Hopeless

Hopeless
Chapter 181



" Radith, bentar lagi kan UTS Dith, gue mau minta tolong ke Lo buat ajarin gue materi yang gak gue paham, ya dith ya, please, gue bakal bayar Lo berapaun," ujar Luna sambil mengatupkan tangannya dan memandang Radith dengan melas. Radith tentu hanya mengerutkan dahinya dan menatap Luna dengan aneh.


" Kenapa Lo minta bantuan gue? Dan kenapa harus gue? Lo kan orang kaya, Lo bisa minta guru privat terbaik buat ajarin Lo. Lagian gue juga sama gak pahamnya tentang materi kita, malah Lo minta ajarin gue," ujar Radith yang menolak mentah – mentah permintaan Luna. Lelaki itu enggan membuat dirinya repot dan berurusan dengan Luna lagi.


" Gue gak bisa percaya sama mereka, tapi gue bisa percaya sama Lo. Gue percaya kalau diajarin sama Lo gue pasti bisa. Gue mohon dith, Lo harus bantuin gue, anggap aja ini permintaan terakhir gue ke Lo," ujar Luna sambil memohon dan semakin memelas. Radith langsung menengok cepat dan menatap gadis itu tak suka.


" Maksud Lo ngomong kayak gitu apa? Gue gak suka Lo ngomog kayak gitu. Lo itu sehat, Lo gak akan mati dalam waktu dekat. Gue bakal bantu Lo asal Lo janji gak buat gue dengar hal gak mutu kayak gini lagi, gue gak suka," ujar Radith dengan tegas dan wajah yang serius.


Luna meringkuk takut karna dimarahi oleh Radith, gadis itu tahu Radith akan marah, namun hanya hal itu yang dapat dia lakukan agar Radith mau menuruti permintaannya. Luna menghela napasnya tanpa melihat ke arah Radith, tak ingin membuat lelaki itu melihat wajah sedihnya.


Dalam hati Luna hanya bisa berharap semoga yang dikatakan Radith benar, dia akan sehat, dia tak akan sakit lagi. Meski di satu sisi dalam hatinya mengatakan hal itu mustahil. Entah mengapa Luna merasa suatu hari penyakitnya ini akan berubah ganas, membuatnya tak bisa melakukan apapun yang saat ini bisa dengan mudah dia lakukan.


" Nanti malam gue ke rumah Lo, kita bakal belajar P.Pkn sama Matematika, kayaknya sih pelajaran pertama buat UTS itu deh. Lagian kenapa tiba – tiba Lo pingin belajar? Ada malaikat lewat kah?" tanya Radith menengok – nengok ke belakang tubuh Luna dan mencari sosok yang sebenarnya tak bisa dilihat.


" Daddy janji sama gue, setiap nilai gue bakal dikalikan juta. Semisal nilai gue delapan puluh tiap mapel, Daddy bakal kasih gue 1 millyard lebih. Jadi Lo harus bantu gue biar gue bisa dapat nilai paling engga delapan puluh," ujar Luna yang mengeluarkan ponselnya dan membuka kalkulator untuk menghitung berapa yang dia dapat untuk setiap nilainya.


" Duit segitu banyak buat apa? Beli ponsel baru lagi? Gak kurang tuh satu lemari penuh, lagipula kan belum ada keluaran terbaru lagi. Hedon banget Lo," cerca Radith yang hanay dijawab gelengan kecil dari Luna. Gadis itu sedikit tersakiti dengan apa yang dipikirkan Radith, meski sebenarnya Radith tak salah jika berpikir seperti itu mengingat cara hidup Luna selama ini.


" Gue mau bangun rumah sakit khusus anak – anak gak mampu yang menderita kanker. Semua biayanya free kalau memang pihak keluarga benar – benar gak mampu buat bayar biaya pengoabtan, makanya gue butuh uang yang besar. Gue gak heran sih kalau Lo mikir gitu, tapi berkat Lo dan sekolah ini, gue udah mulai banyak berubah kok, Lo boleh percaya atau engga," jawab Luna pelan dan tersenyum manis.


" Ya maaf, kan kirain. Tapi, kenapa tiba – tiba Lo peduli sama orang lain kayak gini? Bukan apa – apa yah, tapi Lo kan selama ini…" Radith menggantungkan kata – katanya, dia sadar perkataannya akan lebih menyinggung Luna jika dilanjutkan.


" Gue main ke bagian kanker waktu kemarin gue check up, ternyata banyak banget anak yang ditinggal keluarganya gitu aja karna faktor biaya. Gue ahrap dengan ide gue ini gak ada lagi anak – anak yang ditinggal keluarga saat masa sulit dimana seharusnya keluarganya support dia. Kalau mereka gak mikir biaya, mereka bakal fokus untuk kesembuhan anaknya dan mencurahkan cinta serta semangat yang lebih lagi."


Radith langsung terdiam dan termenung. Sakit membuat Luna langsung berubah seketika, gadis itu menjadi lebih pemikir dan sangat dewasa. Perlahan bibir Radith membentuk senyuman yang manis dan mengangguk. Jika seperti itu tujuannya, tak ada alasan bag Radith untuk Ragu apalagi menolak permintaan Luna.


