Hopeless

Hopeless
Chapter 175



" Dith, Lo mau antar gue pulang gak? Kak Darrel ada rapat sama klien, gue malas kalau dijemput supir, Lo mau kan anter gue?" tanya Luna dengan puppy eyes yang sudah biasa dilihat oleh Radith. Lelaki itu melihat ke arah jam tangannya dengan gelisah, lalu melihat ke arah Luna yang masih mempertahankan wajah yang tak enak dilihat itu.


" Sebenernya gue sibuk banget, tapi ya udah deh gue antar Lo dulu, untung gue nyimpan helm di loker gue, yok kita ke sana dulu," ujar Radith yang membuat Luna bersorak gembira, gadis itu membereskan tasnya dan keluar dari kelas itu. Luna menunggu Radith membereskan tasnya dan menyusul Luna yang menunggunya di pintu.


" Emang Lo sibuk mau kemana dith?" tanya Luna dengan penasaran, pasalnya wajah Radith sangat serius tadi, jika memang hal itu sangat penting Luna jadi tak enak harus eminta Radith mengantarnya, lebih baik Luna pulang sendiri, Luna tak mau terlalu merepotkan Radith dan membuat lelaki itu merasa Luna membutuhkannya. Lelaki itu akan besar kepala nantinya.


" Gue sibuk banget, mau siap siap makan malam sama presiden," ujar Radith dengan wajah tengil sambil membenarkan kerah seragam yang dia pakai, Luna sampai tak tahan untuk menyakiti Radith, gadis itu langsung menarik rambut Radith yang mulai panjang, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan namun terkekeh geli setelahnya. Mungkin menggoda Luna kembali menjadi hobinya yang sudah lama hilang.


Mereka sampai ke parkiran dan Luna memakai helm yang diulurkan oleh Radith sementara Radith memakai helm yang dibawa Luna. Hal itu dikarenakan helm yang dibawa Luna adalah helm fullface dan Luna menolak mentah – mentah untuk memakai helm seperti itu, pengap katanya.


Radith segera mengendarai motornya menuju rumah Luna karna Radith tak yakin akan baik – baik saja jika gadis itu berada di suasana luar menaiki motor terlalu lama, apalagi setelah yang didengarnya dari dokter, sepertinya merupakan hal yang rumit. Apakah Radith harus memberitahukan pada Luna? Atau dia cek sendiri 'vitamin' yang tadi diberikan oleh Luna?


" RADITH AWAS, ADA KUCING!!" Pekik Luna yang membuat Radith langsung tersadar dan menghindari anak kucing tanpa dosa yang berada di jalanan itu, semoga saja tak ada kendaraan yang melindasnya, maafkan Radith yang tak bisa berhenti karna kecepatan motornya tinggi dan akan berbahaya jika dia tiba – tiba berhenti untuk menolong anak kucing itu.


" Lo mikirin apa sih? Untung aja gak ketabrak, kan kasihan dith," Protes Luna yang langsung mendekatkan kepalanya ke pundak Radith untuk mendengar alasan pria itu. Radith mendekatkan kepalanya untuk memberi jawaban


" asfghdgw."


" Hah? Apa dith? Gak dengar ada suara angin," ujar Luna dengan suara yang lebih keras. Radith bisa mendengar jawaban Luna, namun Luna sulit mendengarnya karna helm yang menutupi mulutnya serta suara angin yang mendominasi. Akhirnya Radith hanya menggelengkan kepalanya dan fokus lagi pada jalanan, jangan sampai ada kucing atau hewan lain yang nyawanya terancam karna ulahnya.


" Lo tadi ngomong apa dith?" tanya Luna mengulangi pertanyaannya saat mereka sampai di rumah Luna dan gadis itu sudah turun dari motor Radith. Luna masih mengenakan helmnya sementara Radith langsung membuka helmnya agar Luna bisa mendengar dengan baik.


" Gue ngantuk tadi, jadi gak fokus, anginnya enak banget buat ngantuk – ngantukan," ujar Radith yang terpaksa berbohong, tak mungkin lelaki itu berkata dia terlalu memikirkan Luna dan apa yang dokter itu katakan, bisa – bisa Luna menjadi heboh dan memikirkan hal ini secara berlebihan, apalagi hal ini masih praduga yang belum pasti kebenarannya.


