
Kau yang egois tak akan tahu arti berjuang dan pengorbanan.
.
.
.
Radith berlari menyusuri koridor rumah sakit dan berhenti disebuah pintu besar bertulisan HCU ( High Care Unit – HCU adalah unit pelayanan di Rumah Sakit bagi pasien dengan kondisi stabil dari fungsi respirasi, hemodinamik dan kesadaran namun masih memerlukan pengobatan, perawatan dan pemantauan secara ketat. Tujuannya adalah agar bisa diketahui secara dini perubahan yanag membahayakan sehingga bisa segera dipindah ke ICU _ KEMENKES RI).
Lelaki itu diam di bagian Administrasi karna dia tidak boleh masuk tanpa kartu tanda masuk. Dia menelpon orang tua Blenda agar mereka segera keluar agar Radith bisa meminjam kartu tanda milik mereka. Tak lama kemudian papa Blenda keluar dari dalam sana dan memberikan sebuah tanda pengenal pada Radith.
Radith langsung berlari masuk ke dalam salah satu ruang rawat dimana dia melihat kekasihnya berteriak kesakitan sambil meronta – ronta. Radith langsung menghampiri gadis itu dan mengelus kepalanya untuk menenangkannya. Gadis itu tetap meringis kesakitan, bahkan tangannya sudah ditali agar tidak terlalu meronta dan membahayakan dirinya.
" Blenda, kamu tenang, Blenda, aku mohon kamu tenang ya, aku di sini. Blenda, aku sayang kamu, kamau tenang ya, aku di sini," ujar Radith tepat di telinga Blenda dambil memeluk gadis itu agar tidak semakin memberontak dan melukai dirinya sendiri. Ibu Blenda sudah menangis tersedu dan tak tega untuk mendekat.
" David, bunda udah gak sanggup lihat Blenda kesakitan gitu Dave, Bunda gak tega kalau lihat Blenda lagi kambuh gini," ujar Ibu Blenda yang terdududuk di kursi samping Blenda dan mengelus lengan gadis itu pelan, berusaha memberikan ketenangan untuk Blenda.
" Kata dokter apa bun?" tanya Radith menengok ke arah Bunda sambil tetap mengelus elus Blenda yang mulai tenang meski gadis itu masih terus menangis. Bunda menggeleng pelan dan menatap Blenda dengan kasihan. Gadis setegar dan sebaik Blenda harus menghadapi hal menyakitkan seperti ini.
" Kata dokter sel kanker nya sudah menyebar sampai ke tulang belakang, dan Blenda memang bakal jauh lebih sering merasakan sakit, bahkan setelah dosis Morfin ditambah. Bunda gak tega lihat Blenda Dave, bunda bakal bawa Blenda ke luar negeri kalau kondisinya membaik karna pengobatan di luar negeri lebih memadai," ujar Bunda Blenda menyampaikan opininya pada Radith.
" Iya bunda, David setuju aja kalau memang itu yang terbaik buat Blenda. David tahu Blenda kuat dan mau melawan kanker ini, selama Blenda masih semangat buat lawan kanker ini, kita harus dukung dan bantu Blenda bunda, David yakin Blenda akan bertahan dan sembuh," ujar Radith yang mengelus – elus kepala Blenda yang mulai tenang.
" Blenda udah tenang, terimakasih kamu mau kesini ya Dave, sebuah keajaiban Blenda bisa bertahan sejauh ini, ini semua karna kamu, bahkan Blenda sempat pulih total sebelum akhirnya sel kanker itu kembali kambuh, kamu jangan tinggalkan Blenda ya Dave, bunda mohon sama kamu ya," ujar Bunda menatap Blenda yang sudah terlelap setelah kehadiran Radith.
Beberapa saat lalu sebelum Radith datang, seorang dokter menyuntikkan cairan morfin ke tubuh Blenda, namun tak bisa langsung menenangkan gadis itu, sampai akhirnya Radith datang untuk menenangkan sementara efek obat mulai bekerja.
" Kenapa Blenda sampai seperti ini ya Dave? Bunda gak tega kalau Blenda kambuh kambuhan gini, bunda takut kalau akhirnya Blenda menyerah dan Bunda harus iklasin dia, Bunda gak akan sanggup Dave." Hati ibu mana yang akan tega melihat anaknya terbaring tak berdaya dengan alat penopang hidup menempel diseluruh tubuhnya? Semua ibu pasti akan mencelos jika anaknya mengalami hal ini, bahkan mungkin ingin menggantikan posisi anaknya agar anaknya tak kesakitan lagi.
