Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 54



"Kak Darrel sedih ya? Maaf, karna Karel udah bikin …"


" Gak usah dibahas. Tadi sampai mana?" tanya Darrel yang langsung memotong perkataan lelaki itu. Lelaki itu hanya memijat kepalanya dan melihat kembali contoh contoh gaun pernikahan yang tampak sederhana tapi cukup anggun. Lelaki itu langsung teringat saat dia dan Luna memilih gaun, dia bisa melihat wajah bahagia dari gadis itu.


" Kak? Masih kepikiran Luna?" tanya Karel pelan, Darrel langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum samar. Lelaki itu menghembuskan napas perlahan dan kembali fokus pada gambar – gambar yang ada di depannya.


" Kamu jadinya pilih yang mana?" tanya Darrel dengan lembut. Karel tak mau melihat gambar – gambar yang ada di sana. Wanita itu terdiam beberapa saat, namun kemudian dia memegang perutnya yang terasa nyeri, membuat wanita itu meringis kesatikan. Darrel yang menengok tentu langsung merasa kaget, ia segera berdiri dan menghampiri wanita itu.


" Kenapa perutnya? Perutnya sakit? Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu bisa jalan?" tanya Darrel dengan khawatir. Karel mengangguk dan berdiri pelan – pelan sambil memegangi perutnya. Wanita itu berjalan dipapah oleh Darrel dan masuk ke mobil lelaki itu. Mereka langsung pergi panti asuhan ke rumah sakit. Darrel dengan sabar memapah wanita itu sampai ke bagian kandungan.


" Kondisi kandungan baik – baik saja. Namun memang kondisi janin sedikit lemah. Ibu tolong jangan terlalu stres karna ini akan menganggu kesehatan janin. Janin itu tahu loh kalau Ibunya lagi ada masalah. Bapak juga jaga Ibu biar gak kepikiran, bikin Ibu selalu dalam kondisi mood yang baik, itu akan membantu tumbuh kembang janin," ujar dokter itu dengan ramah.


Karel dan Darrel hanya tersenyum canggung, mereka sama – sama tak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Setelah dokter menuliskan resep penguat kandungan dengan dosis yang kecil, mereka segera menebus obat itu dan pergi dari rumah sakit. Darrel hanya diam sepanjang jalan, membuat Karel menjadi canggung dan meremas bajunya sendiri.


" Ngerasa sakit gak? Kalau gak sakit sekalian belanja buat persiapan. Belum beli cincinnya juga," ujar Darrel yang terdengar lembut, namun tak bisa dipungkiri, lelaki itu sama sekali tak pernah tersenyum dengan tulus setelah kejadian hari itu. bahkan kepribadian Darrel yang hangat pun seolah hilang dari muka bumi ini.


" Karel gak enak kalau malah belanjaa dan senang – senang sedangkan kondisi panti asuhan lagi kayak gini, Karel ngerasa bersalah sama bunda," ujar Karel pelan. Darrel kembali menghembuskan napasnya. Berharap hembusan itu sekaligus menghembuskan beban – beban yang membuatnya insomnia dan migrain setiap saat, Darrel juga manusia, dia memiliki batas lelah untuk semua.


" Biar aku yang urus. Kamu gak usah kepikiran yang aneh – aneh, kasihan anak kamu," ujar Darrel yang langsung melajukan mobilnya ke arah mall yang dia tahu menjual semua yang dia perlukan untuk saat ini. Lelaki itu langsung memarkirkan mobil ke pintu terdekat dan mengajak Karel untuk turun.


" Mau ke butik dulu atau ke toko perihasan?" tanya Darrel saat mereka sudah masuk ke dalam mall. Karel hanya menurut, membuat Darrel mengangguk dan mengambil alih tujuan mereka. Darrel langsung pergi ke arah butik karna butik langganannya cukup dekat dari tempat mereka. Mereka langsung masuk ke dalam butik itu dan dihampiri oleh orang yang ada di sana.


