Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 24



" Kondisi tubuh Radith memang makin membaik, namun dia tetap harus melakukan terapi jalan dan melihat. Untuk sementara saya akan menyiapkan kacamata agar Radith tidak buram saat melihat. Radith juga harus memakai salep mata untuk membantu Radith melihat." Dokter mengarahkan senter ke bola mata Radith dan membisikkan sesuatu pada suster, suster tersebut mencatat apa yang dokter katakan dan mereka pergi dari sana saat selesai.


" Lo dengar sendiri kan? Mata Lo gak baik – baik aja, gitu Lo masih bilang kalau Lo bakal pulih. Untung aja gue panggil dokter dan paksa Lo buat periksa." Luna dengan semangat mengomeli Radith yang menutup telinganya rapat – rapat. Lelaki itu tampak tak ingin mendengarkan ocehan Luna.


" Lo tuh kalau diomelin bukannya jawab malah pura – pura gak dengar, kalian tuh." Luna yang kesal langsung menatap Radith dengan tajam, namun lelaki itu masih menanggapi Luna dengan santai. Lelaki itu mengambil ponselnya dan dengan susah payah membalas pesan – pesan yan gada di sana. Luna langsung naik darah dan merebut ponsel itu.


" Lo tidur sekarang. Gue mau balik, ponsel Lo gue bawa dan besok gue kembaliin, selamat malam Radith," ujar Luna sepihak dan memasukkan ponsel Radith ke dalam tasnya. Lelaki itu tentu saja melongo dan langsung protes dengan apa yang Luna lakukan.


" Lo tuh melanggar hak priivasi gue. Gue bisa laporin Lo ke kantor polisi. Siniin ponsel gue, kembaliin ke gue. Lunetta, Lo nyebelin banget," ujar Radith yang berusaha merebut ponselnya, namun Luna berjalan mundur dan Radith tak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk turun dari karus dia kesusahan, apa mungkin dia bisa mengejar gadis itu? Mustahil.


" Lo tidur sekarang karna ini udah malam, besok pagi – pagi gue kemari buat nemenin Lo terapi, sekalian ngembaliin ponsel," ujar Luna dengan santai, membuat Radith tak bisa menjawab lagi. Lelaki itu memilih diam dan membiarkan saja Luna yang memberesi barangnya dan langsung pergi dari kamar lelaki itu. Radith terdiam untuk memastikan gadis itu sudah jauh dan tak kembali lagi.


" Ada untungnya Lo ****," ujar Radith dengan tenang dan engeluakran ponsel yang dia sembunyikan di bawah bantal. Lelaki itu mulai mengotak atik ponselnya, dia harus segera menghubungi sekretaris dan penggantinya selama dia sakit, memastikan semua berjalan dnegan baik dan lancar. Setelah memastikannya, Radith langsung mengeluarkan headset dan menyetel lagu yang membantunya untuk tidur.


*


*


" Radith! Ternyata Lo punya ponsel lain? Lo tuh susah banget ya dibilanginnya," ujar Luna yang entah sejak kapan sudah ada di dalam kamar Radith. Lelaki itu bahkan terkejut dengan kehadiran Luna. Dia kira Luna akan datang agak siang, ternyata gadis itu datang sepagi ini. Dia tak sempat menyembunyikan ponselnya.


" Udah gak papa. Gue Cuma nyetel lagu biar bisa tidur. Gue insomnia, kalau gak pakai lagu gak akan bisa tidur. Gue langsung tidur kok setelah nyetel lagu, beneran deh," ujar Radith yang memang tak berbohong, dia hanya tak menyebutkan kegiatannya sebelum menyetel lagu.


Luna pun percaya dan mengalah. Tidak penting berdebat tentang hal ini. Lebih baik mereka fokus pada terapi yang akan dilakukan oleh Radith. Lelaki itu selalu menolak untuk terapi dan pengobatan karna mengira dia akan sembuh dengan sendirinya. Nyatanya tidak, dia ttak kunjung pulih, membuat Luna memaksanya melakukan ini.


" Eh besok gue harus nginap di rumah Key, lusa dia udahnikah, jadi mungkin besok dia gak bisa tidur. Gue gak ke sini, Lo jangan nyariin gue," ujar Luna yang membantu Radith mengambilkan makanannya. Lelaki itu bisa makan sendiri, dia meminta Luna menyuapinya karna ada Karin kemarin.


" Kan emang gue gak pernah minta Lo ke sini. Lo aja yang maksa buat temenin gue," ujar Radith tanpa dosa. Lelaki itu memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan makan dengan tenang. Luna yang selesai membalas pesan di ponselnya langsung melihat ke arah Radith.


