Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 51



Radith masuk ke dalam mobilnya dengan tergesa – gesa. Dia menyalakan klakson yang ada di sana untuk menyapa satpam yang ada di sana. Lelaki itu langsung melajukan mobilnya ke suatu tempat, lelaki itu mengebut namun tak bertindak smebarangan dan membahayakan pengguna jalan lain. Lelaki itu merasa frustasi dan ingin segera mendengar penjelasan dari si brengsek yang sudah membut Luna menangis sampai seperti itu.


Lelaki itu memarkirkan mobilnya ke halaman rumah Darrel dan langsung turun dari mobilnya bertepatan dengan Darrel yang keluar dari dalam rumah ditemani oleh beberapa orang di belakangnya. Tanpa berbasa – basi Radith langsung menghampiri lelaki itu dan menghadiahi lelaki itu satu pukulan mentah yang membuat lelaki itu terjatuh dan tersungkur.


" Tuan Muda!" pekik orang – orang Darrel yang langsung menjaga Radith agar tidak mendekati Darrel. Mereka tahu jika keduanya adalah bos mereka hingga mereka tak bisa membiarkan salah satu di antaranya terluka. Radith tak peduli, dia menghempaskan tangan salah satu pengawal itu dan menendang Darrel.


Lelaki itu lupa dan dia menendang di bagian perut Darrel, membuat lelaki itu meringis kesatikan dan tak mampu mengatakan apapun lagi. Radith langsung terdiam beberapa saat, namun saat melihat Darrel yang tak kunjung berhenti mengerang sambil memegang perutnya membuat lelaki itu terkaget dan meminta orang – orang itu membawa Darrel masuk sementara Radith menghubungi Dokter.


" Kenapa hari ini gue berurusan sama Dokter terus sih? Apa gue harus kuliah kedokteran? Apa sih? Lo absurd banget Dith?" tanya Radith pada dirinya sendiri. Lelaki itu melihat dokter yang memeriksa Darrel dan menekan perut lelaki itu. padahal Radith tak menendangnya dengan keras, namun tetap saja Darrel tidak sedang berada dalam kondisi baik untuk bermain tendang – tendangan.


" Saya harap tidak akan terjadi benturan lagi terutama bagian perut kamu. Kondisi kamu sudah sangat buruk, jika kamu menciderai perut kamu, itu hanya akan memperburuk keadaan. Semoga ke depannya kamu bisa lebih bijak lagi," ujar dokter yang langsung pamit dari sana. Radith tak mengatakan apapun, bahkan dia tak mengubah air mukanya sama sekali.


Radith menatap Darrel dengan tatapan tajam, menusuk dan dingin yang membekukan, namun Darrel berusaha sesantai mungkin dan memegang wajahnya yang sedikit perih serta perutnya yang nyeri. Radith makin tak suka melihat lelaki itu bersikap tengil di hadapannya.


" Lo mau apa datang ke rumah gue? Datang – datang sudah ngajak main gelut – gelutan. Gue gak ada waktu, gue punya banyak urusan," ujar Darrel yang membuat Radith berdecih, lelaki itu langsung menatap Darrel dengan makin tajam dan menyeringai kecil, membuat bibir kirinya terangkat seakan meremehkan Darrel.


" Lo sibuk yang mana? Sibuk sama ginjal Lo yang nyaris gak fungsi atau sibuk sama selingkuhan Lo?" tanya Radith yang membuat Darrel terkejut, lelaki itu menatap Radith dengan kaget, namun sesaat kemudian langsung membuang wajahnya dan menatap ke arah lain, enggan menatap ke arah Radith yang terus melihatnya dengan tajam, membuatnya merasa tak nyaman.


" Ternyata benar kan? Lo selingkuh sama orang lain? Sadis, gue kira karna Lo insecure sama kondisi Lo dan Lo putusin Luna. Ternyata bukan itu alasannya, Lo tahu? Lo jauh lebih busuk dari kencing yang udah basi," ujar Radith yang tak dijawab sama sekali oleh Darrel, lelaki itu hanya diam.


" Kenapa? Gue tahu Lo bukan tipe cowok yang doyan sama banyak cewek, gue benar kan? Siapa ceweknya? Lo pilih kasih tahu gue sendiri atau gue cari tahu orangnya dan bikin Lo menyesal?" tanya Radith wajah dengan tenang, namun tidak dengan nada bicara yang penuh penekanan yang membuat Darrel menatap Radith dengan tatapan dingin dan datar.


Kini keduanya seolah menunjukkan siapa yang paling dingin diantara mereka sementara pengawal yang menatap mereka lah yang membeku karna tatapan – tatapan itu. Darrel menarik napasnya dalam – dalam dan membuangnya agar dia tak terpancing oleh ekspresi Radith yang menjengkelkan dirinya.


" Bukan urusan Lo," ujar Darrel dengan cepat dan kembali membuang mukanya. Radith sudah mengepalkan tangannya, dia tak menyangka lelaki di depannya ini lebih tua darinya meski hanya satu tahun. Sikapnya sangat tidak dewasa dan terkesan egois, membuat dia yang sedang menahan emosinya jadi kesulitan sendiri.


