Hopeless

Hopeless
Chapt 110



Semakin hari Darrel semakin uring – uringan, Angga pun hanya bisa mengelus dada menghadapi lelaki itu. Sudah lama sekali Darrel memilih untuk vacum dari dunia percintaan dan lelaki itu menemukan Luna hingga menjadi budak cinta level dewa.


" Lo marah – marah mulu bikin gue pusing tau gak sih Rel, Lo lagi PMS apa gimana? Coba cek pantat Lo bocor gak tuh," ujar Angga memijit pelipisnya yang mulai tegang karna Darrel marah akan hal kecil apapun.


Tadi pagi saat lelaki itu berangkat, dia langsung marah dan uring – uringan tidak jelas, ternyata tadi lelaki itu di klakson oleh pengendala motor lain sedangkan traffic light masih berwarna merah dan menunjukkan angka 3. Lelaki itu juga mengamuk saat ' si cupu' Vanessa lewat di depan lelaki itu, mengganggu pemandangan katanya.


Lebay sekali bukan? Sepertinya wajar saja Angga semakin hari semakin tak sabar dengan lelaki itu dan memutuskan untuk mengabaikan Darrel yang semakin menjadi – jadi dengan sikap dingin, ketus dan angkuhnya. Bahkan mereka yang biasanya menganggu Darrel seperti lalat tampak tak berani mendekat.


" Lo tuh bukannya hibur gue kek, bikin gue move on kek, bikin gue balikan kek, malah diemin gue, bikin bete Lo," ujar Darrel merajuk dan menenggelamkan wajahnya ke dalam tas yang sudah dia keluarkan isinya. Lelaki itu membungkus kepalanya dengan tas dan meletakkan kepala itu di atas meja.


" Kayak anak perawan habis dihamilin Lo, sensitif, ngelesin, lebay pula jadinya, males gue, terserah Lo lah mau ngapain juga," ujar Angga dengan cuek dan langsung bangki berdiri untuk membeli makanan di kantin, persediaan selama pelajaran seni yang santai.


Darrel tampak tak merespon, lelaki itu hanya mengambil ponsel dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam tas untuk memegang ponsel itu, entah apa yang lelaki itu buka dan lihat dalam ponselnya sampai memerlukan posisi seperti itu, hmmmm.


" Lunetta, Lo Lunetta kan? Gue ada perlu sama Lo, nanti sore gue tunggu di gerbang depan."


Angga yang masih mengantri cilok melihat Luna ( biang masalah dari kekacauan hidup Darrel sekaligus kehancuran hidup Angga yang tenang) memasuki kantin dengan wajah gembira bersama seorang siswi lainnya, Angga langsung mendekati dan berbicara dengan Luna pelan, tidak mau mereka yang ada di kantin ini curiga dan membuat gosip yang aneh.


" Wih, udah bisa ngegoda Darrel, sekarang mau embat sahabatnya juga, gak tahu diri banget Lo," ujar salah seorang siswa dengan badge kelas dua, Luna tersenyum sopan pada orang itu, namun senyumnya berubah mengejek sambil meneliti gadis di hadapannya dari atas ke bawah.


" Kayaknya gue memang lebih berhak lakuin itu semua kalau dibandinginnya sama Lo," ujar Luna tersenyum manis dan kembali mengesap es the yang ada di dalam gelap. Tangan gadis itu tampak mengepal karna Luna berhasil mengejeknya dengan halus, padahal disini dia yang ingin mempermalukan Luna.


" Awas ya Lo!" ancam orang itu sambil menunjuk Luna dan pergi dari tempat itu. Luna menghela napas dan menggeleng karna ada saja spesies aneh dalam hidup Luna yang membuat gadis itu pening dan menghabiskan energi jika mengurusi mereka.


" Eh, yang tadi datang kesini bukannya kak Angga? Ngapain dia datengin Lo?" tanya Farisa membawa satu mangkok bakso panas yang menggugah selera. Luna menggeleng sebagai jawab, dia masih belum tahu apakah yang akan dibicarakan Angga itu penting, namun dilihat dari cara bicara lelaki itu, sepertinya bersifat rahasia.


Luna jadi tak tenang selama sisa jam pelajaran berlangsung. Entah mengapa dia merasa tak nyaman dan terus memikirkan ajakan Annga untuk bertemu dengannya. Mungkinkah Angga akan membicarakan soal Darrel? Apakah lelaki itu sama hancurnya seperti Luna? Bahkan diantara mereka tak ada yang menyebar berita ini, mungkinkah Darrel juga berniat menjaga Luna dengan cara ini?


