
" Ayo berangkat." Luna yang sedang memegang ponselnya sontak mendongak mendengar suara itu. Luna melongo karna dia melihat penampilan Radith. Lelaki itu memakai kemeja kotak – kotak panjang dan celana jeans panjang, tak lupa sepatu dan rambut rapi, oh lelaki itu juga membawa tas kecil yang melingkar di bahunya. Luna tak berkedip melihat penampilan Radith.
" Lo mau nyumbang atau mau ngelamar kerja? Rapi amat sih Dith?" tanya Luna dengan nada tak menyangka, gadis itu tentu saja heran, Radith tahu mereka akan pergi ke tempat Gym, tidakkah pakaian yang digunakan Radith membuat lelaki itu jadi salah kostum? Radith melihat sendiri penampilannya dan tak merasa apa yang digunakannya adalah salah.
" Gue sengaja pakai begini, biar sampai sana Lo gak bisa paksa gue buat ikutan, gue lagi mager banget, kalau Lo keberatan sama penampilan Gue, Lo bisa pergi ke tempat itu sendiri, pintu apartemen ini terbuka lebar untuk kepergian Lo," ujar Radith dengan santai dan tanpa dosa.
" Lo tuh tiap hari nyemil karet atau gimana sih? Kok pedes banget mulutnya?" tanya Luna yang tak masuk di akal Radith, lelaki itu mendongakkan kepalanya sekilas untuk bertanya maksud perkataan Luna, Luna yang melihat itu saja langsung tahu Radith sedang tidak dalam mood yang baik, apa yang sudah terjadi selama lelaki itu berganti pakaian?
" Mulut Lo pedes, kalau pecel makin pedes kan karetnya makin banyak," ujar Luna dengan asal sambil menyamber tas miliknya dan berjalan mendahului Radith. Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya dan berpikir, membayangkan pecel yang dibungkus banyak karet, lalu dia terkekeh geli atas tingkahnya sendiri.
" Radith masuk ke mobilnya dan Luna sudah duduk manis di dalam sana. Gadis itu merapikan rambutnya dan melihat ke arah kaca yang ada di mobil itu. Dengan iseng Radith menyendatkan mobil itu dengan mengegas dan mengerem tiba – tiba, membuat Luna terantuk kaca yang sedang dia turunkan.
" LO SENGAJA YA!!!!!!" Pekik Luna dengan sangat keras, membuat Radith langsung melepaskan stir yang dia pegang dan menutup kupingnya rapat – rapat. Lelaki itu melirik Luna yang menatapnya dengan garang, seakan bersiap untuk menerkamnya, Radith langsung mengatupkan kedua tangannya, tanda dia meminta maaf pada gadis itu, dia masih ingin hidup tenang setelah ini.
" Iya maaf – maaf, iseng aja, sakit kah?" tanya Radith yang mendekat ke arah Luna, lelaki itu mengambil tangan Luna yang menutupi jidatnya, dan meneliti jidat itu untuk memastikan tak ada luka di sana. Radith kembali ke posisinya dan kembali menyalakan mesin mobil yang semoat dia matikan lalu pergi dari tempat itu segera.
" Gak luka, gak benjol juga, jadi Lo gak usah lebay lagi teriaknya," ujar Radith santai. Namun tidak dengan Luna, gadis itu langsung memerah dan memandang ke arah lain. Setelah sekian lama, jantungnya kembali berdebar saat bersama Radith. Apa yang terjadi pada dirinya? Sudah lama dia memutuskan untuk berhenti menyukai Radith.
' Gak, gue gak boleh suka lagi sama dia setelah sejauh ini, gue gak bisa, gak boleh,' batin Luna sambil sedikit menggelengkan kepalanya, semua yang dilakukan Luna sebenarnya diketahui oleh Radith, namun lelaki itu tak mau membuat suasana menjadi canggung dengan menanyakannya pada Luna.