" Apa yang ada di hidup Lo emang bukan urusan gue. Tapi kalau hal itu nyakitin Luna, gue akan turun tangan. Lo gak tahu kan setelah Lo pergi dia udah kayak orang gila dan bahkan waktu gue datang dia udah berdarah – darah," ujar Radith yang membuat Darrel terkejut. Dia tentu tak mengetahui hal itu karna dia langsung pergi dari sana.


" Itu bukan urusan gue. Kalau Lo peduli, Lo sama dia aja. Kenapa Lo harus repot – repot ke sini? Bukannya harusnya Lo bahagia karna Lo bisa dapatkan Luna dengan sangat mudah?" tanya Darrel yang membuat tangan Radith terkepal semakin kuat


~ bugh


" Maaf, gue udah tahan dari tadi. Tapi Lo makin nyolot makin bikin tangan gue gatel. Semoga wajah tampan Lo yang busuk itu gak rusak karna tonjokan ringan dari gue. Kalau bukan karna hubungan baik kita, gue udah bunuh Lo saat ini juga," ujar Radith yang membuat Darrel tertawa, tawa Darrel tentu mengundang amarah Radith.


" Kenapa Lo mempersulit diri sendiri? Lo udah dikasih Jalan biar bisa mudah dapetin Luna, Lo malah datang ke gue buat minta penjelasan. Kenapa? Biar Lo bisa satuin gue sama Luna lagi?" tanya Darrel yang malah menantang Radith. Dia sengaja untuk memancing emosi lelaki itu agar lelak itu segera menyerah dan enyah dari hadapannya.


" Lo yakin Lo iklas kalau Gue ambil Luna? Bilang sekarang, saat ini, ke gue kalau Lo iklas, gue bakal bawa Luna buat nikah hari ini juga," ujar Radith yang tak dijawab sama sekali oleh Darrel, lelaki itumembuat Radith tertawa pelan.


" Gak berani kan Lo? Lo itu pengecut, Lo gak mauk asih tahu Luna alasannya dan bikin dia bingung. Tapi Lo juga gak bisa lepasin dia gitu aja? Kenapa? Lo sayang sama dia tapi Lo tinggalin dia di saat kalian bakal nikah satu minggu lagi. Satu minggu Rel, isi otak Lo apa?" tanya Radith dengan heran, lelaki itu tak mau menggunakan emosi lagi untuk saat ini.


" Lo mau tahu alasannya? Lo yakin Lo mau tahu alasannya Dith? Terus Lo mau apa kalau Lo tahu alasannya? Apa urusannya sama Lo dan Lo bisa bantu apa? Lo gak bisa bantu ubah keadaan Dith!" ujar Darrel dengan frustasi. Kefrustasian itu tentu juga dirasakan oleh Radith.


" Apa sih susahnya Lo ngomong alasannya? Kenapa harus kayak cewek gin? Gue eneg harus berantem sama Lo kayak gini, geli!" ujar Radith yang membuat Darrel terdiam lagi. Radith yang tak saba rhendeka menyentak lelaki itu namun Darrel langsung mengungkapkan sebuah pernyataan yang membuat Radith terkejut.


" Karel hamil! Gue gak bisa biarin anak yang dia kandung lahir tanpa ayah. Gue batalin pernikahan gue sama Luna karna gue bakal nikah sama dia secepatnya!" ujar Darrel dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan sedikitpun. Radith bahkan sampai memundurkan langkahnya beberapa langkah saking terkejutnya.


" Ka.. Karel? Karel anak panti asuhan Bunda? Di.. Dia hamil?" tanya Radith dengan tatapan kosong. Darrel membuang wajahnya kesal dan menatap ke arah lain, Radith menatap ke arah Darrel, matanya tiba – tiba memerah dan mendekat ke arah Darrel.


" Gue kira Lo itu cowok busuk yang bikin Luna nangis tanpa alasan yang jelas. Tapi ternyata Lo jauh lebih hina dari yang gue pikir. Lo bikin hamil anak orang di saat Lo mau nikah sama orang lain. Serendah itu hidup Lo Rel?" tanya Radith setelah memukul Darrel dengan sangat kuat.


Darrel terbatuk dan mengambil tissue lalu meludahkan darah yang keluar dari mulutnya. Sepertinya giginya ada yang patah berkat pukulan Radith yang penuh dengan emosi itu. Radith menggelengkan kepalanya dan menatap Darrel dengan jijik, sementara Darrel tak melakukan apapun, seolah dia sudah kalah telak dan tak akan menang jika melawan, hingga dia memilih pasrah tanpa membalas.


" Gue akan ingat hari ini. Lo, sialakan berbahagia sama istri dan calon anak Lo. Jangan pernah muncul di hidup Luna. Atau gue bakal bikin keluarga kecil Lo itu hancur sampai selembut butiran pasir. Lo ingat kata – kata gue, gue gak main – main," ujar Radith dengan tajam dan langsung pergi dari tempat itu.


