Hopeless

Hopeless
Chapter 183



Luna meregangkan tubuhnya yang terasa ringan setelah bangun tidur. Gadis itu masih mengingat apa yang terjadi kemarin. Hari yang sulit berubah manis berkat Darrel, entah harus berapa kali lagi Luna bersyukur akan hal itu. Entah bagaimana juga Luna harus berterimakasih pada Darrel yang membuat harinya selalu di kelilingi aura bahagia.


Gadis itu akhirnya turun dari kasur dan mencuci mukanya, dengan malas dia keluar dari kamar membawa serta obat yang ini bertambah menjadi delapan butir sekali minum, mungkin sebentar lagi Luna akan mengikuti lomba minum obat untuk menunjukkan kemampuannya yang kini mulai bisa meminum obat kecil tanpa bantuan air maupun makanan lain.


" Mbak, papa sama bang Jordan mana?" tanya Luna pada asisten rumah tangga yang menyiapkan makanan di meja makan. Kebiasaan jika mereka tak makan bersama, makanan akan segera dihidangkan setelah mereka duduk manis di meja makan dan menekan bel yang ada di sisi meja. Canggih? Tentu, mereka harus melakukan itu jika tak mau waktu asisten terbuang hanya menunggu mereka makan.


" Tuan dan tuan muda makan tadi pagi sekali lalu langsung pergi bersama, nona. Saya tidak tahu tuan dan tuan muda pergi kemana," ujar asisten itu yang langsung undur diri karna harus mengurus hal lain. Sebenarnya hal lain apa yang mereka maksud sampai tak memiliki waktu untuk tuan mereka sendiri?


" Padahal mereka mah Cuma ngerumpi kalau di bagian selatan, ngeselin amat deh diajak omong malah kayak mereka yang sok sibuk, gue pecat semua baru deh susah," ujar Luna sambil mengambil nasi yang tersedia dan metelakkan beberapa lauk yang akan dia makan.


" MBAK! MBAK!" Seru Luna dengan kencang. Dia hanya iseng saja ingin membuat kegaduhan di rumah yang teraa sangat sepi itu. Apakah Luna harus menyewa organ tunggal untuk meramaikan suasana rumahnya? Biar sekalian tetangga mengira Jordan sudah menikah dan mereka akan datang membawa amplop berisi sejumlah uang untuk Jordan. Rasanya akan menjadi lucu jika hal itu benar terjadi.


" Gak usah teriak – teriak kayak orang gilal deh Lun, Lo hobi banget sih ngerusuh." Suara yang tenang dan tajam itu membuat Luna cemberut seketika. Danesya memang mirip dengannya, namun sikap gadis itu jauh berbeda, rasanya Luna ingin menjodohkan Danesya dengan Radith, pasti hubungan mereka akan sedingin kutub selatan.


" Gak usah mikir yang enggak – enggak, otak Lo terlalu liar tahu gak sih, dikasih makan apa sih Lo sama pembantu di sini?" tanya Danesya dengan sengit. Luna bisa merasakan hawa tak enak yang menyerang kembarannya itu, Luna memilih diam dan fokus pada makanannya. Tak lama setelah itu seorang asisten rumah tangga menghampiri mereka dengan terengah – engah. Dia bertanya apa yang salah dan apa yang mereka perlukan sampai berteriak seperti itu.


" GAK JADI! LAMBAT BANGET SIH! PERGI!" Seru Luna dengan kesal, sebenarnya dia kesal dengan Danesya, namun dia melimpahkan kekesalannya pada asisten itu, Luna langsung bangkit tanpa menyelesaikan makanannya, bagaimana bisa dia kehilangaan moodnya dalam sekejap?


" Nona, Nona mendapat kiriman hadiah dari seseorang, kami sudah periksa dengan laat pendeteksi isinya tidk berbahaya," ujar seorang pengawal yang membawa kotak lalu mengulurkan kotak itu pada Luna. Luna membuka isi kotak itu dan terkejut karna kotak tersebut berisi sebuah topi yang sangat cantik. Topi berwarna merah dengan love sign berwarna putih, sederhana namun enak dilihat.


