Hopeless

Hopeless
Chapter 100



Dua hari berlalu, Luna sudah boleh melepas oksigen yang membantu pernapasannya, sementara Darrel dikabarkan sudah berhasil melewati masa kristisnya meski lelaki itu masih belum sadarkan diri.


Luna berjalan keluar dari ruang inapnya menuju kamar inap Darrel yang ada di sebelah kamarnya. Gadis itu berjalan pelan ditemani Jordan yang senantiasa ada di sampingnya.


Jordan tidak berniat untuk membantu Luna berjalan meski gadis itu tertatih karna Luka pada lututnya yang entah karena apa, membuat pergerakannya sedikit terhambat. Jordan tetap menjaga Luna tanpa memanjakan gadis itu.


“ Kamu yakin mau ke ruangan Darrel? Dia belum sadar loh, abang gak mau kamu sampai sedih atau malah nangis waktu lihat kondisi dia,” ujar Jordan mewanti – wanti agar Luna memikirkan lagi niatnya.


“ Luna gakpapa, Luna mau lihat kondisi kak Darrel, Luna khawatir, Luna janji gak akan nangis di depan kak Darrel,” ujar Luna dengan menatap Jordan, wajah manis itu berubah melas ( yah, memang sudah andalan Luna kan menjadi melas?)


“ Yaudah iya, kalau mulai nangis abang bakal seret kamu keluar dari kamar Darrel,” ujar Jordan dengan wajah sinisnya, dia benci melihat Luna memelas, seperti titik lemahnya disentil kuat oleh gadis itu.


Mereka memasuki kamar Darrel yang lengkap dengan alat alat terpasang di tubuh lelaki itu. Meski Darrel berhasil melewati masa kritis, Jordan tetap meminta alat itu dipasang ke tubuh Darrel agar lelaki itu tetap bisa bertahan hidup.


“ Bukannya kak Darrel luka di bagian punggung ya bang?” Tanya Luna sambil menarik kursi dan duduk tepat di samping Darrel.


“ Yaps, satu punggung sampai batas dada dia diperban, jadi kayak orang Jawa mau nikahan gitu, pakai kemben (* Kemben / Kemban adalah pakaian Tradisional pembungkus tubuh wanita yang secara historis ditemukan di daerah Jawa / Bali.) apalagi kepalanya juga dibungkus, untung gak jadi mumi dia,” ujar Jordan yang malah membuat kondisi Darrel menjadi lelucon.


“ Abang gak boleh gitu ih, orang kak Darrel juga lagi diambang hidup mati! Kok abang malah bercandain gitu,” ujar Luna cemberut dan mengambil tangan Darrel untuk ditempelkan di pipinya. Luna memandang Darrel dengan sedih sementara Jordan memberi ruang pada dua bucin itu untuk bertemu setelah terpisah dua hari.


“ Kak Darrel, mana yang sakit?” Tanya Luna yang dijawab keheningan oleh kamar itu, hanya suara pendeteksi detak jantung yang menjawab pertanyaan Luna.


“ Maafin Luna ya, Luna yang ajak kak Darrel ke kamar belakang itu sampai kita terjebak, karna lindungin Luna juga kak Darrel sampai seperti ini. Janji sama Luna, kak Darrel bakal sembuh dan main lagi sama Luna. Luna rindu kak,” ujar Luna sambil menunduk sedih, namun dia tidak mau menangis, harusnya Luna bahagia, setidaknya mereka masih selamat dari kejadian mematikan itu.


“ Entah beruntung atau tidak beruntung, Luna selalu selamat dari maut kak, tapi Luna seperti harus mengorbankan orang lain untuk keselamatan Luna. Itu gak benar kan kak? Luna bukan pembuat sial kan? Kalau kak Darrel gak ngerasa seperti itu, kak Darrel bangun yah, kasih tahu Luna kalau Luna udah salah ngira seperti itu, ya kak?”


Luna tersenyum dan mencium tangan Darrel lama, berharap lelaki itu merespon dan bangun dari tidur panjangnya. Luna tak rela tiap hari Darrel disibin oleh orang lain, Luna ingin Darrel bangun dan mandi sendiri untuk membersihkan tubuhnya, ah sepertinya Luna sudah gila karna malah memikirkan hal semacam itu.


