Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 99 EMHD



POV Alexander Smith


Maksim baru saja menemui aku di ruang kerjaku. Ia memberikan laporan kalau ada masalah serius yang terjadi pada proyek yang kami kerjakan di New York.


"Bagaimana mungkin Max?" tanyaku dengan suara meninggi. Maksim menyerahkan selembar kertas hasil print out email dari pimpinan cabang yang kami tunjuk di New York. Aku menarik nafas panjang. Rupanya aku yang mereka inginkan untuk menyelesaikan masalah besar ini.


"Persiapkan segalanya Max, besok pagi kita berangkat ke sana." ujarku kemudian membereskan semua berkas-berkas penting yang sedang aku kerjakan di atas mejaku. Maksim patuh. Ia langsung keluar dan meninggalkanku sendiri.


Kuraup wajahku kasar. Rupanya menjadi orang baik dan memulai hal yang baik juga susah, masih banyak juga rintangan di mana-mana. Aku menengadahkan kepalaku ke atas. Berharap Tuhan selalu melindungi kami semua.


Aku menutup ruang kerjaku kemudian kudatangi kamar Nikita.


"Daddy?" tanyanya saat aku berada di dalam kamarnya. Ia seperti ingin memastikan kedatanganku malam itu.


"Kamu sedang apa?" tanyaku sambil memperhatikan coretan-coretan yang ia buat di atas selembar kertas putih di hadapannya.


"Oh, ini. Aku sedang membuat sketsa mimpiku dad. Kata ibu guru, mulai sekarang kita sudah harus menulis apa mimpi kita supaya menjadi sugesti positif dan menjadi motivasi."


"Wow putri Daddy hebat ya." pujiku kemudian kucium pucuk kepalanya. Ia menatapku dengan mata hitam pekatnya. Yang begitu kontras dengan rambutnya yang pirang. Bayangan Paula ada di sana ikut menatapku.


"Daddy, aku mencintaimu. Kalau adikku lahir jangan sampai kamu melupakanku."


Deg


Hatiku seketika tersentak. Aku tak pernah berpikir jauh sampai ke sana.


"Nikita, kamu putri Daddy yang paling aku sayangi. Kalau nanti mommy memberi kamu adik, rasa sayang daddy padamu tidak akan berkurang, okey?" Nikita langsung memelukku.


"Aku ingin tidur bersama daddy malam ini, boleh?" ia menatapku dengan penuh permohonan. Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, aku akan memberi tahu mommy dulu agar ia tidak menungguku sayang." ujarku yang dibalas senyum oleh putriku itu. Aku segera beranjak dari kamar Nikita dan mulai membuka pintu penghubung yang sudah aku buat antara kamarku dan kamar Nikita.


"Aisyah?" panggilku pada istriku yang sedang berdiri di balkon kamar ini. Aku langsung memeluknya dari belakang. Angin malam itu membuat pakaiannya bergoyang-goyang.


"Hem?"jawabnya singkat sambil merapatkan pelukan tanganku pada tubuhnya yang semakin berisi karena kehamilannya yang sudah memasuki bulan-bulan terakhir.


"Besok aku akan ke New York bersama Maksim. Kamu hati-hati ya di rumah. Jaga kesehatanmu bersama junior di dalam sini." bisikku ditelinganya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi di sana?" tanyanya kemudian memutar tubuhnya agar menghadapku. Kutatap mata indahnya kemudian tersenyum.


"Hanya masalah kecil. Tetapi aku yang harus menyelesaikannya. Sekarang ayo masuk di luar sangat dingin. " aku menarik tangannya ke dalam lalu kututup pintu ke arah balkon.


Kubawa istriku itu untuk duduk di atas ranjang. Kukeluarkan selembar kertas kecil tetapi cukup panjang.


Kubacakan semua pesan-pesan ku yang harus Aisyah ingat selama aku tidak berada di sampingnya. Aku melihat Aisyah menutup mulutnya karena merasa lucu.


"Hei ada apa? kamu menertawakan aku ya?" tanyaku karena merasa sedang ditertawakan oleh istriku ini.


"Tidak Alex, aku senang karena kamu memperhatikan aku sampai sedetail ini. Aku akan ingat pesan-pesanmu ini." Aku tersenyum karena senang. Lalu kubacakan kembali catatan-catatan kecil itu dihadapannya tetapi Aisyah langsung merajuk.


"Boleh aku meminta sesuatu?" tanyanya padaku yang langsung aku setujui.


"Apa saja mintalah sayang." ujarku sambil mengelus pipinya yang mulai nampak lebih berisi.