Namun mata Luna langsung terbelalak saat melihat siapa yang sudah mengiriminya hadiah tersebut, bahkan Luna sampai menjatuhkan kotak kado tersebut. Membuat pengawal yang mengantar maupun Danesya yang sedang makan jadi terkejut karna tingkah Luna.


" Pak, ini dari Roy, kenapa dia kirim ini ke Luna? Luna, Luna udah lama banget gak kontak sama dia, bagaimana bisa dia tahu rumah Luna? Dia ada ngomong sesuatu gak waktu kirim ini?" tanya Luna yang membuat pengawal itu berpikir dan teringat sesuatu.


" Ah iya nona, maaf saya lupa. Orang yang mengirim ini tadi bilang bahwa hadiah ini sebagai tanda terima kasih karna nonsa sudah membuka jalan hidupnya ke arah yang lebih baik. Tak ada maksud menyakiti atau membuat Nona merasa tak nayman. Dia juga menyampaikan maaf untuk kejadian tempo hari. Tapi nona, apa ada sesuatu yang salaj?" tanya pengawal itu karna Luna hanya melongo dan menatap kado itu dengan bingung.


" Gak ada yang salah pak, kado itu harusnya buat saya bukan buat Luna. Pasti dia salah mengira saya adalah Luna, terima kasih ya pak, bapak bisa pergi," ujar Danesya yang ternyata langsung bangkit menghampiri Luna dan memungut kado itu saat Luna menyebut nama Roy.


" Lo? Lo masih berhubungan sama dia? Lo? Gue udah bilang ke Lo kalau dia tuh bahaya, gue Cuma gak mau Lo kenapa – napa dan Lo bakal menghadapi masalah besar nantinya kalau dekat – dekat sama dia, gue mohon sama Lo, gue gak mau Lo terluka," ujar Luna sambil memegang tangan Danesya dengan erat. Trauma akan perlakuan Roy terhadapnya dan terhadap Radith sangat mengganggu pikiran gadis itu.


" Gue udah tahu tentang dia, jangan Lo kira gue polos atau bodoh, gue udah tahu semua dan gue juga udah tahu resikonya, jadi gue mohon ke Lo gak usah terlalu kahwatir sama gue, gue bisa jaga diri," ujar Danesya yang langsung pergi dari sana. Luna menghela napas melihat kepergian Danesya sembari berdoa gadis itu akan baik – baik saja untuk ke depannya.


" Pak, bapak udah lakuin yang saya suruh kan? Sya bentar lagi siap, tolong antar saya ke tempat yang saya minta, bawa orang itu juga ke tempat itu," ujar Danesya di ponsel yang dia pegang lalu berjalan cepat ke kamarnya untuk bersiap. Danesya merasa harus mengakhiri ini semua, Danesya bisa melihat sorot trauma dari mata Luna. Tentu sebagai kakak Danesya tak mau Luna mengalami hal itu terus – menerus.


*


*


*


" Lo datang." Kata sambutan itu membuat Danesya tersenyum dan mendekat. Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah orang yang ada di hadapannya. Orang itu mneatap Danesya bingung dan tak mengerti maksud dari tangan yang terulur itu.


" Kasih dulu ke gue pisau atau senjata tajam yang membahayakan, apapun itu, baru gue mau ngomong sama Lo, kalau Lo nolak gue bakal pergi sekarang juga," ujar Danesya yang membuat orang itu terkejut. Namun orang itu akhirnya juga memberikan apa yang Danesya minta tanpa banyak protes, membuat Danesya tersenyum tipis atas sikap penurut orang itu.


" Kenapa tiba – tiba Lo nyuruh gue ke tempat ini? Bukannya Lo udah trauma dan takut banget sama gue? Apalagi gue udah sering banget ngelukain Lo dan bikin Lo menderita," ujar orang itu dengan tatapan bingung, meski di satu sisi dia sangat senang karna Danesya mau menemuinya lagi.


