Hopeless

Hopeless
Chapter 194



" Makasih karna kalian semua sudah mau datang dan ada di tempat ini. Luna gak tahu harus bilang apalagi ke kalian semua. Luna sayang sama kalian semua, Luna minta maaf kalau selama ini Luna pernah bikin kalian sakit hati atau marah, Luna gak pernah bermaksud melakukan itu semua." Semua yang ada di sana hanya mampu terdiam, beberapa diantaranya sudah menangis tanpa suara.


" Kami semua sayang sama kamu, kami percaya kamu sudah melakukan yang terbaik untuk bertahan, kami semua sayang sama kamu Lun. Kamu selalu memiliki tempat teresendiri bagi kami. Terutama Daddy, Daddy bangga sama kamu." Mr. Wilkinson mewakili yang lain mengungkapkan rasa sayangnya terhadap Luna.


" Luna bahagia dengar itu semua, Luna bahgaia karna kalian selalu ada untuk Luna, kalian semua mau menjadi teman, sahabat dan keluarga yang baik untuk Luna. Luna bersyukur mengenal kalian dalam hidup Luna dan menjadikan kalian bagian dalam hidup Luna. Luna bahagia." Gadis itu kembali mengatur napasnya sambil memejamkan matanya.


" Luna minta apa? Daddy bakal belikan apapun yang Luna minta, asalkan Luna janji Luna bakal sembuh, Luna gak boleh capek sekarang, Luna harus sembuh. Luna bisa kan janji sama Daddy?" tanya Mr. Wilkinson yang membelai rambut Luna dengan sangat lembut. Gadis itu menikmati setiap belaian itu sambil menutup matanya, seakan belaian itu tak akan pernah dia rasakan lagi.


" Daddy, Luna boleh minta sesuatu? Kalau boleh, Luna mau jalan – jalan ke taman sama kak Darrel, gak lama kok, Cuma lima belas menit paling lama," ujar Luna yang membuat ketiga sahabat karibnya makin menangis dalam diam. Mereka sudah tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, namun mereka tak bisa menampakkan hal itu di depan Luna.


" Tentu saja boleh, Darrel, kamu mau kan menemani Luna?" tanya Mr. Wilkinson yang diangguki oleh Darrel. Jordan dan Darrel membantu Luna untuk duduk di kursi roda sebelum akhrinya mereka berdua keluar dari ruang rrawat inap menuju taman yang ada di lantai itu. Taman buatan yang menyegarkan mata pasien selama dirawat di rumah sakit itu.


Tanpa Luna tahu, banyak orang yang tadi berada di kamarnya mengikuti mereka sampai ke taman, namun tidak mengatakan atau memberi tanda apapun. Mereka hanya ingin tahu apa yang Luna katakan pada Darrel, siapa tahu hal tersebut juga menyangkut permintaan Luna yang mungkin jadi permintaan terakhir.


" Kak Darrel, terimakasih kak Darrel sudah hadir di hidup Luna, terima kasih kak Darrel sudah mau nunggu Luna sampai Luna buka hati untuk kak Darrel. Maaf kalau Luna belum bisa jadi pacar yang baik untuk kak Darrel, masih sering nyusahin kak Darrel, maafin Luna kak."


" Kamu gak pernah nyusahin aku sayang, aku melakukan semuanya dengan suka hati. Aku gak pernah menyesal atau kesal dengan semua yang udah terjadi Lun, aku tulus sayang sama kamu, aku bahkan bakal nunggu kamu sampai kapan pun. Aku akan selalu sayang sama kamu Lun."


Luna tersenyum dan mulai menyender di pundak lebar kak Darrel yang memang sudah lama menjadi tempat ternyaaman baginya. Luna memejamkan mata menikmati angin menerpa wajahnya, membuat beberapa helai rambut itu menutupi wajahnya, menggelitik kulit mukanya yang putih pucat itu.


