
"Kita lihat yuk, Neng!" ajak Faris. "Sekalian gladi bersih," lanjutnya cengengesan, yang langsung mendapatkan timpukan dari Duta dan Yoga.
"Mau digebukin sama keluarga AA, lu!" seru Yoga.
"Faris 'kan cuma bercanda, Mas," ucap Faris seraya menghindar dari timpukan Yoga dan Duta.
"Bagaimana, Neng? Mau lihat sekarang?" tanya Faris kembali.
"Enggak, ah, Kang. Enggak surprise lagi nanti, kalau kita lihat sekarang," tolak Nezia dengan halus.
"Bener tuh, Ris, apa kata Dik Ines," timpal Ana.
"Lah, tadi Mbak Ana sendiri 'kan yang menyarankan?" protes Faris dengan dahi berkerut.
"Hehe ... ya 'kan, mbak khawatir kalau-kalau enggak sesuai sama selera kalian berdua," balas Ana, terkekeh pelan.
"Pasti kami suka kok, Mbak," balas Nezia.
"Benar apa kata, Inez, Sayang. Bagaimanapun tempat dan keadaannya, mereka berdua pasti suka," timpal Yoga.
"Setuju banget. Begitulah jika hati sedang jatuh cinta, di gubuk derita saja, serasa bagai dalam sebuah istana," tambah Duta seraya terkekeh.
"Ya, dan meskipun sedang banyak orang, dianggapnya tak ada siapa-siapa. Langsung aja nyosor," ledek Faris, yang mengingatkan kejadian ketika Duta dan Ana baru saja selesai ijab qabul.
Faris kemudian terkekeh, yang diikuti Yoga dan sang istri. Sementara istri Duta, tersipu malu.
"Bukan hanya itu, Ris. Kamu ingat, enggak? Saat kita langsung ditinggal masuk ke dalam kamar dan dia tak perduli ketika kita pamitan? Kebangetan 'kan, dia?" imbuh Yoga, masih dengan tawanya.
Pemilik perusahaan periklanan terbesar itu pun kemudian geleng-geleng kepala, masih dengan tawanya.
Faris dan Ana yang mengetahui kejadian tersebut, masih terus tertawa. Sementara Nezia yang tak tahu apa-apa, ikut senyum-senyum melihat mereka bertiga tertawa.
Ya, benar adanya dengan ungkapan, bahwa tertawa itu menular. Nyatanya, hanya dengan melihat Faris, Yoga dan Ana tertawa, Nezia pun ikut tersenyum lebar.
"Ayo, Mas! Kita ke sana," ajak Heni sambil menggandeng tangan sang suami. "Jangan ganggu Mas Faris dan Dik Inez, mereka 'kan pastinya pengin berdua saja." Heni sengaja menghindar dari ledekan Faris dan Yoga.
"Cie ... Mbak Heni udah enggak sabar kayaknya, mau bulan madu yang kedua," ledek Faris, membuat pipi istri dari Duta tersebut, semakin memerah.
Pasangan Yoga dan Ana, serta Duta dan Heni kemudian segera berlalu, meninggalkan Faris dan Nezia yang masih ingin mengobrol berdua.
๐น๐น๐น
Siang hari, kedua keluarga besar Nezia dan Faris duduk bersama di ๐ฃ๐ข๐ญ๐ญ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฎ hotel dalam rangka pertemuan keluarga untuk yang pertama kalinya, sekaligus makan siang bersama.
Mengingat, pernikahan mereka berdua direncanakan secara dadakan dan tidak ada acara lamaran sebelumnya. Maka momen siang kali ini, dimanfaatkan oleh keluarga Faris untuk meminang Nezia.
Pihak keluarga Faris yang diwakili oleh Imron, menyampaikan maksudnya untuk meminang Nezia.
"Mohon maaf, jika kami hanya membawa sekadarnya saja karena semua serba dadakan," pungkas Imron.
"Tidak mengapa, Mas Imron. Apa yang keluarga Mas Imron sampaikan ini, merupakan ๐ด๐ถ๐ณ๐ฑ๐ณ๐ช๐ด๐ฆ bagi kami, terutama bagi Nezia. Sebab, sebelumnya antara kami dan Nak Faris tidak ada pembahasan seperti ini," balas Daddy Rehan selaku wakil keluarga dari pihak calon mempelai wanita.
Acara selanjutnya adalah tukar cincin.
Bu Neneng, mamahnya Faris, bertugas untuk menyematkan cincin ke jari manis Nezia.
"Semoga cincinnya pas ya, Neng geulis," tutur wanita anggun tersebut seraya tersenyum hangat pada sang calon menantu.
