Hopeless

Hopeless
Chapter 131



Sebagaimana seorang baik akan mendapat pasangan yang baik. Sang penipu akan bertemu dengan penipu. Semua bukan perkara karma, namun itulah hukum alamnya.


*


*


*


Darrel dan Radith berjalan masuk ke dalam mobil dengan setelah barang bawaan merka masuk ke dalam bagasi. Mereka duduk tenang untuk waktu yang lama, bahkan sampai tertidur karna macetnya ibu kota yang mungkin sebentar lagi akan dipindahkan.


Mereka sampai di sebuah penginapan yang memang sudah mereka sewa untuk dua bulan ke depan. Darrel langsung memasukkan barang barangnya ke dalam lemari, meletakkan laptop dan foto Luna di atas nakas dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Sungguh kenikmatan yang tiada tara setelah perjalanan jauh.


" Kak! Kak Darrel! Kak! Mau diajak pak Komang makan niih, Lo mau ikut gak? Atau Lo mau puasa sampai malem?" tanya Radith yang menggedor gedor pintu kamar Darrel, membuat lelaki itu tak bisa tidur dengan nyaman. Lelaki itu bangun dengan malas dari tidurnya dan berjalan menuju pintu, melihat Radith dengan wajah malasnya dan menutup pintu serta menguncinya.


" Gilak Lo kak, ternyata Lo kalau bangun tidur wajahnya jelek banget, pantesan Luna tetap suka sama gue walau udah tunangan sama Lo," ujar Radith secara reflek tanpa memikirkan perasaan atau ekspresi wajah Darrel yang berubah. Namun Darrel dapat mengendalikan emosinya dan hanya memukul kepala Radith pelan sebagai peringatan.


" Iya Lo manis banget jadi cowok, makanya tunangan gue suka sama Lo, gue aja juga mulai tertarik sama Lo dith, apalagi kita bakal ada disini buat waktu yang lama, Lo gak mau sama yang kayak gue gitu?" tanya Darrel sambil merangkul Radith yang memang lebih pendek dari dirinya. Radith tlangsung menggeliat geli dan mendorong Darrel untuk menjauh darinya.


" Sakit jiwa lo kak! Jauh jauh Lo sama gue, ya kalik gak ada cewek Lo doyannya sama cowok, geli gue, iissh," ujar Radith dengan risih dan langsung meninggalkan Darrel yang kini tertawa bahagia karena berhasil membuat Radith jijik dan pergi dari hadapannya dengan sendirinya.


" Kalian mau makan apa? Tapi memang gak banyak yang bisa ditemukan disini sih, apalagi cukup jauh dari pusat kota" ujar pak Komang yang sudah menunggu di ruang tamu. Radith dan Darrel hanya saling pandang dan diam.


" makan apa aja juga jadi pak,kalau saya semua juga doyan," ujar Radith dengan sopan dan tenang.


" Iya pak, kalau Radith mah batu direbus juga dimakan sama dia pak dicocol pakai saos," ujar Darrel yang malah mengejek Radith di dpean pak Komang, Darrel yakin kalau Radith tak akan berani membalas atau protes karna lelaki itu takut pada perawakan pak Komang.


" Hahaha, kalau begitu kita cari makan di sekitar sini saja ya, memang agak susah cari makan disini karna kebanyakan Cuma jual sayur, terus mereka masak sendiri," ujar pak Komang mengambil kunci mobil yang ada di meja dan berjalan menuju mobil.


" Kalau itu mending mulai besok mending Cuma beli bahan makanan pak, kebetulan saya punya bisnis kuliner dan saya bisa masak. Saya rasa itu bisa menghemat pembelanjaan dan uang transport juga, hahaha," ujar Darrel dengan santai dan masuk ke pintu depan di samping pengemudi sementara Radith duduk di kursi belakang.