" Gue mau tanya serius. Lo bisa makan sendiri tapi kemarin nyuruh – nyuruh gue itu karna Karin? Lo benci sama dia atau gimana? Padahal dia baik loh, gue ngerasa bisa temenan sama dia," ujar Luna yang membuat Radith tersedak. Lelaki itu meminta Luna mengambilkan minum dan air itu membasahi tenggorokannya, membuat dia berhenti terbatuk.


" Lo gak boleh berteman sama dia, apapun alasannya. Lo gak boleh dekat sama dia atau cerita apapun lagi ke dia. Gue gak suka sama dia, catat itu," ujar Radith dengan serius, membuat Luna makin bingung dan penasaran. Memang apa yang terjadi sampai Radith seperti sangat membenci Karin?


" Lo gak perlu tahu dan gak perlu tanya kenapa. Yang jelas gue ngelakuin semua buat lindungin Lo, gue harap Lo mau nurut dan gak banyak tahu," ujar Radith mendadak serius, membuat Luna merinding dan mengangguk, dia tak mau Radith marah, dia tahu keluarganya hanya ingin melindunginya.


" Apa ini ada kaitannya sama salah satu pengawal yang jadi pengkhianat? Ini ada hubungannya sama dia?" tanya Luna yang membuat Radith sedikit tersentak. Lelaki itu menatap Luna serius, dari mana Luna tahu tentang hal ini? Semakin sedikit yang gadis itu tahu, semakin aman posisi gadis itu, itulah alasannya mereka tak mau memberi tahu Luna apapun.


" Lo tahu dari mana? Gue udah bilang gak usah kepo tentang apapun. Kalau ada yang perlu Lo tahu, kami akan kasih tahu. Kenapa susah banget sih Lun untuk nurut?" tanya Radith yang menurut Luna sangat kasar, padahal Radith mengatakannya dengan nada santai ( tidak ngegas).


" Kenapa Cuma gue yang gak boleh tahu semua? Bahkan Danesya tahu banyak hal. Danesya terlibat dan gue enggak. Kalian semua tahu banyak hal dan bisa melindungi diri kalian, tapi gue? Di sini gue kayak bayi yang kemana – mana dilindungin tanpa tahu apapun," ujar Luna dengan sengit.


" Ya karna Lo emang masih bayi. Tingkah Lo belum dewasa dan Lo masih ceroboh. Kasih tahu banyak hal atau libatin Lo dalam masalah ini gak akan membantu apapun. Jadi tolong, kalau Lo gak bisa bantu, Lo gak usah nambah beban, bisa kan?" tanya Radith dengan nada pelan agar tak begitu menyakiti Luna.


" Maaf Lun, semua demi Lo sendiri," ujar Radith yang turun dari kasurnya perlahan. Lelaki itu ingin mandi karna hari ini dia harus melakukan terapi, dia tak bisa menemui orang – orang dengan badan yang kotor dan bau. Lelaki itu mandi dengan susah payah dan kembali ke kasurnya untuk melihat ponsel yang tadi terus berbunyi.


Lelaki itu langsung melakukan panggilan ulang dnegan orang yang menelponnya. Tangan Radith langsung terkepal kuat dan melempar ponselnya ke kasur. Luna yang baru masuk tentu kaget dengan apa yang dilakukan Radith. Lelaki itu langsung berjalan pincang ke sofa dan duduk di sana. Luna menunggu radith untuk membuka suara karna dia sendiri takut untuk bertanya.


" Orang yang berkhianat di keluarga Wilkinson bunuh diri, gue gak tahu dia bunuh diri atau dibunuh, yang jelas dia tewas. Kita gak punya petunjuk lain, seakan smeua yang mau kita kupas langsung tertutup Rapat. Gue harus gimana Lun? Gue pusing," ujar Radith yang memegang kepalanya yang berdenyut. Satu – satunya petunjuk sudah hilang.


" Karna gue ya dith? Maaf, gue gak tahu kalau jadinya kayak gini," ujar Luna yang membuat Radith langsung sadar sesuatu. Dia bertanya pada Luna mobil apa yang gadis itu gunakan saat orang kepercayaan Wilkinson memberi tahunya informasi tersebut.


" Gue yakin di mobil itu ada alat penyadap dan semacamnya, karna dia yang kasih tahu Lo info itu juga udah tewas. Gue yakin pelakunya udah mempersiapkan semuanya dengan rapi. Lo tahu? Ini bukan sekadar orang yang mau celakain gue, ini tentang mereka yang mau celakain kita semua. Kita semua," ujar Radith dengan wajah yang serius.


