
" Kak, itu kak itu kak, apa tuh namanya, apa tuh namanya," ujar Radith dengan gagap, entah apa yang merasukinya, Darrel sampai menggeplak leher belakang Radith agar lelaki itu kembali normal. Radith mengaduh dan menatap protes ke arah Darrel, namun Darrel hanya mengangkat bahu dan menyengir seketika.
" Gue udah lihat, itu jalan raya, kita harus ke sana dan Lo gak usah banyak omong sebelum luka Lo sakit lagi," ujar Darrel menunjuk ke arah kaki Radith, Radith melihat ke arah kakinya dan mengangkatnya.
" Gue udah baik kok, berkat bantuan cewek tadi," ujar Radith dengan santainya, namun tidak dengan Darrel, lelaki itu tampak bingung karna Radith tampak baik – baik untuk keadaannya yang sebaliknya. Lelaki itu tak mengatakan apapun dan hanya menyimpan kebingungan di hatinya karna mereka harus segera pergi ke atas sana.
" Lo bangga banget ya sehat karna dibantu sama setan tadi?" tanay Darrel yang gatal menahan mulutnya. Namun Radith malah mengangguk tenang dan santai, padahal harusnya lelaki itu khawatir akan kondisinya.
" Lo tenang – tenang aja gitu bersekutu sama setan? Lo yakin Lo bakal baik – baik aja setelah ini? Lo tahu kan resiko bersetuku sama setn?" tanya Darrel dengan wajah ngerinya. Radith terdiam seketika, namun dia sadar karna bukan dia yang meminta dengan sengaja bantuan itu.
" Kan bukan gue yang minta, tapi dia yang nolong, gila Lo mikir gue yang enggak enggak, malah ngedoain tahu gak jatuhnya," ujar Radith dengan sewot sambil meraih batang pohon yang terjuntai, mereka merangkak untuk mencapai jalan karna baru terasa sangat lelah.
" Finally, kita selamat kak! Kita selamat," ujar Radith dengan wajah pucatnya. Darrel menyadari perubahan warna wajah Radith, lelaki itu langsung melihat ke arah kaki Radith yang kini sudah membiru dengan luka yang makin mengerikaan. Darrel kini paham, gadis itu memang membantu mereka untuk keluar dan menghilangkan rasa sakit Radith sampai mereka keluar dari hutan, namun hanya sebatas hutan.
Nyatanya, mereka langsung merasa lelah dengan napas yang rasanya nyaris terputus setelah keluar dari hutan. Kaki Radith yang tadi baik – baik saja kini baru tampak nyata wujud aslinya, ditambah wajah pucat Radith yang tadi pagi Darrel lihat, namun wajah pucat itu sudah hilang saat Darrel kembali dari sungai. Kini pucat itu kembali, bahkan bibir Radith tampak memutih karenanya.
" Dith, Lo masih sadar kan? Dith? Lo harus tahan dikit lagi sampai kita ketemu sama orang, Lo gak boleh tumbang," ujar Darrel saat melihat mata sayu Radith, namun nampaknya hanya mata lelaki itu yang terbuka, kesadarannya sudah hilang entah kemana. Radith tumbang dan pingsan seketika, Darrel tentu panik dan langsung mengangkat Radith ke gendongan di punggungnya.
Tak mungkin tega Darrel meninggalkan Radith di tempat seperti ini, dengan kondisi sepi dan keadaan Radith yang memerlukan pertolongan segera., bisa menjadi bahaya jika Darrel meninggalkan Radith sendirian, semoga saja mereka segera menemukan bantuan dan Radith bisa ditangani seketika, atau semua terlambat dan kaki Radith harus diamputasi karna infeksi.
