Hopeless

Hopeless
Chapter 193



" Lo yakin mau di sini temenin Luna? Gue gak bisa lama – lama, gue harus ke kantor bokap. Gue bakal sangat berterima kasih kalau Lo mau di sini temenin Luna." Darrel menatap Radith dengan cemas. Kedua lelaki itu masih berseragam, Radith datang lebih sore karna harus mengikuti larut ( latihan rutin) organisasi pecinta alam yang dia ikuti.


Darrel yang sudah datang lebih awal bisa melihat raut kosong Luna dan tentu saja khawatir jika meninggalkan Luna sendirian. Radith mengangguk untuk menyanggupi apa yang Darrel minta sebelum lelaki itu pergi dari rumah sakit. Toh memang dia pergi ke tempat ini untuk menjenguk dan bergantian menjaga Luna agar gadis itu tidak nekat atau pun sedih yang berlebihan.


Tadi malam, setelah Luna melakukan pemeriksaan sekaligus mengunjungi makam mamanya, Mr. Wilkinson memerintahkan Luna untuk opname dan tinggal di rumah sakit agar Luna mendapat perawatan terbaik, beliau sendiri baru bisa mengunjungi Luna besok pagi karna masih ada urusan di benua lain.


" Gue dengar Lo gak mau makan, Lo beneran gak mau makan?" tanpa basa – basi Radith langsung menanyakan hal itu setelah dia masuk ke kamar inap Luna. Luna tampak terkejut dengan kehadiran Radith, namun gadis itu kembali tenang dan tak menjawab apapun yang Radith katakan. Dia enggan mengatakan apapun untuk saat ini.


" Katanya Lo mau sembuh, Lo udah janji sama semua orang Lo mau sembuh. Tapi sekarang Lo malah gak mau makan, padahal kalau Lo gak makan Lo kan gak bisa minum obat, terus ntar Lo tambah sakit. Gimana ceritanya bakal sembuh kalau kayak gitu?" Luna langsung berbalik dan menatap Radith dengan wajah datar tanpa ekspresi.


" Sejak kapan Lo jadi cerewet dan care kayak gini sih? Biasanya juga gak peduli sama gue." Kini Radith yang terdiam karna respon Luna yang ketus padanya. Radith selalu bertingkah ketus di hadapan Luna, dan kini dia makin cerewet dan tampak sekali kala mengkhawatirkan Luna.


" Lo tahu gue care sama Lo kan? Dari dulu juga seperti itu. Lo aja yang bisa peka sama rasa care gue. Kalau gue galak atau dingin sekarang, gue takut Lo malah kesel sama gue, terus bunuh diri. Kan gak lucu, jadi gue ubah haluan buat nunjukin kalau gue care sama Lo."


Luna cukup terkejut dengan keberanian Radith, namun gadis itu masih tak mau melakukan apa yang Radith minta. Luna merasa dia tidak akan membaik dengan obat – obat itu. Dia cukup semangat setelah mengunjungi makam mamanya, namun dia langsung kecewa karna keputusan papanya yang sepihak terhadapnya.


" Gue gak mau makan, biar gue mati aja sekalian. Itu juga yang daddy mau kan? Nyatanya Daddy langsung ngasih perintah gue masuk ke sini di saat gue yakin gue baik – baik dan bisa sembuh walau gak ada di tempat ini, daddy yang gak bisa percaya sama gue, buat apa gue berjuang?"


" Buat apa? Buat diri Lo sendiri lah! Lo sembuh juga yang bahagia Lo sendiri, kalau Lo sakit juga yang susah dan gak enak itu Lo sendiri. Jangan childish ah, lagian Lo selalu mandang keputusan bokap Lo itu buruk dan semena – mena, padahal coba Lo lihat Lo yang dulu dan yang sekarang, Lo lebih suka yang mana?"


" Yang dulu lah! Dulu gue bisa lari – lari kesana kemari dan tertawa. Gue bisa traveling kemana pun gue mau, gue bisa lakukan apapun yang gue mau lakukan. Enak hidup yang kayak gitu dith dibanding hidup cacat kayak gini. Bahkan buat dnegar suara Lo aja gue harus pakai alat bantu dengar nih."


Radith melihat arah yang ditunjuk Luna, memang benar terdapat alat bantu dengar di telinga gadis itu. Jadi ataksia ini sudah mulai menyerang sistem pendengarannya? Itu artinya Luna sudah mengalami kelumpuhan di bagian tangan dan kaki, setidaknya itulah yang Radith pelajari setelah mengetahui penyakit Luna.


