
Satu minggu berlalu, kondisi Darrel tak menunjukkan bahwa dia akan membaik. Lelaki itu makin lemah dan bahkan wajahnya makin tirus, dia sudah tak memiliki selera makan yang baik. Namun Luna tetap berada di dekatnya di saat seperti ini. Luna menjaga dan merawat Darrel selayaknya mereka sudah hidup bersama. Gadis itu bahkan tak pernah mengeluh sedikitpun.
" Kak Darrel mau mandi? Eh tapi kak Darrel gak bisa mandi, Luna panggil perawat buat mandiin kak Darrel ya," ujar Luna setelah menyelesaikan pekerjaannya. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Bahkan saat kondisinya memburuk, Darrel enggan untuk mengatakan sepatah kata apapun pada Luna, setidaknya setelah Luna mengatakan hal itu.
Luna pergi memanggil perawat pria dan mengatakan Darrel ingin mandi, membuat perawat itu menyiapkan segala keperluan untuk membersihkan tubuh Darrel. Luna menunggu di luar ruangan sementara peraat itu melakukan tugasnya. Gadis itu menunggu dengan perasaan sedih. Dia memendam semua perasaan itu dan tak menunjukkannya ke Darrel.
" Luna semangat, Lo pasti bisa buat lewatin semua. Selalu senyum di depan kak Darrel dan semua akan baik- baik aja. Semangat," ujar Luna yang langsung tersenyum lebar dan membuang napasnya berkali – kali agar rasa sesak yang bersarang di hatinya segera pergi. Sejak dia meminta 'itu' pada Darrel, lelaki itu tak mau bicara lagi dengannya.
" Apa karna dia pikir gue murahan ya? Dia ngerasa malu karna gue yang bilang duluan sama dia? Terus dia sengaja diemin gue? Astaga Luna, kenapa Lo gak sabaran gitu sih? Kalau kak Darrel jadi ilfeel sama Lo gimana?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Saat gadis itu masih merenung, perawat sudah menyelesaikan tugasnya dan mengangguk sopan ke arah Luna.
Luna masuk lagi ke kamar itu dan melihat Darrel yang masih membuka matanya. Namun saat lelaki itu melihat Luna dengan lirikannya, lelaki itu langsung memejamkan matanya. Luna kembali menghela napas melihat Darrel yang seperti itu.
" Kak Darrel jangan tidur dulu, kak Darrel belum minum obatnya tadi, kak Darrel minum obat dulu ya baru tidur," ujar Luna yang langsung mengambil obat dan segelas air putih. Darrel langsung membuka matanya dan menerima obat yang diulurkan oleh Luna dan meminumnya. Lelaki itu menatap Luna dengan dalam, membuat Luna terdiam.
" Luna tahu Luna udah keterlaluan minta jadi tunangan kak Darrel lagi, Luna tahu harusnya Luna gak kayak gitu dan Luna tahu itu udah buat kak Darrel gak nyaman. Kak Darrel gak usah pikirin apa yang Luna bilang, kita lebih baik fokus sama kesehatannya kak Darrel.."
" Kenapa kamu ngelakuin itu? kenapa kamu tiba – tiba pingin jadi tunangan aku lagi di saat kondisi aku kayak gini? Kamu ngerasa hutang budi sama aku karna aku udah korban nyawa buat kamu? Atau kamu ngerasa kasihan sama aku yang bahkan aku gak tahu umur aku sampai berapa lama?" tanya Darrel yang membuat Luna terpaku untuk beberapa saat.
" Luna gak pernah kepikiran kayak gitu kak, Luna benar – benar pingin jadi tunangan kak Darrel lagi karna Luna sadar, Luna udah terlanjur suka sama kak Darrel, sayang dan mungkin Cinta. Luna mau kita balik kayak dulu lagi, Luna, Luna gak mau kehilangan kak Darrel," ujar Luna dengan terisak.