" Kalau gitu, karna guru jurusan ijin pergi pulang kampung dan kita bakal nganggur seminggu ini, kita mulai belajarnya hari ini. Kebetulan gue udah dapet latihan soal dari anak Bangunan, Lo bisa jawab pertanyaan itu dan nanti gue yang koreksi. Pakai google aja biar gak ada yang salah," ujar Radith yang membuat Luna menatap Radith dengan pandangan tak enak.


" Lo mau ngadalin gue ya? Kalau pakai google dan udah pasti bener, ya namanya gak belajar bareng dong, namanya sih Lo nyontek jawaban gue, ngeselin banget deh," ujar Luna sambil meletakkan ponsel Radith ke meja dengan sedikit keras.


" Weiittss, ponsel gue nih neng, main banting – banting aja sih Lo. Gue bercanda Lun, yaudah ayok kerjain bareng – bareng, bentar, gue ke ruang jurusan dulu buat ngeprint nih soal biar enak dicoret – coretnya," ujar Radith yang diangguki oleh Luna.


Lelaki itu berjalan keluar dari bengkel jurusannya dan menghilang beberapa saat lalu kembali lagi ke bengkel itu dengan beberapa lembar soal yang sudah dia cetak. Keberuntungan menjadi siswa TEI yang di jurusannya memiliki mesin print sendiri. Mereka hanya perlu membayar setengah harga karna mereka kenal dengan kepala jurusannya.


" Nih, Lo bawa pulpen kan?" tanya Radith yang membuat Luna mengangguk semangat lalu mengeluarkan sebuah pulpen lucu yang dia sengaja beli untuk koleksinya. Luna mengeluarkan sebuah pulpen lagi yang sejenis dan memberikannya pada Radith karna yakin lelaki itu tak akan membawa pulpen.


" Lucu banget nih pulpen kayak gue," ujar Radith dengan reflek yang membuat Luna dengan reflek pula memukul kepala lelaki itu dengan pulpen yang dipegangnya. Radith tertawa lepas dengan respon Luna yang sudah sangat dia duga. Radith tak menyangka sudah mengenal dan menebak Luna sejauh ini, sedalam ini, dalam waktu yang sesingkat ini.


Mereka mulai fokus dengan soal yang ada di dahapan mereka, tak peduli dengan suasana bengkel yang riuh karna beberapa dari mereka membentuk kelempok dimana da yang menonton film, bermain bola dan memainkan game online bersama. Yah, yang paling mengganggu sih mereka yang bermain bola, karna tak jarang bola tersebut nyasar ke arah Radith yang tak memiliki masalah dengan mereka.


Radith mengangkat kepalanya di sela – sela mencari penjelasan di setiap poin ABCDE yang ada di kertas itu untuk menambah pengetahuan mereka. Dengan sigap Radith berdiri dan mengalungkan tangannya untuk melindungi Luna dari bola yang nyasar ke arah gadis itu.


" Ra.. Radith, tangan gue, tangan gue gak bisa dikendalikaan, tolong," ujar Luna lirih sambil melihat ke arah tangannya yang bergetar dengan sendirinya. Radith menyadari Luna bukan sedang terkejut dengan perlakuannya, bukan pula sedang salah tingkah atau deg – deg an. Ataksia yang dialami Luna kambuh, gadis itu tak bisa mengendalikan gerak tubuhnya.


Luna terdiam dan menatap tangan serta kakinya yang masih terus bergerak. Radith yang melihat itu langsung menggenggam tangan Luna agar berhenti bergerak. Luna membuka matanya lebar sambil setetes air mata sudah jatuh dari tempatnya. Gadis itu tak bereaksi, hanya air mata yang dapat menjelaskan keterkejutannya.


" Kata dokter gue baik – baik aja dith, kata dokter gue bakal sembuh dalam waktu epat, tapi, tapi kenapa sekarang kambuh lagi. Dokter gak mungkin bohongin gue lagi kan dith? Gue, gue gak lupa minum obat kok," ujar Luna secara acak dan pandangan mata kosong. Seketika rasa takut langsung mendomonasi pikiran Luna. Apakah dokter itu berbohong? Apakah sebenarnya kondisi Luna sangat parah?


Radith tak menjawab. Lelaki itu hanya melakukan tugasnya untuk membuat getaran itu berhenti. Radith tak menggerakkan tangannya sampai dia merasa tangan Luna sudah berhenti bergerak. Perlahan dia melepaskan tangannya dari tangan Luna dan menatap gadis yang masih tak menyangka dengan kejadian barusan.


" Lo gak usah mikir macam – macam. Mungkin itu karna Lo deg degan sama kelakuan gue tadi. Udah, Lo gak usah pikirin ini lagi. Sekarang mending kita beli es krim, katanya jurusan TAV sekarang jualan es krim gitu, Lo mau kan?" tanya Radith yang menglihkan perhatian Luna. Gadis itu mengangguk dan mulai berjalan pelan, takut kakinya tidak berfungsi dengan baik.


