Hopeless

Hopeless
Chapter 140



" Nona Lunetta, saya baru mendapat kabar dari Kota bahwa mobil yang ditumpangi oleh tuan muda Darrel dan tuan muda Radith terperosok ke jurang," ujar salah seorang yang memakai kaos hitam dengan badn yang kekar.


Kaki Luna melemas seketika, tubuhnya tak dapat menopang lagi. Keyla yang melihat Luna dari arah pintu tentu langsung menghampiri Luna dengan sigap, ingin tahu apa yang membuat Luna sampai seperti itu. Sepertinya badai tak kunjung usai menghampiri hidup Luna, gadis itu selalu dirundung kemalangan bahkan sejak hari kelahirannya.


" Kenapa ini pak?" tanya Key sambil berjongkok di samping Luna. Orang itu hanya diam dan memnunduk, membuat Key menjadi geram dan semakin penarasan akan apa yang terjadi.


" Kita harus pulang sekarang Del, kita harus pulang sekarang," ujar Luna dengan air mata yang berderai di pipinya. Adel dan Key tak bertanya lagi, mereka langsung mengangguk dan mauk ke dalam rumah segera, karna apapun itu, pasti bukan hal baik melhat Luna yang sampai seperti kehilangan kakinya untuk melangkah.


" Kalian mau pulang sekarang?" tanya Lucy yang melihat Adel terburu buru ke kamar mereka dan mengemasi barang – barang yang mereka bawa ke tempat ini.


" Iya, gue gak tahu Luna kenapa, tapi gue sadar sesuatu yang buruk pasti terjadi. Ini gue kasih ponsel, lumayan ada sinyal dikit kalau disini, ntar gue kabarin gimana keadaannya dan apa yang terjadi," ujar Key yang membawa koper Luna keluar dari tempat itu.


" Udah semua?" tanya Adel yang sedari tadi hanya duduk di samping Luna yang tampak diam seakan kehilangan isi pikirannya, sementara Agatha membantu Key berkemas agar semua cepat selesai. Mereka pamit pada Lucy dan berjanji akan segera kembali, Lucy hanya mengiyakan dan tentu tetap memberi semangat pada Luna dan memberi pikiran positif agar semua berjalan dengan semestinya.


Mereka segera kembali ke kota asal mereka menaiki helikopter karna Luna yang tak mau lagi menunggu terllau lama dan ingin segera mendapat kabar terbaru dari Darrel dan Radith. Mereka sampai di rumah Luna dan memutuskan untuk menginap karna takut sesuatu yang buruk terjadi pada Luna karna gadis itu bergelut dalam pikirannya sendiri.


" Lo tenang dulu Lun, bisa aja semua yang terjadi gak seburuk apa yang ada di pikiran Lo, gue yakin kak Darrel dan Radith baik – baik aja," ujar Key yang berusaha menenangkan Luna dan mencoba untuk menyuai Luna karna gadis itu enggan memasukkan makanan atau minuman apapun ke dalam mulutnya.


" Ini semua salah gue, harusnya gue gak kekanak – kanakan dan menyebabkan semua ini terjadi, harusnya gue percaya sama kak Darrel, bukan sama cewek yang entah siapa itu, gue ngerasa bersalah banget Key," ujar Luna sambil mengusap matanya sekali lagi.


Adel hendak menjawab, namun dering di ponselnya membuat fokusnya teralihkan, dia melihat siapa yang menelponnya dan segera mengangkat panggilan itu.


" Lo kenapa telponin gue gini? Sakait jiwa ya Lo? Udah sih jangan ganggu gue dulu, ini gue lagi ada masalah, dan gue gak bisa diganggu sama hal gak penting apapun dari Lo," ujar Adel sat detik setelah mengangkat panggilan itu.


" Tolong gue del, gue kecelakaan dan Cuma Lo yang ada di kontak gue, tolong gue del." Suara itu membuat Adel termenung seketika. Dia tahu jika di ponsel Rafa yang terbaru, hanya kontaknya yang tersimpan rapi di kontak itu. Adel langsung panik dan melihat ke arah Key yang juga memandang ke arahnya.