" Loh, Darrel. Udah lama banget kamu gak ke sini. Aku kira kamu pindah butik, aku udah sedih nungguin kamu," ujar orang yang ada di butik itu. Darrel tertawa mendengar hal itu, tawa Darrel tentu membuat Karel menengok kaget, lelak iitu bahkan tak pernah tertawa saat bersamanya, namun lelak iitu bisa tertawa dengan pegawai butik ini.


" Mau cari baju apa nih? Baju nikahan ya? Jadi nikah juga Lo sama Luna?" tanya pegawai itu yang membuat Darrel terdiam. Pewagai itu langsung melihat ke arah belakang dan langsung menutup mulutnya dengan tangan. Rupanya sedari tadi dia tak menyadari ada orang di belakang Darrel.


Karel tersenyum canggung, pegawai itu juga membalas senyum Karel, dia merasa tak enak membahas Luna saat ada gadis ( ah, pegawai ini kan tahunya Karel masih gadis) lain di sebelah Darrel. Dia jadi bertanya – tanya apa yang terjadi. Mengingat Luna dan Darrel selalu pergi ke butik ini jika ingin membei baju tertentu.


" Jadi, kalian mau cari baju apa? Baju yang gimana?" tanya pegawai itu untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Darrel tampak melihat – lihat baju yang ada di sana. Kebanyakan hanya baju casual untuk pergi ke pesta atau acara santai, mmbuat Darrel mengernyitkan dahinya.


" Lo gak punya gaun pernikahan ya di butik ini?" tanya Darrel yang membuat orang itu melongo sesaat, namun kemudian orang itu mengangguk dan mengajak Darrel untuk pergi ke suatu tempat. Lelaki itu mengikuti pegawai yang memimpin jalan, sementara Karel juga berjalan di belakang Darrel meski tak ada yang mengajaknya.


" Lo mau cari yang gimana? Yang super glamor, glamor aja, mendekati biasa, atau yang biasa banget?" tanya pegawai itu yang membuat Darrel menatap ke arah Karel, Karel menatap satu persatu gaun yang tampak indah itu, membuatnya tanpa sadar tersenyum.


" Lo cari deh yang pas buat dia. Kalau udah ketemu langsung nyari buat versi cowoknya buat ukuran gue. Lo masih tahu kan ukuran gue? Gak berubah dari terakhir kali pokoknya," ujar Darrel yang membuat orang itu kembali terkejut. Namun pegawai itu juga mengangguk dan mengajak Karel untuk mencoba gaun yang ada di sana.


Darrel duduk di kursi yang ada di sana. Lelaki itu membuka kunci ponselnya, wajah yang sama menjadi wallpaper kunci layarnya. Dia menatap wajah itu dengan pandangan yang sedih. Entah mengapa ada sesuatu yang berat, membuat napasnya sedikit tersendat dampai dia harus menarik napasnya pelan – pelan. Dia tak mau merepotkan orang – orang yang ada di sana.


Karel dan pegawai itu kembali ke Darrel beberapa saat kemudian. Mereka meminta Darrel memberikan penilaian terhadap gaun yang dibawa oleh Karel. Darrel melihat gaun putih yang sangat glamor, Darrel hanya menganggukkan kepalanya, setuju dengan gaun itu. Darrel juga meminta mereka menyiapkan baju untuk pria.


" Lo harus ikut, kan gue gak tahu ukurannya apaan," ujar pegawai itu yang langsung menggeret Darrel pergi dari sana. Karl menggantikan posisi Darrel untuk duduk di posisi Darrel sebelumnya. Pegawai itu menarik Darrel untuk cukup menjauh dari Karel dan memandang Darrel dengan wajah galak yang dibuat – buat.


" Lo masak udah gak punya ukuran gue? Gue udah jadi langganan di sini. Kudunya Lo tahu lah, gimana sih," ujar Darrel sewot, membuat pegawai itu langsung menutup mulut Darrel dengan tangannya. Dia berani melakukan itu karna mereka memang cukup dekat. Apalagi lelaki itu selalu pergi bersama Luna yang ramah dan ramai jika sudah masuk ke butik ini, membuat mereka cepat akrab.


