Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 46



Darrel sampai di rumah Luna, lelaki itu harus mengikuti proseurr pemeriksaan seperti Luna. Lelaki itu sudah pernah datang ke rumah ini sehingga dia tidak merasa kaget atau canggung. Lelaki itu merasa tubuhnya sedikit hangat sehingga sempat terjadi masalah saat pemeriksaan kesehatan. Luna tahu Darrel sudah kelelahan hingga gadis itu malah menjadi marah pada mereka.


" Maaf nona, tapi kami sudah melakukannya sesuai prosedur. Tuan besar meminta siapapun yang sakit tidak boleh masuk ke rumah ini agar tidak membawa bibit penyakit untuk pihak keluarga lain. Mohon nona mengerti," ujar orang itu dengan sopan. Luna hendak menjawab, namun gadis itu mengurungkan niatnya saat segerombolan mobil berhenti di depan rumah Luna.


" Wah, anak Daddy sudah sampai di Sini. Kenapa tidak memberi tahu Daddy kalau sampai?" tanya orang itu tersenyum lebar, namun Luna tak menggubris orang itu, Luna menarik napasnya dalam – dalam, membuat orang yang baru datang itu langsung memundurkan langkahnya dan menutup kupingnya, begitu juga Darrel yang melihat gelagat orang itu.


" DADDY KALAU MEMPEKERJAKAN ORANG ITU YANG BENAR DONG! MASAK LUNA GAK BOLEH MASUK KE RUMAH LUNA SENDIRI! PECAT MEREKA DAD!!!!" Semua orang yang ada di sana langsung terkejut. Bahkan seorang petugas yang beristirahat dan duduk di bangku pun sampai terjengkang mendengar suara gadis itu. Tuan Wilkinson langsung mengelus dadanya saat Luna berhenti berteriak.


" Begitukah sambutanmu pada Daddy? Daddy langsung ke sini loh pulang dari Paris, mau ketemu anak Daddy yang cantiknya sama kayak Danesya, eh malah kamu teriak kayak ada maling di rumah ini," ujar Tuan Wilkinson memasang wajah sedih. Wajah Luna memerah, gadis itu menarik napas dan siap untuk berteriak.


Namun sebuah tangan membekap mulut Luna membuat suara gadis itu tertahan. Tuan Wilkinson yang sudah menutup telinganya langsung mengacungkan jempolnya untuk ketangkasan Darrel mencgah terjadinya penyerangan gendang telinga mereka. Luna langsung mencak – mencak dan bersiap untuk memarahi Darrel, namun wajah pucat lelaki itu membuat Luna jadi tak tega.


" Ayo kalian masuk sama Daddy," ujar Tuan Wilkinson dengan lembut dan mengajak Luna Darrel untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkan banyak terugas yang hanya bisa melongo dengan kepergian mereka. Bagaimana tidak? Tuan Wilkinson tak pernah tersenyum. Bahkan menengok ke arah mereka. Jika sudah menengok, itu artinya ada yang salah dengan mereka dan habislah riwayat mereka.


Namun kini mereka melihat dengan mata kepala sendiri Tuan Wilkinson bersikap hangat dan bahkan lucu dan banyak bicara di hadapan Lunetta. Bahkan beliau tak seperti itu di depan Danesya. Memang gadis yang bernama Lunetta ini selalu menjadi yang istimewa bagi mereka yang tinggal di rumah ini.


" Luna, kamu masuk ke kamar dulu ya. Daddy mau bicara sama Darrel," ujar Tuan Wilkinson yang membuat Luna menggelengkan kepalanya. Gadis itu langsung menggandenga tangan Darrel dengan erat, membuat lelaki itu juga bingung dengan sikap Luna dan dia pun merasa tak enak dengan papa Luna.


" Sayang, kamu masuk dulu ya, aku biar ngomong dulu sama papa kamu," ujar Darrel dengan lembut. Luna langsung mengubah air mukanya, yang tadinya dia terdiam dan menatap Tuan Wilkinson dengan galak, kini dia menatap Darrel dengan imut, membuat lelaki itu memiliki hasrat untuk mencium, untungnya dia sabar.


" Tapi kak Darrel kan sakit, kak Darrel kalau ngomong sama Daddy pasti serius, nanti kak Darrel makin sakit.Luna gak mau kak Darrel tambah sakit," ujar Luna yang membuat tuan Wilkinson memutar bola matanya dengan malas. Darrel membujuk Luna sekali lagi, membuat gadis itu akhirnya mengalah dan bangkit dari duduknya.