“ Bnag, kok kak Darrel gak bangun sih?” Tanya Luna dengan sedikit kesal sambil menatap ke arah Jordan. Jordan yang sedang membaca majalah pun menatap Luna dengan heran, menerka apa maksud dari gadis itu.


“ Belum waktunya kalik, tunggu aja, kalau gak bangun ya berarti mati,” ujar Jordan dengan ngawur tanpa memikirkan emosi Luna yang masih tidak seimbang. Luna menatap Jordan garang, membuat lelaki itu meringis dan meminta damai sebelum Luna meledak padanya.


“ Di novel atau di film film tuh kalau tokoh cowoknya kristis, si cewek bakal ngegombal terus nanti si cowok bangun dengan dramatis, kok ini enggak sih?” Tanya Luna sedikit kesal sambil meremas tangan Darrel karna gemas.


“ Kamu kebanyakan baca novel romance yang fantasy nya ketinggian, hidup tidak semulus cerita novel Luna, kamu kira dengan di pegang tangan Darrel langsung sadar? Sebegitu mudahnya Darrel terangsang?” Tanya Jordan yang sekali lagi dengan asal, pertanyaannya sangat ambigu, Luna bahkan tak mengeti apa yang Jordan katakan.


“ Abang kok nyebelin sih? Luna bete ah sama abang!” seru Luna dengan kesal, Jordan tertawa keras karna ekspresi Luna, namun tawanya mereda seketika saat Luna yang hendak berdiri terjatuh seketika. Luna diam karna dia tak tahu apa yang terjadi.


“ Kenapa bisa jatuh sih?” Tanya Jordan yang membantu Luna berdiri, gadis itu berdiri dan menumpukan tubuhnya pada Jordan, gadis itu terlihat bingung dan memandang kakinya.


“ Gak tahu, kaki Luna kayak mati rasa gitu tapi Cuma sebentar, sampai rasanya gak bisa digerakin, kenapa ya bang?” Tanya Luna yang justru tidak mengerti apa yang terjadi. Jordan mengamati kaki Luna dan mencubitnya.


“ Aduh, sakit,” ujar Luna sambil memukul tangan Jordan karna mencubitnya tanpa ijin.


“ Abang Cuma mau cek masih mati rasa atau engga, ternyata udah engga kan? Mungkin kamu kelamaan tiduran kalik jadi waktu bangun langsung kaget ototnya. Kamu bisa jalan gak?” Tanya Jordan yang senantiasa menjadi sandaran bagi Luna.


Luna mengangguk paham dan mulai menegakkan tubuhnya, gadis itu berjalan pelan keluar dari kamar Darrel karna hari pun sudah sore, Luna harus mandi ( Meski sebenarnya dia hanya mencuci muka, tidak benar – benar mandi, stttt hanya Luna dan kalian yang tahu hal ini). Jordan pun harus kembali ke kantor untuk mengurusi masalah perusahaan yang tak kunjung beres.


Jordan juga harus mulai menghandle bisnis Darrel yang saat ini tidak bisa mengcover semuanya, Jordan merasa punya tanggung jawab untuk ini meski sebenarnya dia tidak terlalu paham, namun karna maslaah yang mereka hadapi sama, Jordan mencoba untuk menyelesaikannya juga. Jadi lelaki itu memiliki pekerjaan ganda untuk saat ini.


Kantung mata yang menghitam pun tak bisa membohongi Jordan yang memang merasa lelah, lelaki itu bahkan hanya tidur sebentar. Pagi dia harus mengurus dan menjaga Luna, siang sampai sore pergi bekerja ( namun dia mengambil istirahat menjelang sore untuk menjaga Luna lagi) dan bahkan malam pun dia harus stay di ruang inap Luna dengan membawa sisa pekerjaan yang bisa dia kerjakan.