Cukup lama Darrel berjalan, namun tak ada tanda - tanda kendaraan leewat di tempat itu. Sebenarnya hal ini membuat Darrel merasa kesal, mengapa supir yang mengendarai mobil itu harus lewat jalan yang sesepi ini? Hingga menyebabkan semua fenomena ini terjadi, namun mengumpat pun Darrel sudah tak bisa, apalagi saat Darrel yakin orang itu sudah tewas karna ledakan mobil yang sempat dia dengar sebelum dia pingsan.
" TUAN MUDA!!!" Darrel memengok dan mendapati beberapa orang memakai kaos hitam berlari ke arahnya. Hatinya melega, dia bisa selamat, Radith bisa selamat, terimakasih pada Tuhan yang sudah memberikan mereka kesempatan untuk hidup dan tak tersesat di desa misterius itu selamanya.
" Kalian, untung kalian lekas datang, bantu Radith dan bawa ke rumah sakit, segera!" perintah Darrel yang langsung diikuti oleh beberapa orang disana, mereka menggendong Radith dan berlari dari sana, menuju mobil mereka dan menjalankan mobil itu segera untuk membawa Radith dari sana.
Sementara itu, Darrel langsung terduduk di pinggir jalan dan mengambil napas lega karna akhirnya semua berakhir, kehidupan satu malam yang mengerikan itu akhirnya berakhir. Darrel memandang jalan yang masih sepi, dia menatap semua pengawalnya yang juga menatapnya khawatir.
" Kenapa jalannya sepi banget sih? Masak iya gak ada orang sama sekali yang lewat jalan alternatif ini?" tanya Darrel dengan heran, dia memandang satu persatu wajah yang tak mengeluarkan sepatah kata apapun, sepertinya mereka saling menunggu untuk menjawab pertanyaan Darrel.
" Kami sengaja menutup kedua akses jalan untuk keperluan pencarian tuan muda, tuan muda Jordan meminta masalah ini tidak terendus pihak kepolisian, maka dari itu kami sengaja menutup jalan untuk menghilangkan jejak. Pelaku juga sudah kami amankan, supir yang mengendarai mobil kini sudah di antarkan ke kampung halamannnya untuk dimakamkan."
Darrel mengangguk paham tanpa terkejut sama sekali, hal seperti itu sudah biasa di dunianya. Semua demi reoutasi, ya, jika masalah ini sampai terendus, pasti reputasi banyak pihak akan terancam, maka dari itu mereka memilih untuk mengatasi semuanya sendiri. Bahkan baru Darrel ketahui jika Mr. Wlkinson ikut turun tangan dalam masalah ini setelah salah seorang pengawalnya menceritikan semua yang terjadi setelah dia hilang.
" Mr. Wilkinson bahkan punya koneksi satelit Rusia? Gilak, tajir amat tuh orang, orang penting kali," ujar Darrel dengan logat yang sedikit aneh di telinga pengawalnya yang lain. Mereka membantu Darrel berdiri dan langsung berjalan dari sana menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit. Bagaimanapun Darrel juga harus diperiksa untuk luka dalam atau semacamnya.
" Kemarin Nona Lunetta ikut melakukan pencarian hingga larut malam setelah menemukan petunjuk potongan kaos yang tuan muda kenakan, bahkan nona Lunetta ikut pencarian lagi tadi pagi dan akhirnya Nona muda kelelahan."
" Kalau cerita gak usah setengah – setengah, Lo mau mulut Lo gue sobek biar jadi lebar? Biar kalau ngomong lengkap gak bikin orang penasaran? Luna kelelahan terus kenapa?" tanya Darrel dengan sedikit emosi, bukan dia tak berterimakasih pada mereka yang menemukannya, namun dia sendiri masih merasa lelah dan kesal atas apa yang terjadi.
" Nona Lunetta pingsan tuan, namun kondisinya tak buruk sehingga kami membawa nona pulang ke rumahnya untuk beristirahat, tidak perlu ada yang dikhawatirkan," ujar orang itu dengan sopan, tak peduli jika Darrel kasar padanya, toh dia adalah bawahan Darrel, terlepas Darrel memang jauh lebih muda dari dirinya, asalkan pendapatannya lancar, dia akan tetap setia pada Darrel.