" Kalau penting Lo pergi aja, gue bakal disini jagain Luna. Itu Rafa kan? Dan dari ekspresi Lo, pasti sesuatu yang penting terjadi, Lo pergi aja, dan balik kesini kalau udah selesai masalahnya," ujar Key yang mendadak jadi bijak, padahal biasanya dia yang paling tak terima jika Adel lebih mementingkan Rafa dibanding pertemanan mereka.


" Makasih ya Key, gue bakal langsung balik ke sini kalau masalahnya udah selesai, titip Luna ya, gue percaya sama Lo, Love you all," ujar Adel yang langsung mengambil tasnya dan pergi dari tempat itu seketika. Key menghela napasnya dan kembali menenangkan Luna berharap gadis itu menjadi lebih tenang.


*


*


*


" Gimana pak? Udah ada kabar dari kak Darrel?" Tanya Luna pada orang suruhannya, namun orang itu tampak gelisah, membuat Luna yakin mereka belum menemukan titik terang dalam pencarian mereka.


" kami sudah menemukan bangkai yang ditumpangi tuan muda. Namun dalam mobil itu hanya terdapat jasad supir yang mengendarainya, tak ada tanda dua tuan muda ada di dalam mobil itu. Kami juga sudah menangkap pelaku yang membuat mobil tuan muda masuk ke dalam jurang itu," ujar orang itu yang membuat Luna mendongak dan menatap orang itu dengan wajah penasaran.


" Aapa motif pelaku sampai berperilaku kejam seperti itu?" tanya Luna yang membuat orang itu menunjukkan sebuah piala besar yang terbakar serta sertifikat yang sudah terbakar separuh pada Luna. Gadis itu menerima kedua benda itu dengan bingung dan tak mengerti.


" Motifnya karna pelaku tak teria tuan muda Radith menjadi juara LKS, Sebenarnya memang pihak pelaku yang menjadi juara, namun karna terbukti melakukan kecurangan, gelar juara itu dianulir dan tuan muda Radith yang ada di peringkat dua otomatis menjadi juaranya," ujar orang itu yang membuat Luna berpikir.


" Terus orang itu gak terima karna Radith yang menang dan mereka merencanakan pembunuhan ini? Sadis sekali!" pekik Luna karna orang itu mengangguk membenarkan pernyataan Luna. Gadis itu menggeleng pelan karna sadar bahwa dunia ini memang jahat dan kejam, bahkan Radith yang tak melakukan kesalahan menjdi korban dari keserakan orang itu.


" saya mau ikut ke lokasi kejadiannya pak, apa bangkai mobilnya udah dikeluarkn?" tanya Luna yang meletakkan kembali piala dan setifikat itu dan mengusap wajahnya yang tadi penuh air mata. Orang itu tampak ragu untuk mengijinkan Luna ikut dalam pencarian mengingat bahayanya medan yang akan ditempuh.


" Tapi nona, akan sangat berbahaya jika Nona ikut kami, bangkai mobil memang sengaja dibiarkan untuk mencari petunjuk lain karna tuan muda hilang tanpa jejak sementara pelaku bersikeras tak melakukan appaun yang berkaitan dengan hilangnya dua tuan muda," ujar orang itu yang tak dipedulikan oleh Luna.


" Baik nona," ujar orang itu yang sudah kalah dari Luna, orang itu menghubungi pengawal lain untuk memperketat penjagaan karna Luna sendiri yang akan membantu mereka untuk mencari Darrel dan Radith."


" Pastikan pelaku tak akan mati dengan mudah, sekaligus saya mau orang itu disiksa sampai dia tak bisa membedakan apakah dia masih ada di dunia ini atau sudah pergi ke neraka, saya yakin kalian bisa melakukannya, dan saya gak mau dengar protes dari siapapun dalam bentuk apapun. Tak ada ampun lagi bagi mereka yang berusaha melukai orang sekitar saya."