Jika kalian mengira menjadi CEO itu enak, kalian salah besar. Menjadi CEO memiliki tanggung jawab dan beban yang sangat besar karna nasib berates karyawan ada di punggung kalian. Itulah sebabnya kebanyakan CEO adalah lelaki yang sudah dewasa _ cenderung tua- karna menjadi CEO butuh pengalaman dan cara kerja yang matang.


Luna sudah tertidur saat Jordan kembali ke kamar itu, Jordan muali membuka laptopnya dan mengerjakan apapun yang bisa dia cicil agar pekerjaannya di kantor jauh lebih mudah. Ponselnya berdering saat dia sedang mengerjakan salah saat file dalam benda elektronik besar tersebut.


“ Halo? Kenapa?” Tanya Jordan yang menempelkan ponsel itu ke telinganya dan menjepitnya dengan leher sementara tangannya tetap mengetikkan sesuatu di laptopnya. Panggilan dari orang yang Jordan minta untuk menjaga Darrel, mungkin lelaki itu ingin memberi kabar soal Darrel.


“ Tuan muda Darrel sudah siuman, namun masih merasakan pusing dan sedikit bingung, dokter sedang memeriksa kondisinya,” lapor orang itu dengan nada kaku, Jordan hanya mengiyakan dan menutup ponselnya, menyimpan file yang tertera di layar laptopnya dan menutup laptop itu.


Lelaki itu bangkit dan berjalan menuju kamar Darrel setelah memastikan Luna tertidur pulas. Lelaki itu masuk ke dalam kamar Darrel bertepatan dengan dokter yang berjalan keluar. Jordan engangguk dan tersenyum sopan tanpa menanyakan apapun.


“ Sehat Lo?” Tanya Jordan tanpa basa – basi pad Darrel yang menatapnya ling – lung, mungkin benturan di kepalanya membuat syarafnya sedikit bergeser.


“ Saya kenapa bisa sampai disini? Bukannya kita mau nyergap villa itu? Dara gimana?” Tanya Darrel yang membuat Jordan mengernyitkan dahinya bingung, Jordan menatap ke arah orang yang ada di sebelah Darrel untuk memberinya penjelasan.


Jordan mengangguk paham dan mendekat ke arah Darrel dan menatap lelaki itu dari atas sampai bawah, selain kepala dan punggungnya, sepertinya lelaki itu baik – baik saja.


“ Lo gak inget kejadian baru baru ini?” Tanya Jordan dengan kepala miring, Darrel menggeleng polos sebagai jawaban, membuat Jordan mengangguk paham untuk sekali lagi.


“ Lo ingat gue? Nama gue siapa?” Tanya Jordan kembali menanyakan suatu hal.


“ Bang Jordan, kakaknya Lunetta, tunangan saya, bang Jordan aneh ih pertanyaannya,” ujar Darrel sambil terkekeh karna Jordan menanyainya dengan wajah serius padahal pertanyaannya tidak bermutu.


“ Great lah kalau Lo masih ingat sama gue dan Luna, bisa nangis darah adek gue kalau Lo sampai lupain dia,” ujar Jordan menghela napasnya lega.


“ Memang gue lewatin apa aja?” Tanya Darrel dengan wajah bertanya, seingatnya mereka berkumpul di rumah Jordan untuk melakukan penyergapan, namun dia tidak mengingat apapun lagi dan tiba – tiba saja ada di tempat ini.


“ Kita udah melakukan penyergapan, Dara selamat tapi Lo sama Luna terjebak di dalam rumah yang ternyata udah di pasang bom,” ujar Jordan memberi penjelasan.


“ Eiitt, gue tahu apa yang mau Lo tanyain. Luna baik baik aja, Lo tenang aja,” ujar Jordan memotong saat Darrel membuka mulutnya, membuat lelaki itu mengangguk paham dan lega karna Luna baik baik saja padahal dia yang terluka parah disini.


“ Lo masih bisa khawatirin Luna disaat Lo yang ada di ambang kematian, tuh punggung Lo dapat dua puluh jahitan, kepala Lo tiga jahitan, untung malaikat maut masih baik. Suka banget nge prank malaikat maut,” ujar Jordan panjang lebar yang membuat Darrel terkekeh.


