
"Uncle Omar, aku ingin naik perahu bersama onty Anna," ujar Nikita saat bertemu dengan Omar di lorong kamar menuju kamar dokter muda itu.
"Sayang sekali Niki, onty sedang tidak sehat sayang," jawab Omar sembari mengangkat segelas air putih hangat yang akan ia bawakan untuk istrinya itu.
"Onty Anna, sakit apa? bisa aku melihatnya uncle?" tanya Nikita sembari mengikuti langkah Omar menuju kamarnya.
"Tentu saja sayang, adek Danil juga ada di dalam bersama onty Anna," Mereka berdua pun masuk ke kamar itu dan melihat Anna sedang berbaring lemas disamping Danil yang sedang sibuk bermain sendiri dengan bola karetnya.
"Onty, kamu kenapa?" tanya Nikita kemudian memeriksa dahi Anna yang nampak mengeluarkan bulir-bulir keringat yang sangat dingin.
"Kepalaku pusing sayang, aku mual." jawab Anna dengan suara pelan.
"Hum...sayang sekali, padahal aku ingin mengajak onty naik perahu bersama mommy," ujar Nikita dengan perasaan sedih.
"Iya sayang, onty tidak bisa naik kapal sekarang rasanya bumi ini berputar,"
"Minum obatmu dulu Anna, InsyaAllah setelah ini kamu bisa tidur nyenyak." Omar menyerahkan sebutir obat anti pusing dan juga segelas air putih pada istrinya.
"Terima kasih Omar," ujar Anna sembari menyerahkan gelas yang masih bersisa itu kepada suaminya kemudian kembali berbaring.
"Cepat sembuh ya onty, agar kita bisa bermain lagi," Nikita mencium pipi kiri dan kanan perempuan cantik yang nampak sangat pucat itu.
"Iya sayang, kalau onty sudah sembuh kita bisa naik kapal dan mengelilingi pulau ini," ujar Omar dengan tangan mengelus lembut rambut pirang Nikita.
"Baiklah uncle, aku akan mengajak Uncle Al dan Onty Reisya saja," ujar Nikita kemudian keluar dari kamar itu. Gadis kecil itu menuju kamar Reisya yang berjarak 2 blok kamar dari kamar yang tadi.
Dengan bersenandung kecil ia mengetuk pintu kamar pengantin baru itu. Dengan sabar ia menunggu pintu itu terbuka dan tidak ingin lagi membuat drama ular untuk membuat penghuni kamar itu keluar dari sarangnya.
"Niki? kamu ada di sini?" tanya Albert tersenyum setelah membuka pintu kamar itu.
"Iya uncle, apa aku tidak mengganggumu dan Onty?" tanya Nikita balik. Ia sekarang ingin jadi anak yang baik.
"Tidak sayang, uncle juga baru selesai dengan onty Reisya," jawab Albert dengan senyum cerah diwajahnya. Nikita memandang Albert dengan pandangan menyelidik.
Penampilan pria di depannya ini cukup mencurigakan dengan rambut yang cukup berantakan dan juga ia sedang memakai kaosnya terbalik. Nikita meminta izin untuk masuk dan melihat Reisya.
"Masuk saja Niki," ujar Albert masih dengan wajah yang sangat ramah dan ceria seakan baru saja mendapatkan jackpot bernilai jutaan Rubel. Nikita menghampiri ranjang dimana Reisya masih berbaring di sana dengan wajah lelahnya.
"Onty? kamu baik-baik saja?" tanya Nikita dengan wajah khawatir.
"Niki kamu datang sayang?" Reisya membuka matanya pelan dan memandang wajah gadis kecil yang nampak sangat khawatir itu.
"Apa onty sehat?" tanya Nikita lagi kemudian menyentuh kening perempuan cantik yang sedang berbaring lemas dengan hanya menutupi dirinya dengan selimut sampai di dadanya itu.
Ia melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan dengan Anna tadi, memeriksa kening apakah suhu tubuh Reisya normal atau tidak.
"Astaga, kamu juga sakit onty!" seru Nikita dengan wajah berubah panik. Albert dengan langkah cepat menghampiri mereka berdua dan duduk di ranjang di samping istrinya itu.
