membuka mulutnya dan mulai mengunyah makanan itu, rasanya nikmat, namun pikiran Luna yang membuat dia merasa tak selera makan lagi.
" Danesya ke kamar mandi dulu," ujar Danesya yang matanya sudah tampak memerah. Gadis itu menunduk dan langsung pergi dari sana. Danesya tak mungkin kuat menahan jika terus berada di sana. Bahkan rasanya makanan di dalam perutnya memaksa keluar, selera makannya pun langsung hilang.
~ Bruukkk
" Lho, Lunetta, kita emang jodoh ya, kita ketemu lagi di sini setelah Lo bikin gue sebegitu menderitanya, apa kaabr sayang?" tanya seseorang yang membuat Danesya terdiam dan memaku, siapa lagi orang ini? Salah satu teman Lunetta? Tapi mengapa Luna pernah membuatnya menderita?
" Lo siapa?" tanya Danesya akhirnya, gadis itu tak mau salah bicara atau mengatakan dia bukan Lunetta, orang itu tertawa renyah melihat kebingungan dan kepolosan Danesya, bahkan orang itu memeegang dagu Danesya untuk menatapnya dengan jelas.
" Lo lupa sama gue? Setelah semua yang Lo lakuin? Setelah Lo buat hidup gue hancur, Lo Lupa sama gue? Hei setan kecil, kalau gitu gue perkenalkan diri gue lagi ya, nama gue Roy, mantan teman kelas yang Lo depak dari sekolah karna cowok yang namanya Radith, ingat sekarang Lo?" Danesya diam saja, tentu dia tak ingat, mengetahui hal itu saja tidak.
Apapun itu, pasti bukan masalah yang sepele jika sampai membuat lelaki ini di D.O bahkan di tahun pertama sekolah. bahkan saat pertama kali melihat Danesya sudah tahu bahwa ada yang tak beres dengan pikiran lelaki itu, terlihat selaki lelaki itu memiliki gangguan jiwa yang tak terselamatkan lagi.
" Lo ikut sama gue!" seru orang itu menarik Danesya dengan kuat, Danesya tak menolak, gadis itu seakan terhipnotis dan mengikuti saja langkah lelaki asing itu, jika Danesya memberontak pasti lelaki itu akan mati karna Danesya sadar dia diikuti oleh orang suruhan papanya. Lebih baik menuruti mau lelaki ini dulu untuk menyelamatkannya nyawa lelaki ini.
" Lo mau apa? Gak usah bawa gue jauh – jauh. Urusan kita udah selesai, gue gak mau ada urusan sama Lo lagi, dan Lo gak usah ganggu hidup gue dimana pun Lo ketemu sama gue," ujar Danesya yang kini harus berpura – pura menjadi Luna. Lelaki itu menyeringai dan mengeluarkan pisau dari kantong jaketnya, menggoreskan pisau itu dengan cepat ke leher Danesya.
" Hahaha, Lo cantik banget, hahaha, gimana rasanya? Enak kan pasti?" tanya lelaki itu dengan tawa yang tak dibuat – buat. Goresan itu tak panjang dan tak dalam, namun cukup untuk menyakiti Danesya. Gadis itu masih bersikap biasa saja dan mengode dengan tangannya agar dimanapun pengawal itu berada mereka tak mendekat.
Meski geram dan kesal, entah mengapa Danesya bisa merasakan lelaki itu kesepian dan mengalami masa deperesi yang berat. Entah mengapa juga Danesya jadi merasa kasihan dengan lelaki itu. Lelaki itu pasti butuh didengar, namun mungkin tak ada orang yang mau mendengarnya.
" Lo bahagia lihat orang lain kesakitan kayak gini? Lo dendam sama gue? Atau Lo lampiasin kemarahan Lo di hidup Lo ke gue kayak gini?" tanya Danesya yang sepertinya tepat sasaran karna wajah lelaki itu langsung berubah. Namun hanya sejenak, lelaki itu mencengkram leher Danesya yang sudah berdarah, membuat darah makin mengalir dari leher gadis itu.
" Iya, gue bahagia lihat orang kesakitan, itu merupakan kebahagiaan tersendiri buat gue. Tapi sejak gue di D.O, gue gak bisa dapat kebahagiaan itu, orang tua gue ninggalin gue dengan sebuah rumah kecil yang harus gue urus sendiri, Lo tahu rasanya? Enggak kan? Lo tahu apa sih tentang hidup orang lain?"