"Naiklah ke ranjang Alex, aku ingin memelukmu." ujar Aisyah sembari menepuk tempat kosong di sisinya. Aku tersenyum senang karena aku juga sangat menginginkannya bahkan lebih dari sebuah pelukan akan aku lakukan. Tetapi tiba-tiba aku teringat akan Nikita yang memintaku untuk tidur bersamanya malam ini, senyumku langsung memudar.


"Aku ingin sekali memelukmu sampai pagi tapi Nikita juga sangat ingin aku tidur bersamanya malam ini, boleh aku kesana sayang?" ujarku dengan hati-hati. Wajah cantik Aisyah seketika berubah tetapi kemudian ia tersenyum lalu berucap,


"Aku tahu kamu daddy yang tidak pernah kehabisan ide kan. Pergilah aku tetap menunggumu di sini." ujarnya dengan tatapan mata indahnya. Aku tahu ia menyuruhku pergi tetapi ia menahan kakiku dengan sangat cerdik.


Segera kuraih bibirnya dengan rasa yang tidak bisa lagi kubendung. "Kamu pintar sekali membuatku tersiksa Aisyah," bisikku dikupingnya kemudian meninggalkannya segera.


Dengan langkah cepat aku segera ke kamar Nikita. Aku takut putriku itu kecewa kalau aku terlambat datang dan menemaninya tidur.


Dan rupanya ia sudah bersiap untuk tidur. Ia menepuk bantalnya saat aku sampai. "Kemarilah Daddy aku sudah lama menunggumu." ujar Nikita dengan wajah senang.


Aku segera menghampirinya dan ikut naik ke ranjang dan mulai berbaring di sampingnya.


"Apakah mommy mengizinkanmu tidur bersamaku Daddy?" tanya Nikita dengan terus menepuk bantal dan mengatur selimut di bagian kakinya.


"Iya sayang. Tidurlah." ujarku singkat. Pikiranku masih berada di bibir Aisyah yang aku tinggalkan tadi padahal aku belum puas.


"Daddy, kalau kamu masih memikirkan mommy, kembalilah ke sana. Kamu tidak harus tidur bersamaku."


Deg


Aku tersadar kalau tingkahku membuat Nikita jadi berpikir yang tidak-tidak.


"Tidak sayang, kemarilah peluk daddymu ini. Ceritakan dongeng yang pernah kamu pelajari di sekolah." ujarku kemudian menarik tubuh mungil itu kedalam pelukanku.


"Ish, kenapa aku yang jadi ingin menidurkan Daddy? apa itu tidak terbalik?" gerutu Nikita dengan suara merajuk. Aku tersenyum,


"Daddy ingin mendengar suaramu sayang. Lagipula aku tidak tahu mendongeng mungkin sebentar aku akan belajar kepada mommymu." Nikita tertawa dan balas memelukku.


Ia memimpin membaca doa sebelum tidur kemudian menceritakan kisah Raja Sulaiman dan ratu Balqis sampai kudengar ia menguap dan jatuh tertidur, aku pun sudah sangat ngantuk tetapi aku teringat akan Aisyah yang katanya akan menungguku malam ini.


Dengan gerakan perlahan aku tinggalkan Nikita kemudian menuju ke kamarku di mana Aisyah sedang menungguku. Dan benar saja istriku yang cantik itu benar-benar menungguku dengan persiapan yang cukup matang.


Ia mengenakan pakaian tidur yang cukup terbuka memperlihatkan tubuhnya yang sangat menarik. Aura cantik dari kehamilannya benar-benar membuatku panas dingin.


Aku bisa membayangkan bagaimana kecewanya nanti padaku andaikan aku tertidur di kamar putriku. Dengan tak sabar aku merengkuhnya dan melabuhkan sentuhan-sentuhan yang mampu membuatnya menggelinjang nikmat.


Malam ini aku ingin membuat ia sangat bahagia sampai ia sendiri yang minta berhenti karena besok pagi aku akan meninggalkannya jauh ke New York untuk beberapa hari.


Malam ini kami habiskan untuk memadu kasih, menyimpan kenangan-kenangan indah yang tak akan terlupakan. hingga ia benar-benar lelah baru aku meledakkan diriku di dalamnya, menyudahi kegiatan menyenangkan ini dengan penuh rasa cinta dan juga syukur.


Esok paginya aku dan Maksim bersiap untuk berangkat. Aku berpamitan cukup lama pada Aisyah yang kurasakan sangat berat untuk meninggalkannya. Begitu banyak pesan yang kutinggalkan sebagai pengganti diriku yang selalu rewel dengan apa saja yang ia lakukan setiap harinya.


Aku dan Maksim berangkat dengan rasa hati yang berat. Ada rasa khawatir yang sangat kuat meninggalkan rumah ini. Meninggalkan orang-orang yang kami cintai.


Aku cuma berharap semoga urusan di New York segera selesai dan kami berdua cepat pulang.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess?


Like dan komentar dong.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