Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 52 EMHD



POV Alexander Smith


Hari ini hari yang begitu sibuk buatku. Beberapa yayasan amal di Moskow mengundangku untuk menghadiri beberapa acara. Aku sebenarnya dengan senang hati melakukannya tetapi hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi putriku dan menyimpan banyak kenangan manis bersama Aisyahku.


Aku ingat betul bahwa hari ini adalah hari ulang tahun putriku Nikita. 8 tahun sudah usianya, itu artinya sudah lebih dari 3 tahun kepergian Aisyah dari hidup kami. Sebuah waktu yang sangat lama bagiku menanggung rindu yang teramat sangat padanya.


Maksim mengingatkan aku tentang hari ini dengan maksud agar aku menyiapkan sebuah kado untuk Nikita. Pria itu tahu betul bagaimana ingatanku akan kembali kacau ketika hari spesial ini tiba. 3 tahun yang lalu di hari yang sama, Nikita meminta Aisyah jadi mommynya. Sebuah awal dari kehidupan baruku yang tiba-tiba hancur kembali karena perempuan muda itu.


Beberapa hari yang lalu, di saat weekend dan aku juga sedang ada waktu luang untuk Nikita. Aku mengajaknya ke suatu pentas seni di sebuah tempat di Moskow. Ada perayaan pentas budaya semua negara pada perayaan hari kemerdekaan Uni Soviet itu.


Nikita begitu tertarik pada pementasan dari negara Indonesia. Mereka menampilkan kesenian angklung yang sangat memukau. Aku saja sangat takjub atas penampilan para mahasiswa dari Indonesia itu. Sejak saat itu Nikita merengek ingin belajar angklung.


Untuk mendapatkan informasi tentang kegiatan kursus seni budaya Indonesia itu aku mencarinya di situs mereka. Dan ternyata aku harus datang sendiri ke tempat itu yaitu di KBRI. Setelah mendapatkan waktu luang aku segera ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mencoba mencari informasi tentang kesenian tersebut dan syukur Alhamdulillah mereka membuka pendaftaran kesenian dan budaya untuk anak-anak dari latar belakang kebangsaan yang berbeda. Itu artinya Nikita mempunyai kesempatan yang sama dengan anak-anak yang lainnya.


Surat izin belajar itu aku bungkus dengan rapi dan aku berikan sebagai kado ulang tahun untuk Nikita. Ia tak pernah meminta yang lain selama ini. Ia sangat mengerti diriku, kecuali belajar seni dari Indonesia itu makanya akan aku usahakan putriku itu untuk memenuhi keinginannya.


Kulihat putri kecilku itu sangat bahagia dengan Kado yang aku berikan. Sungguh aku sangat bersyukur mempunyai dirinya yang tidak lagi rewel menanyakan mommynya lagi. Yang aku pikirkan sekarang adalah akulah yang semakin rewel dengan hatiku. Tawa renyah Aisyah selalu membayangiku. Entah kenapa aku merasa sangat dekat dengannya akhir-akhir ini. Jika ia masih hidup apakah ia juga memikirkan aku? apakah ia juga merindukan aku?


Doaku adalah Aku masih bisa bertemu dengannya dan mengatakan betapa aku sangat mencintainya.


🍁


Aisyah menatap layar handphonenya dengan hati yang berdebar hebat. Hampir semua laman berita memuat kegiatan seorang calon senator Rusia Alexander Smith. Mulai dari kehidupan pribadi, keluarga serta kegiatan sehari-harinya di beritakan di laman itu.


"Tuan Alex," gumamnya sambil meraba gambar Alex yang sangat tampan dengan pakaian kasualnya. Ia sedang bersantai bersama Nikita di sebuah restoran. Wajah mereka tampak bahagia di depan kamera. Menampilkan keakraban yang penuh makna antara seorang ayah dan putrinya.


"Apa kabar kalian?" tanyanya pada layar handphonenya itu. "Oh iya, kalian pasti sangat bahagia sekarang." ujarnya lagi dan tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulus.


"Apa kalian pernah mencari ku?"


"Apa kalian pernah merindukan aku?"


"Ah, bodohnya aku, menghabiskan hari-hariku hanya memikirkannmu Tuan Alex. Sedangkan anda di sana begitu tenang."


"Lihat, betapa pentingnya sekarang statusmu, kamu bahkan hampir menguasai Rusia, tetapi kamu tidak pernah mencariku, hiks." Aisyah terus berbicara pada layar handphonenya seolah-olah ia sedang menghadapi sosok Alex di depannya.


