Hopeless

Hopeless
Chapter 87



" Kalian pulang naik apa?" tanya Darrel saat mereka sudah keluar dari taman bermain itu.


" Naik motor," jawab Radith singkat sambil mencari kunci motornya yang ada di tas milik Blenda, membuat tangannya di tabok oleh Blenda.


Yah, sebagian dari kalian mungkin tahu lah banyak rahasia yang ada di tas perempuan, contohnya roti Jepang.


Blenda merogoh tasnya dan mengambilkan kunci motor Radith lalu memberikannya pada lelaki itu, Radith langsung menerima kunci itu dan hendak melanjutkan langkahnya.


Namun langkah Radith berhenti saat dilihatnya ada yang aneh dengan Blenda. Radith berjalan mendekat dan mengambil wajah gadis itu lalu membuat gadis itu mendongak.


" Kamu kok mimisa gak bilang bilang?" Tanya Radith dengan galak sambil menundukkan kepala Blenda, membuat darah mengalir dari hidungnya.


Luna Lus yang melihat itu tentu ikut terkejut dan segera mendekati Blenda sambil memberikan selembar tissue untuk gadis itu.


Blenda menerima Tissue yang diberikan Luna dan mulai mengusapkan Tissue itu ke hidungnya tanpa menghentikan laju darahnya.


Blenda tampak Limbung (* tidak mantap, goyah (berdirinya, duduknya, letaknya)) dan hampir terjatuh jika Radith tidak menangkap tubuh gadis itu.


" Blenda kenapa? " tanya Luna dengan panik dan sedih, dia langsung teringat pada saudara kembarnya saat usia mereka masih belia. Saat Danesya sudah mulai mengeluarkan darah dari hidungnya, kondisinya pasti sedang dan akan terus memburuk.


" Gakpapa, udah biasa kok kayak gini," jawab Blenda sambil mengurut hidungnya agar darah itu cepat keluar dan semua berakhir.


" Kalian naik mobil aja, biar motor Radith kami yang bawa. Daripada Blenda kena angin malam terus kondisinya memburuk," ujar Darrel yang memberikan kunci motornya pada Radith.


Radith mengagguk dan menerima kunci motor itu lalu memberikan kunci motornya pada Darrel. Radith menuntun Blenda berjalan menuju parkiran mobil.


" Mobil Lo yang mana kak? " tanya Radith menengok ke belakang dan menghentikan langkahnya.


" Eh bentar, gue ikut ke parkiran duku, mau ambil jaket dulu biar Luna gak masuk angin," ujar Darrel yang ikut berjalan sambil menggandeng Luna menjauh dari tempat itu.


Darrel langsung mengambil dua buah jaket tebal di bagian belakang dan menutup pintu agar Radith dapat membawa mobilnya pergi.


" Gak nyangka tuh anak bisa naik mobil juga, padahal masih kelas 1 SMA," ujar Darrel sambil menggeleng dramatis saat melihat mobilnya melesat tanpa gangguan.


" Bang Jordan dulu bisa naik mobil dari SMP kok, biasa aja tuh," jawab Luna sambil memaskai jaket yang tadi diulurkan oleh Darrel.


" Ya kan bang Jordan kursus," ujar Darrel dengan wajah datarnya, Luna yang tidak mengerti arah pembicaraan Darrel pun hanya diam, sementara Darrel yang tahu Luna tak mengerti juga tidak berminat melanjutkan obrolan mereka.


" Langsung pulang? " tanya Darrel sambil menggandeng Luna menuju parkiran motor. Gadis yang disampingnya anteng saja saat dia menggandeng gadis itu.


" Yep, Luna capek banget soalnya," ujar Luna sambil mengangguk dengan menunjukkan wajah lelah, membuat Drrel gemas dan akhirnya mencubit pipi Luna dengan keras.


Mereka sampai di parkiran motor dan langsung berhenti melangkah, Darrel menatap Luna yang ternyata juga sedang menatapnya.


" Motor Radith yang mana ya?" tanya Darrel dengan bingung, lelaki itu menatap raturan motor di depannya sambil berpikir.


" Motor Radith ada dua, yang satu motor sport, yang satu motor matic warna hitam," jawab Luna setelah sedikit berpikir.


" Motor matic hitam merknya apa?" tanya Darrel karena dia yakin ada puluhan bahkan ratusan motor berwarna hitam di tempat ini.