Semua pertanyaan itu muncul begitu saja di pikiran Luna, membuat gadis itu tak tenang dan tak menemukan jawaban apapun dan berharap waktu segera berlalu agar dia bisa mengetahui jawaban ata setiap pertanyaannya. Meski terasa lambat, bel sekolah akhirnya berbunyi, Luna bergegas keluar kelas dan menunggu Angga di gerbang depan.


10 menit berlau ….


Luna mulai tak sabar dan melihat ke arah jamnya, mungkinkah Angga hanya mengerjainya? Namun apa tujuan lelaki itu untuk berbuat iseng pada Luna? Lelaki itu bahkan baru bertemu Luna sekali, tak mungkin sampai sebegitu sok akrabnya dengan Luna.


Lima belas menit….


Luna yang tadinya berdiri kini memilih duduk di salah satu bangku kayu yang ada disana, Luna mulai jenuh dan entah mengapa rasanya kesal harus menunggu seseorang yang entah apa tujuannya sampai seperti ini.


Luna bahkan melihat Darrel mengendarai motornya keluar dari sekolah, lelaki itu hanya melirik Luna tanpa berniat untuk menyapa, bahkan dia langsung mengegas motornya sesaat setelah memalingkan wajahnya.


Angga akhirnya muncul membawa motornya dan meminta Luna untuk naik ke atas motornya. Luna duduk dengan perasaan yang campur aduk, untung saja sekolah sudah sepi, Luna tak perlu sibuk untuk mendengar gosip dari mereka.


" Sorry lama, gue nunggu Darrel pulang biar gak jadi masalah, nunggu sekolah sepi juga," ujar Angga yang tetap fokus menyetir motornya seakan tahu Luna sudah kesal karna harus menunggu lama.


" Kirain cuma dikerjain, yaudah gak papa kalau alasannya gitu," jawab Luna santai dan kembali ke posisinya dan menikmati angin selama perjalanan mereka.


Lama motor melaju namun belum juga sampai ke tempat tujuan, Luna jadi sedikit curiga mengapa Angga membawanya ke tempat seperti ini, apa tujuan lelaki itu?


" Masih jauh ya kak? Kok gak sampai sampai sih?" Tanya Luna dengan khawatir, dia takut Angga akan membawanya ke tempat aneh, apalagi mereka tidak pernah pergi berdua sebelumnya. Bagaimana jika nantinya Angga malah berbuat mesum padanya?


" Bentar lagi sampai, Lo tenang aja gue bukan orang bejat kayak yang lo takutin."


Luna terdiam seketika, gadis itu sedikit merasa bersalah karna berpikiran buruk, apalagi Angga seakan bisa membaca pikirannya, hmmm Luna jadi teringat pada Radith karna lelaki itu selalu bisa membaca pikiran Luna.


Angga memarkirkan motornya ke salah satu gang dan menggadeng tangan Luna. Luna kaget dan berusaha menyingkirkan tangan Angga, namun lelaki itu menatap Luna agar Luna tidak melepaskan tautan mereka.


" Jangan dilepas, kalau Lo jalan sendiri Lo bisa digodain sama preman sini, percaya sama gue," ujar Angga yang membuat Luna pasrah saja.


" Simpan pertanyaan untuk nanti nona muda," bisik Angga di telinga Luna dan langsung mengajak gadis itu untuk pergi dari sana. Mereka keluar dari gang dan menuju seberang jalan, entah ada apa disana.


" Hoaahhhh, cantik banget," ujar Luna melepas tangan Angga dan berjalan mendekat ke tempat yang dilihatnya. Angga terkekeh melihat tingkah Luna yang ke kanak kanakan.


" Sekarang gue paham kenapa Darrel cinta mati sama Lo," ujar Angga saat mendekat ke Luna. Luna menengok dan memandang Angga dengan tatapan aneh, kenapa tiba tiba lelaki itu mengatakan hal seperti itu?


" Lo tuh polos, tipe nya Darrel banget, kalau gue sih juga pasti suka sama Lo, udah cantik, bule, polos." Luna masih tak menjawab. Gadis itu masih mencerna maksud ucapan Angga.


" Kakak mau nembak aku kah? Tapi aku kan masih punya kak Darrel," jawab Luna setelah beberapa saat terdiam, Angga tersentak karna Luna langsung menyimpulkan seperti itu.