" Kita ke rumah Luna sekarang, gak pakai protes, gue gak kenapa – napa, gak ada luka dalam juga, Cuma lecet dikit," ujar Darrel yang membuat mereka terkejut, namun mereka tak berani membantah atau mencegah, mereka memilih untuk menuruti Darrel jika tak mau pekerjaan mereka selesai sampai di sini.
Mereka langsung menuju ke rumah Luna, memerlukan waktu ber jam – jam karna tak ada helicopter yang disediakan oeh Jordan. Iya Jordan, karna Darrel tak cukup kaya untuk membeli semua itu. Sebenarnya papanya pernah punya helicopter dan pesawat pribadi, namun yah, seperti yang kalian tahu, karena berada di ambang kebangkrutan, papanya menjual semua aset itu untuk menutup hutang mereka.
" Luna, Luna! Aku masuk ya," ujar Darrel mengetuk pintu kamar Luna dan langsung masuk setelah membuka pintunya. Dilihatnya Luna yang damai dalam tidurnya, sangat nyaman. Ingin Darrel berbaring di atas Luna, ah maaf, maksudnya di samping Luna untuk melenturkan kembali ototnya yang kaku setelah berpetualang.
" Kak, kak Darrel?" tanya Luna yang sadar dan mengucek matanya, sepertinya dia sudah sadar dari pingsan, namun diberi obat yang mengandung efek kantuk, membuat gadis itu kembali tidur untuk memulihkan kondisinya. Gadis itu mengerang dan menatap Darrel dengan mata yang sayu karna amsih setengah mengantuk.
" Apa gue kangen banget sama kak Darrel ya? Hehehe, sampai gue mimpiin nih orang satu, kak, Luna sayang sama kak Darrel, kak Darrel janji sama Luna bakal ditemukan dengan selamat ya kak, please," ujar Luna memegang pipi Darrrel, membuat Darrel geli karna tingkah Luna. Entah kemana perginya rasa lelah dan sakit yang tadi bersarang. Mereka semua pergi setelah Darrel melihat wajah Luna.
" Aku juga sayang sama kamu, dan nih lihat, aku baik – baik aja Loh Lun," ujar Darrel sambil menarik pipi Luna agar gadis itu sadar semua bukanlah mimpi. Luna memekik kesakitan dan tersadar seketika bahwa Darrel yang ada di depannya adalah nyata.
" KAK DARREL? INI NYATA? INI BENERAN KAK DARREL?" Pekik una keras sambil mencubit keras pipi Darrek memastikan Darrel adalah nyata. Darrel memekik kesatikan, membuat Luna yakin bahwa semua tidaklah mimpi. Lelaki itu kembali dengan ajaib di hadapannya, tanpa kabar dan tanpa tanda, dia kembali.
" Kamu khawatir banget sama aku kah? Hahahha, makasih ya udah khawait, tapi aku gak papa, aku malaah khawatir waktu dapat kabar kamu pingsan karna cari aku. kamu jangan kayak gitu lagi ya, jangan pernah sakit demi aku, aku gak pantas dapetin itu semua," ujar Darrel pelan dan lembut, membuat Luna luluh dan tersenyum tipis sebagai jawaban.
" Ceritain semua dari awal sampai akhir, gak ada titik, gak ada koma, harus cerita lengkap sampai Luna puas dan jelas," ujar Luna yang membuat Darrel kembali terkekeh. Ini baru gadisnya, ini baru Lunanya. Gadis yang tak pernah puas ataupun diam sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.
Darrel menceritakan semua yang terjadi tanpa di tutup – tutupi termasuk kejadian dia menangkap ayam hutan, mereka terperangkap dalam sebuah desa yang ' ramai.' Termasuk tentang Radith yang langsung dalam kondisi parah setelah keluar dari dalam jurang. Wajah Luna tampak berubah saat mendengaar kondisi Radith.