" Gak tau lah, Luna mana paham jenis jenis motor begitu," jawab Luna dengan sedikit galak.


" Santai dong ngomongnya sayang, gak usah ngegas gitu ah," jawab Darrel dengan kalem dan terkekeh.


" Terus gimana dong kak?" tanya Luna yang malah jadi bingung.


" Motornya tinggal sin aja, biar aku suruh orang jagain, motor terakhir yang tersisa berarti motor Radith, bentar aku telpon dulu," ujar Darrel dengan santai sambil mengambil ponsel khusus untuk menghubungi tangan kanannya.


" Lah? Berarti orang itu nungguin Sampai parkiran sepi gitu kah? Kasihan dong kak orangnya," ujar Luna yang tampak tak setuju dengan usul Darrel.


" Kamu ada ide lain?" tanya Darrel mengangkat kedua alisnya. Luna langsung terdiam dan merengut, lalu dia menggeleng lemah. Darrel terkekeh dan akhirnya menempelkan ponselnya ke telinga kanan


Butuh waktu sepuluh menit sebelum orang itu akhirnya datang dan menghampiri mereka berdua.


" Mobilnya mana?" tanya Darrel karna orang itu berjalan ke arahnya.


" Saya parkirkan di depan agar tuan muda tidak kesulitan atau terkena macet di pintu keluar," jawab orang itu dengan sopan.


" Oke, great. Kamu boleh makan atau main dulu disini, sudah jelas kan tugas kamu?" tanya Darrel dengan nada yang penuh wibawa, Luna bahkan sampai kagum mendengarnya.


Orang itu mengangguk dan memberikan kunci mobil untuk Darrel, sementara Darrel memberikan kunci motor Radith kepada orang itu.


Jangan salah paham dan menganggap Darrel seenaknya pada kaki tangannya karna pria itu akan membayar lebih bagi mereka yang melakukan tugas ini. Bahkan untuk membeli makan dan main yang tadi Darrel sebutkan, Darrel sudah mengirim uang ke rekening orang itu, terserah akan digunakan atau tidak.


Dengan begitu tentu orang orang itu akan dengan senang hati melakukan tugas apapun itu, karna sebanding dengan bayaran yang mereka dapat.


Bekerja dengan Darrel adalah keberuntungan yang mereka dapat. Darrel selalu bisa memanusiakan manusia, dia memberi kebebasan orang orangnya untuk melakukan apapun, namun jika sudah bertugas, Darrel akan meminta mereka untuk tegas dan disiplin.


Darrel bergegas pergi dari tempat itu, tak lupa Luna yang berjalan di sampingnya dengan tangan yang salig bertautan. Luna mulai kedinginan karna angin malam ii cukup kencang.


Tanpa gadis itu sadari, Darrel sudah mendekat dan tiba tiba saja merangkul Luna untuk memberi kehangatan pada gadis itu. Luna tersenyum sampai menampakkan giginya.


" Peka nya pacar aku, jadi makin cantik kan aku," ujar Luna mengibaskan rambutnya dengan wajah yang sombong


" Hah? apa? Cantik? Cacar bintik bintik?" tanya Darrel mendekatkan kupingnya ke mulut Luna, pura pura tidak mendengar apa yang Luna katakan.


" aiisshh, aduh aduh, kupingku, aduh, ampun,aduh sakit!! " Darrel berusaha melepaskan telinganya yang digigit oleh Luna, lelaki itu akhirnya mendekat agar telinganya tidak tertarik dan malah sobek.


" Ampun, ampun, perih banget," ujar Darrel yang berusaha melepaskan mulut Luna dari kupingnya. Darrel memegang kupingnya agar Tidak ditarik paksa oleh Luna.


Luna melepaskan gigitannya saat merasakan asin dan amis dalam waktu bersamaan. Luna mendelik karna perbuatannya.


" Kak Darrel! Telinganya berdarah kak!" seru Luna sambil mengecap bibirnya, merasakan yang dia rasakan sungguh darah.


" Ayok ah pulang, biar bisa aku obatin," ujar Darrel yang memegang kupingnya dan merasakan ada cairan disana, campuran antara air liur Luna dan darah yang mrngalir.


Darrel memang terlahir dengan daun telinga yang tipis, dia suka memainkan telinganya sendiri karna empuk dan kenyal.


