
Faris yang baru pulang dari kediaman Ayah Alex, disambut omelan oleh kakaknya, Mutia, yang baru saja datang dari Surabaya.
"Keterlaluan sekali kamu, Dik! Masak mau nikah mendadak gini, sih! Kakak 'kan jadi bingung karena kakak yang dipasrahi sama abah dan mamah untuk mengurus semuanya di sini! Mulai dari seserahan, mas kawin, penginapan untuk saudara-saudara kita, dan lain sebagainya!" protes Mutia, tanpa jeda.
"Kakakku yang cantik, imut, manis dan menggemaskan. Adikmu ini baru saja pulang, biarlah si ganteng ini mendudukkan pantatnya di sofa empuk dululah," balas Faris sambil mencubit dagu sang kakak.
Pemuda tersebut langsung ngeloyor menuju ruang keluarga, tanpa menghiraukan tatapan sebal dari kakaknya.
"Ih ... punya adik cowok satu, nyebelin!" gerutu Mutia sambil mengekor langkah sang adik.
Faris yang baru saja duduk, terkekeh senang. Wajah manis tersebut terlihat berseri-seri dan semakin menawan. "Nyebelin tapi ngangenin, kan?" goda Faris.
Membuat Mutia mau tak mau tersenyum. "Ck ... ngangenin apanya?" kilah Mutia, padahal dalam hati dia membenarkan.
Ya, Faris yang selalu ceria, lucu dan banyak bicara, membuat orang-orang di sekitarnya senantiasa ikut bahagia, tertular aura positif pemuda tersebut.
"Kak Tia santai sajalah, semua sudah Faris siapkan," ucapnya kemudian. "Tepatnya, Mbak Ana dan Mbak Heni yang menyiapkan seserahan untuk Neng Ganis, sekaligus mencarikan mas kawinnya," lanjut Faris.
"Syukur alhamdulillah kalau begitu, Ris," balas Mutia. "Tadi di pesawat, kakak bingung banget tau, sampai bikin draf kayak gini," imbuhnya sambil mengambil sobekan kertas putih yang tergeletak di atas meja dan memberikan pada sang adik.
"Apa-apa yang harus kamu lakukan dan kamu beli, agar waktu satu malam ini cukup," lanjut Mutia seraya menatap sang adik.
Faris memperhatikan catatan panjang yang ditulis oleh sang kakak. "Booking hotel untuk saudara, membeli mas kawin ke toko perhiasan, menyiapkan seperangkat alat sholat sebagai mahar, mencari seserahan lengkap untuk Inez ...." Pemuda tersebut sejenak menghentikan membaca deretan huruf yang dirangkai menjadi kata, yang dituliskan oleh Mutia.
Faris kemudian menatap sang kakak. "Hah ... sebanyak ini dan harus disiapkan dalam waktu semalam? Kakak pikir, Faris ini Bandung Bondowoso yang bisa menyiapkan candi untuk Roro Jonggrang dalam waktu satu malam?" Faris terkekeh sendiri.
Mutia melempar bantal sofa ke arah sang adik.
"Bahagia sekali adik kita, Ummi." Suara berwibawa kakak iparnya yang baru saja keluar dari kamar, menghentikan tawa Faris.
"Mas," sapa Faris yang kemudian berdiri menyalami Imron, suami Mutia.
Faris kemudian kembali duduk, yang diikuti oleh Imron yang duduk di samping sang istri.
"Jomblo akut, tiba-tiba laku, ya pasti π©π’π±π±πΊ-lah, Abi," balas Mutia sekenanya, ikut-ikutan sang adik. "Udah gitu, dapetnya bening lagi, dan dari keluarga baik-baik," imbuh Mutia.
"Ya Alhamdulillah, Ummi. Rizqi anak sholeh, itu," tutur Imron.
"Nah, betul apa kata Mas Imron, Kak. Rizqi anak sholeh, penyabar, penyayang, baik hati dan tidak sombong," timpal Faris. Pemuda tersebut kembali terkekeh, hingga mau tak mau sepasang suami-istri tersebut ikut tertawa.
"Narsis!" cibir Mutia, di sela tawanya.
"Oh ya, Dik. Berarti, kita tinggal menyiapkan hotel untuk beristirahat keluarga besar kita dari Bandung?" Mutia menatap sang adik, setelah tawa mereka bertiga mereda.