" wah kamu bisa memasak? Kalau gitu bagus, besok akan saya belikan bahan bahannya, untuk alat masak sudah ada di dapur, tapi apa gak papa kamu habis jadi tutor terus masih harus masak?" tanya Pak Komang yang masih tetap fokus pada jalanan di depannya. Darrel mengangguk sebagai respon.


" Saya sudah biasa kok pak, biasanya juga masih harus sekolah, siangnya rapat OSIS, sorenya masih harus ngurus resto, malamnya masak buat diri sendiri, ya karna keseharian seperti itu, saya raga gak akan jadi masalah pak," ujar Darrel yang memang sengaja menyombongkan diri di depan Radith.


" baguslah kalau seperti itu, skarang kita beli makan dulu buat nanti mlam dan besok pagi, nanti malam kamu siapkan materi buat Radith ya Rel, nyaris sama kayak kamu tahun lalu, Cuma ada upgrade aja, nanti kamu ajari tekniknya biar dia bisa cepat selesai," ujar pak Komang yang langsung diiyakan oleh Darrel. Radith? Lelaki itu masih setia menjadi kambing congek di belakang sana.


" kita sudah sampai, semoga saja rasnaya enak ya, saya juga baru pertama kali kesini," ujar pak Komang dengan kekehan khasnya. Darrel ikut terkekeh mendengar itu, lelaki itu melepas sabuk pengaman yang menempel menyilang pada dadanya dan segera turun dari mobil. Jika tahu akan sesulit ini mencari makan, Darrel akan meminta salah seorang dari pengawalnya untuk ikut dan menjadi pesuruh.


Mereka masuk ke dalam ruang makan itu dan memesan lauk yang akan menemani nasi mereka di dalam usus dua belas jari. Radith memesan nasi sayur dengan lauk telor dadar lebar dan tebal yang menggugah selera, yah walau Radith tahu jika telur itu udah dicampur dengan tepung. Sementara Darrel memilih untuk memakan nasi sayur dengan Ampela ati, sepertinya sudah lama Darrel tidak makan hati.


" makan yang kenyang, kalau mau nambah tinggal nambah aja, daripada sampai rumah lapar lagi," ujar pak Komang yang menyantap nasi dipiringnya. Untung saja nasi di warung ini sepuasnya, jadi bagi mereka yang memiliki perut kuli dan tentu porsi makannya berbeda dari siswa lain.


Mereka segera menghabiskan makanan itu dan membungkus lauk untuk sarapan mereka besok, saat pulang pak komang membeli beras sepuluh kilogram untuk persediaan mereka selama disini, pak komang memilih membeli beras dibanding nasi karna mereka tak tahu nasi tersebut akan bertahan berama lama, bisa saja besok pagi sudah tak layak makan, malah mereka akan membuang makanan nantinya.


*


*


Hari sudah gelap, Darrel masih ada di ruang tamu rumah itu untuk membicarakan materi yang akan dilombakan bersama pak Komang, sementara Radith ijin dari tempat itu untuk mengangkat panggilan dari Blenda. Lelaki itu berkata jika Blenda sedang sangat membutuhkannya hingga dia harus mengangkat panggilan tersebut. Apalagi Radith belum begitu dibutuhkan karna dia tidak mengerti materi lomba yang akan disampaikan.


" Loh pak, kalau rangkaiannya seperti ini, nanti waktu ada sumber yang kena ke kontaktor satu, berarti relay ini mati dong pak, lah terus sencor yang sii nasibnya gimana pak?" tanya Darrel yang sedari tadi fokus pada selembar kertas penuh coretan yang ada di sana. Pak Komang terdiam dan mengamati kembali rangkaian yang dia buat.


" Iya juga ya, terus berarti gimana dong? Variasinya tuh jadi kalau nanti ada benda jalan, dia bisa berhenti terus nunggu, baru nanti dia jalan lagi, prinsipnya sih gitu," ujar Pak Komang yang membuat Darrel berpikir keras. Sudah stu tahun dia tidak memegang instalasi robotik yang ada di hadapannya saat ini.