" Tapi setelah Lo masuk STM, Lo jadi lebih bisa mikir, Lo jadi lebih dewasa, dan yang paling bikin Lo beruntung, Lo bisa ketemu sama gue, disukain sama Darrel, dan banyak hal mengejutkan lagi yang buat Lo sadar berharganya hidup ini. Ini soal sudut pandang Lun, kalau Lo lihat dari sisi negatif, ya Lo bakal ngerasa jadi orang yang paling menderita." Radith menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kata – katanya.


" Coba Lo lihat dari sisi positifnya, Lo bakal lebih banyak bersyukur dan terus berjuang. Gue tahu Lo lagi depresi, Lo lagi frustasi dan Lo gak terima harus mengalami semua ini. Terus apa gunanya semua itu? Lebih berguna lagi kalau Lo tahu diri dan berusaha sembuh. Keluarga Lo udah ngeluarin banyak uang buat semua ini."


" Semua perawatan dan terapi ini gak ada guna nya kalau Lo gak mau sembuh. Setidaknya Lo ngurangin beban pikiran keluarga Lo, mereka berharpa banyak Lo sembuh Lun, Lo harusnya tahu hal itu. Lo tahu? Darrel khawatir banget lihat Lo yang kayak gini, bahkan dia tadi ragu banget ninggalin Lo, untung dia percaya sama gue buat jagain Lo di sini."


" Gue gak akan secerewet ini lagi ke depannya. Lo udah dewasa, Lo tahu mana yang benar. Tapi gue mau kasih saran ke Lo, selagi Lo masih bernapas, di situ Lo masih punya kesempatan sekaligus kewajibn untuk terus bertahan hidup. Gue percaya Lo bisa, kami semua percaya Lo bisa. Tinggal Lo sendiri, Lo percaya gak?"


Pertanyaan Radith membuat Luna tertohok, gadis itu menyadari semua hal yang dikatakan Radith benar dan dia pun sudah tahu. Tapi kepusutan papanya sungguh membuat hatinya mencelos, dia merasa dianggap lemah dan tidak dipercaya, meski seharusnsya dia melihat maksud baik papanya dan tidak kekanakan seperti ini. Terbesit rasa bersalah jika sudah seperti ini.


Luna mengalah, gadis itu menghela napasnya panjang dan memita Radith membawakan makannya. Gadis itu merasa malas untuk makan sendiri dan meminta Radith untuk menyuapinya. Radith dengan sabar menuruti saja apa yang di inginkan Luna yang penting gadis itu sudah mau makan dan nanti juga meminum obatnya. Radith terpaksa menggunakan cara kasar untuk menyadarkan gadis itu, nyatanya cara itu berhasil.


" Gak tahu kenapa saat ini Lo kayak Blenda waktu dia frustasi, rasanya Dejavu gitu. Dia harus gue ancam dan gue jatuhin buat sadar apa hal yang baik, dan sekarang Lo juga, apa semua cewek kayak gitu? Pantas aja banyak yang suka sama Badboy, orang harus dijahatin dulu baru nyadar."


" Gak mau jawab gue dith, dan gue gak suka sama Badboy ya, kak Darrel cowok baik – baik, Lo juga cowok baik – baik walau agak gesrek dan gak waras. Jadi gak semua cewek suka sama Badboy, Lo harus catat hal itu." Radith langsung meletakkan piring berisi makanan dan mengangkat tangannya, dia menyerah jika Luna sudah seperti ini.


Luna menghabiskan makanannya dan meminum obatnya, lalu tiba – tiba saja melepaskan alat bantu dengar yang dia pakai. Gadis itu menghela napasnya berkali – kali, dia masih tidak bisa mendengar apapun, dia kira dia akan langsung normal, nyatanya tidak. Luna menidurkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya sampai ke kepala.


" Gue udah lepas alat pendengar gue, dan sekarang gue gak bisa dengar apapun, gue harap Lo bisa pura – pura gak kenal apapun. Gue lagi pingin banyak ngeluh dith, gue harap Lo gak dengar ya gue ngeluh apa." Radith terdiam saat Luna mengatakan hal itu, Radith mengerti Luna mengalami hari yang berat, wajar saja dia mengeluh.


" Belakangan hari ini gue sering banget mimpi gue ada di sebuah taman dith, dan entah kenapa setelah gue tahu gue gak bisa dengar, gue ngerasa hidup ini singkat banget. Kemarin gue pergi ke makam mama, tapi tetap aja malemnya gue mimpi yang sama. Gue takut dith, gue takut waktu gue gak lama lagi, gue takut mimpi – mimpi itu kayak peringatan buat gue."