" aku udah minta orang buat bawa Radith ke rumah sakit, aku bakal kabarin bang Jordan dan minta dia kirim helikopter buat bawa Radith balik dan dapat perawatan di sini, kalau dia udah ada di kota ini, kita ke sana buat jengukin Radith, oke?" tanya Darrel dengan dewasanya, membuat Luna terharu dan langsung memeluk lelaki itu.
" Kak Darrel gak seharusnya sebaik ini sama Luna, tapi kak, Luna udah mulai sayang sama kak Darrel, kak Darrel jangan tiba – tiba berubah dan nyakitin Luna ya kak? Kalau Luna nakal atau nyakitin kak Darrel, kak Darrel bisa marahin Luna, tapi jangan tinggalin Luna gitu aja," ujar Luna dengan wajah yang ditenggelamkan di dada Darrel
" dengar itu dari kamu aja udah bikin aku bahagia banget Lun, rasanya sakit yang ada di tubuh aku semua hilang, makasih ya Lun, makasih, aku sayang sama kamu, bahkan semakin hari rasa sayang itu makin besar," ujar Darrel yang juga memeluk Luna meski nyeri dilengannya mulai terasa lagi.
" Masak rasa sakitnya hilang kak? Berarti gak papa kan ya kalau di giniin?" tanya Luna sambil menekan lengan Darrel yang tampak bengkak dan membiru, membuat lelaki itu meringis kesakitan dan melepaskan pelukan mereka. Darrel memandang Luna kesal, namun hanya beberapa detik, setelah itu dia kembali tersenyum dan langsung bangkit dari posisinya.
" aku telpon bang Jordan dulu, udah kangen kan kamu sama Radith? Duh, masak iya besok aku jadi suami kedua? Gak asik dong, aku gak suka berbagi punya ku," ujar Darrel yang membuat Luna bersemu, lelaki itu malah menggunakan Radith untuk menggoda Luna, apakah lelaki itu tak takut hal ini menjadi bom waktu suatu hari nanti?
" Satu jam lagi Radith sampai ke kota ini, kondisinya cukup parah, tapi udah dikasih macam – macam obat yang aku gak ngerti apa, pokoknya ribet dan banyak obatnya, intinya sekarang dia baik – baik aja. Kamu gak usah terlalu khawatir lagi, nanti aku cemburu."
" Kamu tahu kan cemburu itu berat? Aku gak kuat Lun, cukup kamu aja yang berat, cemburu jangan," ujar Darrel dengan asal yang membuatnya dihadiahi bantal melayang oleh Luna. Gadis mana yang tak sensitif jika menyinggung berat?
" Gak tahu kenapa, di tahun pelajaran ini aku banyak banget punya hal baru. Aku punya kamu yang bener – bener ngajarin aku buat tulus dan setia. Radith yang ngajarin aku buat berani, teguh dan tegas akan apa yang aku punya, kembalinya Fera, dan masih banyak lagi, entah aku harus bersyukur atau gimana, hahaha."
" harus bersyukur dong, kan kak Darrel udah paham, setiap hal yang terjadi di hidup kita, entah itu baik atau kurang baik, semua pasti ada maksud baik dari Tuhan, dan kita harus menemukan maksud baik itu dengan penuh syukur, sampai Tuhan tersenyum dan kasih hadiah ke kita berkat yang melimpah. Kak Darrel setuju akan hal itu kan?"
Darrel mengangguk dan kembali tersenyum. Digenggamnya tangan Luna dan dipandangnya jendela dimana dunia luar bisa terlihat. Benar kata Luna, dunia sangat luas, jika seseorang hanya bisa melihat kekejaman dan ketidak adilan, mungkin orang itu kurang memebuka matanya untuk melihat dunia ini.
*
*
*
Next Part jam 3 sore