" Parah Lo, kalau tadi kecelakaan gimana? Lecet lagi kan gue jadinya. Ya udah sana balik, jangan ngantuk lagi, ntar Lo nyetir sambil merem, kan bahaya. Gue masuk dulu ya, ngantuk juga gue jadinya," ujar Luna yang berbalik dan meninggalkan Radith, ketika Radith berkata dia mengantuk, secara otomatis Luna langsung tersugesti dan merasa lelah dan mengantuk.


" Eeeehhh, ngantuk mah ngantuk, helm gue jangan dibawa juga dong, terus gue pakai apa besok? Helm ini berat taukk," ujar Radith yang membuat langkah Luna terhenti dan memegang kepalanya yang masih terpasang helm. Luna merasa malu sekaligus geli dengan kecerobohannya.


Pantas saja kepalanya terasa lebih berat dan jauh lebih tertekan, ternyata masih ada pelindung kepala itu di kepalanya. Luna kembali dengan senyum lebar bahkan sampai menampakkan gigi – giginya, melepaskan helm itu dengan susah payah, namun rasanya kuncinya macet, membuat senyum di wajah Luna hilang begitu saja.


" Sini gue lepasin, dasar," ujar Radith menarik bahu Luna mendekat dengan kasar, membuat Luna sedikit tertarik dan posisinya langsung berada persis di depan Radith. Lelaki itu masih tak menyadari posisi mereka dan fokus pada helm yang ada di depannya. Dia tersenyum puas karna kunci macet itu akhirnya bisa dia lepaskan. Radith menatap Luna yang tak disangka sangat dekat dengannya.


Secara otomatis mata yang sipit itu melotot, walau sebenarnya tak begitu pengaruh, karna melototpun tak membuat kelopak mata itu terbuka seperti orang normal lainnya, lelaki itu langsung memundurkan tubuh Lunetta yang sedari tadi membeku dan menatap wajah Radith yang tadinya tak menatapnya. Tiba – tiba saja suasana menjadi canggung, bahkan Radith harus menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering.


" Ya udah, kalau gitu gue masuk dulu, Lo hati – hati ya," ujar Luna dengan gestur yang nampak sekali dia salah tingkah. Radith sendiri tak mengeluarkan kalimat apapun, dia bahkan tak menatap Luna, dia langsung memakai helm full face yang diberikan untuk Luna sebelum akhirnya pamit pada gadis itu untuk kembali ke rumahnya.


" Untung helmnya full face. Parah, gue kok bisa blushing gini sih, perasaan dulu juga gak gini – gini amat, Lo harusnya bisa tahan dith, ingat, dia tunangan orang, Lo biasa aja ke dia," ujar Radith sepanjang perjalanan pulang. Dia memilih fokus pada jalanan dan tak memikirkan kejadian yang membuatnya merasakan malu hingga blushing untuk pertama kalinya.


*


*


Luna berguling – guling di kamarnya dan bahkan sampai memekik karna apa yang dialaminya tadi. Namun pikiran itu cepat teralihkan karna waktu makannya sudah sangat terlewat, dia harus segera makan dan meminum vitaminnya agar sesuatu yang buruk tak terjadi. Luna memakan makanannya dengan lahap dan meminum vitamin – vitamin itu seperti biasa.


Entah mengapa perasaan Luna jadi tak baik dan merasa penasaran dengan apa yang terkandung di dalam vitamin ini. Apakah ini ada hubungannya dengan kakinya yang sering tersandung kan kesemutan? Tapi apakah Luna sanggup menerima fakta jika ternyata apa yang terkandung dari vitamin ini bukanlah Vitamin biasa?


Luna tak bisa menerka – nerka lebih lama lagi, gadis itu memasukkan semua vitamin itu dan berjalan keluar untuk mengecek kandungan obat itu ke rumah sakit. Setidaknya dia harus tahu apa yang dia konsumsi, meski dia yakin bukan suatu yang buruk mengingat Jordanlah yang memberikan vitamin ini padanya.


" Pak, kita ke rumah sakit Bramasta ya," ujar Luna pada supir yang mengendarai mobil miliknya. Supir itu tampak bingung dan menanyakan mengapa bukan ke rumah sakit Wilkinson? Mengapa gadis itu memilih rumah sakit yang lebih jauh dan berbayar? ( yah, Luna tak perlu membayar jika berobat atau melakukan apapun di rumah sakit milik papanya), Luna hanya menjawab ada keperluan di sana dan supir pun hanya menurut tanpa pertanyaan lagi.