' Gue ngelakuin apa sih? Lo parah Dith, nyaris aja Lo keblabasan, Lo ingat dong sebelah Lo ini calon bini orang, gak mau kan Lo jadi pebinor ( perebut bini orang)?' batin Radith sambil menambah kecepatan mobilnya agar mereka lekas ampai di tempat Luna biasa melakukan latihan kebugaran. Gadis itu sangat menjaga bentuk tubuhnya sejak lulus dari STM.
Bagaimana tidak? Memang apa yang bisa dilakukan Luna selain hal itu? Gadis itu tak bisa memasak, tak pintar berdandan, bahkan dia tak memiliki keahlian khusus selain mengoleksi ponsel yang sampai dua lemari itu, eeh, memang itu termasuk keahlian? Hal satu – satunya yang bisa dilakukan Luna adalah menjaga tubuhnya tetap enak ipandang agar dia memiliki nilai lebih.
Itulah yang dipikirkan Radith tentang Luna, keterlaluan? Ah tidak juga, karna itu kenyatannya. Gadis itu bahkan hanya sedikit bertambah dewasa setelah lulus dari sekolah. Di saat Radith sibuk mencapai impiannya, Luna sibuk merebahkan dirinya. Entahlah, apakah semua orang yang sudah kaya sejak lahir dan hartanya dipastikan ada sampai dia mati selalu melakukan hal itu?
" Dith, udah lama banget gue gak dengar kabar bang Jordan sama kak Key, mereka apa kabar ya Dith?" tanya Luna pada Radith, seakan Radith tahu jawabannya. Radith sempat tak menjawab pertanyaan Luna karna dia sedang sibuk mencari tempat parkir.
" Kenapa Lo gak tanya sama Darrel? Kan dia kerja sama bang Jordan? Kalau gue kan udah lepas kontak sama Dia, jadi gak tahu kabarnya," ujar Radith sambil melihat ke layar di mobilnya yang menunjukkan bagian belakang mobilnya saat parkir. Pria itu berhasil memarkirkan mobilnya dengan sempurna dan mematikan mesin mobilnya.
" Boro – boro nanya sama dia kabar bang Jordan, kabar dia selama di luar negeri aja gue jarang tahu, setiap kali telpon selalu gue yang cerita, dianya engga," ujar Luna dengan lesu, gadis itu malah mengadukan tunangannya pada sahabatnya yang satu ini. Jika lelaki lain akan mengambil kesempatan, lain dengan Radith.
" Ya itu Lo nya yang bodoh, kenapa Lo Cuma mau didengar dan gak mau dengar kabar dia? Itu sih Lo yang egois tapi masih nyalahin dia atas keegoisan Lo. Coba deh kalau Lo telpon dia, Lo tanya kabar dia, biarin dia cerita kegiatannya. Cowok juga butuh didengar kalik Lun," ujar Radith dengan santai, namun mampu membuat Luna memandang lelaki itu dengan takjub.
" Lo bisa ngomong kayak gini, kayak Lo punya pacar aja sih Dith. Buruan gih cari pacar, biar Blenda juga bahagia lihat Lo laku lagi setelah dia pergi," ujar Luna dengan santai, namun membuat Radith tersenyum kecil mendengarnya.
" Gue bisa aja dapat pacar dengan mudah Lun, orang gue juga gak jelek. Tapi Lo yakin, kalau gue punya pacar, Lo gak akan galau? Karna setelah gue punya pacar, gue bakal bener – bener lepas tangan sama Lo, Lo siap?" tanya Radith yang sengaja memancing reaksi Luna. Luna berhenti melangkah dan menarik tangan Radith agar lelaki itu menatapnya.
" Ya Lo cari cewek yang bisa terima Lo punya sahabat cewek dong! Kayak kak Darrel gitu, kalau cewek Lo ngelarang Lo ada hubungan sama sahabat cewek, berarti dia over protektif, gak baik buat Lo, mending putusin saja," ujar Luna menggebu, gadis itu merasa memiliki pacar yang posesif itu berlebihan.