" Semua? Mak.. maksudnya gak Cuma Lo dan gue, tapi satu keluarga Wilkinson?" tanya Luna tergagap. Dia bahkan tak berani membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Apakah masalah keluarganya hanya berputar di masalah seperti ini? Pembalasan dendam, masalah bisnis, begitu sampai Luna sendiri lelah menghadapinya.


Bagaimana tidak? Apa hubungan Luna dengan semua itu? Kenapa papa dan kakaknya memilih jalan hidup yaang seperti ini? Bahkan Ibu Adel pun harus tewas karna persaingan bisnis. Sampai kapan siklus seperti ini menghantui Luna dan orang – orang yang ada di sekitarnya? Luna sama sekali tak mengerti dengan ini semua.


" Lo gak usah pikirin semua, yang jelas Lo harus hati – hati, serahkan ini ke Gue, Darrel, Bang Jordan dan papa Lo. Walau butuh waktu lama, kami bakal usut tuntas masalah ini. Lo mau kan percaya dan gak kepo tenntang apapun?" tanya Radith yang diangguki oleh Luna. Kali ini Luna harus menurut agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


" Lo gak perlu temenin gue terapi, mending Lo pulang. Lo kan harus nginap di rumah temen Lo," ujar Radith yang membuat Luna menggelengkan kepalanya. Gadis itu membantu Radith berdiri dengan menggandeng erat lengan lelaki itu.


" Gue pingin lihat proses Lo terapi, toh suatu hari nanti gue juga harus neglakuin hal yang sama. Mau cepat atau lambat, ataksia gue pasti kambuh dan gue bakal lumpuh. Gue harus terapi kayak Lo kalau mau jalan," ujar Luna yang tiba – tiba membuat Radith merasa sedih.


" Lo gak boleh ngomong kayak gitu. Bokap Lo yang jelas – jelas punya ataksia aja gak kambuh – kambuh sampai se tua itu. Gak menutup kemungkinan Lo gak akan kambuh sampai Lo tua," ujar Radith dengan bijaknya.


" Yah, Lo benar, tapi nyatanya bokap tahu dia punya ataksia karna gue dulu yang kambuh. Siapa yang tahu sih dith? Walau gue positif thinking, gue tetap waspada dan siap – siap biar gue gak kaget kalau one day gue bakal ngalamin itu," ujar Luna sambil tersenyum.


" Ya udah ya udah, gak usah dibahas. Kalau Lo mau lihat ya udah lihat aja, tapi gak usah bawa – bawa kambuh, gue ngeri dengarnya," ujar Radith yang membuat Luna terkekeh ringan.


Mereka keluar dari kamar inap Radith menuju ke tempat terapi. Luna senantiasa menemani Radith belajar berjaan dengan tegak, meski wajah lelaki itu kesakitan, Radith tetap melakukannya dengan baik. Dia ingin segera sembuh dan pergi dari tempat ini.


" Ya, seperti itu, coba sekarang kamu berjalan tanpa bantuan tongkat dan Luna tolong mundur biar dia bisa jalan sendiri," ujar Dokter yang dituruti oleh Luna, gadis itu memundurkan tubuhnya dan Radith mulai berjalan sendiri, meski pelan lelaki itu tetap semangat melakukannya.


" Wah, Radith semangat sekali ya terpainya. Pasti karna ditemani sama pacarnya. Kalian beruda cocok sekali," ujar dokter yang membantu Radith terapi. Luna dan Radith saling berpandangan dan langsung meenggelengkan kepalanya cepat.


" Dokter pasti dokter baru ya di sini? Dia udah punay tunangan Dok, jadi gak mungkin kami pacaran, hehehe," ujar Radith yang tersenyum canggung, sementara Luna hanya mengangguk, membenarkan apa yang Radith katakan.


" Iya dok, gak mungkin saya ada apa – apa sama dia, saya aja alergi sama dia. Orangnya menyebalkan, pantas aja jadi Jomblo veteran dok," ujar Luna yang masih sempat – sempatnya menggoda Radith, lelaki itu hanya memutar bola matanya mendengar ejekan Luna.


" Oh maaf, saya gak tahu, hehehe," ujar Dokter yang mendekat ke arah Radith lalu membantu lelaki itu agar dapat berdiri tegak, namun ternyata dokter muda itu malah membisiki sesuatu yang membuat Radith salah tingkah. Dokter itu berbisik


" Selama Janur kuning belum melengkung, ada kesempatan untuk menikung. Saya tahu kamu suka sama dia."