Nezia membalas senyum wanita paruh baya tersebut, seraya menganggukkan kepala.
Usai mamah Neneng menyematkan cincin di jari manis Nezia, Bu Nisa kemudian menyematkan cincin ke jari manis Faris.
Semua orang tersenyum bahagia, terutama kedua calon mempelai yang senantiasa menyunggingkan senyuman di bibir.
Penyematan cincin tersebut diiringi dengan musik yang dibawakan oleh home band yang disediakan oleh pihak hotel. Mereka sengaja membawakan sebuah lagu yang sesuai dengan tema acara pada siang kali ini.
Kahitna, adalah grup musik asal Bandung, Indonesia yang dibentuk pada tanggal 24 Juni 1986. Kelompok musik ini dimotori oleh Yovie Widianto. Meskipun kerap mengusung tema cinta dalam liriknya, Kahitna mampu memadukan unsur musik jazz, pop, fusion, latin dan bahkan etnik ke dalam bentuk ramuan musik yang memikat. __Wikipedia__
Lagu ini pertama kali muncul dalam album musik kedua mereka, yang bertajukย 'Cantik', yang dirilis pada tahun 1996.
'Kala kita lihat sepasang merpati.
Terbang lepas bebas tepat di hadapan.
Lalu kau bertanya, kapan kita bagai mereka?
Terbang lepas bebas, lepas bebas ke ujung dunia.'
'Dan kubertanya maukah kau terima?
Pinangan tanpa sisa cinta yang lain.
Rona bahagia terpancar dari anggukan.
Saat kupasangkan pasang cincin di jemari.'
'Terimakasih kau terima. pertunangan indah ini.
Bahagia meski mungkin tak sebebas merpati.'
Para orang dewasa nampak fasih ikut menyanyikan lagu tersebut karena lagu yang ๐ฆ๐ข๐ด๐บ ๐ญ๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ tersebut, populer di zaman mereka masih berseragam putih abu-abu.
Usai acara lamaran sederhana dan khidmat tersebut, keluarga Nezia mengajak keluarga Faris untuk makan siang bersama. Makan siang prasmanan yang disediakan di sisi kiri ruangan yang luas tersebut.
Kedua keluarga besar itu pun menikmati hidangan makan siang dengan menu masakan nusantara, dengan saling mengobrol untuk mengakrabkan kedua keluarga.
Di saat Nezia sedang asyik menikmati makanannya bersama Faris, sang ibu mendekat. "Nduk, kalau sudah selesai makan, buruan kembali ke kamar," titah Bu Nisa.
"Karena kamu harus menjalani serangkaian perawatan terlebih dahulu, sebelum akad nikah nanti sore," lanjutnya seraya tersenyum pada Faris.
"Iya, Bu," balas Nezia yang kemudian segera beranjak hendak mengikuti langkah sang ibu karena kebetulan, makanan di piring calon pengantin wanita tersebut tinggal sedikit dan dia sudah merasa kenyang.
'Neng, habiskan dulu. Tinggal sedikit, itu. Sayang 'kan, Neng," tunjuk Faris pada piring bekas Nezia makan.
"Inez sudah kenyang banget, Kang," tolak Nezia seraya meraba perutnya yang memang sudah sangat kenyang.
"Ya sudah, biar aku habiskan." Faris segera mengambil piring milik Nezia dan tanpa risih langsung melahap makanan sisa gadis itu hingga tandas, hanya dalam dua kali suapan.
"Eh, Kang. Itu 'kan ...." Nezia tak mampu berkata-kata lagi, ketika Faris langsung menyendok sisa makanan miliknya dan menghabiskan makanan tersebut.
"Kenapa, Neng? Risih karena sisa kamu?" Faris menatap Nezia dengan tatapan dalam dan kemudian tersenyum.
Nezia mengangguk lemah. Calon istri Faris tersebut merasa tak enak hati sama calon suaminya.
"Hanya sisa makanan, Neng, kenapa harus risih? Karena nantinya, kita juga akan berbagi yang lain," ucap Faris, masih dengan senyuman manisnya yang mengembang.
Nezia mengerutkan dahi.
"Berbagi peluh dan saliva, Neng," lanjut Faris, pelan.
"Dasar, mesum! Belum juga akad, udah mikir jauh!" tegur seseorang sambil menyentil telinga Faris.
โโโโโ bersambung ...
Best ... sambil nunggu akad nikah Kang Faris dan Neng Ganis, yuk mampir dulu di novel keren berikut.
Karya author keren. Kiss ๐ค๐