“ Abang bawelnya ngalahin Ibu ibu yang suka nawar di pasar, yang penting saya selamat bang, udah bang tenang aja,” ujar Darrel dengan santai seolah tak terjadi apapun.


“ Iya tenang, tapi karna Lo kritis gue harus urus semua masalah perusahaan Lo yang diteror,” ujar Jordan dengan wajah malas, Darrel memiringkan kepalanya dan menatap Jordan dengan bingung.


“ Perusahaan saya? Maksudnya restoran? Memang restoran kenapa? Kan baik baik aja,” ujar Darrel dengan polos dan bingung. Jordan membuka mulutnya sempurna dan menatap Darrel


“ Lo gak ingat masalah restoran? Jadi gue harus beresin semua? Hamsyong dah gue!”


*


*


*


~ PRannkkk


Sebuah piring tak berdosa harus menjadi korban kemarahan seseorang yang mendengar kabar bahwa orang yang sangat ingin dia celakai ternyata baik baik saja.


Perlakuan baik apa yang Luna lakukan di masa lalu sampai gadis itu memiliki malaikat pelindung dan sulit sekali untuk dicelakai? Berbagai upaya sudah dilakukan dan semua hanya sebatas nyaris, padahal yang dia inginkan gadis itu tewas seketika.


“ Dia tuh orang atau kecoa sih? Susah banget matinya!” Geram orang itu dengan wajah yang memerah, dia melempar sebuah anak panah kecil ke papan yang tertempel wajah Lunetta.


“ Kenapa Lo gak stop aja sih terror dia? Gue aja kashian loh, gue gak sanggup lagi kalau harus jahat ke dia, bahkan dia rela ajakin gue buat dinner bareng pacarnya<” ujar seorang lagi yang ada di ruangan itu, sebuah ruang rahasia di sebuah rumah yang cukup mewah.


“ Gue gak akan puas sampai keluarga Wilkinson tewas se akar akar nya, dimulai dari cewek tengil gak berguna itu! Persetan dia siapa di hidup gue, toh dari awal niat gue emang pengen celakain dia!”


“ Se dendam itu ya lo sama dia? Gila aja sih sampai Lo jadi iblis kayak gini, ngeri gue, apalagi gue juga kena imbasnya karna Lo.”


“ Lo tahu persis seberapa benci dan alasan gue benci dia, gue minta Lo awasin pacarnya untuk mempermudah gue celakain dia, tapi ternyata Lo sama gak bergunanya kayak Syifa.”


“ Eiitss, gue udah kunciin dia di atap, bahkan gue gembok dan ambil ponselnya. Syifa aja yang bego. Lagian tuh cewek emang beruntung banget, entah gimana Radith bisa tahu dia dimana,” ujar orang itu dengan heran.


“ Radith? Aahh, cowok yang disuka sama Lunetta? Dia punya pacar dan gak ada urusannya sama ini, jadi gue Cuma kasih peringatan dan permainan kecil.”


“ Hah? Lo ngelakuin sesuatu sama Radith?” Tanya seorang pada yang lain dengan wajah terkejut.


“ Gak, gue tahu Lo suka sama tuh cowok, jadi gue main main dikit sama ceweknya, waktu itu sih gue buat ceweknya nyaris tewas, untung gak mati dan gak ada yang tahu, hahaha.”


“ Psikopat Lo njir! Udah ah, gue gak mau ikut campur lagi masalah Lo sama Luna. Gue gak tega sama dia lama - lama,” ujar orang itu sambil keluar dari ruangan itu.


Satu orang yang tersisa berjalan ke papan yang tadi berisi wajah Luna, kini wajah itu tampak sobek dan berlubang karna anak panah kecil yang menancap di wajah gadis itu. Orang itu mengelus foto tersebut dan memukulnya dengan keras.


“ Lo bakal terima semua sakit yang gue rasain, Lo gak akan hidup bahagia, Lo gak boleh hidup bahagia karna Lo anak dari Wilkinson.”


“ Tunggu aja, Lunetta Azura Wilkinson.”