Danesya mengerti, lelaki itu menderita kelainan Jiwa Sadism, dimana seseorang akan merasa bahagia setelah menyakiti orang lain, hal itu membuat Danesya makin merasa iba dengan prang yang ada di depannya. Dia hendak mengatakan sesuatu, namun cengkraman di lehernya membuatnya kesulitan bernapas, terpaksa dia meminta bantuan orang – orang itu.
Dengan cepat mereka datang dan mengamankan Danesya dan Roy ke arah yang berlawanan, Roy memberontak takut, seakan trauma akan apa yang mereka lakukan dulu, Roy merasa trauma dan takut akan mengalami hal itu lagi.
" Bawa dia pulang ke rumahnya tanpa menyakiti dia, jangan kasih tahu Papa atau bang Jordan untuk kejadian ini. Kalau dia terluka, kalian akan tanggung akibatnya langsung dari Danesya," ujar Danesya yang diangguki oleh mereka. Mereka pergi dari sana membaw Roy yang kaget dengan keputusan Danesya yang dia kira Lunetta. Lelaki itu memohon untuk mendekat ke arah Danesya.
" Kenapa Lo lakuin ini ke gue? Kenapa Lo gak siksa gue kayak waktu itu? Kenapa Lo lepasin gue gitu aja? Lo gak takut bakal gue bunuh dengan mudah? Bahkan setelah gue bikin Lo nyaris mati dengan luka itu?" tanya Roy bertubi – tubi dengan bingung, lelaki itu takut ada niat tersembunyi dibalik perlakuan Luna padanya. ( Ya, Roy menganggap Danesya adalah Lunetta)
" Gue, gue bakal temuin Lo lagi, gue harus ngebalas semua yang Lo lakuin ke gue malam ini, Lo tunggu gue ya," ujar Roy dengan nada bicara berbeda. Tak ada kemarahan sama sekali, namun Danesya tak mau begitu peduli, gadis itu memilih untuk diam dan langsung pergi dari sana tanpa menjawab Roy.
Berkat lelaki itu, Danesya mendapat goresan pertama dalam hidupnya, bahkan dia harus langsung pulang tanpa memberitahu keluarganya, gadis itu akan memberitahu mereka lewat telpon nanti, biarlah lelaki itu hidup tenang tanpa teror dan hukuman dari papanya, kasihan juga kan dihukum berat oleh orang yang sama dua kali.
*
*
*
" Danesya langsung pulang Pa, dia ada sesuatu yang gak bisa diomongin, harus pulang sekarang, jadi kita lanjutin makan dulu aja," ujar Jordan yang diangguki oleh Mr. Wilkinson. Mereka melanjutkan makannya dengan Jordan yang senantiasa menyapi gadis kecilnya yaang mulai bisa menikmati makanan itu.
" Dad, Daddy gak ada rencana bakal balik ke luar negeri lagi kan Dad? Luna mau Daddy stay di Indonesia aja," ujar Luna setelah menghabiskan makanan di mulutnya. Mr. Wilkinson terkekeh dan tersenyum lalu mengangguk, bahkan dokter pribadinya memintanya untuk mengurangi jam kerja mengingat usianya tak muda lagi dan banyak penyakit yang mengincar raganya.
Dia tak boleh gugur atau sakit di saat seperti ini, dia tak mungkin tega membiarkan Jordan berada di posisi sulit, lelaki itu tentu tak siap, Mr. Wilkinson tak mau mengambil resiko untuk hal itu dan Jordan sangat mengerti hal itu, makanya Jordan selalu berhati – hati dan membawa banayk pengawal bersamanya saat pergi ke suatu tempat.
Kehidupan Jordan di luar sana memang tak mudah, bahkan cenderung sangat sulit dan melelahkan, namun dia harus bertahan dan slaing melindungi keluarganya agar tak terluka. Hidup di dunia CEO tak semudah yang dibayangkan, apalagi jika bergerak di bidang abu – abu, sangat sulit dan beresiko.
" Kamu bawa vitamin kamu kan?" tanya Mr. Wilkinson pada Luna yang sudah menghabiskan makanannya, kini Jordan yang fokus pada makanannya agar lekas habis dan mereka bisa segera pulang mengingat hari sudah malam dan Luna harus sekolah besok pagi.