" Jika Daddy yang meminta, kau tak pernah mau menurutinya, tapi jika Darrel yang meminta, kau menurut seperti anak kelinci. Ah, daddy jadi terluka," ujar Tuan Wilkinson dengan dramatis. Luna menjulurkan lidahnya dan mengejek papanya lalu berjalan ke arah kamarnya tanpa mengatakan apapun. Darrel sendiri langsung menegang saat Luna sudah benar – benar masuk ke dalam kamarnya.


" Ikut ke ruangan saya sekarang," ujar Mr. Wilkinson yang diangguki oleh Darrel, lelaki itu mengikuti Mr. Wilkinson yang berjalan dengan dikawal banyak pengawal. Bahkan di dalam rumahnya sendiri, dia tak bisa leluasa dan penuh dengan penjagaan, sepenting itu orang yang ada di hadapan Darrel saat ini.


" Kapan terakhir kali kamu melakukan cuci darah?" benar saja, baru saja mereka masuk dan duduk di sebuah ruangan, Mr. Wilkinson sudah memberi Darrel pertanyaan seputar hal itu. Darrel mencoba mengingat dan menghitung kapan terakahir kali dia cuci darah. Jika saat itu Luna sedang packing itu artinya..


" Tiga sampai empat hari yang lalu Om," ujar Darrel dengan sopan. Tuan Wilkinson mengangguk dan meletakkan di hadapan Darrel banyak gambar orang dan lembar belakangnya berisi identitas orang itu. Darrel mengambil salah satu di antaranya dan membaca kertas itu dengan bingung. Lelaki itu memberi isyarat pada Tuan Wilkinson untuk menjawab.


" Aku tahu ginjalmu semakin parah, kau bahkan harus melakukan cuci darah lebih cepat dari jadwal. Kau harusnya melakukan itu satu bulan dua kali bukan? Itu bahkan belum ada dua minggu dari cuci darahmu yang terakhir dan kini kau sudah merasa kesakitan lagi meski empat hari lalu kau sudah cuci darah."


" Itu karna saya hanya sedikit kelelahan saja Om, saya yakin semua akan baik – baik saja," ujar Darrel dengan sopan membuat tuan Wilkinson mengambil salah satu kertas yang ada di sana dan memukulkannya pelan ke muka Darrel, membuat lelaki itu memejamkan mata dan tersenyum kikuk karna Tuan Wilkinson marah padanya.


" Jika kau bukan calon penerus Wilkinson, jika kau bukan calon suami Lunetta, aku tak akan peduli bahkan jika kau harus berluntang lantung di jalan karna cuci darah dan membutuhkan donor ginjal. kau tidak boleh egois dan berkata s emua baik – baik saja saat kondisimu tak baik, terutama di hadapanku."


" Itu adalah calon pendonor dengan data yang valid. Aku sudah menelitinya dan mereka yang memungkinkan ginjalnya cocok denganmu. Entah apa yang orang tuamu lakukan sampai memiliki anak dengan sistem ginjal yang istimewa. Aku bersusah payah mengumpulkan semua, Kau harus mencoba paling tidak salah satunya.


" Tapi Om, kalau Darrel sembarangan mmilih, itu akan berpengaruh ke ginjal Darrel yang sebelah lagi, Darrel gak mau pada akhirnya malah merusak kedua ginjal Darrel dan Darrel harus hidup dengan bantuan mesin," ujar Darrel yang membuat Mr. Wilkinson menjadi jengah. Orang itu memungut kertas yang ada di meja dan membuangnya ke lantai.


" Terserah, jika kau mau mati perlahan dengan semua derita itu terserah. Yang jelas, jangan nikahi anakku dengan kondisi ginjal yang seperti itu. aku tak sudi membiarkan anakku menjadi janda di usia muda," ujar Tuan Wilkinson langsung berdiri dan meninggalkan Darrl sendiri di kamar itu. Darrel terdiam dan menatap kertas yang berserakan di lantai.


Lelaki itu memungut semua kertas dan melihat kembali isi kertasnya. Bahkan tuan Wilkinson tak berani menjamin keberhasilan lebih dari enam puluh persen. Semua rata – rata hanya lima puluh persen keberhasilan. Lelaki itu jadi bingung. Dia merasa sudah banyak pikiran, namun dia masih harus memikirkan masalah ini.


