
Fajar mulai menyingsing, mentari menyapa insan untuk terjaga dan bangun dari rehatnya. Begitu pula Darrel yang bangun dan melakukan peregangan otot sebelum membuka matanya perlahan. Dia melihat ke arah jendela yang sudah terang.
Lelaki itu sungguh tak dapat nyenyak dalam tidurnya, dia terus memikirkan Lunetta, meski di satu sisi dia juga masih memikirkan perasaan Fera. Darrel sudah mencoba untuk merasakan getaran itu lagi saat bersama dengan Fera, namun dia tak lagi dapat merasakannya. Getaran yang kala itu membuatnya kesulitan untuk bernapasa, kini telah hilang entah kemana.
Darrel merasakan kekosongan serta lubang yang menganga dalam hatinya, seakan tuan sudah meninggalkan rumahnya, kehangatan yang pernah dia dapat dari gadisnya, Lunetta. Yah, Lunetta yang ada dipikirannya belakangan ini. Bagaimana kabar gadis itu? Siapa yang menemaninya selama ini? Apakah gadis itu tetap jatuh cinta pada Radith?
Dari semua pertanyaan itu, Darrel tak bisa dan tak sanggup membayangkan satu pertanyaan dari dalam dirinya sendiri. Apakah Luna membencinya? Ya, pertanyaan itu terus berulang dalam otaknya seperti kaset rusak, Darrel tak bisa terus begini. Lelaki itu segera bangkit dan sedikit berlari menuju kamar mandi, menyegarkan otaknya dari segala kesuntukan ini.
Lelaki itu memakai seragamnya dan bergegas keluar dari kamar untuk sarapan, di ruang makan itu dia melihat Fera yang duduk manis dan berbincang dengan papanya. Meski sedikit malas, dia tetap menghampiri mereka dan mulai makan bersama.
" Darrel, kamu antar Fera ke Sekolahnya ya, tadi dia kesini diantar supir," ujar Papa Darrel yang membuat Darrel berhenti mengunyah makanannya. Ada apa dengan hatinya? Apakah tak ada sisa sisa rasa untuk gadis di hadapannya ini? Apakah selama belakangan ini dia hanya terkejut dan terlalu senang cinta lamanya kembali?
" Gak usah Om, Fera naik taksi online aja, ini juga ada promo kok, lagian sekolah Fera sama Darrel kan beda arah," ujar Fera dengan manis dan tersenyum sopan sambil melirik ke arah Darrel. Lelaki itu masih tak merespon apapun dan kembali fokus dengan makanannya.
" Gak bisa gitu dong, kamu harus diantar sama Darrel, bentar lagi kan kalian juga tunangan, masak Darrel gak mau nganterin kamu, ya kan Rel?" tanya tuan Atmaja dengan senyum garangnya, Darrel masih tak menjawab, dia langsung eminum segelas susu dan bangkit dari sana tanpa menghabiskan makanannya. Lelaki itu kembali menjadi sosok yang dingin dan menyeramkan.
" Kamu susul gih, Darrel memang lagi pusing sama urusan resto nya, kamu jangan masukin hati ya sikap dia tadi," ujar tuan Atmaja dengan hangat yang dibalas anggukan sopan oleh Fera. Gadis itu langsung bangkit dan menyusul Darrel yang sudah tak nampak lagi di gedung rumah ini.
Fera cepat – cepat keluar dan mendapati mobil Darrel masih terparkir, membuatnya melega karna Darrel tak meninggalkannya. Gadis itu mendekat dan membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Dilihatnya Darrel yang menatap lurus ke depan tanpa meliriknya sedikitpun. Lelaki itu langsung memundurkan mobilnya dan melesat dari rumahnya.
" Emm, Rel, kamu minta konsep apa di pertunangan kita nanti?" tanya Fera memecah keheningan, dia memandang Darrel yang masih enggan untuk menatap wajahnya. Darrel menghela napas dan mengalah, namun lelaki itu masih enggan menatap Fera.