Baik pak Komang atau Darrel harus berpikir untuk menciptakan program yang nantinya akan di tempel pada chip yang disediakan panitia untuk dipasang pada sebuah mobil otomatis yang sudah dipasang sensor hingga dapat menyetir sendiri.


Sebenarnya materi lomba bukanlah hal baru seperti teknologi terbaharukan, mereka b…… `1 hanya mengetes apakah sekolah mampu menyamai standart internasional dnegan menciptakan robot robot itu? Itulah tujuan diadakannya Lomba ini.


Radith keluar dari kamar tak lama kemudian. Lelaki itu menyimak apa yang dibahas oleh Darrel dan pak Komang, lalu ikut menyalurkan idenya dalam membuat rangkaian ini. Apalagi program yang akan digunakan akan berbeda dengan sekolah lain hingga memperoleh hasil yang berbeda pula. Mereka yang dapat mencipkan program dengan baik dinyatakan mnjadi juaranya.


" baikalh, yang penting kita udah sampai ke programming dasarnya. Besok kita akan menuju gedung khusus peserta olimpiade STM Taruna untuk belajar rangkaian yang akan disusun Radith agar lelaki itu dapat menyusunnya dengan mudah saat hari H.


" Baik pak, kalau sudah selesai saya mau ijin unttuk kembali ke kamar pak," ujar Darrel yang diangguki oleh pak Komang. Lelaki itu meninggalkan pak Komang yang sedang memberikan sedikit pengarahan pada Radith mengenai lomba yang akan lelaki itu ikuti.


Darrel berjalaan menuju kamar sementaranya dan langsung mengunvi pintu dari dalam. Mengambil ponsel yang sedari tadi dia anggurkan dan lansgung menelpon balik Luna yang ternyata sudah menghubunginya 10 kali di waktu yang berbeda, entah apa yang dirasakan atau dimimpikan oleh Luna, yang jelas gadis itu tak begitu suka Darrel pergi ke tempat ini.


" KAK DARREL! KOK BARU VC LUNA SEKARANG?" Seru Luna dengan kesal. Darrel bisa mengerti alasan Luna kesal padanya. Lelaki itu terkekeh dan langsung meminta maaf pada Luna.


" Aku kan disini buat jadi tutor lomba sayang, aku gak bisa megang ponsel terus, tpi aku kan tepatin janji aku, aku tetap luangin waktu buat VC sama kamu, iya kan?" tanya Darrel yang membuat Luna melega dan langsung mengangguk percaya.


" Hari ini ngapain aja kak? Capek banget ya?" tanya Luna yang melihat mata panda milik Darrel, lelaki itu tersenyum dan mengangguk, memang dia merasa sangat lelah dan bahkan mengantuk, namun dia sudah berjanji pada Luna dan dia harus menepati janji itu.


" Hari ini yang bikin capek tuh perjalanan jauhnya, kalau disini nya mah santai, apalagi ketemunya kan sama pak Komang, aku kan udah biasa kalau sama dia," ujar Darrel menjawab pertanyaan Luna. Gadis itu tampak mengangguk dan mulai membuka percakapan lain dengan Darrel.


Tak terasa sudah lebih dari satu jam mereka bertukar cerita malam hari ini, sampai Darrel melihat Luna yang sudah sangat mengantuk. Lelaki itu menyadari Luna yang tak mau mematikan sambungan telpon dan terus mengatakan bahwa dia mau melihat wajah Darrel sepuas – puasnya, seakan setelah ini Luna tak bisa melakukan hal itu.


" Iya, kalau urusan disini udah selesai aku janji langsung pulang, kamu gak usah khawatir gitu, aku kan kuat. Kamu doain aja yang baik baik buat aku, Radith sama pak Komang disini, oke?" tanya Darrel menunjukkan tangannya di depan kamera. Luna mengangguk meski tak puas dengan jawaban Darrel.