Darrel yang melihat Luna tentu tersenyum, bahkan dalam keadaan sangat pucat pun Luna masih terlihat sangat cantik dan menawan, memang dasarnya dia sudah jatuh hati pada Luna, mau bagaimana pun dia tetap menyayangi gadis itu. Mungkin ini yang disebut dengan cinta buta, mencintai seseorang tanpa syarat dan bahkan sering kali melakukan hal bodoh untuk orang yang kita sayang.


" Luna mau minta kak Darrel kabulin permintaan Luna yang ke lima, kak." Apa yang dikatakan Luna membuat Darrel langsung menengok dan menatap gadis itu, di saat seperti ini, apa yang akan diminta oleh Luna? Jangan bilang gadis itu ingin memutuskan hubungan dengan Darrel seperti film – film romantis di luar sana.


" Luna mau, setelah Luna pergi, kak Darrel bujukin papa untuk kasih ijin karna Luna mau donorin mata Luna untuk Karel. Kak Darrel ingat Karel kan? Anak yang waktu itu kita temui di panti asuhan. Luna memutuskan untuk tolong dia, kasih dia kesempatan untuk melihat indahnya dunia. Luna mau donorin mata Luna untuk dia kak."


" Kamu ngomong apa? Kalau kamu donorin mata untuk dia, kamu gimana? Kamu kan masih harus ada di sisi aku Lun, kamu masih harus selalu semangat untuk hidup Lun, kamu lihat kan tadi, banyak yang berharap sama kamu." Darrel berusaha keras untuk bersikap egois kali ini. Ijinkan Darrel sekali ini saja bersikap egois terhadap Luna, dia tak mau kehilangan Luna untuk selamanya.


" Kak Darrel, Luna sesak napas, kak Darrel bisa gandeng tangan Luna gak biar Luna lebih kuat? Luna masih harus ngomong banyak hal ke kak Darrel, boleh kan kak?" tanya Luna meminta ijin kepada Darrel. Lelaki itu tak menjawab, dia langsung menggenggam tangan Luna dengan erat, menyalurkan tenaga untuk gadis itu bertahan, Darrel harus membuat Luna bertahan selama mungkin.


" Pertama kali Luna ketemu sama Kak Darrel, Luna pikir kak Darrel jodoh Luna karna kak Darrel sangat tampan, hahaha, malu juga rasanya mengakui orang yang gak dikenal sebagai jodoh. Luna gak nyangka ternyata bakal ketemu sama kak Darrel lagi dan kita bisa sejauh ini."


" Kak Darrel, Luna tuh pernah punya mimpi punya anak enam, terus bikin tim futsal atau tim voli, tapi rasanya Luna gak bisa samai ke tahap itu, Luna harap kak Darrel bisa kabulin hal itu buat Luna ya kak? Kak Darrel harus punya anak banyak buat wujudin mimpi Luna."


" Ini permintaan ke enam kamu? Kamu mau aku punya banyak anak gitu? Kenapa bukan kamu ibunya? Aku maunya punya anak banyak sama kamu. Kamu mau punya anak berapa pun aku siap buatnya, asal kamu kuat aja ngelahirinnya," ujar Darrel yang membuat Luna sedikit terkekeh meski lirih karna dia kesulitan bernapas.


" Ah iya, kak Darrel masih belum janji mau ngabulin permintaan ke lima Luna? Kak Darrel harus mau karna waktu itu kak Darrel udah janji mau kabulin permintaan Luna," ujar Luna dengan keukeuh meski suaranya bertambah pelan.


" Iya aku janji bakal bujuk papa dan bang Jordan buat kabulin permintaan kamu yang sangat mulia itu. Tapi nanti, dan nantinya itu masih lama, selama itu belum terjadi, aku bakal bantu cari donor mata untuk Karel, jadi semua akan berakhir bahagia," ujar Darrel yang membuat Luna tersenyum puas.


" Kak Darrel, Kak Darrel tahu gak sekarang Luna benar- benar ngerasain sakit? Rasanya itu sakit banget kak, bahkan lUna gak bisa bernapas dengan benar, setiap Luna ngomong rasanya kaku dan bahkan Luna ngerasa nyaris kesedak terus kak," ujar Luna yang mulai mengadu pada Darrel.