Orang itu tertegun sejeank. Ternyata memang Luna adalah anak kandung tuan Wilkinson, selembut lembutnya atau selemah – lemahnya Lunetta, gadis itu menyimpan sisi kejam yang memang selalu dimiliki oleh tuan wilkinson, atau Jordan bahkan juga Danesya, mereka semua memiliki sisi kejam tak terduga.


Luna masuk ke dalam mobil dan supir segera meajukan mobil itu diiringi beberapa mobil lain yang ada di sekitar Luna, mereka melakukan iring – iringan seperti touring, meski tanpa polisi dan tak membuat kerusuhan di sepanjang jalan. Perlu waktu cukup lama untuk sampai ke tempat itu, Luna bahkan sampai tertidur menunggu mereka sampai ke tempat tujuan.


" Nona, kita sudah sampai," ujar orang itu yang membuat Luna mebuaka matanya dan mengucek kedua matanya itu. Luna sedikit melakukan peregangan untuk mengembalikan kesadarannya sebelum akhirnya sadar dia sudah sampai di tepi jurang yang tak tampak ada yang aneh di sekelilingnya. Tak ada garis polisi atau apapun yang menjadi tanda layaknya kecelakaan terjadi.


" Kalian gak panggil polisi ya?" tanya Luna yang membuat beberapa orang di sana saling pandang dan seakan bekerja sama untuk memerikan jawaban kompak pada Luna. Gadis itu senantiasa menunggu sambil mengamati satu persatu wajah yang merasa bersalah, namun Luna yakin ada alasan dibalik kegelisahan mereka.


" Kami mmang tidak melibatkan pihak kepolisian, karna tuan muda Jordan sendiri tak mau berit ini sampai blow up dan akhirya membuat nama keluarga Atmaja dan keluarga Wilkinson menjadi pembicaraan yang tak mengenakkan, apalagi bisnis keluarga Atmaja yang memang sedang dalam masa krisis. Atas pertimbangan itu, kami mmemilih untuk mengerahkan tenaga pengawal untuk mencari keberadaan dua tuan muda."


" gitu aja pakai bingung jawabnya, yaudah, ayo bantu saya turun. Saya mau lihat kondisi mobilnya, siapa tahu saya bisa menemukan petunjuk yang tidak bisa kalian temukan," ujar Luna yang membuat mereka kembali dirundung keraguan, membuat Luna kesal dan melangkah sendiri untuk turun dari jurang itu.


" Nona, mari saya bantu, nona harap hati – hati, kami tidak akan membiarkan nona terluka, kami akan mendapat masalah untuk hal itu."


" Ya makanya bantuin saya turun biar gak jatuh atau luka, kalian mah bikin saya geregetan, buruan lah kuy turun, jauh banget kah mobilnya? Kok masih gak kelihatan?" tanya Luna yang menengok ke arah bawah dengan tangan yaang dipegang erat oleh dua pengawal yang sudah memakai tali pengaman. Hmmm, kenapa bukan Luna yang memakai tali pengaman itu? Positif thinking saja, orang itu ingin modus memegang tangan lembut Luna, hahaha.


Kaki Luna melemas saat dari kejauhan dia melihat sebuah mobil yang sudah hangus terbakar, gadis itu langsung melepaskan kedua tangan yang memegangnya dan berseluncur ke bawah sana agar lekas sampai ke tempat itu, biarlah lecet langsung menghiasi tangan dan kakinya, meski keputusan Luna membuat dua orang yang memegangnya langsung terkejut atas tingkah Luna.


" Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sampai separah ini? Kalian, kalian kenapa gak jagain kak Darrel sampai kak Darrel seperti ini? Kalian, kalian," ujar Luna terbata bata dan memegang badan mobil yang sudah hangus, orang yang ada disana tak menjawab apapun, mereka hanya menunuduk karna sadar semua yang terjadi adalah kesalahan mereka, mereka tak mau menyangkal hal itu dan membuat keadaan semakin memburuk.