Luna langsung menanyakan kepada petugas jika ingin mengecek kandungan obat dia harus kemana. Petugas itu dengan ramah dan baik hatinya langsung mengantarkan Luna ke bagian farmasi, Luna langsung menyampaikan niatnya dan petugas itu meminta Luna untuk menunggu karna obat – obat itu harus di cek di bagian laboraturium.


Luna mengucapkan terima kasih dan menunggu di dekat sana. Luna menunggu dengan cemas dan khawatir, meski dia tahu tubuhnya ataupun kesehatannya dalam keadaan baik, karna dia tak merasakan sakit. Namun menunggu sesuatu yang kita tak tahu pasti memang wajar membuat kita khawatir kan?


Luna harus menunggu lebih dari tiga puluh menit sebelum hasil laborat itu keluar, itupun Luna meminta untuk dipercepat dengan alasan urusan hidup dan mati seseorang. Luna berdiri saat seorang petugas farmasi memanggil namanya dan memberikan hasil laboratorium untuk kandungan obat itu.


" Ini milik saudara saya. Dia meminum obat ini dan bilang ke saya kalau ini vitamin, tapi saya khawatir akan kondisinya jadi saya bawa ke sini buat di cek kandungannya, kalau begitu terima kasih banyak ya mbak," ujar Luna sambil tersenyum sopan pamit dari sana untuk menyelesaikan urusan administrasi. Gadis itu menggenggam hasil yang diberikan dengan erat tanpa berani membukanya.


Sampai di rumah, Luna langsung duduk di sofa dan memandang amplop coklat besar yang dia letakkan di meja. Dia masih ragu untuk membuka isinya atau tidak. Jujur saja, dia tak berani menghadapi kenyataan jika benar kondisinya tak baik – baik saja. Apa yang harus dia lakukan kalau benar demikian?


" Ah bodo amat, gue harus tahu sebenernya gue kenapa," ujar Luna yang akhirnya frustasi dan mengambil berkas itu dengan kasar. Mengambil isinya dan membaca dengan teliti apa yang terkandung di dalam obat – obat itu. Membaca sederetan tulisan yang tak dia mengerti membuat kepalanya menjadi pusing, untung saja gadis itu ingat dia memiliki smart phone yang cukup canggih.


Dengan perlahan dan teliti, gadis itu mengetikkan huruf per huruf yang ada di sana untuk menemukan apa kegunaan obat itu. Beberapa tak menunjukkan sesuatu yang berarti. Namun dia menarik kesimpulan untuk 'penyakit' yang dia derita.


Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Gadis itu terkejut, sangat terkejut karna ternyata bukan vitamin yang terkandung di obat itu, melainkan komposisi obat untuk penyakit yang sangat asing bagi Luna. Gadis itu mulai menuliskan nama penyakit itu dan semakin melemas melihat hasil yang dia temukan.


Luna membuang kertas yaang ada di atas meja itu dan *** rambutnya untuk menenangkan pikirannya. Tidak mungkin, semua tidak mungkin. Pasti Jordan sudah salah memberikan obat padanya. Pasti Jordan mengira obat – obat itu adalah vitamin. Tak mungkin di usia yang semua ini, Luna harus mengalami hal yang semengerikan itu. Luna bangkit berdiri untuk memastikan hal tersebut pada Jordan. Ya, dia harus memastikannya.


Gadis itu memungut kertas yang tadi dia pegang, mengambil ponselnya dan segera berlari menuju ke lift dengan mata yang berkaca – kaca. Bahkan gadis itu mengabaikan Danesya yang kebetulan keluar dari kamar dan memanggil namanya. Luna tak peduli, gadis itu harus segera bertemu dengan Jordan.


Untungnya Luna tahu jika hari ini Jordan bekerja di rumah karna kondisi kesehatannya yang menurun karna kelelahan menghadapi tumpukan berkas itu. Tanpa membuang waktu Luna langsung menuju lantai dua dan menuju ke kamar utama dimana Jordan tidur. Luna mengetuk pintu kamar itu berkali – kali, namun tak ada jawaban sama sekali.


Gadis itu langsung berbalik dan menuju sebuah ruangan yang Luna tahu adalah ruang kerja Jordan selama di Indonesia. Meski lelaki itu berada di Indoensia untuk mengistirahatkan otaknya yang lelah berkuliah, lelaki itu tetap bertanggung ajwab dan menyelesaikan tugasnya sebagai pewaris. Tak ada kata liburan di kamus Jordan untuk saat ini. Tidak selama Wilkin's coorp masih dipegang oleh Mr. Wilkinson yang tak pernah mau merugi.