" Bawa dad, Luna selalu bawa vitamin ini kemana – mana, kata bang Jordan harus rutin minumnyaa biar Luna gak gampang sakit, apalagi bentar lagi Luna harus ikut hansek sama polisi, jadi Luna harus jaga stamina," ujar Luna dengan riang dan mengeluarkan obat – obatan itu, menelannya satu persatu dengan bantuan air putih.
" Kamu jangan pernah lewat minum pokoknya, belakangan ini tuh cuacanya gak tentu, siang panas malam hujan, besok panas lagi, memang lagi iklim ekstrim, kalau kalian gak rajin minum vitamin kalian bisa gampang sakit, dan Daddy gak mau itu," ujar Mr. Wilkinson sambil mengelap mulutnya dengan serbet yang tersedia.
" Siap dad, nih abang juga minum berarti biar abang gak gampang sakit," ujar Luna mengulurkan obat – obatnya ke arah Jordan, lelaki itu menggeleng cepat dan menolak pemberian Luna. Luna langsung mengerutkan keningnya, mengapa Jordan menatap vitamin ini dengan aneh? Ini kan hanya vitamin, rasanya juga tak sepahit itu. Meski yang dia tahu vitamin tidak pahit sih
" abang gak suka minum vitamin yang gitu, abang suka yang cair yang bisa diminum, abang udah stock banyak di kamar abang, kamu tenang aja, abang gak mungkin sakit, virusnya yang takut sama abang, hahaha," ujar Jordan mengangkat kedua tangannya utnuk menunjukkan otot lengannya pada Luna.
Mereka tertawa melihat Jordan yang menunjukkan bahwa dirinya kuat. Setidaknya kehangatan keluarga yang hilang kini telah kembali, meski tetap tak terasa lengkap, setidaknya dnegan bersama mereka bisa saling emnguatkan saat salah satu diantara mereka terjatuh dan terpuruk, mereka bisa saling mengangkatkan dalam dinginnya malam, mereka bisa saling menyayangi selayaknya keluarga bahagia di luar sana.
Wilkinson sudah berjanji pada dirinya dan pada Iatrinya untuk melakukan itu semua, setidaknya dia tak mau terus menerus menjadi pengecut yang menghindari takdir, dia sudah mengiklaskan istrinya dan kini dia harus melaakukan tugasnya sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak – anaknya, dia akan melakukan itu semua dengan perlahan namun pasti.
" Kalau udah selesai, yuk kita segera pulang, udah malam juga, besok kamu harus sekolah Loh Luna, dad gak mau kamu banyak bolos, percuma dong daddy sekolahin kamu di sekolah kedisiplinan kayak gitu kalau kamu banyak ijinnya," ujar Mr. Wilkinson yang diangguki oleh Luna. Gadis itu meminum sisa jus yang ada di gelasnya dan beranjak mengikuti Jordan ynag sudah berdiri duluan.
Mereka pergi dari sana dan masuk ke dalam mobil meski masih bingung dengan alasan Danesya pergi dari sana bahkan tanpa memberitahu mereka. Saat pengawal ditanya pun mereka menjawab tidak tahu dan mengatakan Danesya tampak berburu – buru, mereka berharap menemukan jawabannya saat bertemu dengan Danesya di rumah.
" Yah, kok malah hujan sih, kalau gini kan gak asik," ujar Luna dengan sedih. Gadis itu mengelap kaca dari dalam karna kaca itu tampak berembun, melihat tanah yang diterpa hujan, entah mengapa hal itu dapat menenangkan hatinya.
Mereka sampai di rumah tak lama kemudian dan langsung masuk ke dalam rumah agar tidak diterpa hujan terlalu lama. Luna memutuskan untuk naik ke kamarnya dan membilas rambutnya dengan air hangat agar tidak demam, namun sebelum masuk ke dalam lift, Luna melihat kamar Danesya yang sedikit terbuka, penarasan, Luna mendekat dan membuka pintu kamar itu perlahan.
" Lo.. Lo kenapa? Itu, leher Lo, Leher Lo kenapa?" tanya Luna dengan kaget saat melihat pantulan wajah Danesya yang sedang mengoleskan obat di lehernya. Danesya juga kaget dan langsung berdiri, menarik Luna masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu rapat – rapat agar tak ada orang lain yang tahu.
" Gue bakal cerita ke Lo, tapi Lo janji gak usah cerita ke siapapun tentang hal ini, apalagi ke daddy sama ke bang Jordan," ujar Danesya mengancam yang membuat Luna meneguk ludahnya dan mengangguk menuruti apa yang diinginkan Danesya.