" Kak, Luna ngantuk, nyanyiin biar Luna cepat tidur," ujar Luna yang membuat Darrel terkekeh. Lelaki itu mengangguk dan mulai berpikir lagu apa yang cocok untuk Luna, namun pikirannya ternyata buntu seketika, lelaki itu langsung membuka laptopnya dan mencari judul serta lirik lagu yang tepat untuk dinyanyikan.


🎶***You could be my unintended


🎶Choice to live my life extended***


Darrel memang tak pernah menduga akan jatuh cinta semudah ini pada Luna, lelaki itu hanya percaya bahwa hatinya terlanjur jatuh, ya. Terlanjur jatuh pada pesona gadis itu.


🎶 You could be the one I'll always love


Ya, mungkin hanya Luna yang memang akan menjadi satu – satunya orang yang Darrel cinta, membuat lelaki itu menumpahkan semua perasaannya pada Luna yang mungkin tak bisa dalam mencintainya.


🎶***You could be the one who listens


🎶To my deepest inquisitions


🎶You could be the one I'll always love***


Mungkin Luna ukan pendengar yang baik, namun gadis itu selelu mau memasang perhatian dan telinganya untuk sekadar mendengarkan cerita Darrel. Mungkin tak tertulis dalam kisah ini, atau mungkin kan diceritakan suatu hari nanti, yang jelas Darrel tahu pasti alasannya memutuskan untuk memilih Luna, alasannya untuk bergantung pada gadis itu dan mencintai gadis itu sepenuhnya.


🎶***I'll be there as soon as I can


🎶But I'm busy mending broken pieces of the life I had before***


Darrel memang selalu ingin ada di dekat Luna, bahkan dia pun akan menepati janjinya untuk segera pulang bila urusannya di tempat ini sudah selesai. Meski Darrel selalu tenang dan nyaman ada di sebelah Luna, namun sejujurnya Darrel masih membutuhkan waktu untuk menyatukan kepingan luka yang dulu pernah dia termia dan jujur saja hal itu membuatnya takut untuk jatuh terlalu dalam.


🎶***First there was the one who challenged


🎶All my dreams and all my balance***


Memang mulanya tak sedikit yang menentang hubungan ini, bahkan teringat lagi seberapa banyak batu yang mereka lalui untuk sampai ke tahap ini, semua yang jahat terhadap hubungan mereka, namun nyatanya semua dapat dilalui dengan sangat baik karna Darrel tahu bahwa hanya dirinya yang dapat menentukan pilihan, hanya dirinya yang tahu apa yang terbiak untuk mimpi dan kehidupannya.


🎶She could never be as good as you


Ya, mereka semua tak akan sebaik Luna. Meski gadis itu memiliki banyak kekurangan atau bahkan hati yang belum sepenuhnya miliknya, namun Darrel tetap merasa Luna lah yang sempurna, Luna lah yang paling pantas untuk menemani hatinya. Darrel tahu hal itu.


Darrel hendak melanjutkan ke lirik berikutnya, namun Luna sudah terlelap dengan napas yang sangat teratur. Lelaki itu tersenyum dan hendak mematikan sambungan telpon mereka, namun sebelum sambungan benar – benar terputus lelaki itu berkata.


" Tunggu aku pulang, aku sayang kamu."


*


*


*


Hello Pembaca Semua, Terimakasih sudah bertahan di novel ini, semoga niat author untuk menghibur bisa tersampaikan ke kalian semua.


Coba deh dengerin lagu ini sambil menghayati liriknya, enak banget loh di dengarr


judul : Unintended - Muse


lagunya Muse emang enak banget di dengarnya😄


Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain.


Adella


T(w)o Heart


Miss galak, Iove you


Ex lover


Soulmate


Thank you....


Love,


Eliz