
Sudah dua hari di tempat Lucy, Luna baru ingat jika dia belum menyalakan ponselnya, pantas saja tak ada kabar dari Darrel, ternyata memang salahnya yang tak menyalakan ponsel itu. Baiklah Luna, sekarang bukan waktunya berburuk sangka atau menuduh Darrel dengan hal yang tidak baik, mengingat banyakhal buruk yang sudah terjadi karna kesalah pahaman mereka.
Gadis itu langsung mendapat banyak notif panggilan tak terjawab dan pesan dari Darrel yang mencarinya, lelaki itu menjelaskan detail pertemuannya dengan gadis yang entah siapa, lelaki itu menegaskan dia tidak mengenal atau bahkan memberikan nomor ponselnya pada gadis itu. Luna yang membaca pesan itu langsung melega dan tanpa sadar melebarkan senyumnya. Sebegitu takutnya Darrel akan membuat Luna salah paham – lagi-
Luna langsung menekan tombol panggilan dan mencoba untuk menghubungi Darrel, namun ponsel lelaki itu mendadak tak aktif. Luna melakukan hal yang sama dan mencoba untuk menelpon Radith, namun hasilnya juga sama. Seketika itu Luna merasa khawatir dan mencoba untuk menghubungi nomor Darrel berkali – kali meski hasilnya tetap sama.
" Kenapa Lun?" tanya Adel ynag kebetulan keluar untuk mencari sinyal, namun dia malah melihat Luna yang gelisah dan berkali – kali mencoba untuk menelpon seseorang. Luna menjawab bahwa dia berusaha menelpon Darrel, namun nyatanya lelaki itu tak menjawabnya sama sekali, bahkan nomornya tak aktif.
" Gue khawatir, gimana nih? Terakhir kak Darrel ngabarin kalau dia pulang, tapi kenapa sekarang malah gak bisa ditelpon? Kalau mereka kenapa – apa gimana dong? Radith gak bisa ditelpon juga soalnya," ujar Luna dengan paniknya. Adel terkejut mendengar hal itu, namun dia mencoba tenang dan tak menambah panik keadaan yang ada.
" Lo tenang dulu, bisa aja ponselnya mati dan dia lupa charge, atau mereka lagi liburan terus gak ada sinyal sama sekali, semua bisa aja kan?" tanya Adel yang mencoba untuk berpikir positif, dia memberikan pemikiran positif agar Luna tak semakin panik. Adel bahkan mengambil ponsel Luna dan mencoba untuk menghubungi Darrel maupun Radith meski hasilnya sama saja.
" Nona Lunetta." Tiba – tiba datang salah seorang pengawal yang membuat Luna dan Adel menengok kaget. Orang itu tampak ragu untuk menyampaikan sesuatu, namun setelah Luna mendesak, akhirnya orang itu menyampaikan informasi yang dia dapat. Seketika Luna lemas, kakinya tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Adel bahkan tampak terpaku dan ikut melemas mendengar kabar itu.
" Kak Darrel," ujar Luna dengan suara yang bergetar.
*
*
*
Sudah ber jam – jam Radith merangkai panel tersebut sampai selesai dan mengetesnya. Namun ternyata rangkaian belum bekerja sempurna, membuatnya melepas dan merangkai ulang di beberapa bagian, begitu sampai akhirnya panel dapat beroperasi dengan sempurna.
" Dith, makan dulu, udah tinggal dulu, orang selesainya masih lama juga," ujar Darrel yang memanggil Radith, membuat lelaki yang dipanggil mengangguk dan berjalan ke arah Darrel. Mereka pergi dari sana untuk mencari tempat makan terdekat.
" Luna gimana? Masih marah?" tanya Radith di sela – sela mereka makan. Darrel tampak lesu mendengar pertanyaan itu, dan dia menggeleng sebagai jawabannya. Radith tahu Luna marah pada Darrel karna wajah Darrel yang berubah pasi saat tadi tiba – tiba Luna mematikan panggilan. Yah, Radith sudah cukup paham dengan karakter Luna yang ceroboh dan suka menyimpulkan sesuatu secara sepihak, wajar saja jika sering terjadi kesalah pahaman.
" Yaudah sabar aja, bentar lagi juga baikan, kalau memang dia gak baik juga tinggal Lo kasih yang dia suka kak. Dia kan gampang disogok pakai begituan, Lo santai aja," ujar Radith yang memang tampak mengerti apa yang dibutuhkan oleh Darrel.
" Kok Lo malah tahu banget sih?" Tanya Darrel yang tampak dan terdengar sinis pada Radith. Lelaki itu menghela napasnya dan meraup wajahnya sendiri dengan tangan. Kini Dia yakin jika Darrel dan Luna memang berjodoh. Mereka memiliki kemiripan dalam berpikir dan menyimpulkan asumsi mereka sebagai kebenaran. Sungguh menyebalkan.
