Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 28 EMHD



Aisyah menatap wajah Nikita lembut, rasa sayang yang tumbuh semakin dalam pada gadis cilik ini tak bisa ia abaikan. Sejak pertama kali mereka bertemu, pesona putri dari seorang pria dingin dan kasar ini sudah menarik perhatiannya.


Nikita yang manis dan cantik, dengan kondisi kaki tak bisa berjalan karena sebuah kecelakaan. Sepanjang waktu hanya berada di kursi roda. Hingga membuatnya ingin mengobati si gadis cilik itu dengan keahlian orthopaedi yang dimilikinya.


Ia bahkan sering tak tahu malu memaksa ke rumah ini dengan alasan ingin bermain dan menjaga Nikita meskipun sang daddy kadang tak pernah setuju dengan keberadaannya di sana. Padahal sebenarnya adalah ia ingin mengobati kaki gadis cilik ini tanpa sepengetahuan pria dingin yang selalu berwajah datar dan jutek padanya.


"Ibu Aisyah? kapan anda datang?" Nikita yang baru membuka matanya langsung menatapnya bingung.


"Aku sudah lama di sini sayang, uncle Max memintaku untuk menemanimu sementara kamu istirahat." jawab Aisyah lembut. Ia membelai rambut pirang gadis itu dengan perasaan sayang.


"Apakah daddy sudah pulang?" tanya Nikita dengan suara pelan. Terakhir kali ia bertemu daddy-nya beberapa jam yang lalu sebelum ia tertidur.


"Memangnya Daddy kemana?" tanya Aisyah pelan. Ia ingin tahu kronologis ditangkapnya pria itu oleh polisi setempat.


"Ada banyak polisi yang membawa daddy. Mereka semua membawa senjata seperti di film-film. Aku takut ibu." tiba-tiba Nikita menangis dan memeluk tubuh Aisyah.


"Sayang, Daddy kan hebat pasti bisa cepat pulang." jawab perempuan itu menenangkan meskipun hatinya juga dilanda ketakutan.


Ia sendiri tak pernah menyangka diusianya sekarang ia bisa mengalami kejadian menyeramkan seperti ini di depan matanya sendiri. Peristiwa penyerangan kelompok bersenjata itu menyerang secara membabi-buta orang-orang yang sedang beribadah. Mereka sungguh biadab. Dan sayangnya adalah kelompok itu berhubungan dengan Alexander Smith, pria yang akhir-akhir ini selalu menghantui pikirannya.


"Aku takut Bu, Kalau Daddy tidak kembali bagaimana?" tanya Nikita lagi tanpa melepaskan pelukannya pada Aisyah.


"Daddymu pasti kembali karena dia sangat sayang sama kamu. Kita berdoa yuk semoga semua urusan Daddy cepat selesai." ujar Aisyah kemudian melepaskan pelukan gadis cilik itu. Jari-jarinya menghapus sisa air mata di pipi Nikita.


"Kamu tahu Bu, Daddy sudah disunat lho." ujar Nikita yang langsung membuat Aisyah tersedak ludahnya sendiri.


"Hah? yang benar?" tanya Aisyah tidak percaya.


"Iya, aku tidak berbohong. Bahkan uncle Maksim dan uncle Albert juga. Mereka semua menangis kesakitan hihihihi." Nikita menutup mulutnya menahan tawa. Aisyah ikut tertawa dibuatnya.


"Mereka lucu. Masak orang besar menangis. Memangnya sunat itu apasih Bu Aisyah?"


"Waduh apa ya?" Aisyah tampak berpikir. "Ah, sudahlah nanti kamu akan tahu sendiri kalau sudah besar, sekarang kita berdoa saja semoga Daddy cepat pulang, okey?"


"Okey Bu!"


🍁🍁🍁


"Kami dengar anda telah menghilangkan nyawa Thomas Murphy, Mr. Smith!" Polisi berpenampilan sangar itu memberikan banyak pertanyaan kepada Alex selama lebih dari dua jam. Alex mengangguk kemudian menjawab dengan lantang,


"Iya, saya menembaknya langsung tepat di jantungnya dua kali." jawab Alex dengan sangat jelas.


"Apakah anda memiliki surat izin dalam kepemilikan senjata api yang anda gunakan itu?"


"Apakah ada alasan pribadi sehingga anda memutuskan membunuh Thomas Murphy!"


"Saya tidak perlu memiliki alasan untuk melenyapkan Murphy karena ia pantas mendapatkannya. Lagipula kalau bukan saya yang membunuhnya pasti ia yang akan membunuhku." jawab Alex tegas.