" Aku bukan cowok yang berguna. Aku bahkan udah gak punya apa – apa karna harta keluarga aku udah diambil sama pak Indra. Kamu harus cari cowok yang lebih baik. Kamu cantik, pasti kamu mudah dapat pengganti aku," ujar Darrel tanpa beban sedikitpun. Namun hal yang dikatakan Darrel cukup membuat Luna tertusuk.
" Harta keluarga kak Darrel tetap menjadi milik kak Darrel. Bahkan pak Indra udah mati kak, dia udah tewas. Lagipula kalau Luna Cuma incar harta, Luna gak akan memilih untuk menjalani hubungan sama siapapun karna harta keluarga Luna udah lebih dari cukup untuk menunjang Luna sampai mati," ujar Luna yang membuat Darrel menengok lagi ke arahnya.
" Pak Indra tewas? Kenapa gak ada yang kasih tahu aku? apa kalian semua anggap aku udah benar – benar gak berguna dan mikir aku gak berhak tahu semua hal itu?" tanya Darrel dengan nada yang menusuk, Luna langsung menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan itu.
" Luna gak pernah berpikir seperti itu, Luna juga gak pernah bermaksud bikin kak Darrel mikir kayak gitu. Luna Cuma takut kak Darrel makin kepikiran dan kondisi kak Darrel memburuk, itu sebabnya Luna larang semua orang kasih tahu kak Darrel," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam.
" tetap aja, walau aku gak kehilangan semua harta itu, aku gak bisa mengelola semua harta itu. aku gak berguna Lun, dengan kamu kayak gini, aku lebih ngerasa gak berguna dan aku ngerasa kamu menganggap aku kayak gitu, berhenti lakuin semua ini, aku tertekan," ujar Darrel dengan lirih. Kini giliran Luna yang terdiam mendengar hal itu.
Luna masih terdiam beberapa saat. Dia sudah tak sanggup menahan kesedihannya. Dia yakin dia akan menangis jika mengucapkan apapun, dan akhirnya Darrel akan merasa Luna hanya mengasihani dirinya. Lelaki itu akan jauh lebih tertekan dan mungkin saja mengalami depresi yang jelas tak baik untuk kesehatannya sendiri.
" Kak Darrel merasa seperti itu? sampai kapan kak Darrel bakal merasa seperti itu? Luna tahu ini berat buat kak Darrel, Luna tahu semua ini berat dan melelahkan. Tapi bukan Cuma buat kak Darrel, Luna, Bang Jordan, Daddy, dan semua orang yang ada di sekitar kak Darrel, semua juga merasa berat kak."
" Jangan sampai kak Darrel berpikir kak Darrel membebani kami semua. Enggak kak, semua itu kami rasakan, kami pikirkan karna kami sayang sama kak Darrel, kami benar – benar tulus pingin kak Darrel buat sembuh. Kak Darrel bahkan masih semangan dan optimis sebelum Luna bilang kalau Luna mau jadi tunangan kak Darrel."
" Apa karna itu kak? Apa karna itu kak Darrel jadi menyerah dan kak Darrel malah menganggap Luna dengan pikiran sejahat itu kak? Kalau memang kayak gitu, Luna bakal pergi kaak, Luna bakal pergi dan gak akan kembali lagi kalau memang itu yang dipingin sama kak Darrel."
" Untuk waktu yang akan datang, Luna gak akan pernah kenal sama kak Darrel lagi. Kak Darrel gak perlu melihat Luna karna Luna gak akan kembali walau Luna ingin dan bahkan kalau Luna harus pergi dari dunia ini, Luna akan pergi. Luna bakal lakuin semua biar kak Darrel kembali kayak dulu."
" Apa dengan Luna melakukan itu, kak Darrel bakal puas? Kalau Luna melakukan itu kak Darrel bakal ceria dan gak dingin kayak gini? Kak Darrel bakal ngelakuin pengobatan sampai sembuh? Oke kak, Luna bakal pergi sekarang kalau gitu, untuk semua yang udah Luna bilang, kak Darrel gak perlu pikirkan, anggap Luna gak pernah mengatakan hal itu.
