Hopeless

Hopeless
Chapt 112



" Darrel, aku tahu kamu masih ingat sama aku, kamu gak akan mungkin semudah itu lupain aku, makasih ya kamu udah mau tunggu aku selama ini."


Dua sejoli itu sedang duduk di sofa rumah Darrel, awalnya mereka hanya membahas masalah investasi yang sedang mereka jalankan, namun akhirnya Fera berhasil memancing Darrel hingga lelaki itu tanpa sadar engakui bahwa dia masih mengingat Fera, bahkan kini Darrel diam saja saat Fera menyender pada pundaknya.


" Udah lama banget aku gak ke rumah ini, ternyata tetap sama yah, malas banget ya kamu ganti model rumah gitu?" tanya Fera dengan gemasnya, namun Darrel hanya diam tidak menjawab, lelaki itu hanaya diam dan memainkan ponselnya.


" Ponselnya lebih cantik dari aku ya? Kamu masih marah sama aku? iya sih kamu wajar marah sama aku karna aku memang salah sama kamu, tapi please jangan benci aku karna waktu itu aku memang harus ikut mama papa ke luar kota dan aku gak bisa kabarin kamu karna ponsel aku rusak."


Darrel masih memilih diam, pikirannya kalut dan bercabang banyak, di satu sisi Darrel merasa bersalah pada Luna, padahal Luna juga melakukan hal yang sama padanya, namun disisi lain dia juga merasa hatinya yang hilang telah kembali. Darrel tidak tahu harus melakukan apa, dia kini hanya ingin mengikuti arusnya saja.


" Aku udah berusaha nyari kontak kamu, tapi kamu gak ada medsos selain Whatsapp, aku sempat frustasi karna harus ninggalin kamu kayak gitu, aku.. aku.." Fera tak melanjutkan kata – katanya, gadis itu mengusap matanya yang berair. Darrel akhirnya menengok dan mengamati wajah yang kini berlinang air mata.


Darrel memandang Fera sejenak, sebelum akhirnya tangannya terulur untuk mengusap wajah Fera. Gadis yang diusap hanya memejamkan mata dan tersenyum, menikmati setiap sentuhan yang Darrel berikan. Dulu mereka hanyalah anak kecil yang merasa suka, namun kini setelah beranjak dewasa, Fera bisa merasakan kenyamanan ada di dekat Darrel.


" Jangan nangis," ujar Darrel singkat setelah selesai dengan tugasnya, Fera tersenyum dan mengangguk, gadis itu kembali menyender pada Darrel dan memejamkan matanya, menikmati aroma khas lelaki itu yang membuatnya jatuh cinta, Parfume Drrel tidak pernah ganti sejak terakhir kali mereka berpisah. Aroma yang membuat Fera rindu untuk bertemu, namun karna dia masih anak – anak tentu saja orang tuanya tidak mengijinkan.


" Darrel, kita mulai lagi dari awal yuk, aku tahu kamu masih suka sama aku kan? Aku gak pernah pacaran sama orang lain selama disana karna aku kira kamu masih nunggu aku, walau agak kecewa karna kamu gak nunggu aku tapi aku masih sayang sama kamu, kita mulai dari awal ya," ujar Fera penuh harap sambil memandang ke arah Darrel.


Darrel memandang ke arah mata Fera yang tampak penuh ketulusan, mata jernih yang penuh cinta, namun entah mengapa hati Darrel malah merasa sesak melihat hal itu, Fera sangat mirip dengan Luna, mungkin karna hal itu Darrel langsung menyukai Luna saat mereka bertemu kala itu. Apakah Darrel mencintai Luna karna gadis itu bayangan Fera?


Ya, awalnya begitu. Namun lama kelamaan Darrel bisa melupakan Fera dengan kehadiran Luna, dan lelaki itu bisa sungguh mencintai Luna pada akhirnya, namun kini Fera kembali. Cinta pertamanya, sekaligus cinta yang meruntuhkan segala hidupnya saat dia pergi. Mana yang harus Darrel pertahankan? Siapa yang sungguh Darrel cintai?