" Gue udah hampir satu tahun satu kelas sama dia, gue tahu karakter orang bahkan Cuma beberapa kali ketemu atau ngobrol. Lah ini? Gue udah setahun kak, wajar lah gue tahu dia itu gimana, kenapa Lo natap gue seakan gue ngerebut bini Lo?" tanya Radith dengan sewot yang membuat Darrel mengubah air mukanya jadi biasa saja.
" Semoga yang Lo bilang bener deh, gue kayak ada trauma gitu kalau dia salah paham. Gak mau lagi gue harus sampai depresi gitu kehilangan dia," ujar Darrel yang bergidik membayangkan kemungkinan terburuk itu. Darrel memasukkan lagi sesuap nasi beserta lauk ke dalam mulutnya sambil melihat Radith yang ternyata terus memandangnya.
" Lo sayang banget sama dia ya kak?" tanya Radith yang tanpa sadar terus memandang Darrel. Dia tak pernah menyangka Darrel akan sesuka itu pada Luna, seakarang dia jadi merasa seperti orang jahat karna sering menggodanya dengan mengatakan Luna masih menyukainya.
" Iya lah, cinta pertama gue mungkin emang Fera, tapi bisa juga Fera itu cinta monyet gue. Entah apapun itu, sekarang Cuma Luna yang bener – bener jadi fokus gue, bahkan gue rela lepasin apapun demi dia. Bego emang, tapi ya mau gimana lagi, udah jadi bucin gue sejak kenal dia," ujar Darrel tanpa beban, membuat Radith terkesima dan tak bisa menjawab pernyataannya.
" Lo kayak gitu gak ke Blenda?" tanya Darrel karna Radith tak merespon dirinya lagi.Radith tampak tersentak dengan pertanyaannya, bahkan lelaki itu langsung terdiam dan tak bisa merespon dengan cepat seperti yang Darrel lakukan.
" Kalau dibilang sayang iya kak gue sayang. Tapi jujur aja gue gak bisa bilang itu rasa sayang yang kayak gimana. Gue takut kehilangan dia, apalagi sekarang dia sakit parah. Stiap dia kesakitan gue pasti ikut ngerasain kesakitan itu, dan setiap dia sehat, mood gue ikut naik. Gue gak berani bilang gue sayang dia sebagai pacar, mungkin karna gue terlalu terbiasa sama dia, makanya gue gak mau kehilangan dia."
" Jadi, Lo sayang sama dia sebagai orang yang terbiasa Lo lihat? Cenderung sayang sebagai adik dong kalau gitu?" Tanya Darrel yang terkejut dengan pernyataan Radith. Baru kali ini Darrel melihat Radith bingung dan gelisah. Biasanya lelaki itu tampak tenang dalam situasi apapun, kini tampak sekali mata Radith penuh keraguan.
" Gak tahu juga kak, gue bener – bener gak tahu, yang jelas gue mau dia terus ada di samping gue, dan keadaannnya dia langsung membaik waktu gue minta dia jadi pacar gue, walau habis itu dia drop, dia terus ada tekat buat membaik kalau ada gue. Gue sadar dia butuh gue, dan gue dengan senang hati kasih semua waktu gue buat dia, bahkan pernah gue ninggalin Luna di parkiran karna Blenda drop waktu itu."
" Waktu itu Lo kayak bngst banget sih dith, Lo tinggalin dia sendirian, dan parahnya dia nungguin Lo sampai petang, kalau gue gak lewat kesana, dia pasti bakal nangis – nangis dan tetap diam disitu sampai malam, atau bahkan sampai besoknya," ujar Darrel ketika mengingat kembali hancurnya Luna kala itu, sampai dia sendiri langsung meninggalkan rapat penting untuk mengantar Luna pulang.
" That's why kak, gue ngerasa bersalah banget sampai akhirnya gue berusaha bikin dia benci sama gue, gue sadar diri kalau gue punya hati buat dijaga, dan gue gak bisa bikin Luna terus suka sam ague dan akhirnya dia luka sendirian, sakit sendirian, gue gak mau kak," ujar Radith dengan pandangan mata menerawang.
" Tapi Lo suka sama Luna?" tanya Darrel yang langsung tepat sasaran. Radith langsung menengok kaget dan menatap Darrel yang juga menunggu jawaban darinya. Radith tampak berpikir, dia tak tahu apa yang dia rasakan terhadap Luna.
" Gue gak tahu gue suka atau enggak sama dia, yang jelas gue awalnya penasaran sama dia sejak pertemuan pertama gue sama dia yang gak enak. Eh malah keterusan gue suka lihat dia kesal sama gue yang tengil, menurut Lo kayak gitu artinya suka gak?" tanya Radith yang membuat Darrel menggeleng pelan.