Luna langsung berbalik saat mengatakan hal itu, Luna memejamkan matanya dan merasakan air matanya tumpah dan membasahi pipinya. Gadis itu hendak melangkahkan kakinya, namun tangannya ditahan oleh seseorang, seseorang itu menarik tangan Luna dan bahkan menautkan jari – jari mereka, apa yang dilakukan oleh orang itu justru membuat Luna ingin lebih menangis.
" Giman abisa kamu tega ninggalin aku saat kondisi aku kayak gini? Bukan itu yang dilakukan pacar, ah bukan, tunangan ke tunangannya. Kamu gak bisa ninggalin aku berjuang melawan penyakit ini, aku butuh kamu di sini," ujar Darrel yang membuat bahu Luna bergetar, gadis itu langsung berbalik dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Tanpa banyak protes, gadis itu menuruti kemauan Darrel. Dia menidurkan dirinya dan menatap ke arah Darrel yang menoyorot lurus ke amatanya. Gadis itu masih menangis, namun Darrel malah mendekat ke arahnya. Membuat gadis itu merasa grogi dan takut akan apa yang akan dilakukan oleh Darrel.
~ fyyuuhh
Namun lelaki itu malah meniup matanya membuat sisa air yang tertampung di matanya langsung luruh seketika. Luna memejamkan matanya dan Darrel mengusap pipinya untuk membersihkan air itu. Luna kembali terisak atas apa yang dilakukan oleh Darrel.
" Kenapa nangis lagi? Maaf aku udah buat kamu sedih dan tertekan tadi. Maaf karna aku udah kehilangan akal dan malah nuduh kamu yang bukan – bukan. Maaf karna aku susah buat percaya sama kamu dan oranag di sekitar aku. bantu aku Lun, bantu aku buat taruh kepercayaan sama kamu. Aku sayang sama kamu."
" Aku sayang sama kamu, tapi aku terus kepikiran jawaban kamu waktu kita masih di Korea. Dan aku mengakui, memang aku yang gak bisa percaya sama kamu buat cerita semua masalahku. Aku gak bisa percaya kamu bakal paham. Di kepalaku, aku Cuma bakal nambah beban buat kamu dan aku gak akan dapat solusi."
" Jadi kak Darrel gak mau buang waktu buat ngelakuin hal itu? Iya kan? Mulai sekarang gak boleh kayak gitu lagi kak, mulai sekarang, semua yang kak Darrel rasain, semua yang kak Darrel alami, Luna harus jadi orang pertama yang tahu," ujar Luna dengan lembut.
Darrel tersenyum dan mengangguk, lelaki itu menyelipkan rambut Luna yang berantakan agar rambut itu tak menutupi wajah Luna. Darrel tak pernah berhnti kagum aan keelokan yang Tuhan ciptakan. Bagaimana bisa setiap goresan yang ada di wajah Luna tampak sangat indah? Apakah Tuhan lupa menyelipkan kekurangan pada fisik gadis ini?
" Kamu tahu gak? Kalau kayak gini, biasanya bakal terjadi sesuatu loh. Kamu bisa tebak gak apa yang bakal terjadi?" tanya Darrel dengan tatapan yang nakal. Luna yang melihat tatapan itu langsung memundurkan tubuhnya, namun Darrel langsung mengalungkan tangannya ke pinggang Luna, membuat gadis itu terkunci dan tak bisa bergerak.
" Kak Darrel, kak Darrel gak mikir yang aneh – aneh kan? Kak Darrel harus tahan apapun yang kak Darrel rasakan,fokus dulu sama kesehatan kak Darrel, kalau kak Darrel udah sehat baru kita pikirkan lagi ya kak? Luna yakin yang dirasain kak Darrel ini Cuma sesaat," ujar Luna yang membuat Darrel makin gencar menggoda Luna.
" Memang kamu tahu apa yang aku pikirin? Kamu tahu yang aku rasain? Wah, ternyata kamu cewek dengan pengetahuan yang luas ya. Kayaknya aku makin punya perasaan buat membuat kejadian itu jadi kenyataan. Kita harus mulai dari mana?" tanya Darrel yang mulai melirik leher Luna. Luna langsung menutupi lehernya karna tatapan itu.