" Darrel? Kamu mau kan mulai dari awal sama aku? apalagi kita kan belum putus, gak akan sulit kan buat kamu cinta lagi sama aku?" Fera masih berusaha untuk meyakinkan Darrel. Darrel menghela napasnya dan mengusap pipi Fera.


~ Praangg


Darrel yang hendak mengatakan sesuatu langsung terdiam dan memandang ke arah luar rumahnya dimana suara itu berasal. Dia bangkit berdiri dan berlari dari sana, meninggalkan Fera yang masih kaget dengan suara keras itu.


Lelaki itu berdiri tepat di dekat pintu dimana sebuah guci kesayangan Dara pecah berkeping – keping, Darrel berusaha menengok kanan kiri untuk melihat siapa yang sudah memecahkan gucinya, mungkinkah hanya kucing? Karna tidak ada siapapun disini, Darrel menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan pecahan guci itu dengan kakinya yang memakai sandal, biarlah nanti dibersihkan oleh asisten rumah tangganya.


Darrel langsung berbalik untuk masuk ke dalam rumah lagi, namun langkahnya terhenti saat dia menemukan gelang kaki yang tak asing baginya, gelang kaki yang memiliki gantungan huruf 'L'. Darrel mmelototkan matanya dan langsung berlari ke arah halaman rumahnya, dia tampak menengok nengok kembali, lelaki itu langsung berlari ke samping rumahnya seperti orang gila, namun dia juga tidak mendapati apapun.


" ARRRGHHH!!!" Lelaki itu mulai emosi dan menendang pot yang ada disana, membuat pot tidak berdosa itu tergeletak dengan tanah yang sudah keluar kari tempatnya. Darrel mengacak rambutnya kesal dan melihat kembali gelang kaki yang dia bawa, dia sungguh yakin gelang kaki itu milik Lunetta, ya, Lunetta, gadisnya.


" Darrel? Siapa?" tanya seseorang dari arah belakang Darrel, lelaki itu berbalik dan menatap gadis itu dengan tatapan dingin, jauh berbeda dari beberapa saat lalu ketika dia menjadi hangat dan penuh kasih sayang. Dareel memasukkan gelang kaki itu ke kantong celananya dan mendekati gadis yang ada di depannya.


" Mending Lo pulang, gue mau istirahat."


" Tapi rel…"


Darrel tak memedulikan panggilan itu, kakinya melangkah masuk ke dalam rumah dan bahkan langsung menutup pintu dan menguncinya, seakan menegaskan pada Fera Darrel memang tak mengijinkan gadis itu masuk ke dalam rumahnya untuk saat ini. Fera hanya menghela napas dan memilih untuk pulang, dilihatnya kalung liontin yang ada di lehernya.


Meski cetakan foto yang ada di dalam sana bukan dirinya, dia akan membuat Darrel menjadi miliknya lagi, karna dia sungguh menyukai Darrel, bahkan gadis itu selalu menyalahkan orang tuanya karna kepindahan mereka menghancurkan semua yang Fera miliki, hingga dia memutuskan untuk kembali ke kota ini setelah bertemu dengan Darrel di Bali kala itu.


Sementara itu di tempat lain ….


Seorang gadis berjalan sesenggukan dan menundukkan wajahnya, tadinya dia berniat untuk meminta maaf pada mantan kekasihnya, namun yang dilihatnya sungguh menyayat hatinya, gadis itu langsung pergi dari sana setelah melihat mantan kekasihnya mengusap wajah wanita lain dan tampak sekali dalam pandangan matanya mantannya sangat menyukai gadis itu.


~ gruduk gruduk


Langit yang tadinya cerah kini mulai menggelap, bahkan suara guruh mulai terdengar di telinga Luna, gadis itu tertawa dan melihat ke arah langit, tawanya terasa hambar dan terdengar menyakitkan, siapapun yang melihat pasti langsung tahu gadis itu tidak sedang bahagia.


~ Duaaarr


Gadis itu berjongkok dan memegang telinganya, tangisnya semakin pecah karna luka dihatinya serta ketakutannya terhadap petir apalagi dia sedang berada di ruang terbuka. Gadis itu tetap menangis di jalanan yang sepi ini, tidak ada orang yang lewat aapalgi melihat Luna yang sudah seperti orang kehilangan akalnya.