" Dia calon istri Lo? Bukannya Lo sama Luna udah pacaran bertahun – tahun? Gimana ceritanya Lo tiba – tiba mau nikah sama tuh orang? Bahkan bulan lalu Lo masih ke sini buat beli baju dan Lo masih pacaran sama Luna kan? Dia siapa? Pelakor ya?" tanya pegawai itu yang tak sengaja keceplosan.


" Lain kali jaga mulut Lo kalau Lo mau kerja dnegan tenang di tempat ini. Bisa banget Lo ngomong gitu ke gue, walaupun dekat, gue tetap pelanggan loh di sini, gue bisa laporin Lo," ujar Darrel dengan wajah datar nan dingin. Pegawai itu langsung menatap Darrel dengan ngeri, lelaki itu sangat berbeda saat ini.


" Maaf, gue keceplosan, gue gak ada maksud bikin tersinggung atau apa kok, Cuma penasaran aja. Masak tiba – tiba nikahnya sama orang lain, maaf ya, gue siapin baju dulu, ntar Lo coba," ujar pegawai itu dengan takut. Pegawai itu dengan cepat menyiapkan baju pasangan untuk gaun yang dibawa oleh Karel.


" Ini pasangannya yang tadi. Ukuran Lo kayaknya cocok sama ini, Lo coba dulu gih," ujar pegawai itu yang dituruti oleh Darrel, lelaki itu masuk ke ruang ganti dan mencoba kemeja serta jas yang memiliki ukiran indah di kainnya. Jangan ditanya harganya.


" Lo masih penasaran gimana gue bisa tiba – tiba nikah sama dia? Seminggu lagi gue mau nikah sama Luna sebenernya, tapi dia bilang hamil, dan itu anak gue. Mau gak mau gue harus tanggung jawab," ujar Darrel yang membuat pegawai itu melongo.


" Marriage By Accident? Lo pacaran sama Luna bertahun – tahun aja gak kebobolan, Lo udah berapa lama sama tuh anak yang di depan sampai Lo bobol kayak gitu?" tanya orang itu dengan penasarannya. Darrel tak menjawab pertanyaan orang itu, membuat orang itu mengangguk paham, meski Darrel tak menjawab.


" Gue tahu Lo cowok yang bertanggung jawab, bagus kalau Lo mau tanggung ajwab dan gak bikin tuh cewek ngelahirin tanpa suami. Semua perempuan pasti hancur kalau kayak gitu. Gue salut sama Lo," ujar pegawai tadi yang membuat Darrel tertawa ringan. Lelaki itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lelaki itu kembali berjalan ke tempat Karel berada.


Itulah yang dibutuhkan Darrel untuk saat ini. Semua orang menyalahkannya, semua orang langsung menimpakan tanggung jawab kepadanya. Jika tak menyalahkan, mereka langsung merasa kasihan pada Darrel. Padahal yang dia butuhkan hanya sebuah semangat kecil, meski tak membantu secara nyata, setidaknya psikis Darrel sedikit dibantu.


" Udah? Ya udah tolong deh ini dibungkus terus nanti orang gue aja yang ambil. Yuk kita cari yang lain," ujar Darrel yang membuat Karel mengangguk. Mereka mengucapkan terima kasih, tak lupa pegawai itu mmberi selamat atas mereka berdua, setelah mereka pergi, pegawai itu langsung kehilangan senyumnya dan menggelengkan kepalanya pelan.


" Udah dapat berlian yang berkilau, malah di sia siain, dasar cowok, semoga Lo bagaia deh," ujar pegawai itu dengan prihatin. Pegawai itu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, dia bahkan sangat menyayangkan hubungan Darrel dan Luna yang kandas dan lelaki itu harus mengalami MBA, padahal lelaki itu sudah memiliki reputasi yang baik selama ini.