" Apa gue udah cukup pantas buat masuk surga dith? Apa umur gue pendek karna Tuhan sayang sama gue? Atau penyakit ini Cuma ujian dari Tuhan untuk ngetes seberapa tangguh gue hidup di dunia ini? Itu pertanyaan gue selama ini dith. Sampai akhirnya gue sadar, hiudp mati itu memang mutlak di tangan Tuhan."


" Kalau Tuhan minta gue pulang saat ini pun, gue harus siap, karna cepat atau lambat manusia pasti mati kan Dith? Selama ini gue beralibi takut bikin orang di sekitar gue sedih, padahal mah aslinya gue takut aja menghadapi kematian, gue takut kalau rasanya sakit dan gue gak bisa tahan. Gue juga takut alam sana gak seindah yang gue bayangin."


" Gak ada yang tahu kan di alam sana kayak apa? Gelap kah? Atau putih kah? Atau kayak taman bunga yang sering gue mimpiin? Gimana kalau ternyata semua mimpi gue tentang alam sana itu kebalikannya? Gue bakal kayak apa di alam sana? Pikiran itu selalu berputar di kepala gue, bikin gue pusing sendiri. Apa gue salah dith sampai berpikiran seperti itu?"


" Gue pun ngerasa semua metode pemulihan ini percuma. Dosis obat gue ditambah, jadwal pemeriksaan dan terapi gue ditambah, tapi malah penyakit gue ini tambah parah, seakan memang semua sia – sia, semua hanya memperlambat gue untuk pergi, tapi gak bisa mencegah hal itu terjadi. Kalau semisal gue nyerah, Lo gak akan benci sama gue kan dith? Lo gak akan anggap gue pengecut kan?"


" Jujur aja gue ketakutan dith karna gak bisa dengar apa – apa, gue ketakutan kalau gue mengamali tuli permanen, hidup gue bakal sesunyi apa? Gue gak bisa dengar apapun lagi di dunia ini. Ngebayangin aja udah bikin gue lelah."


" Gue gak mau nyerah karna gue pikir gue harus berjuang untuk keluarga gue. Tapi entah kenapa sejak tadi pagi gue ngerasa gue harus mulai pamit ke kalian semua, gue harus minta maaf dan bikin kalian siap untuk kehilangan gue kapan pun itu. Sekarang yang mengganjal buat gue Cuma kak Darrel."


Luna tak melanjutkan kata – katanya, sedari tadi Radith menarik napasnya panjang dan terus mendengar apa yang Luna katakan tanpa menjawab apapun. Dia merasa bersalah mengabaikan Luna selama ini, jika dari awal dia tidak bersikap seperti pengecut, kejadiannya tak akan serumit ini. Bahkan tak akan ada Darrel di lembaran hidup mereka.


Radith kembali ke kesadarannya, dia tak mendengar perkataan Luna lagi, namun selimut yang menutupi seluruh tubuh Luna masih bergerak, menandakan gadis itu masih bernapas. Radith mulai melihat hal yang aneh, rasanya gadis itu sesusahan sekali dalam bernapas, Radith akhirnya membuka selimut itu dan melihat wajah Luna sudah berkeringat dan pucat.


" Luna? Luna? Lo kenapa Lun? Luna! Luna!" Radith mencari alat bantu dengar dan memasangkannya di telinga Luna agar gadis itu bisa mendengar suaranya. Gadis itu tampak menepuk – nepuk dan bahkan meremas bajunya sendiri, gadis itu terlihat sangat tersiksa.


" Lo kenapa? Lo jawab gue? Apa yang Lo rasain?"


" Gu.. gue.. gue gak.. gue gak bisa na.. napas." Luna mengatakan hal itu susah payah sambil memukul – mukul dadanya sendiri. Mendengar hal itu Radith langsung menekan tombol emergency dan tak perlu waktu lama dokter dan suster mulai masuk dan mengambil alih, sementara Radith mundur dan menyimak apa yang terjadi.


" Siapkan tabung oksigen dan alat pendeteksi jantung segera!" perintah dokter itu pada perawat yang ada di sana. Perawat yang disuruh segera keluar dari dalam kamar dan langsung kembali tak lama kemudian dengan alat bantu pernapasan yang diminta oleh dokter. Dokter memasangkan alat itu pada Luna, membuat Luna perlahan bernapas dengan normal.