Luna kembali menitikkan air mata, membayangkan sesuatu yang semengerikan ini harus terjadi pada Darrel dan Radith. Entah seperti apa mereka sekarang, bahkan Luna tak tahu kedua orang itu ada dimana. Gadis itu membuka pintu dan langsung menengok ke arah dashboard penumpang, gadis itu melihat sekitar dan menemukan sebuah ponsel tergeletak disana.


" Ini ponsel kak Darrel," ujar Luna memegang ponsel yang sudah hangus itu, Luna tahu jika itu milik Darrel, Luna snagat mengenani barang – barang milik Darrel, gadis itu keluar dari mobil dan mencoba menyalakan ponsel itu, namun sia sia, ponsel itu sepertinya sudah meledak bersamaan dengan meledaknya mobil ini, namun dimana Darrel dan Radith sekarang?


" Kalau mereka gak ada di mobil ini, ada dua kemungkinan. Jasad mereka diambil oleh seseorang entah apa tujuannya, dan satu lagi. Mereka bisa keluar sebelum mobil menabrak dan meledak, tapi mereka kemana? Kenapa gak ada jejak sama sekali pak?" tanya Luna sambil memasukkan ponsel Darrel ke dalam tasnya.


" Kami masih berusaha mencari petunjuk nona, namun tak ada tanda tanda mereka bisa keluar dari mobil sebelum terjadi ledaan, maka dari itu kami sedang berusaha mencari orang yang mungkin mengambil jasad mereka untuk kepentingan tertentu."


Luna menggelengkan kepalanya menolak fakta tersebut, tak mungkin Darrel dan Radith berakhir semudah ini. Tak mungkin mereka akan tewas seperti ini saja, karna nasib novel ini tentu langsung berakhir dengan berakhirnya hidup keduanya. Maka dari itu Luna yakin pada kemungkinan kedua, ya, Luna yakin Darrel dan Radith berhasil keluar dari mobil tepat waktu. Kini yang perlu dia lakukan hanya menemukaan petunjuk.


Luna berjalan naik dan melihat sekeliling untuk mencari petunjuk. Gadis itu sangat putus asa karna tak menemukan apapun. Gadis itu duduk dan melihat lagi ke arah mobil itu. Dia menekuk lututnya dan memeluknya, bahkan gadis itu diam dan mulai berdoa, berharap dia diberi petunjuk yang membawanya pada Darrel dan Radith.


" Pak, entah mengapa suara hati saya yakin kalau mereka masih hidup entah dimana, apa tidak ada kemungkinan mereka ditawan sama alien atau makhluk apa gitu pak? Saya masih berharap mereka hidup bagaimanapun keadaannya," ujar Luna dengan nada hambar karna dia tak tahu harus melakukan apa lagi.


Luna berjalan lagi ke arah atas untuk mencapai jalan raya lagi. Luna tak mungkin duduk saja di tempat ini, bisa saja dia meminta bantuan satelit dari Daddynya untuk menemukan Darrel dan Radith, meski sulit, namun pasti ada cara untuk menemukan mereka berdua, baik dalam keadaan hidup atau mati.


Mata gadis itu melebar saat melihat sepotong kain yang tersangkut ranting pohon yang tertancap di tanah diselimuti belukar. Luna mendekat ke arah semak itu dan dengan hati – hati melepaskan kain itu dari ranting yang membuatnya tersangkut.


" Ini parfum kak Darrel, ini, ini potongan kain dari kak Darrel/ PAK, PAK, KESINI!" Teriak Luna yang melihat ke arah pengawal yang langsung berlari menghampirinya. Luna melihat ke sisi lain jurang itu dan menatap potongan kain yang memiliki wangi khas Darrel. Sepertinya masih ada harapan.


Ya, harapan tak akan pernah padam selagi kita percaya mereka ada. Harapan akan selalu ada selagi kita berusaha untuk mencari dan menemukan harapan itu, sembari kita berusaha membuat segala kemungkinan akan harapan itu menjadi nyata.