" Bunda, bunda gak boleh ngomong gitu, Dave kenal sama Blenda dan Blenda gak mungkin nyerah gitu aja. Untuk masalah ini kita doakan aja biar Blenda kuat dan penyakitnya bosan lalu pergi sendiri, kita doakan dan semamgati Blenda. Yang jelas Blenda gak boleh lihat bunda kayak gini, Blenda pasti sedih Bun."
" Dave, terimakasih ya Dave, terimakasih kamu sudah memberi cahaya dan harapan di keluarga kami. Terima kasih kamu sudah mau ada di sisi Blenda dan harus kerepotan seperti ini, terima kasih banyak ya Dave, bunda gak tahu lagi harus berterimakasih seperti apa," ujar Bunda yang berjalan ke arah Radith dan langsung memeluk lelaki itu.
" Bunda udah kayak bunda Dave, dan menjaga Blenda bukan suatu beban buat Dave, Dave gak ngerasa keberatan atau keganggu sama Blenda, Dave mau nemenin Blenda sampai Blenda sembuh Bun," ujar Radith menyalimi tangan bunda dan kembali menatap Blenda yang tampak tenang.
Radith melihat Blenda semakin kurus, seakan kanker itu sudah menggerogoti tubuhnya yang berisi, Radith tak suka melihat Blenda seperti ini. Blenda yang riang, dewasa dan kurang ajar padanya, namun di satu sisi Blenda bisa memberi keceriaan dan bahkan mengatur hidup Radith ke arah yang lebih baik.
Apakah Radith menyayangi gadis itu? Tentu saja! Radith sudah mengenal Blenda saat mereka masih sebesar upil yang ada dihidung! Hahaha. Mereka sudah menjadi teman sejak kecil, melalui semua bersama bahkan sudah seperti anak kembar yang beda setahaun. Hingga akhirnya penyakit Blenda ketahuan.
Dari yang awalnya hanya nyeri biasa, rupanya itu adalah sel kanker yang mulai aktif dengan tingkat ganas yang tinggi hingga cepat sekali menjalar sampai ke tulang belakang. Blenda sudah melakukan berbagai rangkaian pengobatan dan sembuh, namun ternyata kanker itu kembali lagi dan menggerogoti gadis itu sampai seperti ini.
Untung saja penanganan mereka belum terlambat, Mereka masih bisa mengupayakan yang terbaik untuk Blenda, bahkan orang tua Blenda rela menjual segalanya untuk keselamatan gadis itu, sementara papanya sudah muali mengalami kebangkrutan, Radith pun juga berusaha mencari bantuan selama ini dan bekerja kecil kecilan untuk membantu meski sedikit. Semua itu tak diketahui oleh satu orang pun.
" Blenda, sembuh ya nak, ini Dave udah disini buat temenin Blenda, kamu janji bakal sembuh kalau ada Dave kan? Blenda sembuh ya sayang," ujar bunda sambil menitikkan air mata. Radith yang seorang pria pun tak sanggup menahan rasa sedihnya, lelaki itu menunduk dan mengusap cepat ujung matanya sebelum air itu mengalir jatuh.
" Blenda, kalau Lo sembuh Lo boleh mainin atau bahkan hapus semua game yang ada di ponsel gue, Lo boleh ngelakuin apapun ke gue dan Lo boleh minta apapun, asal Lo janji Lo bisa sembuh total, Lo bisa bertahan lebih lama lagi, gue mohon sama Lo Blen," lirih Radith dengan suara beratnya yang serak.
*
*
*
" Radith, kabar Blenda gimana?" tanya Luna saat gadis itu baru saja memasuki kelas dan langsung berlari ke arah Radith yang duduk tenang di bangkunya. Radith yang merasa tertanggu tentu menengok ke arah Luna dan menatap wajah gadis itu datar. Tidak bisakah gadis itu bersikap tenang dan tidak sembrono? Nyaris saja gadis itu menabrak meja saking semangatnya bertemu Radith.
" Blenda baik – baik aja kok, biasalah telat makan terus ya gitu," ujar Radith dengan wajah datarnya. Luna tahu Radith berbohong, namun gadis itu pura – pura percaya saja agar Radith tak marah. Apalagi Luna sudah melihat kantong mata di mata sipit lelaki itu, tentu bukan hal baik memancing emosi lelaki itu dan membuat lelaki itu meledak.
" Oh iya Dith, Lo udah dapat kabar pengumuman buat peserta yang ikut LKS gak? Siapa tahu gue masuk gitu dith, hahaha," ujar Luna yang memang sengaja mengalihkan pembicaraan, namun dia malah mendapat tatapan aneh dari Radith.