" Abang! Abang buka pintunya! Abang! Abang Luna mau tanya sesuatu sam aabang<" ujar Luna dengan keras sambil menggedor – gedor pintu ruangan itu. Terdengar Jordan juga menaikkan nada bicaranya dan meminta Luna untuk menunggu karna dia juga memerlukan waktu untuk sampai dan membuka pintu itu. Jordan hendak mengomeli Luna, namun melihat adik gadisnya tak dalam kondisi baik, Joran mengurungkan niatnya itu.


" Kamu kenapa? Kamu kok nangis gitu? Kamu cerita ke abang, kamu kenapa? Itu di tangan kamu kamu bawa apa?" tanya Jordan yang mencoba mengambil sesuatu yang Luna sembunyikan di balik punggungnya.


" Luna sakit apa bang?" tanya Luna dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan lagi. Jordan tampak kaget dengan pertanyaan Luna yang langsung pada intinya. Namun lelaki itu berusaha terlihat biasa saja, bahkan memasang wajah bingung di hadapan Luna.


" Kamu gak sakit apa – apa, kamu kan sehat, memang selama ini kamu sakit apa? Kamu demam? Atau apa? Abang gak ngerti arah pembicaraan kamu," ujar Jordan dengan tatapan mata kahwatir. Lelaki itu memegang pundak Luna, namun Luna menyingkirrkan tangan Jordan dari bahunya.


Tak jauh dari mereka, ada seorang gadis lagi yang melihat keduanya di ujung tangga, bahkan gadis itu memegang ponsel yang masih menyala, menghubungi papanya dan memberitahukan kondisi yang dia lihat saat ini. Saat melihat Luna berlari sambil menangis, Danesya sudah tahu ada yang tak beres terhadap gadis itu, dan rasanya papanya harus tahu tentang hal apapun itu.


" Abang gak tahu? Abang benar – benar gak tahu? Abang gak tahu atau pura – pura gak tahu? Abang ngerti gak Luna ngerasa bodoh karna gak tahu penyakit Luna sendiri? Kenapa abang tega sembunyiin hal ini sama Luna?" tanya Luna dengan teriakan yang tak dapat dia tahan lagi. Gadis itu melempar kertas yang dias embunyikan di lantai.


Dengan heran dan sedikit takut, Jordan memungut kertas itu, sementara Luna menutup wajahnya untuk meredam suara tangisnya yang sampai sesenggukan. Jordan langsung melotot melihat isi kertas itu, Jordan langsung memandang Danesya yang ada di ujung tangga, menggelengkan kepalanya pelan membuat Danesya melemas dan berlari ke arah mereka.


" Abang harusnya gak sembunyiin ini semua dari Luna, abang harusnya kasih tahu Luna. Ini tentang hidup Luna bang, bagaimana bisa abang bersikap seolah baik – baik aja? Luna udah search apa fungsi obat – obat itu. Abang tahu yang Luna dapat?" Luna masih berusaha menatap Jordan dengan tatapan amarah yang tak terpadamkan.


Hatinya terluka, batinnya tersiksa. Bagaimana bisa semua orang bersikap seolah dia baik – baik saja sedangkan nyawanya dipertaruhkan di sini? Bagaimana bisa mereka semua membiarkan Luna hidup dalam kebingungan selama ini. Pantas saja dia sering terjatuh, pantas saja dia pernah merasa sendok yang dia pegang sangat berat. Pantas saja dia sering beberapa detik tak bisa merasakan tubuhnya.


" Bang, Ataksia bukan sepele, harusnya Luna tahu dari awal jadi Luna gak kebingungan kayak gini bang, Luna, Luna…"


Gadis itu langsung kehilangan kesadaran. Untung saja Danesya persis di belakangnya meski gadis itu tak bersuara agar Luna tak tambah histeris. Jordan langsung mengambil alih dan memasukkan Luna di salah satu kamarnya yang ada di sana dan langsung menghubungi papanya.


" Papa, Luna udah tahu semua tentang kondisinya. Kita harus apa sekarang?" tanya Jordan dengan syok dan sedih yang bercampur jadi satu.


*


*


*


Gak usah di searching guys, next part bakal dijelasin kok Luna itu kenapa whehehehe.


See Yaaaaaa. Luff Luff