" Kenapa Lo harus hidup coba Rel? kenapa Lo gak mati aja sekalian?" tanya Darrel yang membawa kertas - kertas itu keluar dari ruangan tuan Wilkinson. Ternyata Luna sudah menungu Darrel untuk keluar dari ruangan itu. Darrel bahkan kampai kaget dan menjatuhkan semua kertas yang ada di tangannya.


" Eh, eh, kak Darrel kaget ya? Astaga, kak Darrel. Sini Luna bantu ambil," ujar Luna sambil tertawa dan mengambil kertas yang ada di sana. Luna berjongkok dan memungut salah satu kertas itu, namun wajahnya langsung berubah saat dia tahu kertas yang dibawanya bukanlah sembarang kertas. Luna langsung melongo melihar kertas itu dan mengangkatnya.


" Kalau gak langsung jawab, berarti lagi bohong. Luna gak suka dibohongin, Luna gak mau kak Darrel bohong. Ayo ngomong sama Luna, ngaku sama Luna ini siapa? Ini kenapa?" tanya Luna yang membuat Darrel menghela napasnya lelaki itu masih tak bisa mengatakan apapun, membuat Luna menggoyang – goyangkan tubuh Darrel agar lelaki itu menjawabnya.


" Aku gak bisa kasih tahu kamu Lun, ini daritadi aku mikir. Aku udah diminta Papa kamu buat diam, dan aku gak bisa dong ungkapin ke kamu. Ini rahasia aku sama papa kamu pokoknya," ujar Darrel dengan panik. Luna tak puas dengan jawaban itu, namun Luna juga merasa kasihan pada Darrel yang kebingungan. Gadis itu memilih untuk mengalah dan tak menanyakannya lagi.


" Kak, kak Darrel ke sini mau ajak Luna pulang kan kak? Kak Darrel mau ajak Luna buat urus pernikahan kita kan kak? Sewa ballroom hotel, catering, undangan, dan lain – lain. Kita harus siapin itu dengan cepat loh," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam lagi.


" Iya, kita omongin itu besok aja ya. Kepala aku [using banget, banyak pikiran, kecapekan. Punggung aku juga pegal banget karna tidur lama di pesawat tapi gak nyenyak," ujar Darrel dengan melas. Gadis itu langsung memandang Darrel dengan wajah yang layu.


" Kaihan banget loh pacar aku sampai capek kayak gini, ya udah gih kak Darrel milih kamar yang kosong aja. Luna minta orang buat siapin baju sama keperluan kak Darrel, kak Darrel gak bawa apa – apa kan?" tanya Luna yang membuat Darrel mengangguk dan terkekeh, baginya, yang penting dia membawa badan dengan utuh dan membawa niat kemanapun dia pergi.


Apalagi jika perginya ke rumah Luna, lelaki itu tak perlu khawatir karna di rumah ini pasti banyak tersimpan keperluannya, kalau tak ada pun dia tinggal memita orang untuk membelinya. Masih mencoba menghitung berapa kekayaan keluarga Wilkinson? Ah tak perlu, beliau masih belum menjadi orang nomor satu di dunia kok.


" Iya, aku masuk kamar yang biasa aku pakai aja. Di situ kayaknya ada baju aku. Tapi gak papa kalau kamu mau minta, buat besok pagi juga. Kamu istirahat juga biar tetap fit dan tetap cantik. Biar aku makin laff laaf," ujar Darrel yang membuat Luna mengerucutkan bibirnya, gadis itu menatap Darrel dengan sebal.


" Jadi kalau Luna gak cantik, gak fit, kak Darrel gak mau luff luff sama Luna? Jahat banget sih kak Darrel," ujar Luna berpura – pura sedih. Darrel terkekeh pelan, tubuhnya sedang tak fit, dia memlih untuk mendekat dan mencium kepala Luna dengan lembut.


" Kak Darrel kok panas banget sih? Kak Darrel demam ya? Kak Darrel sakit apa sih sebenarnya?" tanya Luna saat dia merasa tubuh Darrel makin condong ke arahnya. Lelaki itu makin menumpukan tubuhnya pada Luna dan akhirnya rubuh menimpa Luna. Untung saja gadis itu bisa sedikit menahan dan menidurkan kepala Darrel dengan kakinya sebagai bantal.