" Kenapa disaat Luna udah buka hati buat kak Darrel kakak malah hancurin Luna kayak gini? Luna salah apa?? Hiks, hiks, sebegitu nyakitinnya kah Luna sampai kak Darrel balas Luna kayak gini? Hiks, hiks," Luna terus mengungkapkan ras sesak di dalam hatinya sambil tetap memukul dadanya sendiri.


Tak lama hujan pun turu, diawali dengan gerimis dan makin lama makin deras, Luna mendongak membiarkan air itu membasahi seluruh wajahnya, gadis itu membuka matanya dan melihat langit yang gulita, bahkan alam juga merasakan kesedihannya, alam juga tahu bahwa Luna sedang terluka dan alam meminta Luna untuk menangis bersama.


" ihik ihik, Sakiitt, sakit banget, kenapa setiap gue buka hati selalu aja hati itu dipatahin? Gue mau bahagia, gue mau bahagia, Tuha, Luna pengen bahagia sekalii aja sama cowok yang sayang sama Luna, kenapa bahagia nya sangat singkat? Kenapa Tuhan?" Luna memejamkan matanya dan menangis tersedu – sedu.


" Hiks, hiks, Kenapa hidup Luna selalu sedih? Kenapa? Hiks, hiks, sakittt."


Luna menangis semakin keras meski suara tangisnya dikalahkan oleh suara hujan, justru itu lebih bagus karna tak ada yang perlu mendengar tangisan Luna, biarlah gadis itu menyimpan lukanya sendiri, biarlah dia merasakan semua hal ini sendiri.


" Lunetta! Gilak Lo! Kenapa Lo ada disini?" suara berat membuat Luna mengangkat kepalanya, pandangannya mengabur dan dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang mengajaknya bicara.


" hiks, hiks, hiks," Luna hanya terisak dan tak tahu harus melakukan apa, Luna menebak lelaki yang di depannya adalah Annga, meski dia tidak melihat dengan jelas. Angga rela turun dari mobilnya dan basah basahan seperti ini untuk memastikan yang dia lihat tergeletak dipinggir jalan adalah manusia.


" Lo kenapa ada disini? Lo kenapa sampai kayak gini?" tanya Angga khawatir dan mengangkat tubuh Luna agar terduduk, lelaki itu melepas kemejanya dan menutupkannya ke kepala Luna, tidak peduli kini tubuhnya hanya dibalut pakaian dalam, meski sebenarnya kemeja itu tidak terlalu membantu karna tubuh Luna sudah basah kuyup.


Luna kembali menangis tersedu sedu dan menggeleng – gelengkan kepalanya, tak sanggup menjawab pertanyaan Angga, gadis itu bahkan merasa sakit di tenggorokannya dan pusing mulai menjalar di kepalanya.


" Ayo bangun," ujar Angga yang mengajak Luna berdiri, namun gadis itu menggleng kuat dan menolak untuk berdiri, seakan dia sedang menghukum dirinya sendiri dan berharap dia akan mati setelah ini.


" Lo bisa sakit kalau tetap disini, Ayo bangun, gue antar Lo pulang," ujar Angga yang merasa miris dengan keadaan Luna, sepertinya Angga tahu apa yang terjadi pada gadis itu. Untung saja Angga lewat jalan yang tidak biasa dia lewati saat ingin pergi ke rumah lelaki sialan itu, entah mengapa Angga ingin mengambil jalur memutar, dan ternyata feelingnya benar, dia menemukan Luna dalam keadaan seprti ini.


" Gak ada yang sayang gue kak! Buat apa gue hidup! Hidup gue udah terlalu menyedihkan, bahkan gue gak diijinin untuk bahagia sedikiiitt aja, buat apa gue bertahan?" Angga terkejut mendengar Luna yang tampak frustasi, Angga tidak pernahmelihat Luna serapuh dan sehancur ini, dan yang membuat Angga marah adalah semua ini karna sahabat brengseknya.