" Gue gak tahu ya, gue juga gak pengalaman sama masalah kayak gini, Lo salah kalau tanya ke gue," jawab Darrel yang sama sekali tak terganggu dnegan topik pembicaraan ini. Radith melihat jam di tangannya dan langsung terkejut. Lelaki itu segera menyelesaikan makannya dan langsung kembali ke tempat perlombaan bersama Darrel.
Radith melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Lelaki itu mulai merakit robot setelah meletakkan chip berisi program sensor untuk alat itu. Akhirnya Radith dapat menyelesaikannya saat waktu menunjukkan pukul 00.30 waktu setempat. Radith menggunakan sisa waktu yang ada untuk tidur dan besok dia akan mencoba menyalakan alat yang dibuatnya.
Radith bangun pukul 6 pagi, satu jam sebelum penilaian dimulai, lelaki itu mencoba untuk menyalakan dan menjalankan robot beroda untuk menjatuhkan beberapa balok sebagai obyek penilaian. Mereka yang bisa menjatuhkan balok lebih banyak adalah juaranya. Namun semua itu harus menggunakan sensor untuk menggerakkan robot beroda itu.
Semua berjalan lancar dan semestinya. Darrel sangat puas dengan hasil karya Radith, ternyata memang tak salah mereka mempercayakan Radith untuk mengikuti Lomba ini, nyatanya memang Radith memiliki nalar dan insting yang luar biasa. Bahkan dia bisa mengimprove sendiri rangkaian yang ternyata masih salah itu. Kini mereka tinggal menunggu waktu habis dan bisa sedikit bersantai.
" Pak Komang mana sih?" tanya Radith yang baru menyadari pak Komang yang entah dimana. Darrel juga mencari guru itu, dan kahirnya dia ingat pesan pak Komang padanya. Lelaki itu terdiam cukup lama dan akhirnya meminta Radith tak memikirkan hal itu, yang perlu mereka pikirkan adalah fokus dan berdoa agar penjurian berakhir baik.
Tibalah saat penjurian yang membuat Darrel gelisah, bukan perkara hasil Radith, namun dia memiliki feeling tak enak. Seakan semua tak akan berjalan baik setelah ini. Entah apa yang akan terjadi, namun sepertinya memang bukan hal baik. Radith menyelesaikan penilaiannya dengan satu program yang nyaris sempurna, namun masih ada sedikit kesalahan meski tak fatal.
" Pemenang untuk LKS Bidang Elektronika Industri dan akan mewakili provinsi di tingkat nasional adalah ….."
" SMK BHAKTI !!!"
Namun kepala Radith kembali menegak karna ada salah seorang panitia yang membisikkan sesuatu ke pembawa acara dan pembawa acara itu menyampaiakn pesan yang membuat satu ruangan itu terkejut dan berbisik satu sama lain.
" Karena ada beberapa hal yang perlu dibahas oleh Juri dan panitia. Pengumuman juara untuk LKS bidang Elektronika ditunda dan kejuaaran untuk SMK Bhakti sementara ini dianulir. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya, mari kita tunggu juri menyampaikan hasil diskusinya lagi," ujar pembawa acara yang membuat satu ruangan itu terkaget.
Mereka menunggu sekitar lima belas menit. Lima belas menit yang penuh ketegangan dan lima belas menit yang panas bagi juri dan panitia. Akhirnya pembawa acara itu naik lagi ke panggung membawa hasil baru yang berisi pemenang sesungguhnya dari LKS ini.
" Sangat disayangkan karna LKS adalah Lomba untuk membuktikan keterampilan siswa dan menunjukkan bahwa sekolah tersebut memang berkualitas baik dan memiliki siswa yang unggul. Namun ternyata dalam Lomba ini ada saja oknum yang menodai kejujuran dalam jalannya Lomba. Dikarenakan adanya kecurangan yang dilakukan oleh SMK Bhakti, maka dengan ini gelar juara yang seharusnya menjadi milik SMK Bhakti resmi dianulir."
Radith langsung memandang Darrel dan pembawa acara itu secara bergantian, seakan memiliki harapan lagi untuk memenangkan lomba ini. Mereka masih menunggu hasil tersebut dengan perasaan tak nyaman dan tak sabar lagi.
" Dengan ini SMK Bhakti resmi di diskualifikasi dan otomatis masuk ke daftar black list. Juri dan panitia memutuskan bahwa SMK Bhakti tidak akan pernah bisa mengikuti LKS bidang Elektronika Industri sampai kapan pun di masa depan." Keputusan yang menggemparkan itu membuat pihak SMK Bhakti merasa malu dan langsung meninggalkan ruangan itu diiringi sorakan benci dari peserta lain.