" Radith mengendarai mobilnya dengan konsentrasi yang sudah hilang entah kemana. Lelaki itu menyetir tanpa melihat ke arah jalan, pikirannya terus berputar di pernyataan Darrel yang tanpa dosa dan seakan sudah siap dengan semua. Namun ada hal lain yang menganggu pikiran Radith. Lelaki itu harus menemui Karel dan Darrel tak boleh tahu akan hal itu.


~ Tiiiiinnnnn


Radith yang terkejut langsung membanting stir ke arah kiri dan menabrak pohon. Kecepatannya tak tinggi, tak membuat lelaki itu celaka. Namun mobilnya harus berakhir dengan lampu yang pecah dan kap mobil yang terbuka setengah karna penyok.


" Tuan Muda, apa tuan muda baik – baik saja? Apa Tuan muda terluka? Kami akan panggilkan bantuan segera," ujar salah seorang pengawal yang menatap Radith dengan panik. Namun Radith malah tak mnggubrisnya sama sekali, lelaki itu masih sibuk dengan isi pikirannya sendiri, membuat pengawal itu makin khawatir dan mengambil alat untuk meminta bantuan.


" Gak usah, gue baik – baik aja. Kalian panggil mobil derek aja, nih mobil gue gak mungkin bisa jalan lagi. Mobil kalian mana? Antar gue ke apartemen," ujar Radith yang dipatuhi oleh mereka. Mereka segera membuka pintu mobil untuk Radith agar lelaki itu bisa keluar dengan nyaman dan masuk ke salah satu mobil mereka.


Radith memegang kepalanya yang pusing. Lelaki itu memang sempat terbentur, namun dia tak mempedulikan hal itu karna dia sibuk dengan fakta yang baru dia ketahui itu. Dia terus memegang kepalanya yang berdenyut. Dia bahkan merasakan hidungnya dingin dan sesuatu mengalir dari dalam hidung itu.


" Hidung gue patah nih. Tissue dong tolong," ujar Radith pada supir yang mengendarai mobil. Pengawal yang duduk di depan langsung memberikan kotak tissue untuk Radith, lelaki itu menerimanya dan langsung membersihkan darah itu dengan tissue yang dia pegang, namun darahnya tak mau berhenti, membuat lelaki itu tak sabar dan menyumpal hidungnya dengan tissue.


" Tuan muda, lebih baik kita pergi ke rumah sakit, takut terjadi pendarahan dalam atau luka dalam lain yang membahayakan," ujar pengawal yang membuat Radith meliriknya dengan tajam lalu membuang tissue yang dia sumpalkan ke tempat sampah kecil di mobil itu dan menyumpalnya dengan tissue yang baru.


" Gue gak papa. Lo doain gue pendarahan dalam dan mati cepat? Lo gak punya tuan kalau gue mati, jadi gelandangan Lo, mau?" tanya Radith dengan ketusnya, membuat orang itu langsung tersadar Radith tidak dalam suasana hati yang baik karna bicaranya sangat kasar, membuat pengawal itu meminta maaf dan diam dibanding Radith makin menghantamnya dengan lidahnya.


" Pergi ke apartemn gue sekarang. Kepala gue pusing banget, panggil dokter ke apartemen gue, lega kan Lo?" tanya Radith yang membuat pengawal itu tesenyum dan mengangguk senang, dia tahu Radith tak mungkin betah setelah bertindak kasar pada staff nya tanpa alasan, lelaki itu akan menuruti merek jika memang itu hal baik.


" Hidup gue kenapa gini banget sih? Kenapa gak pernah gitu tenang – tenang aja, lurus lurus aja. Nikah, punya anak, hidup bahagia gak mikir masalah orang. Ribet," ujar Radith yang mengomel sendiri, lelaki itu merasa pusing karna sebenarnya dia bisa saja tak ikut campur, namun dia merasa tak tega sendiri jika sampai Luna menangisi pria seperti Darrel.


" Lo lakuin ini atas dasar kemanusiaan, ingat Dith. Atas dasar kemanusiaan," ujar Radith dengan lirih sambil mememutar – mutar tissue di dalam hidungnya, membersihkan sisa darah di hidung itu agar tidak mengering dan membuat hidungnya tersumbat.


*


*


*


*


Note :


***Authornya mah bahagia kalian jadi ribut sendiri karna maslaah ini. Hahahaha, Walau Author gak balas komentar kalian satu persatu, Author pasti baca dan Authornya like ( kadang – kadang) haha. Pernah tuh kemarin ada yang bilang mau pamit dari novel ini karna akhrinya Darrel (nyaris) nikah sama Luna.


Hai kamu kalau masih stay di noel ini, udah bahagia belum? :( ini cerita emang sengaja dibuat nano – nano biar kalian gigit ponsel kalian saking gemasnya.


See you in the next part, Love You***