Sementara itu Darrel dan Karel memasuki sebuah toko perihasan yang terkenal dengan kualitas dan model perihasan yang cantik. Karel bahkan sampai terkagum dan tak menyangka Darrel sekaya ini. Mereka masuk ke toko itu dan Darrel langsung meminta pegawai itu menyiapkan sepasang cincin untuk mereka.


" Ini model terbaru yang ada di toko kami. Cincin ini dua puluh empat karat dan ini berlian tiga karat. Sangat cantik untuk tangan calon istrinya," ujar pegawai itu yang membuat Darrel mengambil cincin itu dengan hati – hati dan memasangkan cincin itu ke tangan Karel. Karel tampak gemetar, padahal Darrel hanya menyentuh tangannya.


" Kamu aku pegang tangan aja gemetar, padahal anak yang ada di perut kamu itu kan anak aku. harusnya kamu udah biasa sama sentuhan aku dong," ujar Darrel yang membuat Karel terkejut. Wajah wanita itu memerah dan langsung melepaskan tangan Darrel yang memegang tangannya. Hal itu tentu saja membuat Darrel merasa heran.


" Karel masih gak biasa disentuh sama kak Darrel, rasanya deg – deg an kak. Mungkin karna Karel terlalu suka sama kak Darrel, heh," ujaar Karel yang meembuat Darel menaikkan sebelah alisnya, namun sesaat kemudian lelaki itu mengangguk paham dan meminta pegawai yang menajwa menyiapkan cincin itu. sontak yang dilakukan Darrel membuat Karel menengok kaget.


" Kak, itu pasti mahal banget. Kenapa harus beli yang mahal – mahal? Beli yang lebih murah aja kak. Karel gak mau dibilang menikahi kak Darrel karna aharta aja, Karel gak mau," ujar Karel menggelengkan kepalanya berkali – kali. Darrel tak mengubah ekspresi dinginnya, lelaki itu memang bersikap lembut, namun entah mengapa wajahnya otomatis kaku di depan calon istrinya ini.


" Tenang aja, aku gak akan langsung miskin waktu beli berlian ini. Tenang aja, gak setiap hari juga," ujar Darrel dengan datar. Karel hanya bisa terdiam dan menuruti apa yang diinginkan oleh Darrel, wanita itu menghela napasnya dan mengelus perutnya pelan.


Mereka keluar dari toko perihasan itu dan Darrel langsung meminta Karel menyimpan cincin itu, mereka segera pergi dari mall itu. Karel duduk di kursinya dan menatap ke arah Jendela yang menunjukkan sepinya jalan karna saat ini merupakan jam kerja. Darrel yang melirik tentu penasaran apa yang terjadi pada wanita itu.


Namun Darrel malah melihat wanita itu terisak dan menangis, Darrel tak menanggapinya sama sekali, dia berpura – pura tak tahu dngan apa yang dialami oleh wanita itu, yang jelas wanita itu terus mengelus perutnya sambil menangis pelan. Darrel kembali membuang napasnya karna lama – lama dia merasa tak tega melihat wanita itu.


" Ada yang kurang? Ada yang mau dibeli? Kenapa nangis?" tanya lelaki itu pelan tanpa menengok sama sekali.


" Eh, enggak kok. Semua udah lebih dari cukup. Mungkin bawaan bayi aja jadi baby blue. Karel Cuma berharap ke depan semua bakal baik – baik aja. Kak Darrel harus tahu, Karel bukan mau uang kak Darrel, jadi kak Darrel jangan salah paham tentang hal itu ya."


Darrel masih tak menjawab, lelaki itu hanya menjadi pendengar, karna dia tak tahu harus menjawab atau menanggapi seperti apa. Jadi dia mengambil jalan aman.


" Semoga suatu hari nanti kak Darrel bisa terima Karel sebagai istri, bukan Cuma terima anak yang ada di perut Karel sebagai anak."


*


*


*


*


*


Note : Untuk Readers yang emosi, waktu dan tempat dipersilakan.