" Karena SMK Bhakti di diskualifikasi, maka peserta yang ada di peringkat dua akan menjadi juaranya. Dan peserta itu adalah siswa dari ………….. SMK TARUNAAA!!!!" Radith langsung menegakkan kepalanya dan terkejut namanya disebut oleh panitia itu.
Lelaki itu maju ke depan dan melakukan prosesi kejuaraan dan siap untuk mengikuti pelatihan LKS Nasional mewakili provinsi itu, namun karna waktu Lomba masih lama, lelaki itu diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu ke kota asalnya.
Radith dan Darrel membereskan rumah penginapan mereka tanpa pak Komang karna guru itu harus ijin pulang ke pulau asalnya untuk urusan keluarga yang mendesak, entah apa itu karna mereka tak bertanya lebih lanjut. Yang jelas akan ada supir yang menjemput mereka untuk kembali ke kota asal mereka.
" Kok feeling gue rasanya gak enak ya ka?" tanya Radith sambil membawa kopernya kelaur dari dalam lemari. Lelaki itu duduk di meja makan dan membuat satu tumpuk roti untuk mengganjal perutnya yang tiba – tiba lapar. Darrel mengecek barang bawaannya di dalam ransel dan koper besar itu.
" Perasaan Lo aja kalik, gak mau balik dari sini kan Lo? Hahaha, gue sebenernya juga betah disini, tapi gimana lagi, gue udah kangen banget sama Luna, jadi gue mau segera pulang dan menemui pujaan hati gue itu," ujar Darrel dengan wajah yang membuat Radith merasa jijik.
" Lo gak geli sih kak kayak gitu? Gue yang dengar aja jijik banget Loh kak," ujar Radith sambil memasukkan satu gigitan besar roti ke dalam mulutnya. Darrel tertawa puas dan mengambil ponselnya untu kmengabari Luna bahwa dia akan pulang, meski ponsel Luna masih saja tak aktif.
Lelaki itu sudah memesan sebuah boneka yang sangat besar, bahkan boneka itu berisi suaranya saat sedang menyanyi, diperkirakan boneka itu akan sampai di rumah Luna tiga hari lagi, Darrel berharap hadiah itu akan mengobati rasa kesal Luna apda dirinya, dan membuatnya bisa bermesraan lagi dengan Luna, astaga Darrel.
Tak alam berselang, sebuah mobil berhenti di penginapan mereka dan membantu mereka untuk menaikkan barang bawaan, berpamitan pada pemilik penginapan, tak lupa mengucapkan terimakasih dan memberikan sedikit bingkisan untuk pemilik itu. Mereka menaiki mobil dan meninggalkan tempat itu untuk pulang ke Ibu kota.
Darrel memakai earphone nya dan mendengarkan lagu untuk mengusir kebosanan selama perjalanan. Lelaki itu memainkan ponselnya dan kembali mencoba menghubungi Lunetta, namun ponselnya langsung terjatu hsaat supir mobil tersebut oleng. Bahkan Radith yang tertidur langsung terbangun seketika.
" Kenapa pak?" tanya Darrel dengan panik, Radith yang belum bangun sempurna tampak menyesuaikan matanya dengan keadaan sekitar.
" Mobil di belakang dari tadi coba buat nyebelahi kita mas, terus nempel – nempel ke mobil ini, tadi ada lubang jadi agar oleng," ujar supir itu yang membuat Darrel menengok ke arah belakang dan mendapati mobil yang dimaksud oleh orang itu. Darrel memelototkan matanya karna mobil itu mendorong bamper mobil yang ditumpangi Darrel
" SAKIT JIWA!!" Teriak Darrel sambil membuka jendal dan menengokkan kepalanya keluar lalu masuk lagi ke dalam mobil. Namun mobil itu tak menghentikan aksinya, mobil itu kembali menabrak – nabrak mobil yang ditumpangi Darrel.
Sampai akhirnya tabrakan keras terjadi, membuat mobil yang ditumpangi Darrel dan Radith oleng dan masuk ke dalam jurang yang curam. Tak lama berselang, terdengar suara ledakan dan asap hitam mengepul di hutan berantah itu.
Kaca mobil yang menabrak mobil Darrel terbuka, menampakkan sorang yang cukup berumur tersenyum licik dan sinis. Sebelum meninggalkan tempat itu, orang itu berkata,
" Rasakan. Itu adalah akibat kalian mengambil gelar juara yang seharusnya milik siswa didikku. Bawalah gelar juara itu ke neraka."
*
*
*
HAAAAHHH?!!!!!! RADITH!!!! DARREL!!!! Gimana nih guys:"( Selamatkah mereka? Atau? atau?
Kalau penasaran tunggu kelanjutannya ya, tapi Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain.
Adella
T(w)o Heart
Miss galak, Iove you
Ex lover
Soulmate
Thank you....
Love,
Eliz