" Dasar mesum!" pekik Luna yang langsung mendorong wajah Darrel dengan kedua tangannya. Lelaki itu tertawa karna Luna salah tingkah, bahkan wajah gadis itu semerah bunga mawar. Luna langsung turun dari tempat tidur dan mengibar – ibaskan tangannya di depan wajahnya yang memerah.
" Kok mesum? Memang aku bakal ngelakuin apa? Aku gak gak melakukan apa – apa Luna," ujar Darrel yang mendapat tatapan tajam dari Luna, lelaki itu langsungmenutup mulutnya dan melihat ke arah lain. Luna memanyunkan bibirny melihat keisengan lelaki itu. tiba – tiba muncul ide gila dari kepala Luna.
" Luna memang terlihat polos, tapi Luna duah berumur 22 tahun, bahkan sebentar lagi Luna udah ulang tahun ke 23. Luna tahu kok apa yang dipikirkan dan dibutuhkan sama laki – laki normal. Luna tahu kalau Kak Darrel juga butuh dan punya pikiran gitu, kecuali kak Darrel gak normal," ujar Luna yang mendekat ke arah Darrel yang kini menatapnya dengan bingung.
" Kak Darrel lagi sakit, jadi biar Luna yang memimpin kali ini. kak Darrel suka yang gimana?" tanya Luna yang meletakkan kedua tangannya di sebelah kepala Darrel, membuat wajah mereka tampak dekat untuk sekarang. Darrel masih menatap Luna dengan kaget sementara Luna sudah tersenyum nakal.
" Mungkin kalau daddy tahu, kita bakal nikah hari ini juga. Bukannya bagus? Kita bisa lakuin setiap hari sampai kita berdua mati karna lemas. Luna benarkan?" tanya Luna yang berbisik di telinga Darrel. Lelaki itu merasakan tenggorokannya tiba – tiba kering, lelaki itu meneguk salivanya sendiri melihat Luna begitu 'liar'.
" Darimana kita mulai? Dari sini? Sini? Atau…. Sini?" tanya Luna yang memegang pipi, bibir dan terakhir kerah baju rumah sakit yang Darrel kenakan. Lelaki itu langsung reflek menepis tangan Luna dan membenarkan bajunya yang sedikit ditarik oleh Luna. Gadis itu langsung meledak dan tertawa sampai puas melihat wajah panik Darrel.
" Da.. darimana kamu belajar kayak gitu? Aku, aku bahkan gak bisa sampai kayak gitu," ujar Darrel dengan tergagap. Luna menjelaskan adegan itu sering dia tonton pada Drama korea koleksinya, tak sulit untuk belajar dari apa yang sering kita lihat. Darrel langsung menggeleng takjub mendengar penjelasan itu.
Mereka menghabiskan satu hari itu dengan penuh candaan yang membuat Darrel sedikit lupa dia sedang sakit. Luna berhasil membawa harinya jadi hari yang baik dan menyenangkan. Lelaki itu makin yakin bahwa memang Luna dikirimkan Tuhan untuk menemaninya di hidup ini.
" Terima kasih. Terima kasih udah datang di hidup aku, terima kasih udah buat aku bisa menghadapi masalah ini dengan ceria. Aku janji, aku bakal lakuin yang terbaik dan gak akan buat kamu sedih lagi. Bantu aku, bantu aku buat tepatin janjiku yang kali ini."
Itulah kalimat terakhir yang Darrel katakan sebelum akhirnya lelaki itu memejamkan mata dengan napas yang teratur. Membawa jiwanya menuju alam mimpi yang damai.
" Mari kita lakukan ini bersama. Luna sayang sama kak Darrel," ujar Luna yang diakhiri dengan kecupan hangat darinya kepada lelaki itu. menghantar lelaki iyang ada di hadapannya menuju tidur yang lebih nyenyak.