" Hahaha gue gak akan nikung Darrel, lagian sifat Lo gak banget bagi gue, bisa mati berdiri kalau gue tiap hari ngadepin Lo, makanya Lo tuh harus bersyukur karna Darrel mau terima semua sifat nyebelin Lo," ujar Angga memandang lagi ke arah depan.


" Lo laper gak? Gue udah pesan seafood buat Lo, kalau Lo doyan aja sih," ujar Angga berjalan meninggalkan Luna dan duduk di sebuah meja yang terbuat dari semen. Dengan tempat duduk yang digambar menyerupai batang pohon.


" Jadi kakak ajak aku kesini buat apa?" Tanya Luna yang masih belum menangkap maksud Angga, jika lelaki itu tidak memiliki rasa, apakah dia kemari atas nama Darrel?


" Duduk aja dulu, makan, habis itu baru kita ngobrol biar enak," jawab Angga yang mendadak jadi kalem, padahal setahu Luna, Angga adalah pria yang aktif, hal itulah yang membuat Angga menjadi famous di kalangan gadis.


Yah, meski pesonanya masih kalah dengan Darrel yang pendiam namun hangat, meski sifat hangatnya karna dia berstatus ketua OSIS, jika di luar OSIS Darrel akan menjadi dingin dan mengabaikan gadis gadis itu.


Luna duduk di kursinya dan menatap beberapa piring berisi kepiting, udang, ikan dan lain sebagainya, tanpa nasi sama sekali.


" Gak ada nasinya kak?" Tanya Luna menelusur meja, namun yang ditemukan olehnya hanya lauk dan kentang.


" Gue phobia sama Beberapa nasi, yang kayak terlalu lembek gitu, jadi daripada nanti orangnya ngasih gue nasi yang gak enak, mending gue gak pakai nasi," ujar Angga mengambil udang dan mulai mengupas lalu memakannya.


Mereka makan dengan tenang dan beberapa pelayan mengambil piring yang ada di atas meja. Angga menghela napasnya dan kembali memandang Luna yang juga menatapnya.


" Lo masih suka sama Darrel kan?" Tebak Angga langsung pada intinya.  Luna yang ditanya hanya diam, membuat Angga langsung bisa menebak bahwa Luna memang menyesali keputusannya.


" Gimana ceritanya Lo bisa putusin Darrel? Padahal dari yang gue lihat, Lo masih suka sama dia, kenapa Lo ambil keputusan kayak gitu?" Tanya Angga yang mencoba menjadi penengah.


Jujur saja Angga juga kasihan sekaligus lelah menghadapi Darrel yang berubau drastis seperti ini, dan yang Angga lihat, Darrel sangat membenci kata putus, apalagi untuk masalah sesepele ini.


" Aku juga gak tahu kak, kayaknya aku lagi sensi deh kemarin, lihat kak Darrel sama mantannya tuh kayak was was gitu kalau mereka ada apa apa, terus Luna ancam kak Darrel, eh ternyata dia malah mau," ujar Luna dengan lesu.


" Darrel masih sayang sama Lo, Lo tenang aja, tapi dia emang kesel banget karna Lo tiba tiba putusin dia, apalagi murni semua kesalah pahaman. Lo ngerti maksud gue kan?" Tanya Angga yang dijawab anggukan oleh Luna.


" Kak, tapi Luna boleh tanya? Memang dulunya si Fera itu kayak gimana hubungannya sama kak Darrel? Kenapa kayaknya Fera dekat banget sama kak Darrel?" Tanya Luna yang akhirnya mengutarakan kegundahannya.


" Mereka pacaran waktu SMP dan gue ketemu Darrel waktu SMK, jadi gue gak tahu hubungan mereka yang kayak gimana, yang gue tahu, Darrel memang sayang banget sama tuh cewek karna Darrel ceritain semua detail waktu udah sahabatan sama gue."


Luna merasa sesak, ada gadis lain yang pernah membuat Darrel merasa seperti itu, ada gadis lain yang pernah Darrel cintai, entah mengapa Luna merasa aneh.


Luna, merasa cemburu.


" Lo mau gue terusin cerita atau stop aja?" Tanya Angga yang melihat perubahan wajah Luna, gadis itu menarik napas dan menatap Angga.


" Lanjutin aja kak, Luna mau dengar semua, Luna mau tahu semua biar Luna tahu apa yang harus Luna lakukan."


Angga mengangguk dan mulai menceritakan kisah cinta Darrel dan Fera yang belum usai, semua yang dia ingat dari cerita Darrel kala itu.


Luna mengangguk paham dan kini tahu apa yang harus dia lakukan dan dia pastikan.