" Kenapa Luna tiba – tiba tidak bisa bernapas dok?" tanya Radith setelah dokter melepaskan stetoskop dari telinganya dan mengecek kondisi infus Luna. Dokter itu juga mengecek fungsi alat pendeteksi jantung dan oksigen yang ada di hidung Luna.


" Kamu sudah tahu kan kalau Ataksia itu menyerang fungsi saraf dan otot? Jika penderita ataksia sudah sampai tahap akhir, penderita akan mengalami kelumpuhan pada kaki, sering kram pada tangan, menurunnya fungsi pendengaran, kesulitan dalam bernapas, sulit menelan dan mudah tersedak, hingga melemahnya fungsi jantung."


" Ma.. maksud dokter.. Lu.. Luna?" Radith tak berani melanjutkan kata – katanya. Dokter seakan paham apa yang Radith katakan hanya sanggup mengangguk membenarkan apa yang Radith katakan. Lelaki itu melemas dan langsung memegang kepalanya yang mendadak sakit, membuat perawat dengan sigap menahan tubuh lelaki itu agar tidak terjatuh.


" Maafkan saya, kondisi Luna sungguh tidak terduga, kebanyakan penderita ataksia mengalami hal ini dalam kurun waktu lebih dari sepuluh tahun setelah diagnosis, namun apa yang dialami Luna sangat langka, gadis itu mengalami proses ataksia tahap akhir dalam kurun waktu kurang dari satu tahun."


" Apa tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan Luna dok? Metode yang bisa menyembuhkan Luna misalnya? Atau apapun itu yang membuat kondisi Luna pulih dan bisa beraktivitas lagi? Dokter pasti bisa kan menyembuhkan Luna? Dokter mau dibunuh sama papanya kalau gagal menyelamatkan Luna?"


" Maaf, saya hanya dokter dan bukan Tuhan. Semua yang terjadi pada Luna adalah apa yang Tuhan kehendaki, saya hanya bisa membantu membuat Luna bertahan, namun saya tidak bisa melawan kuasa Tuhan. Saya harap pihak keluarga bisa terus menemani Luna dan memberi semangat. Saya tidak bisa mengatakan apa yang selanjutnya akan terjadi, atau prediksi apapun. Saya takut menyalahi takdir."


Radith mengangguk dan langsung meengambil ponselnya untuk menghubungi semua kerabat Luna agar bisa berkumpul dan memberi dukungan moril. Rasanya saat ini hal itu adalah hal yang terbaik. Meski dengan tangan yang gemetar dan air mata yang sudah jatuh dari kedua bola matanya, Radith tetap menelpon mereka satu persatu.


Mulai dari Jordan, Darrel dan Adel serta salah satu teman kelasnya. Setidaknya mereka bisa mengabari teman Luna yang lain. Setelah menelpon semua orang, Radith mendekat ke arah Luna. Mengusap air mata Luna yang sudah menetes karna dia berusaha keras untuk tetap bernapas.


" Rasanya sakit banget ya Lun? Maaf gue gak bisa memutuskan untuk saat ini, biar Lo ketemu sama semua orang yang ada di dekat Lo. Gu mohon Lun, bertahan, gue mohon, gue gak mau kehilangan lagi. Udah cukup gue kehilangan Blenda, gue gak mau kehilangan Lo."


" Lunetta, gue mohon bertahan demi gue, demi Darrel atau terserah demi siapa juga, yang penting Lo bertahan, gue mohon Lun, gue sayang sama Lo. Gue sayang sama Lo Lunetta. Gue tahu Lo kuat, gue tahu Lo masih mau bertahan kan Lun? Bertahan ya Lunetta, kami semua sayang sama Lo, Lunetta."


" Gue tahu itu berat banget, tapi gue yakin Lo bisa bertahan. Gue percaya hal itu."


***


Annyeong, untuk kalian yang belum menggunakan kesempatan buat kasih ucapan selamat Tahun baru, kalian bisa tolong Author dengan mengucapkan untuk novel ini.


caranya : Update Aplikasi Mangatoon kalian ke versi terbaru, lalu..



Klik Novel Hopeless dan akan muncul beranda novel ini


Dibawah kolom Vote terdapat lambang 'ucapan selamat tahun baru', klik lambang tersebut


Vote dengan ucapan selamat tahun baru dari kalian



Satu vote sangat berarti untuk semangat menuntaskan Novel dari penulis amatir ini. Terimakasih banyaaakkk


Next Part On proccess, See you 😘