" Heh anak orang! ( sambil menoyor dahi Luna dengan telunjuknya) Lo gak ngaca heh? Lo emang gak posesif ke tunangan Lo? Dia pernah Lo bolehin punya sahabat cewek? Sekretarisnya cewek aja Lo ngamuk sampai nge obrak – abrik meja kerjanya. Dasar kura – kura gak bisa ngaca."
" Lah emang ada pribahasa kayak gitu? Kura – kura gak bisa ngaca?" tanya Luna yang malah salah fokus dengan perkataan Radith yang terakhir. Radith kembali berjalan, membuat Luna menyusul lelaki itu dan mendesak Radith untuk menjelaskan maksud perkataannya.
" Eh iya, mau jawab yang tadi gue, nyaris lupa. Gue tuh bukan gak bolehin dia punya sahabat cewek, tapi gue tahu kalau dia kenal sama kolega, ceweknya itu gatel, suka pamer paha, udah gitu umbar da*a, ya mana gue ijinin sih Dith."
" Nona Luna tersayang, Lo gak lihat dandanan Lo sekarang?" tanya Radith yang membuat Luna menengok dandanannya, lalu gadis itu menampol pipi Radith pelan, membuat lelaki itu mengibaskan tangannya di sekitar pipi tanda tak suka dengan perlakuan Luna. Dia merasa perkataannya benar.
" Ya kan gue mau Gym Dith, ya kalik gue nge Gym pakai kebaya. Orang mah kudu bisa memposisikan diri lah. Lah cewek itu, masak mau meeting kancing atas dibuka satu, dikira tunangan gue suka apa sama yang begituan. Terus masalah gue ngamuk di sekretarisnya, gue lihat sendiri tuh Sekretaris duduk di meja kak Darrel di kantor kak Darrel."
" Heh? Serius sampai kayak gitu? Jangan – jangan Darrel sendiri yang minta dia datang, terus dia senang – senang aja sekretarisnya kayak gitu, karna udah biasa. Eh malah apes karna Lo mergokin mereka, hayo loh," ujar Radith yang malah menjadi kompor, membuat Luna cemberut dan berpikir.
" Emang iya ya Dith? Tapi masuk akal sih, masak kak Darrel diem aja waktu sekretarisnya duduk di meja gitu. Atau jangan – jangan mereka mau sesuatu kalau gue gak datang? Lah sekarang kak Darrel lagi di luar negeri, kalau dia ada main gimana dong?" Luna dengan panik terus menanyakan hal yang bahkan Radith tak tahu jawabannya.
" Heh! Gue Cuma main – main ngomongnya. Lo tuh gak usah overthinking, percaya aja sih, dia sama cewek lain tuh alergi. Gue udah bilang ke Lo, sisanya terserah Lo. Lo ini jadi mau nge Gym gak sih? Jalannya lama amat?" tanya Radith yang malah berubah kesal, membuat Luna jadi ikut kesal.
" Lo tuh kenapa sih? Dari tadi marah – marah mulu, gue overthinking juga karna Lo yang nakut – nakutin, malah gue yang disalahin. Kalau Lo gak mau nganterin tuh bilang, gak usah marah – marah gak jelas kayak gini," ujar Luna dengan kesal. Radith menghentikan langkahnya dan menatap Luna dengan tatapan tak enak.
" Lah? Emang tadi gue gak bilang kalau gue ogah? Emang gue gak bilang kalau gue mager? Siapa yang paksa gue buat ikut ke sini sampai ngancam – ngancam segala? Mau gue bukain past sebelum ini? Masih anget tuh, likenya juga masih dikit," ujar Radith yang membuat Luna membisu. Benar juga, dia yang tadi memaksa Radith untuk ikut.