" Terserah kamu aja," ujar Darrel dengan pasrah, dia tahu pertunangan dan pernikahan keluarga ini sangat menguntungkan papanya dalam dunia bisnis, dan diatidak bisa melakukan apapun untuk menentangnya.
" Kalau aku mau konsep rose gold, manis banget deh pasti, aku gak sabar buat hari H, akhirnya kita bisa tunangan, aku seneng banget," ujar Fera mengatupkan kedua tangannya dan memandang ke arah jalanan, tampak gadis itu sangat bahagia, dia tak sabar lagi menantikan hari itu, hari dimana dia akan resmi menjadi tunangan Darrel.
" Kamu mau undang siapa aja?" tanya Fera lagi karna Darrel tak merespon ucapannya.
" Bisakah kamu diam agar aku konsentrasi menyetir?" tanya Darrel dengan dingin dan tenang, namun justru membuat Fera takut seketika, gadis itu menggelengkan kepalanya, dia harus membuat kondisi perasaan Darrel membaik, apalagi lelaki itu masih memiliki masalah di restorannya.
" Emmm, jika itu masalah restoran, kamu gak usah khawatir, kalau kita menikah, restoran kamu akan menjadi restoran terbesar se Indonesia, hal itu sangat mungkin bagi kita," ujar Fera dengan penuh semangat. Gadis itu meraih lengan Darrel, membuat lelaki itu menghentikan mobilnya seketika.
" Turun," titah Darrel dengan nada rendah yang menyeramkan, bahkan Fera tak berani menengok, gadis itu menggelengkan kepalanya pelan dan menunduk takut.
" Turun!" perintah Darrel sedikit menaikkan nada bicaranya, Fera menatap Darrel dengan mata yang berkaca – kaca, bahkan Darrel kini tega membentaknya.
" Kenapa aku harus turun? Aku ngomong sesuatu yang salah kah? Kenapa kamu jadi dingin dan kasar gini sama aku? karna Lunetta kah? Lebih hebat apa dia dibanding aku? kamu bahkan langsung berubah waktu kenal sama dia. Mending kamu bunuh aku Rel daripada kamu dingin sama aku kayak gini," ujar Fera yang sudah menikkan air mata.
Darrel terdiam dan menatap Fera yang menangis tanpa suara, kilatan luka dalam mata gadis itu membuat Darrel menaikkan sebelah alisnya, menatap Fera dengan tatapan heran.
" Gak usah ngaco, turun, udah sampai sekolah kamu," ujar Darrel memandang ke depan membuat Fera terdiam seketika. Gadis itu memandang sekitar dan menyadari mereka ada di depan gerbang sekolahnya, Fera merasa sangat malu bahkan untuk menatap Darrel dia tak mau.
" Kenapa gak bilang? Makasih udah nganterin," ujar Fera pelan sambil menatap ke luar Jendela, gadis itu meraih gagang pintu dan hendak membukanya, namun tidak bisa karna pintu masih terkunci rapat.
" Rel, pintunya ke kunci," ujar Fera tanpa menatap ke arah Darrel, lelaki itu tak merespon, membuat Fera akhirnya menatap ke arahnya dan menadapati Darrel yang memandangnya. Pandangan yang sangat asing bagi Fera. Pandangan mata yang menyorotkan rasa muak, kebencian sekaligus penyesalan, apakah yang di hadapannya sungguh Darrel? Darrel lelakinya? Darrel kekasihnya?
" Pertama, kamu silakan urus semua yang berhubungan sama acara pertunangan itu karna aku bener – bener gak ada waktu buat sekadar mengingat, mempedulikan apalagi mengurus acara itu." Darrel mulai membuka suara dan memanjang Fer dengan tajam, bahkan gadis itu sampai bergetar ketakutan.
" Kedua, kamu gak usah kejauhan mikir sampai nikah. Karna aku bakal nikah di saat aku mau menikah, bukan karna aku dipaksa menikah, untuk orangnya pun mutlak aku yang pilih, bukan papa," ujar lelaki itu menggeleng pelan saat menyebutkan papanya, dia tersenyum sejenak seakan menikmati ketakutan yang ada di wajah Fera.