Luna sebenarnya merasa tak enak, namun gadis itu diam. Dia hanya berjalan dalam rangkulan Darrel dan merogoh tasnya untuk mengambil tissue. Luna menempelkan tissue itu di telinga Darrel, membuat pemilik telinga terseyum karna perlakuan sederhana Luna.


" iihh, ihh, gemes aku, gemas sekali, " ujar Darrel yang mengusal usalkan hidungnya ke pipi Luna, mana bisa dia marah pada Luna yang seimut ini? Ah, pikiran Darrel sudah sedikit konslet karna perlakuan manis Luna. ( dasar bucin)


Darrel segera masuk ke dalam mobil dan segera mengantarkan Luna untuk pulang ke rumahnya. Hari sudah semakin gelap, bahkan Lua belum mandi sore ini, haha, kemungkinan besar Luna meman tak akan pergi mandi setelah sampai di rumah.


*


*


*


Siswa siswi kelas X diminta untuk berkumpul di lapangan utama untuk mendengarkan pengumuman mengenai kegiatan pendidikan karakter yang di sekolah ini dikenal dengan nama ' Hansek.'


" Untuk kegiatan hansek ini akan diadakan di kota magelam, Jawa Tengah. Hari pertama kita akan mengunjuni museum persenjataan yang ada disana, dan melakukan sesi satu bersama salah satu kepala bidang disana mengenai pentingnya menjaga NKRI."


Luna mulai tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh guru itu, sepertinya akan menyenangkan melihat kumpulan senjata yang ada disana. Meski sebenarnya di kota ini juga memiliki museum senjata, rasanya pasti akan berbeda bila sudah pergi ke luar kota.


" Lalu kita akan melanjutkan perjalanan menuju tempat dimana kalian akan menginap empat hari tiga malam dan melaksanakan berbagai sesi untuk keperlua pendidikan karakter."


Guru itu mulai menjelaskan mengenai barang apa saja yang harus mereka bawa, termasuk beberapa seragam wajib dan kaos untuk Hansek.


Mereka diberi selembaran untuk persetujuan orang tua dan lembar riwayat penyakit yang diderita untuk antisipasi sesuatu yang tidak diinginkan agar tidak terjadi.


Luna membaca setiap benda wajib yang harus dibawa, gadis itu menuliskannya dalam ponsel dan segera mengirim pesan itu kepada salah satu orang yang menjadi kaki tangannya.


Semua langsung beres dalam sekejap, hal inilah yang harusnya lebih Luna syukuri karena menjadi bagian dari keluarga Wilkinson, bahkan untuk kegiatan seperti ini, Luna tak harus repot turun tangan mencari keperluan yang dibutuhkan itu sendiri.


Kini masalah Luna hanya terdapat pada surat ijin yang dia pegang. Dia akan di gembleng oleh TNI secara langsung, apaah Jordan akan menyetujuinya? Kemungkinan besar lelaki itu akan menolak permintaan Luna, mengingat gadis itu cengeng dan tidak bisa melakukan hal semcam ini.


Namun disisi lain Luna sangat ingin mengikuti acara wajib tahunan STM Taruna, yang membedakan sekolah ini dengan sekolah lain, jika Luna melewatkan momen ini, apa bedanya Luna dengan siswa sekolah Lain?


Luna harus memikirkan strategi jitu untuk membujuk Darrel agar lelaki itu mau membujuk Jordan. Yaah, Jordan tak pernah mempercayai perkataan Luna, namun Jordan selalu mengijinkannya bila Darrel yang maju sebagai pemohon.


Luna mulai membayangkan apa yang akan dia lakukan di tempat itu, sepertinya memang akan menyenangkan. Dia akan didandani seperti tentara dan melakukan serangkaian outbound yang pernah dia lihat di televisi.


**


Luna berjalan menuju kelas Darrel dengan santai, hubungannya dengan Darrel sudah diketahui semua orang, dan dia pun berencana melepaskan OSIS bila nantinya Darrel sungguh harus keluar dari organisasi itu.


Meski ditatap dengan tatapan aneh dan tatapan tak suka, Luna tetap berjalan dengan lurus, tidak menengok karena tidak ada yang memanggilnya, namun dia tetap tersenyum pada setiap orang yang berpapasan dengannya, yah kan Luna memang tidak punya masalah dengan orang itu.