" Emang Lo bisa kerjain tesnya? Gue yakin Lo gagal di tes pertama Lun, beneran deh gue jamin," ujar Radith tanpa dosanya pada Luna. Gadis itu langsung merengut sebal dan memukul Radith cukup keras untuk membalas perkataan pedas lelaki itu, memang Radith tak memiliki hati, namun tidak bisakah lelaki itu menahna sedikit dan tak menghina Luna seperti itu? Menyebalkan sekali.
" Gue kan Cuma tanya dith, gue mah yakin gak akan masuk, tapi kalo Lo kayaknya masuk deh, Lo kan pintar dan ahli kalau masalah kayak begini," ujar Luna sambil duduk tepat di depan Radith. Lelaki itu terkekeh melihat wajah Luna yang sudah pantas untuk disetrika karna nampak kusut dan berkerut di bagian bibir karena amengerucut.
" Gue gak pingin masuk, repot, mending yang lain aja yang masuk," ujar Radith dengan santai sambil memiringkan ponselnya, belum dia mulai bermain, Luna sudah mengambil ponsel itu dan langsung menyimpannya di kantong bajunya, tentu Radith tak berani mengambil karna takut tak sengaja menyentuh benda terlarang baginya.
" Wah berarti Lo jawab soalnya ngarang ya dith? Salut gue kalau Lo berani kayak gitu dith," ujar Luna dengan wajah kagum dan bahkan diiringi dengan tangan ynag bertepuk tanpa suara.
" Ya gak gitu juga bego, ya gue jawab sesuai yang gue tahu, mana mungkin gue ngebegoin diri demi gak dipilih? Ntar otak gue jadi bego beneran macam Lo. Balikin Ponsel gue sih ih," ujar Radith dengan kesal dan tangan yang ragu hendak terulur atau tidak.
" Ambil sendiri aja kalau Lo mau, kesel banget gue jadinya," ujar Luna dengan sebal dan duduk tegak, membuat Radith semakin sulit jika ingin mengambil ponselnya karna dia harus berdiri untuk mengambilnya serta orang lain bisa melihat apa yang hendak dia lakukan.
" Kalau Lo nantangin gue, gue gak akan ragu buat lakuin apapun karna gue anggap Lo kasih ijin, tapi Lo siap kalau punya Lo jadi gede satu? Lo siap kalau nanti kepegang terus rasanya geli geli enak? Lo siap kalau nantinya malah ketagihan?" tanya Radith dengan senyum miringnya, senyum miring yang terlihat mesum.
" LO!!" Seru Luna kesal sambil menunjuk Radith dengan kesal. Gadis menutup miliknya dengan tangan yang bersilang dan memegang bahunya, membuat Radith tertawa karna Luna termakan oleh omongannya. Jika ada perkumpulan orang jahat yang mencari anggota baru, Luna pasti sasaran yang empuk karna mudah sekalai mencuci otak gadis itu.
" Tauk ah, ngeselin banget Lo!" seru Luna dengan kesal dan langsung bangkit dari sana, membuat Radith terkejut karna Luna pergi membawa ponselnya, namun karna dia sangat mager, dia memilih untuk membiarkan Luna dan menidurkan kepalanya di meja.
" PERHATIAN, BERITA PANGGILAN. Diberitahukan kepada siswa bernama Radithya David Putra Galeno untuk segera menemui WaKa II di ruang Wakil Kepala Sekarang. Sekali lagi, Diberitahukan kepada siswa bernama Radithya David Putra Galeno untuk segera menemui WK II di ruang Wakil Kepala Sekarang. Terima kasih."
Radith mengernyitkan dahinya saat namanya dipanggil oleh WaKa melalui speaker aktif, bahkan dia yang berbicara menyebutkan nama Radith secara lengkap, membuatnya sedikit terharu karna ada yang mengingat namanya dengan jelas.
" Dith?!" panggil Luna dengan cukup keras dari tempat duduknya, membuat Radith langsung bangkit dengan segala kemagerannya berjalan ke arah luar kelas dan langsung pergi dari ruang bengkel mereka menuju ruang Waka. Luna mengedikkan bahunya dan melihat ponsel Radith lalu mengambilnya dari sakunya.
Luna melihat ponsel itu dan mencoba membukanya dengan sidik jariya, dulu dia pernah menyimpan sidik jarinya di keamanan ponsel Radith. Akhirnya Luna bisa membuka ponsel dan menggeledah ponsel itu sesuka hatinya karna pemiliknya tidak ada disini. Gadis itu langsung masuk ke galeri dan seketika hatinya teremas dengan sempurna.