" Ketiga dan yang paling penting," ujar Darrel dengan intonasi pelan dan penuh penekanan.
" Kamu tadi tanya apa lebihnya Luna dibanding kamu? Sesombong itu ya kamu? Kamu gak kenal Luna siapa, dan aku, aku gak kenal siapa yang ada di hadapanku sekarang," ujar Darrel dengan wajah sinisnya. Jujur saja, dia terkejut saat Fera membandingkan dirinya sendiri dengan Luna.
Dulu, Darrel memilih Fera karna gadis itu lugu dan baik, ramah serta tak pernah memandang rendah orang lain, bahkan mau berteman dengan ' kasta rendah' disaat semua orang tahu dia akan orang berada. Namun melihat sifat arogan gadis itu terhadap Lunetta, Darrel merasa kecewa dan semakin yakin untuk menentang pertunangan ini.
" Rel, Rel, aku bisa jelasin. Maksud aku itu." Darrel tak mendengarkan apa yang Fera katakan dan dia membuka pintu dengan tombol otomatis.
" keluar," titah Darrel yang tak ingin dibantah, Fera menurut, gadis itu keluar dari mobil namun masih berusaha memanggil manggil nama Darrel, namun Darrel tak sedikitpun peduli, lelaki itu langsung menutup pintu dan melesat dari tempat itu begitu saja.
*
*
*
Darrel tampak tersnehyum lebar dan melirik ke arah Angga, membuat lelaki itu mundur perlahan dan menjauh, namun fokusnya teralihkan dengan tangan Darrel yang berdarah – darah, lelaki itu melotot namun masih tak berani mendekat, tak menyangka masalah seperti ini dapat menghancurkan Darrel dalam sekejap.
" Berisik dia, bokap dari tadi nelponin gue karna bikin Fera nangis, *** tuh anak ngadu ke bokap," ujar Darrel kembali menggebrak meja dengan kepalan tangannya, serpihan kaca yang meembungkus ponsel itu langsung mengenai tangan kirinya, namun tampaknya dia tak peduli lagi.
" Lo udah gila, sumpah demi apapun Lo udah gila! Sadar Woy! Lo masih Darrel Atmaja, janagan gila kayak gini," ujar Angga menggoyang – goyangkan pundak Darrel, namun Darrel menepis pelan tangan Angga dari bahunya.
" Lo tahu apa? Lo gak tahu kan rasanya kehilangan dua orang sekaligus?" tanya Darrel memandang Angga dengan tatapan mata terluka, lelaki itu bahkan tak bisa membuka kepalan tangannya.
" Maksud Lo Fera sama Lunetta? Bukannya Lo bakal tunangan sama Fera? Kok Lo bisa kehilangan dia? Maksudnya gimana?" tanya Angga tak mengerti arah pembicaraan Darrel, lelaki itu menggeleng pelan dan kembali menatap ponselnya yang tak berbentuk.
" Fera berubah, dia bukan Fera, gue gak kenal dia siapa, bahkan disaat gue kira bakal mudah karna gue bisa sama cinta pertama gue, ternyata gue gak bisa rasain apa – apa lagi, dan di saat gue berbalik, Lunetta udah pergi dari hidup gue."
Angga turut sedih dengan perubahan Darrel yang tampak depresi, lelaki itu hanya bingung dengan hatinya sendiri, sedewasa apapun Darrel selama ini, dia tetaplah lelaki berusia tujuh belas tahun yang masih labil dengan perasaannya, Angga sebagai sahabat tentu memahami hal itu. Darrel telah salah mengartikan kehadiran Fera, bahkan lelaki itu rela melepas Lunetta, dan kini dia menyesalinya.
" Kalau Lo kayak gini, yang Ada Lunetta malah gak mau ketemu atau balik lagi sama Lo, Lo gila banget bukan kayak Darrel yang gue kenal, mana mau Lunetta sama Lo yang kayak gini?" tanya Angga yang ingin Darrel kembali seperti semula, Darrel terdiam dan menggerakkan kepalanya perlahan ke kiri dan kanan, persis seperti orang kehilangan akal.