Tanpa basa – basi Angga langsung memeluk Luna dan membuat Luna bersandar di dadanya, tangis yang tadi sempat Luna tahan sebentar langsung pecah, gadis itu menangis kencang sambil memukul – mukul dada dan pundak Angga, Angga yang dipukul meski tak salah apapun hanya pasrah membiarkan Luna meluapkan semua rasa sakitnya hingga gadis itu lega.


Tangis Luna mereda dan dia tidak memukul Angga lagi, membuat Angga melega karna gadis itu sudah tidak mengamuk seperti orang gila, namun kelegaan itu berubah menjadi kekhawatiran karna Luna seakan tak memiliki tulang dan menumpukan berat tubuhnya ke dada Angga, lelaki itu mendorong sedikit tubuh Luna dan mendapati tubuh gadis itu lemas dengan mata terpejam rapat.


" Shit!" umpat Angga sambil menggendong Luna Ada bridal style, membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari tempat itu segera. Angga membawa Luna ke klinik terdekat agar mendapat penanganan segera. Angga berlari sambil menggendong Luna masuk ke dalam tempat itu dan meminta dokter segera menangani Luna.


" Pasien tidak apa apa, hanya tubuhnya yang lemah sedikit kelelahan dan sepertinya pasien sedang banyak pikiran, untuk menjaga kesehatan, pasien harus bisa menjaga pikriannya agar stabil, tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran, saya akan buatkan resep untuk menurunkan demam pasien dan vitamin untuk daya tahan tubuh pasien."


" Terima kasih banyak dokter, terima kasih," ujar Angga dengan sopan sambil menjabat tangan dokter itu, dokter itu tersenyum dan pamit untuk membuatkan resep yang nantinya akan diambil oleh Angga untuk ditebus ke bagian obat.


" Lo itu kenapa? Apa yang dilakuin si brengsek sampai Lo kayak gini?" tanya Angga pelan sambil mengelus rambut Luna yang masih basah. Rambut gadis itu terasa dingin, berbanding terbalik dengan wajah gadis itu yang terasa sangat panas.


" Lo udah sayang sama dia ya? Kenapa kisah kalian kayak roman picisan sih? Sekalinya Lo udah cinta sama dia, malah dia yang bego sama pikirannya. Lo tenang aja, gue rasa Darrel cinta nya sama Lo, dia Cuma lagi bingung aja, Lo sabar dikit lagi ya."


Luna mulai siuman dan membuka matanya perlahan, sementara Angga langsung menarik tangannya tak ingin ada salah paham jika Luna melihatnya mengelus kepala gadis itu, Angga sungguh hanya merasa iba dan menganggap Luna dik kecilnya, tak ada rasa lebih dalam diri Angga untuk Luna.


" Kenapa Lo bisa ada dipinggir jalan kayak orang nyaris waras gitu?" tanya Angga saat Luna sudah sepenuhnya sadar dan mulai menampakkan wajah sedihnya lagi, wajah sedih yang membuat Angga entah mengapa ikut merasa terluka.


" Bukannya nanya Luna baik – baik aja atau enggak, malah nanya kenapa Luna ada disana," ujar Luna pelan sambil mengerucutkan bibirnya, Luna merasa kedinginan di ruang ini hingga dia menutup tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher, apalgi tubuhnya masih basah.


Angga yang melihat itu dengan sigap mengambil remot AC dan mematikan benda itu agar Luna tidak tambah kedinginan, Luna tersenyum karna Angga peka dengan apa yang dia rasakan, seperti Luna sedang bersama dengan bnag Jordan. Sifat dewasa yang dimiliki Angga persis dengan sifat abangnya.


" Gue udah dengar keadaan Lo dari dokter, lebih akurat, dan sekarang gue Cuma butuh jawaban kenapa Lo bisa ada disana? Hujan – hujanan dan nangis kayak orang gila?"


Luna menggeleng pelan enggan menjawab pertanyaan Angga karna tak ingin lelaki itu marah pada Darrel, dia tak akan membiarkan Darrel dalam masalah lagi, apalagi mereka bersahabat. Luna juga tidak ingin Darrel yang sudah bahagia dengan keputusannya menjadi bimbang lagi karna ulahnya.


" Kak, kayaknya Luna nyerah aja deh," ujar Luna yang membuat Angga terkejut seketika.