" Sebenarnya Lo Cuma sekali nyakitin gue, dan itu terjadi di cafe. Sebelum itu kita gak pernah ketemu sama sekali," ujar Danesya yang tentu membuat orang itu tertawa lepas, sepertinya tingkah Danesya sangat lucu baginya yang memang belum mengetahui fakta itu.


" Sebegitu takut dan bencinya Lo sama gue sampai Lo lupan gue gitu aja? Bagus sih, setidaknya banyak kenangan buruk yang udah gue lakuin bakal Lo lupain, gue cukup bahagia," ujar orang itu yang membuat Danesya menggeleng sebagai jawaban. Membuat lelaki itu kembali mengernyitkan dahinya dan menatap Danesya dengan tatapan bertanya.


" Café adalah tempat pertama kali gue ketemu sama Lo. Sebelum itu gue sama sekali gak pernah ketemu sama Lo, selama ini gue tinggal di Inggris dan gak kenal sama siapapun yang jadi teman adik gue. Mungkin Lo salah satu 'teman' adek gue yang salah ngira gue adalah adek gue," ujar Danesya yang tidak sampai di otak orang itu.


Danesya mengerti dan bisa membaca ekspresi itu. Danesya mengeluarkan ponselnya dan mnecari sebuah foto di ponsel itu lalu mengulurkan ponselnya ke arah orang itu. Orang itu tentu langsung terkejut dengan foto yang dilihatnya. Wajah mereka benar – benar sama, bahkan bentuk rahang yang mendekati serupa.


" Yang selama ini Lo sakitin itu adek gue, Lunetta. Bahkan sampai sekarang dia masih trauma sama Lo dan ngerasa ketakutan kalau dengar naa Lo. Apalagi setelah tadi pagi Lo kasih kado yang gue yakin sebenarnya buat gue, tapi Lo tulis nama dia," ujar Danesya yang masih tak direspon oleh orang itu.


" Adek gue emang takut dan trauma sama Lo. Tapi gue enggak, gue tahu sebenarnya Lo orang baik, gue tahu sebenarnya Lo Cuma butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari orang sekitar Lo. Gue tahu cukup banyak dibanding orang lain yang langsung benci sam aLo karna sikap buruk Lo itu. Gue yakin Lo punya alasan untuk semua hal itu. Gue benar kan?"


Orang itu adalah Roy. Ketika mendengar penjelasan Danesya Roy langsung membuang muka dan bangkit dari sana. Lelaki itu membenaran pakaiannya dan berjalan beberapa langkah meninggalkan Danesya yang masih duduk tenang di tempatnya. Namun tenryata langkah Roy berbalik dan menatap Danesya dengan garang.


" Lo gak usah sok tahu tentang hidup gue. Lo bukan siapa – siapa dan Lo gak kenal sama gue. Satu lagi, Lo gak perlu jadi pahlawan kesiangan yang berusaha nolong gue atas dasar kasihan, gue gak butuh semua itu. Tahu apa Lo tentang hidup orang kayak gue? Lo dan Luna sama aja kan? Anak orang kaya, semua bisa dituruti, dan orang kayak kalian gak akan mau tahu penderitaan orang lain."


Danesya langsung menarik tangan Roy yang hendak berjalan lagi, membuat lelaki itu naik pitam dan langsung mencekik leher Danesya cukup kuat membuat Danesya menutup matanya untuk menahan sakit. Meski dia kesakitan, dia tetap meminta pengawal untuk tidak mendekat.


" Gu, gue tahu Lo marah. Gue, gue tahu Lo kecewa sama banyak hal. Tapi, tapi Lo gak bisa hindarin masalah itu dan lampiasin semua dengan tingkah gila Lo. Gue tahu Lo gak gila, dan gue tahu sadisme yang Lo derita itu bisa sembuh dengan mudah."


Roy langsung menghempaskan Danesya ke tanah, membuat gadis itu terbatuk sambil memegang lehernya yang ngilu dan tampak memerah. Jika papanya tahu dia diperlakukan seperti ini, mungkin tak perlu menunggu waktu lima belas menit untuk melihat mayat Roy tergantung di tempat umum dengan kondisi mengenaskan.