Gadis itu melihat satu folder khusus foto foto Radith yang sedang bersama Blenda, bahkan di beberapa foto wajah Radith tak tampak datar atau galak, pria itu tampak tersenyum lebar di samping Blenda yang menarik pipinya, Luna mencoba mengabaikan itu dan melihat ke folder lain dimana banyak sekali foto Radith disana.
Bukan foto sendiri dengan kamera depan, tapi Radith difotokan oleh orang lain di berbagai event, tampak ketampanan Radith meningkat saat dia tersenyum, membuat Luna ikut tersenyum melihat foto itu. Merasa cukup dengan galeri, Luna melihat icon lingkaran berwarna hijau dengan gambar gagang ponsel di dalamnya.
Beruntungnya Radith karna Luna tidak menarik layar saat membuka galeri dan melihat isi rahaia di galeri itu. Apa isinya? Entahlah, namanya juga rahasia, biarlah menjadi rahasia Radith dan Tuhan serta ponselnya sendiri.
" Buka gak ya? Buka gak ya?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Dia tahu itu melanggar privasi, namun dia tak bisa menahan jarinya untuk memencet icon itu dan membuka aplikasi terkunci itu dengan sidik jarinya.
" ternyata dia gak suka chatting sama orang ya?" heran Luna karna Radith tidak chatting intensif dengan siapapun beberapa hari ini. Luna membuka pesan Radith dengan Blenda yang ternyata jauh lebih parah dari percakapan chattingnya dengn Radith. Senang? Tentu Luna sangat senang mengetahui hal itu.
Luna menarik layar ke atas hingga tampilan layar menjadi turu, dia membuka salah satu grub dengan nama yang aneh, ternyata di dalam sana hanya ada beberapa orang termasuk Blenda yang jadi anggota, mereka sepertinya satu grub perkumpulan persahabatan karna pembahasan mereka yang tak wajar. Bahkan di grub ini pun Radith memilih untuk menjadi pembaca setia tanpa merespon.
Luna memencet tombol kembali dan menggeser layar ke kiri hingga layar itu berjalan ke kanan. Luna mengernyitkan matanya karna melihat Radith membagikan cerita di aplikasi ini. Luna langsung mengambil ponselnya dan mengecek cerita dari kontaknya, namun tak ada nama Radith disana.
" Gue di hidden sama dia? Anjir," ujar Luna dengan kesal dan memastikan hal itu di bagian pengaturan cerita, ternyata benar, ada namanya di bagian sembunyikan dari. Sampai sini Luna tentu menjadi sangat kesal dan moodnya down seketika.
Luna membuka isi cerita itu dan membacanya, ternyata isinya tentang Blenda karna ada foto gadis itu bersamanya tempo hari lalu dengan caption ' cepat pulih sayang, aku rindu foto bareng sama kamu.' . Kini Luna bersyukur karna dia masuk daftar sembunyikan dari, karna dia tak akan sanggup jika melihat story dengan tema yang sama berkali – kali dan berhari hari.
Gadis itu kembali menggeser layar ke kiri,kini ponsel Radith langsung Luna letakkan di meja saking lemasnya. Bagaimana tidak? Rata – rata isi panggilan Radith adalah Bunda Blenda, Ayah Blenda dan Blenda sendiri. Bahkan ketika Luna mengecek laporan panggilan video itu, Luna tak bisa berkata – kata lagi, mereka sampai menghabiskan waktu dua jam untuk panggilan Video.
Sesuatu yang sangat hebat yang Radith lakukan karna lelaki itu bukan tipe orang yang akan menghabiskan waktunya untuk melakukan panggilan tak bermutu. Namun nyatanya Radith melakukan hal tak bermutu itu pada Blenda, Radith rela membuang waktunya untuk Blenda.
" Ternyata bener ya kata orang, kalau rasa penasaran diri, skill stalker tinggi, resiko sakit hati juga tinggi. Duh, kok sesek," ujar Luna pelan pada dirinya sendiri.
*
*
*
Hello Hai kalian semua yang sudah membaca part ini,
Terimakasih yaaaaaa.
mohon untuk kritik, saran dan dukungannya.
Sejauh ini, pelajaran hidup apa yang kalian dapat dengan membaca novel gaje ini?
Seperti biasa, yang Love nya masih putih bisa tolong di merahkan, terimakasih.
Jangan lupa untuk mampir ke lapak aku yang lain
Adella
T(w)o : Heart
Ex lover
Miss galak, I Love you
I Luffy duffy all of you
salam,
Eliz