"Aisyah!" seru Omar yang sedang melihatnya menangis lagi. 3 tahun ini adiknya kalau tidak ke kampus ya menangis sendiri sampai tubuhnya jadi sangat kurus karena tidak memperhatikan asupan gizi yang masuk ke tubuhnya.


"Berhentilah memikirkan pria itu. Sekarang waktunya kamu memulai hidup baru." ujar Omar sembari merebut handphone Aisyah dan menonaktifkan jaringannya.


"Tiga tahun sudah. Statusmu sekarang bukan lagi istrinya." lanjut Omar dengan pandangan tajam. "dr. Sergey Abdullah masih menunggumu." Aisyah menghapus air matanya kemudian meninggalkan kakaknya itu dan langsung masuk ke kamarnya. Ia malas membahas ini lagi. Ia takut bertingkah tidak sopan pada kakaknya kalau ia bertahan di sana.


Keesokan paginya ia bangun dan mendapati sebuah kertas di atas nakas samping tempat tidurnya. Sebuah kalimat permintaan maaf dan juga ucapan selamat ulangan dari Omar kakaknya. Aisyah meraih kertas itu dengan hati yang campur aduk.


Ia tahu betul kakaknya sangat menyayanginya dengan berusaha menjodohkannya lagi dengan dr. Sergey Abdullah yang belakangan ini sering mengunjunginya di rumah kakaknya. Tetapi hatinya masih sangat tak rela menerima nama lain yang akan menggantikan nama Alex di dalam sana. Hari ini ia akan ke kampusnya karena ada ujian akhir semester. Sebentar lagi musim liburan akan tiba dan ia berharap saat liburan nanti ia bisa pulang ke Dagestan. Ia sangat merindukan ayahnya dan juga kampung halamannya.


🍁


"Apa ini?" tanyanya dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Selamat ulang tahun." ujar Reisya tersenyum. Gadis berhijab pasmina itu memeluk Aisyah dengan rasa yang tak bisa ia gambarkan. Ia sangat bersyukur punya sahabat yang sangat baik seperti Aisyah di negeri beruang merah ini. Negeri yang cukup jauh dari tempatnya lahir.


"Boleh aku buka?" tanya Aisyah penasaran. Reisya mengangguk sembari tersenyum penuh perasaan.


"Wow, ini cantik sekali." ujar Aisyah kemudian memberikan pelukan pada Reisya karena terharu dengan hadiah yang diberikan sahabatnya itu.


"Terima kasih." ujar Aisyah kemudian memakai syal cantik yang bertuliskan nama Aisyah dan Reisya.


"Itu buatan mamaku dari Indonesia. Ia sengaja mengirimkannya untukmu." ujar Reisya sembari memperbaiki letak syal itu.


"Sampaikan salam ku padanya. Terima kasih banyak." ujar Aisyah dengan mata berkaca-kaca. Ia jadi ingat semua anggota keluarganya. Ayahnya, bibi Sarah, dan juga Alex.


"Hey kenapa menangis?" tanya Reisya dengan wajah bingung.


"Aku hanya ingat orang-orang yang aku sayang. Kalau aku berulang tahun pasti ayah akan mengundang semua orang di desa untuk makan malam bersama di rumah." jelas Aisyah dengan wajah sedihnya.


"Hey jangan bersedih. Mereka pasti sedang mengingatmu sekarang." Aisyah mengangguk berharap kata-kata Reisya itu benar adanya.


"Daripada bersedih. Sepulang dari ujian ini kita ke KBRI Moskow yuk."


"Untuk apa?"


"KBRI Moskow kembali membuka kelas Bahasa dan Seni tatap muka untuk memperingati hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia ke 70 di kantor KBRI Moskow, Rusia."


"Wah bagusnya." ujar Aisyah dengan mata berbinar. Ia sengaja memilih program studi pendidikan seni dan budaya karena ia suka akan seni.


"Wakil Duta Besar Indonesia, mengungkapkan acara tersebut juga untuk mengajak pemuda Rusia untuk mengenal dan mencintai Indonesia." lanjut Reisya bersemangat. Ia sangat ingin mengajak Aisyah kesana supaya ia bisa terhibur.


"Ayoklah kalau begitu. Tetapi aku minta izin dulu ya sama kakakku." ujar Aisyah setuju kemudian mengirimkan pesan WhatsApp kepada Omar. Setelah pesan terkirim Ia dan Reisya segera berangkat ke kantor KBRI.


Apakah Aisyah akan bertemu dengan Nikita di sana??? Pantengin terus Ex Mafia Hot Daddy ya gaess.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya ini ya dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang sangat banyak supaya othor tetap semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍 😍😍😍