" Siapa Lo mau peduli sama gue? Bahkan bokap ninggalin nyokap gue demi janda kaya raya itu. Nyokap bunuh diri di depan gue dan abang gue yang gak kalah gilanya. Gak ada yang mau ngurus gue bahkan saat gue ditangkap polisi karna udah nyelakain Radith. Lo tahu bagian lucunya? Gue nyaris dimasukin ke rumah sakit jiwa sama pihak kepolisian dan gue bisa kabur. Lo tahu? Mereka gak nyari gue sama sekali dan nganggap kasus selesai dan ditutup. Bahkan Polisi yang seharusnya nangkap gue aja gak peduli sama gue."


" Kalian semua gak pernah peduli tentang masalah yang dihadapi orang lain. Terutama kalian orang – orang kaya, kalian Cuma mikir bagaimana kalian bisa hidup enak dan tambah kaya, tanpa mikir banyak orang di luar sana yang menderita dan mati sia – sia karna kerakusan kaian. Lo tahu itu semua? Enggak kan? Stop berlagak peduli sama orang kayak gue, bahkan untuk makan muntahan Lo aja gue gak layak."


Entah kenapa perkataan Roy sangat menusuk bagi Danesya. Tak dipungkiri bagi keluarganya untuk meraih kesuksesan memanag harus mengorbankan hidup dan kebahagiaan orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Contohnya saja, saat perusahaan papanya ingin memperluas lahan, pihak perusahaan hanya memberikan uang seadanya bagi mereka yang lahannya akan dipakai untuk keperluan perusahaan.


Tanpa peduli kemana keluarga itu akan pergi dan tinggal untuk melanjutkan hidupnya. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana perusahaan terus berkembang, berkembang, mengusahai pasar dan ditakuti oleh perusahaan lain. Mungkin tak semua seperti itu, namun Danesya harus mengakui, papanya masuk dalam daftar orang – orang seperti itu saat merintis usaha mereka.


" Gue tahu Lo kepahitan dan kecewa sam aorang – orang kayak gue. Tapi Lo gak bisa pukul semua sama rata gue bahkan peduli sama Lo di saat pertama kali kita ketemu. Lo bikin leher gue luka padahal gue gak tahu apa apa. Tapi gue gak nyakitin Lo kan? Gue bahkan biarin Lo pergi sampai Lo kirim hadiah ke gue. Menurut Lo kenapa gue lakuin semua itu?"


" Gue bahkan gak kenal sama Lo, gue bisa aja bunuh Lo saat itu juga dan buang mayat Lo ke jurang seakan Lo gak pernah ada di dunia ini. Tapi gue gak lakuin itu semua, karna gue percaya Lo ada dasar untuk lakuin itu semua. Benar kan dugaan gue? Lo dendam sama orang yang udah rebut kebahagiaan keluarga Lo, yang kebetulan orang itu adalah orang kaya."


" Gue percaya satu hal. Manusia layak diperlakukan sebagai manusia, oleh karena itu manusia layak diberi kesempatan kedua untuk mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Bagaimana seseorang bisa berubah kalau dia gak dikasih kesempatan? Dan gue, gue di sini bakal kasih kesempatan itu ke Lo."


" Itu pun kalau Lo mau percaya sama gue, raih tangan gue dan kita sama – sama perbaiki itu semua ke arah yang lebih baik. Gue tahu gak akan mudah untuk Lo sembuhin luka batin itu, tapi perlahan, luka itu akan sembuh kalau diobatin. Luka itu akan sembuh kalau gak ditambah luka yang lain lagi. Lo mau kan percaya sama gue? Lo mau kan percaya gue bisa bantu Lo buat sembuhin itu semua?"


Roy tertegun mendengar penjelasan panjang lebar dari gadis asing di depannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seorang asing yang peduli padanya, bahkan setelah dia melukai orang itu tanpa alasan. Jujur saja, hati yang membatu itu sedikit terkikis karna perkataan yang penuh kejujuran dari gadis yang ada di depannya.