Namun saat tahu kakinya baik – baik saja, Luna mulai berjalan biasa dan menyusul Radith yang sudah ada di dekat pintu. Lelaki itu tampak mengetikkan sesuatu lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam celananya. Luna dan Radith berjalan menuju tempat dimana Es krim berada.


" Lo yakin mau yang itu? Biasanya kan Lo yang coklat, itu kopi loh bukan coklat," ujar Radith saat Luna memegang es krim dan mencari uang di kantongnya. Luna mengangguk senang dan mendekap es krim itu di perutnya. Radith terkekeh dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar kedua es krim tersebut.


" Lo bayarin gue? Yeay! Thank you ya, kalau gini kan jadi ganteng Lo," ujar Luna sambil membuka bungkus es krim itu yang membuat Luna semakin mengangguk senang karna sudah lama sekali dia tidak merasakan sensasi memakan es krim. Dengan iseng Luna mencolek es krim yang dia pegang dan mencolekkan es krim tersebut ke pipi Radith.


Luna tertawa keras dan berlari sementara Radith harus mengejar Luna agar gadis itu tidak terjatuh atau terluka. Benar kata orang tua, ucapan dan pikiran kita adalah doa, tak berapa lama setelah Radith memikirkan hal itu, Luna terjatuh karna tersandung.


Radith langsung melahap es krimnya dalam sekali gigit, tak mungkin kan dia membuang es krim yang sudah dibelinya dengan uang, kan tidak baik juga membuang – buanag makanan. Ah baiklah, bukan waktunya membicarakan hal ini karna Radith sudah berlari menghampiri Luna yang terlihat memukul – mukul kakinya.


" Luna! kenapa kakinya dipukul – pukul. Heh, Luna, Lo sadr woi, Lo gak boleh nyakitin diri Lo sendiri, jangan bego ih," ujar Radith yang menahan kedua tangan Luna agar tak semakin melukai dirinya sendiri. Gadis itu masih meronta dan berusaha untuk memukul kakinya yang tidak pernah bisa diajak bekerja sama.


" Gue benci dith, gue benci sama kaki gue, gue benci sama semua penyakit ini. Gue harus jatuh berkali – kali dan gue dipaksa untuk bangkit lagi, gue capek, gue frustasi! Gue benci kaki ini! Gak guna! Gue benci," ujar Luna yang menangis sampai meraung – raung. Apa yang dilakukan Luna tentu saja membuat banyak mata melihat ke arah mereka.


Untuk menyelamatkan Luna dari gosip dan rasa malu, Radith langsung menggendong Luna dan membawa gadis itu ke UKS. Luna masih menangis meski kini tidak meronta – ronta lagi. Radith sampai tak bisa berkata – kata lagi saat melihat Luna begitu terluka, gadis itu pasti melewati waktu yang sangat berat di hari yang lalu, bahkan di hari yang akan datang.


" Gue tahu ini sulit buat Lo, gue juga gak bisa bilang semua bakal baik – baik aja atau semua kata motivasi bullshit karna gue emang gak ada di posisi Lo, gue gak bisa rasain apa yang Lo rasain. Tapi satu hal yang gue tahu Lun, Lo gak sendirian, Lo gak sendirian untuk hadapin semua hal ini," ujar Radith dengan lembut dan pelan.


" gue gak tahu apa yang ada di hari depan. Gue gak bisa jamin apa yang ada di depan kita selalu berbunga dan indah. Ada kalanya kita bakal hadapi jalan berbatu atau badai yang ngehadang jalan kita. Tapi apapun itu, gue mau Lo tetap tegar, gue mau Lo kuat dan Gue bakal selalu ada buat Lo, Lo jangan nangis lagi, gue sedih Lo ini Lun," ujar Radith yang sebenarnya sangat jujur.


Luna langsung menghentikan tangisnya dan menatap Radith yang penuh ketulusan. Gadis itu kembali menitikkan air mata, namun kali ini air mata kebahagiaan karna Radith yang begitu tulus peduli padanya. Gadis itu merasa lebih yakin untuk menghadapi hari esok, merasa siap untuk menghadapi badai yang akan menerpanya.


" Lo janji sama gue kan dith? Lo janji gak akan tinggalin gue di saat gue terpuruk kan? Lo janji bakal selalu ada di sisi gue di masa – masa sulit kan dith?" tanya Luna yang tampak ketakutan dan snagat bergantung pada Rdith. Lelaki itu mendekat dan memeluk Luna, mengangguk dan meyakinkan gadis itu bahwa semua yang dia katakan adalah hal yang jujur dan serius, dia tak akan main – main lagi mulai hari ini dan kedepannya.


" Gue bakal selalu ada buat Lo, di sekitar Lo banyak orang yang sayang dan peduli sama Lo. Ada bokap Lo, Abang Lo, Kembaran Lo, pacar Lo," ujar Radith pelan namun masih bisa di dengar oleh Luna.


" Dan ada gue," sambungnya setelah beberapa saat terdiam.