"Sakit apa Niki?" tanya Albert dengan senyum diwajahnya. Karena ia yakin istrinya itu sangat sehat karena mereka baru saja tiba setelah saling berlomba menggapai nirwana hampir sejam lamanya.
"Penyakit onty Reisya sama dengan penyakit onty Anna dulu setelah menikah dengan uncle Omar." jawab Nikita sembari memperhatikan dan bahkan menyentuh bagian atas tubuh Reisya yang masih terbuka itu.
"Lihat uncle, sepertinya onty juga terkena alergi kulit." Nikita menunjuk bekas-bekas cuppang disekujur tubuh Reisya yang tampak sangat menggangu pengelihatannya.
Reisya dan Albert saling berpandangan kemudian saling tersenyum penuh makna.
"Iyya sayang, aku akan memeriksanya sebentar lagi, kamu jangan bersedih seperti itu ya, tidak perlu membawa ke Rumah Sakit. Aku juga bisa mengobatinya." jelas Albert dengan pandangan mata masih ke arah sang istri.
"Jadi apa perlu apa kamu kemari Niki?" lanjutnya lagi.
"Aku ingin mengajak uncle dan juga onty naik kapal keliling pulau."
"Oh itu bagus sekali sayang,"
"Tapi kan onty Reisya sedang sakit juga seperti onty Anna, jadi batal deh,"
"Hey jangan bersedih, kan masih ada hari lain, biar onty istirahat dulu. Dia sangat lelah sekarang. Bagaimana kalau nanti sore?" Nikita memandang wajah Albert dengan binar mata bahagia.
"Iya uncle aku setuju, nanti sore saja. Supaya matahari juga tidak terlalu terik."
"Nah iya, pasti onty juga sudah kuat lagi. Iyyakan sayang?" ujar Albert sembari mengedipkan matanya pada sang istri.
"Iyya kalau kamu tidak minta jatah lagi," gerutu Reisya dengan bibir mengerucut lucu.
Ingin rasanya Albert meraih bibir itu lagi dan menenggelamkan dirinya kembali kedalam palung kenikmatan yang sangat indah bersama istrinya itu. Tetapi sayangnya Nikita ada di sana bersama mereka, andaikan tidak ia akan menyerang lagi istrinya itu.
"Baiklah onty, cepat sembuh ya, aku akan memberi tahu mommy dan Daddy kalau kita akan naik kapal saat sore saja "
"Iyya sayang," jawab Albert kemudian mencium pucuk kepala gadis itu yang ia anggap sebagai putrinya sendiri itu.
"Aku permisi onty, ingat! kamu harus istirahat ya, dan izinkan uncle Al yang mengobatimu." Nikita berucap seperti orang dewasa dan membuat Reisya kembali tersenyum.
"Bye onty," gadis kecil itupun keluar dari kamar dengan bahu menurun karena sedih.
2 kamar yang ia datangi semuanya memuat orang yang sedang sakit.
Sekarang ia menyusuri lorong-lorong kamar di Resort itu dengan perasaan sepi. Beberapa hari ini tempat ini begitu ramai.
Ada banyak orang dan juga teman baru tapi sekarang, semua orang tampaknya lebih senang menghabiskan waktu mereka di kamar saja.
Dengan langkah cepat ia menuju kamar uncle Maksim dan juga onty Maryam.
Dengan harapan dua orang itu mempunyai waktu untuk dirinya dan tentunya juga sehat meskipun ia sedikit ragu mengingat perut perempuan itu sudah sangat besar dan hampir meledak.
Nikita merapatkan kupingnya di pintu kayu itu sebelum mengetuk dan ia hanya mendengar suara-suara aneh dan asing dari dalam sana, yang justru membuatnya merinding takut.
Tangannya siap mengetuk tetapi ia urungkan. Akhirnya ia putuskan untuk kembali ke kamar mommy dan Daddynya saja.
----Bersambung---
Ada yang mau temani Nikita naik perahu gak? kasihan kan ia sendirian.
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan komentar ya agar othor semangat lagi updatenya okey?
Bunga dan votenya dilempar kesini dong hehehe
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