" Kamu kenapa sampai sini?" tanya Drrel yang bingung dengan kehadiran Luna, lelaki itu ada di depan kelas dengan laptop yang ada di pangkuannya.


" Kak Darrel minus?" tanya Luna yang baru pertama kali melihat lelaki itu memakai kacamata. Lelaki itu terkekeh dan membuka kacamatanya lalu menatap Luna dengan lekat.


" Iya minus satu," jawab Darrel dengan senyumnya sambil melipat kacamata itu.


" Waaahh, ini angka berapa kak?" tanya Luna yang mengangkat beberapa jarinya agar Dareel bis menebak jadi yang dia tunjukkan.


Darrel menghela napas tampak tak suka dengan pertanyaan Luna, namun dia memaklumi perlakuan Luna yang mungkin dilakukan oleh banyak orang yang ada di Indonesia ini.


" Luna, aku masih bisa lihat itu 4 jari yang kamu tunjukin," ujar Darrel yang dengan cerdasnya malah menjawab pertanyaan tidak mutu dari kekasihnya.


" Kok masih bisa ngelihat? Katanya minus," ujar Luna dengan seidkit kesal, sebenarnya mereka menjadi pusat perhatian karena satu fakta yang baru kali ini Mereka ketahui.


Ketua OSIS yang terkenal berwibawa, tegas dan super dingin berubah menjadi murah senyum dan penuh kasih sayang, bahkan bisa dibilang menjadi budak cinta adik kelas yang bernama Lunetta ini.


" Karna aku cuma minus, bukan buta. Kenapa sih kalian kaum mata normal selalu menanyakan dan minta kami untuk menebak angka? Aku tuh masih bisa lihat, cuma agak blur aja," jawab Darrel memberi pengertian dengan sabar dan tenang.


" Ohh, berarti masih bisa lihat ya? Ya kirain," ujar Luna dengan kekehan dan garukan di leher belakangnya.


" Kamu kenapa sampai kesini? Kok gak ngabari dulu?" tanya Darrel yang menggeser duduknya agar Luna dapat duduk di sebelahnya


Beberapa yang melihat hal itu sampai memekik senang karena Darrel berbicara dengan nada yang sangat halus dan lembut, bahkan tak pernah ada orang yang mendapat perlakuan seperti itu.


" Aku mau minta tolong sama kak Darrel," ujar Luna sambil merogoh tasnya dan mengambil surat edaran untuk Jordan sebagai walinya.


" Ini apa? Aku disuruh tanda tangan?" tanya Darrel sambil mengangkat kertas edaran itu.


" Bukan ih, aku mau minta tolong kak Darrel buat ngebujukin bang Jordan biar ngijinin Luna ikut ini, kalau Luna yang bilang pasti gak boleh," ujar Luna memandang Darrel dan kertas yang dibawa lelaki itu dengan bergantian.


" Lah? Kalau aku yang bilang pasti boleh gitu? Lagian harus boleh lah, kan ini acara wajib sekolah, masak gak dibolehin sama bang Jordan? " tanya Darrel dengan wajah bingungnya.


" Kak Darrel kan tahu sendiri bang Jordan kayak gimana, dia aja bisa bikin sekolah ini tutup dalam sekejab dengan bantua papa, apalagi cuma bikin aku gak ikut acara ini, " ujar Luna sambil berbisik agar orang lain tidak mendengar mereka


" Aku dapat kiss kiss gemas gak kalau berhasil ngebujukin bang Jordan? " tanya Darrel sambil mengangkat alisnya bergantian


" Nyebelin banget! Nyebelin! Gak mau tahu pokoknya kak Darrel harus bantu Luna," ujar Luna sambil memukul badan Darrel dan meraup wajah lelaki itu.


Siapapun yang melihat mereka tentu iri, untuk menyapa Darrel saja mereka sulit, kini adik kelas itu bisa mengacak acak wajah dan rambut lelaki itu, sungguh gadis yang disampingnya beruntung.


***


PS Dari Author : komen dong kalian #TeamRadith atau #TeamDarrel


aku lagi survey keminatan kalian sama pasangan ini ( psstt, sekaligus buat mikirin endingnya Luna nanti mau sama siapa) jadi ayo vote kalian bareng babang Radith atau Babang Darrel?