" Kak? Kak Darrel? Kak Darrel? TOLONG!" Teriak Luna yang membuat satu rumah heboh. Mereka berbondong – bondong menghampiri Luna dan menolong gadis itu untuk mengangkat Darrel lalu memasukkan lelaki itu ke dalam kamar. Luna menunggu di sebelah Darrel dengan khawatir. Tangan lelaki itu sangan dingin, namun wajahnya sangat panas.


" Panggikan dokter pribadi saya! Cepat!" perintah Mr. Wilkinson yang langsung dituruti oleh mereka. Mereka segera memanggil dokter, bahkan dokter itu dijemput oleh helicopter karna tak sedang berada di kota London. Luna sendiri bingung kenapa papanya meminta dokter khusus. Apa kondisi Darrel tak baik namun papanya tak mau bicara padanya?


Butuh waktu sekitar lima belas menit sampai dokter itu masuk ke kamar Darrel. Tuan Wilkinson langsung memberi isyarat pada Dokter jika ada Luna di sana hingga dokter itu tak mengatakan apapun dan lansung meemeriksa Darrel. Dokter meminta Luna untuk keluar dari dalam ruangan.


" Kenapa? Kenapa Luna gak boleh tahu? Kenapa Dad? Apa kondisi kak Darrel parah? Apa ada hubungannya sama kecocokan kecocokan yang ada di kertas itu? kasih tahu Luna!" ujar Luna dengan frustasi karna semua wajah yang ada di sana tampak serius. Membuat Luna makin frustasi dan takut.


" Kamu keluar dulu, nanti Daddy yang cerita dan jelasin ke kamu. Biarin doktenrya kerja, kamu bikin gak konsen," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Luna terpaksa keluar dari ruangan itu. Luna menunggu di sofa dengan semua pertanyaan yang berputar di otaknya. Jika papanya saja sampai seserius itu, berarti kondisi Darrel memang tak sedang baik.


" Kondisi pasien tidak buruk. Dia hanya kelelahan. Mungkin karna dia melakukan perjalanan jauh. Seharusnya dia tidak sering berkegiatan dan melakukan perjalanan. Ini sangat mempengaruhi kondisi tubuhnya," ujar dokter yang membuat tuan Wilkinson menganggukkan kepala tanda paham.


" Saya sudah memintanya untuk tinggal di Indonesia dan bahkan saya sudah menyiapkan dokter khusus untuk dia, tapi entah kenapa dia bisa sampai di rumah ini. Saya juga tidak mengetahui alasannya. Terima kasih sudah membantu, maaf malah merepotkanmu. Orangku akan mengantarmu ke tempat tugasmu," ujar tuan Wilkinson sopan.


" santai saja. Kita ini kawn lama, aku juga sudah bilang jika kau butuh bantuanku, kau tinggal suruh orang untuk menjemputku. Jika aku tidak sedang dalam keadaan darurat, aku pasti langsung datang," ujar dokter itu dengan senyum.


" Ya, baiklah, terima kasih," ujar tuan Wilkinson dengan senyum ramah. Mereka keluar dari kamar Darrel dan menatap Luna yang tampak sangat khawatir.


" Kondisi Darrel baik – baik saja. Dia hanya kelelahan, mungkin karna perjalanan jauh, apalagi yang saya tahu, dia sangat gila bekerja dan menghabiskan waktunya dengan berkas – berkas itu, papamu itu sangat kejam," ujar dokter yang seakan menyalahkan papa Luna.


" Hey! Mengapa kau menyalahkannya padaku? Dia sendiri yang mau mengurus semua berkas itu sendiri. Dia kan CEO, dia hanya perlu menyuruh bawahan untuk melakukannya. Dia yang terlalu berambisi dan rajin, jangan salahkan aku. aku tak pernah memintanya melakukan kerja Rodi."


" Ini salah Luna, Luna yang minta kak Darrel langsung pergi Ke London Eye, akhirnya kak Darrel malah jadi tepar dan sakit kayak gini. Luna merasa bersalah dad. Maafkan Luna ya," ujar Luna dengan sedih. Tuan Wilkinson tersenyum dan mengangguk lalu mengusap kepala gadisnya dengan lembut.


" Daddy yakin Darrel baik – baik aja. Dia itu berambisi tinggi, dia bahkan mengejarmu begitu keras. Sakit seperti ini saja tak akan membuatnya menyerah," ujar Tuan Wilkinson yang diangguki oleh Luna.


" Semoga saja Daddy benar."