"Enggak perlu, Kak. Keluarga Neng Ganis sudah menyiapkan semuanya, tadi pakdhenya sendiri yang menyampaikan pada Faris," balas adik kandung Mutia tersebut.
"Ya enggak enaklah, Dik. Kita ini pihak laki-laki, masak apa-apa malah mereka yang menyiapkan, sih!" protes Mutia.
"Faris tadi juga sudah mengatakan seperti itu, Kak, tapi saudara-saudara ayahnya Neng Ganis, pkdhe, opa dan omnya, maksa agar Faris ikut saja apa yang sudah mereka siapkan," balas Faris seraya menatap sang kakak.
"Lagipula, bukan Pak Alex sendiri lho, Kak, yang menyiapkan semua, tetapi keluarga besarnya," imbuh Faris, menegaskan.
Mutia yang sudah pernah bertemu dengan keluarga besar Nezia sewaktu mengantarkan gadis itu pulang ke rumah, mengangguk percaya.
"Mereka memang keluarga yang kompak," ucap Mutia.
"Ya sudah, kamu istirahat sana. Jangan sampai besok pas resepsi, mata kamu kayak mata panda," titah Mutia pada sang adik.
"Faris enggak disuruh makan malam dulu, gitu?" Dahi pemuda tersebut berkerut dalam.
"Lah, dari rumah calon mertua, masak enggak dikasih makan?" tanya Mutia, tak percaya.
"Makan bareng memang, Kak, tapi Faris 'kan cuma ngambil sedikit. Tadi, sih, perasaan sudah kenyang. Kok sampai sini, jadi lapar lagi, ya?" Faris tersenyum dikulum.
"Hem, modus! Kenyang karena makan sambil lihatin Inez, pasti!" Mutia segera beranjak untuk menyiapkan makan malam.
Sementara Imron hanya geleng-geleng kepala, menyaksikan tingkah sang adik ipar. Laki-laki yang selalu memakai penutup kepala itu melangkah ke dapur menyusul sang istri.
"Dulu Mas Imron pasti juga gitu, kan?" tanya Faris, yang mengekor langkah kakak iparnya.
"Benar, Dik. Enggak makan juga sudah kenyang, apalagi kalau melihat senyum kakak kamu yang manis, kenyang banget malah," balas Imron, sejujurnya.
Suami Mutia itu kemudian memeluk istrinya yang tengah memanaskan lauk yang dia bawa dari rumah Surabaya. "Senyuman istri abi memang yang paling manis," bisiknya di telinga Mutia.
Membuat hati wanita berhijab itu, membuncah bahagia.
"Hem ... pamer terus," gerutu Faris yang langsung mendudukkan diri di meja makan, pemuda tersebut merasa iri karena dirinya belum dapat melakukan hal tersebut.
"Besok kamu juga bakalan seperti ini, Dik, sabar saja!" seru Imron yang masih memeluk istrinya.
Setelah makanan siap, mereka bertiga pun mulai makan malam dalam keheningan. Tak ada yang bersuara, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berdenting, beradu dengan piring.
Faris ke kamar dulu ya, Kak," pamit Faris, sesaat setelah mereka semua menghabiskan makanan dalam piring
Mutia hanya mengangguk.
"Chat dia dulu, kasihan nanti si dia enggak bisa tidur kalau kamu enggak kasih kabar. Dia pasti nunggu-nunggu," suruh Imron sambil melirik sang istri.
"Memangnya, Kakakku gitu ya, Mas?" Faris mengurungkan langkah, dahinya berkerut dalam.
"Ish, si Abi ... pakai buka kartu segala!" gerutu Mutia, tetapi sedetik kemudian wanita manis itu tersenyum dan menjatuhkan kepala di bahu sang suami.
"Wanita, tuh, seperti itu, Ris. Kasih kabar kalau sedang berjauhan, tanyain dia lagi apa? Perhatian kecil seperti itu saja, sudah membuat wanita sangat bahagia," pungkas Imron.
Faris tersenyum lebar, pemuda itu kemudian bersiul sambil berlalu menuju kamarnya. 'Pelajaran pertama yang akan aku praktekkan pada Neng Ganis.'
βββββ bersambung ...
πΉπΉ
Praktek ma aku aja, Akang Faris π₯°
Tanya kek, aku lagi apa? π€
πΉπΉ
Best,, ramaikan novel sohibku, yah... keren pokoknya π