" Lo bener, mana mau Lunetta sama orang kayak gue. Labil, gak guna, Cuma bisa nyakitin dia," ujar Darrel pelan sambil mengambil serpihan kaca dan mulai menggoreskannya ke lengannya sendiri. Angga yang melihat itu tentu kaget, tak menyangka Darrel memiliki sisi gelap sampai seperti ini.
Bahkan di saat semua orang melihat ke arah mereka, di saat Darrel tahu akan menjadi topik perbincangan utama, bahkan mereka diam – diam memotret Darrel yang nyaris gila entah karena apa, namun Darrel tak peduli, dia hanya melakukan yang ingin dia lakukan, meski hl itu sangat tak masuk akal.
" Bego! Lo ngapain?" seru Angga menjauhkan tangan kanan Darrel yang memegang kaca dari tangan kiri lelaki itu. Darrel tampak melawan dan berusaha untuk menggambar lagi di tangannya, bahkan lelaki itu tertawa kecil melihat hasil karyanya menulis huruf " L "
" Cantik kan? Gue mau gambar nama Luna disini, biar gue ingat kalau hati gue udah sepenuhnya buat dia dan gak jatuh lagi ke pesona cewek lain," ujar Darrel dengan bangga dan kembali menorehkan kaca itu ke lengannya, namun pergerakannya di tahan oleh Angga yang merasa miris dengan Darrel, apakah mental lelaki itu sungguh – sungguh terganggu?
" Minggir Lo! Lo gak usah halangin gue lagi!" seru Darrel berusaha menyingkirkan tangan Angga, namun lelaki itu menggeleng kuat dan semakin mencengkram tangan Darrel, membuat senyum Darrel menghilang dan menatap Angga dengan tajam.
Tanpa aba – aba Darrel langsung menendang Angga kuat, membuat lelaki itu 'terbang' dan terbentur meja di belakangnya, semua yang menyaksikan itu berteriak kaegt, tak menyangka ketua OSIS yang mereka kagumi bisa melakukan hal sekeji dan segila itu pada dirinya dan sahabatnya sendiri.
Darrel menatap Angga datar dan kembali hendak menoreh tangannya lagi, namun Angga dengan sigap bangun dari tempat dan menghampiri Darrel, mencengkram kerah lelaki itu dan meberikan satu pukulan telak untuk Darrel.
" Sadar ***! Lo boleh depresi, tapi jangan jadi gila ke diri Lo sendiri!" ujar Angga penuh emosi, lelaki itu melepaskan kaca yang Darrel pegang dan mendorong meja yang kini penuh kaca itu agar menjauh.
" Siapapun yang rekam, ngambil foto, gosip atau lapor guru tentang masalah ini, gue pastiin wajahnya bakal masuk koran bagian berita duka," ujar Angga keras membuat semua ponsel yang mengarah ke arah mereka turun seketika.
Mereka tahu Angga tak pernha main – main dengan ucapannya, Angga bahkan bisa dengan mudah melakukan hal itu tanpa jejak, mereka sudah tahu sisi gelap itu dibalik sisi ceria Angga, membuat mereka tak berani berususan dengan Angga.
" Gue frustasi, gue gak mau tunangan sama dia, tapi bokap udah ngancem gue, apalagi gue gak yakin Luna masih masu sama gue atau engga, gue, gue butuh bantuan Lo Ngga, please bantu gue," ujar Darrel melunakkan pandangannya dan menggenggam tangan Angga, membuat tangan putih Angga berlumuran darah yang berasal dari tangan Darrel
.
.
.
.
Yang belum mampir, yuk mampir ke Cerita aku yang lain. Masih hiatus ih, tapi diusahakan akan Segera dilanjutkan.
Support kalian akan berguna banget bagi ak dan kelangsungan novel ini serta novel aku yang lain.
Adella
Ex Lover
Miss Galak, I love you.
Love,
Eliz