" Ya udah gak usah marah – marah dong, gue kan Cuma butuh temen, gak ada yang mau jadi temen gue. Daddy, bang Jordan, Danesya, Adel, Lucy, Key dan bahkan kak Darrel yang janji bakal ada waktu sekarang udah hilang. Maaf kalau emang bikin Lo ngesara terbebani."
" Mulai deh Lo drama, males gue dengarnya. Udah buruan pergi ke tempat Gym," ujar Radith yang langsung merangkul Luna dan menggeret gadis itu agar gadis itu berhenti bicara. Radith paling tak bisa mendengar Luna mengeluh tentang hidupnya yang kesepian. Radith takut gadis itu akan depresi jika terus memikirkannya.
Luna bukan sengaja menggunakan kalimat itu untuk meminta Radith tetap ada di sisinya. Namun di saat seperti ini, dai memang membutuhkan teman untuk menghabiskan waktu, karna jika dia hanya berdiam diri, dia hanya akan membuat pikirannya pergi ke mana – mana.
Radith dan Luna masuk k esalah satu tempat yang memang menjadi tempat Luna untuk Training, bahkan gadis itu memiliki Trainer sendiri di tempat ini. Luna menemui Trainer wanita itu dan melakukan cipika cipiki sebagai salam. Radith hanya menyalalami Trainer itu sambil tersenyum, lalu mencari tempat duduk untuk bersantai.
" Radith tidak ikut Training? Sudah lama kamu gak Gym kan?" tanya Trainer itu yang membuat Radith menggeleng pelan. Lelaki itu sudah cukup membentuk perut dan lengannya, dia tak terobsesi memiliki tubuh yang proporsional, apalagi dia sudah sangat lelah untuk bekerja, saat seperti ini, dia ingin hanya bersantai dan tak melakukan apapun.
Lelaki itu menunggu dua jam sampai Luna benar – benar menyelesaikan kegiatannya. Radith sudah tenang dalam tidurnya sampai gasis itu mengguncang pundak Radith dan membuat lelaki itu mmembuka matanya dan melihat wajah Luna yang basah oleh keringat, seketika lelaki itu meneguk ludahnya.
Radith langsung bangun dari tidurnya dan mengucek matanya untuk pengalihan, dia tak mau Luna menjadi – jadi dan membuatnya semakin kesal jika tahu hal ini. Lelaki itu langsung bertanya apakah Luna sudah selesai dan gadis itu menjawab sudah, namun ternyata Luna ingin berjalan – jalan dahulu sebelum pulang, membuat Radith kembali dibuat bingung.
" Lah? Emang Lo bawa baju ganti? Ya kalik Lo mau jalan – jalan ke mall pakai kayak gini, menjijikan, bau lagi," ujar Radith dengan galak, padahal Luna sama sekali tidak bau, namun Radith cukup risih melihat orang yang terlalu berkeringat.
" Ya nanti sekalian beli baju lah, langsung di pakai. Jangan kayak orang susah, ayo ah temenin gue, pusing gue kalau di rumah sendirian," ujar Luna yang langsung menarik tangan Radith untuk keluar dari tempat itu. Radith menggelengkan kepalanya, namun tetap menuruti saja apa mau Luna.
' Sebenernya Pacar Lo itu Darrel apa gue sih Lun? Kenapa gue yang susah buat ngurusin Lo coba?' batin Radith saat mereka mulai memasuki sebuah toko yang menjual kaos – kaos santai. Luna sibuk memilih sementara Radith sibuk memandangi Luna.
" Cakep gak Dith kalau gue pakai ini?" tanya Luna yang membuat Radith kembali ke kesadarannya.
" Lo pakai apa aja udah cakep, buruan beli, kalau kelamaan gue tinggal," ujar Radith dengan ketus. Luna mengerucutkan bibirnya dan memilih untuk membawa kaos dan celana yang dia pegang, menuju kasir untuk membayarnya.
Luna tidak tahu, jika yang dikatakan Radith adalah spontan, yang berarti langsung dari hatinya.