" Oh ya? Kamu susah napas? Aku siap kasih napas buatan buat kamu, aku siap untuk berbagi udara sama kamu sampai akhir hayat aku Lun, aku bahkan siap kasih sebelah paru – paru aku kalau memang itu yang diperlukan biar kita tetep sama - sama," ujar Darrel yang membuat Luna terdiam. Bukan itu yang dia maksudkan.


" Kak Darrel, kalau udah gini, Luna mau sekalian minta permintaan ke enam Luna aja ya kak," ujar Luna sambil memejamkan matanya, mengatur napas dan detak jantungnya sendiri. Seluruh tubuhnya kini terasa sakit, bahkan untuk bicara saja rasanya sangat sulit. Jangankan bicara, membuka mata saja rasanya berat.


" Kalau kamu minta untuk putus aku gak akan mau, jadi kamu jangan minta kita putus atau kamu bakal bikin aku gak nurutin permintaan kamu untuk pertama kalinya. Aku mohon jangan minta putus ya Lun," ujar Darrel yang mulai lirih, lelaki itu tak kuat menahan beban ini lagi, dia tak sanggup jika memang itu permintaan terakhir Luna dari enam permintaan yang harus dia kabulkan.


" Luna gak akan minta kita putus kak, Luna mau minta setelah Luna pergi, kak Darrel ahnay boleh nangisin Luna dua hari, yaitu saat Luna ada di rumah sakit ini dan saat pemakaman Luna, setelah itu kak Darrel gak boleh nangis, gak boleh sedih untuk alasan apapun. Luna tahu permintaan Luna gak akan mudah, tapi Luna harap kak Darrel bisa kabulin itu."


" Untuk apa kamu minta hal seperti itu? Kamu kan bakal terus di sini, sama aku, sama keluarga kita, sampai nanti kita sama – sama lulus sekolah, lulus kuliah dan punya keluarga besar yang bahagia. Aku akan selalu bahagia sama kamu Lun, kamu gak perlu minta itu," ujar Darrel sambil memandang awan yang terbang bebas tertiup angin seakan tak ada beban.


" Kak Darrel, jangan naif lagi. Kak Darrel dan Luna sama – sama tahu kalau umur Luna memang gak lama lagi. Kak Darrel tega membiarkan Luna merasakan sakit sampai seperti ini? Luna sungguh kesakitan kak, kak Darrel gak pernah ngerasain kan mau apa – apa susah," ujar Luna yang berusaha membuat Darrel mengerti.


" Kalau memang saat ini Luna mau pamit ke kak Darrel, kak Darrel bakal ijinin Luna pergi gak? Luna Cuma butuh ijin dari kak Darrel untuk pergi," ujar Luna yang membuat Darrel terkejut. Lelaki itu langsung menggeleng cepat dan mengeratkan tangan yang menggenggam Luna.


" Enggak Lun, aku gak akan ijinin kamu untuk pergi kemana pun, kamu mau pergi? Aku bakal ikut sama kamu, aku bakal ikut kemana pun kamu pergi, aku gak bisa Lun, aku gak bisa tanpa kamu. Biar aku lihat kamu bahagia sama Radith atau kamu bahagia sama yang lain, aku rela. Asal aku masih bisa melihat kamu di dunia ini Lun."


" Kak, tujuan Luna hidup di dunia ini untuk merasakan kebahagiaan, dan sekarang Luna udah bahagia kak, Luna sudah sangat bahagia dan luna sudah sangat puas menikmati kebahagiaan di dunia ini. Luna udah siap untuk kehilangan semua untuk saat ini. Kenapa kak Darrel gak bisa lepasin Luna?"


" Kamu udah siap untuk pergi? Kamu udah bahagia? Bagaimana dengan aku Lun? Aku gak pantas bahagia? Aku belum puas bahagia sama kamu dan gak akan pernah puas, aku baru sebentar merasakan dicinta sama kamu, aku baru merasakan itu semua dan kamu udah mau pergi dari hidup aku?"