"Pasti tuan sudah mendengar jumlah korban yang jatuh pada saat itu." lanjutnya dengan raut wajah yang sangat tenang.


"Ah ya. Mereka semua sudah kami mintai keterangan. Dan mereka bersaksi kalau anda justru datang menyelamatkan mereka. Anda hebat."


"Selamat tuan Alex. Kepolisian sangat berterima kasih padamu karena berhasil menumpas jaringan Murphy CS. yang merupakan buronan kepolisian Republik Dagestan. Jaringan mereka sudah banyak memakan korban jiwa. Mereka telah menculik putri seorang senator Rusia. Makanya mereka menyingkir ka daerah terpencil untuk sementara waktu. Tetapi entah kenapa mereka bisa sampai ke desa ini dan malah menambah Korban lagi." Alex mengucap syukur dalam hati tetapi wajahnya masih sangat datar tak berekspresi.


"Dan mengenai anggota Murphy CS. yang kami dapat di atas pegunungan itu. Apakah anda juga yang melakukannya?" tanya polisi itu lagi dengan mata tajam ke arah Alex.


"Ya betul. Mereka menculik putri kepala suku Avar di desa kami." jawab Alex masih dengan ekspresi yang sama, datar. Tetapi seketika ia teringat akan Azzam Gennadi, pria cabul otak dari segala kekacauan ini. Ia sengaja tidak langsung dilenyapkan oleh Alex agar bisa merasakan penderitaan yang lama dan menyiksa.


"Seorang gadis bernama Zareema melaporkan telah kehilangan saudara laki-lakinya yang bernama Azzam Gennadi beberapa hari yang lalu. Dan kami akhirnya menemukan jejaknya di pegunungan itu. Dan anda tahu apa yang terjadi tuan Alex?" Alex tidak merespon meskipun hatinya penasaran bagaimana nasib dari pria yang hampir saja merenggut kehormatan seorang gadis suci yang selama ini menolong putrinya.


"Kami hanya menemukan kepalanya di sana. Tubuhnya sudah dimakan oleh binatang buas." lanjut polisi itu dengan wajah yang sama dengannya yaitu datar dan tak ada perubahan perasaan sama sekali.


Polisi itu berusaha menerka bagaimana perasaan Alexander Smith yang ternyata adalah seorang pimpinan mafia terbesar di Rusia. Ia cukup bangga pada dirinya sendiri karena bisa berhadapan langsung dengan sosok yang cukup berbahaya ini selama karirnya menjadi petugas keamanan republik Dagestan.


"Jadi sekarang apa mau anda tuan?" tanya Alex akhirnya. Ia sudah sangat lelah duduk di sana berjam-jam tanpa ada yang memberinya air minum atau secangkir kopi. Yang ia khawatirkan sekarang adakah Nikita, putrinya yang melihat kejadian penjemputannya beberapa jam yang lalu. Ia berharap gadis cilik itu tidak trauma.


"Santai saja Mr. Smith. Saya hanya ingin ada yang datang untuk menjamin anda keluar dari kantor ini. Kuharap ada orang yang cukup berpengaruh yang mau menambah kesaksian kalau anda benar-benar tidak bersalah dalam hal ini. Bagaimanapun menghilangkan nyawa adalah sebuah kejahatan." ujar polisi sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi empuk dibelakangnya.


"Saya yang akan menjamin kalau tuan Alex itu orang yang baik dan telah banyak menolong kami semua." suara Mohammad Yusuf tiba-tiba hadir di ruangan itu. Seorang kepala suku Avar yang sangat disegani di desa Rakhata bahkan di daerah lain di Dagestan.


"Baiklah. Anda bisa pulang sekarang. Terus terang kami banyak mengucapkan terima kasih karena anda, kami tak perlu menghabiskan tenaga dan biaya yang cukup besar untuk menangkap Murphy CS."


"Jadi maksud anda apa membawanya kemari pak polisi?" tanya paman Yusuf geram. Polisi itu langsung tertawa terbahak-bahak.


"Saya hanya ingin punya waktu berdua dengan the God Father of Rusia, Alexander Smith yang sangat terkenal itu. Bukankah suatu kehormatan bagiku bisa duduk berjam-jam dengannya tanpa ada senjata di tangan?" ujar polisi itu dengan wajah menyebalkan. Paman Yusuf langsung memukul jidatnya pelan.


Akhirnya mereka semua bisa langsung pulang ke rumah dengan suasana hati yang gembira.


---Bersambung--


🍁🍁🍁


Mana nih dukungannya untuk Babang Alex, Like dan Komen ya gaess.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