" Luna, aku mohon, untuk sekali ini aja, aku mau egois, aku mau paksa kamu untuk ada di sini. Aku mohon, kamu tetap ada di sini, sayang sama aku, cinta sama aku dan hidup sama aku di sisa hidup kita. Aku mohon ya Lun," ujar Darrel menggenggam kedua tangan Luna dengan tangannya. Luna sampai tak tega menatap ke arah Darrel.


" Kak, napas Luna rasanya sesak, setiap kali Luna menelan ludah pun rasanya sakit. Luna takut Luna gak bisa bertahan lama, dan luna takut Luna bakal pergi dengan keadaan kak Darrel belum bisa iklasin Luna. Luna bakal jadi arwah gentayangan dan tidak bahagia di atas sana. Itu yang kak Darrel mau kah?" tanya Luna dengan nada mengancam.


" Memang sakit banget ya Lun? Kamu bener – bener sakit dadanya, napasanya, tenggorokannya? Semuanya sakit?" tanya Darrel seperti anak kecil. Luna emngangguk lemah sebagai jawaban, dia sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengatakan itu semua.


" Kamu gak bisa tahan itu semua bahkan buat aku?" tanya lelak iitu lagi, kini tanpa melihat ke arah Luna dan menatap ke arah pohon yang mulai menggugurkan daunnya karna angin cukup kencang menerpa pohon itu. Darrel dapat merasakan Luna menggeleng karna bahunya terasa tergesek oleh gerakan yang Luna buat.


" Kamu bakal bahagia kalau aku lepasin kamu pergi Lun? Gak ada cara lain ya Lun? Itu bener – bener permintaan terkahir kamu?" tanya lelaki itu memastikan untuk terakhir kalinya, dia berharap Luna berubah pikiran kali ini. Namun nyatanya Luna emngangguk sebagai jawaban, membuat Darrel melemas seketika.


" Oke kalau memang itu yang kamu mau dan yang buat kamu bahagia. Aku iklasin kamu untuk pergi, kamu boleh persi kapan pun kamu mau, aku udah iklasin kamu demia kebahagiaan kamu Lun." Luna tersenyum mendengar perkataan Darrel, akhirnya dia bisa pergi dengan tenang, Darrel yang sangat mencintai dan mengikatnya kini melepaskan ikatan itu, hati Luna melega mendengarnya.


" Setelah ini kak Darrel Cuma boleh nangis dua hari, setelah itu jangan nangis lagi. Genggam tangan Luna yang erat kak," ujar Luna yang nyaris tanpa suara. Darrel melakukan yang lebih baik, lelaki itu memeluk Luna dan meletakkan Luna di dada bidangnya. Gadis itu meneteskan air matanya yang tertutup rapat.


Napas Luna semakin berat, bahkan tangan Luna mulai bergetar lagi, Luna berusaha menarik napas beratnya berkali – kali, rasanya sangat menyakitkan. Inikah yang disebut orang sebagai sakaratul maut? Semenyakitkan ini kah? Luna terus menahan rasa sakit itu. Jantungnya seperti ditusuk oleh ribuan jarum, sakit sekali.


Sampai akhirnya perlahan napas Luna melambat, genggaman tangan itu lepas dengan sendirinya. Napas yang tadinya berat tidak terasa lagi.


Luna telah pergi, Luna telah mengakhiri perjuangan hidupnya di dunia ini.


" Aku boleh nangis kan dua hari ini Lun? Aku ijin buat nangis ya Lun."


Darrel langsung menangis sejadi – jadinya. Memeluk Luna erat seakan hal itu membuat Luna kembali, Darrel sungguh tak bisa melepaskan gadis itu, namun kini gadis itu sungguh sudah pergi. Mau tidak mau dia harus melepaskan Luna.


" Aku sayang kamu Lunetta, dari awal, sekarang dan bahkan sampai selamanya."


*


*


*


*


*


Note : Jangan dibaca di malam hari, nanti tidurnya ingusan


Next Part adalah Last Part (Epilog) untuk Hopeless Season 1


Hah? Ada Season 2? Pssstt, urusan itu nantilah, semua bisa dibicarakan. Tergantung minat kalian terhadap Last part, bisa ada dan bisa juga tidak.


SEE YOU My Happiness🥰🥰🥰