Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 271 EMHD



"Jadi? Kemana kita hari ini Elif?" tanya Nikita sembari mengangkat alisnya sebelah. Hari ini ia dan Elif hanya ada kelas Neurologis dan itupun mereka sudah dikeluarkan oleh professor Edwin Hubble.


"Apakah kamu datang bersama suamimu yang tampan itu?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Beritahu pak Anderson kalau kita ingin hanging out di Mall, bagaimana?" usul Elif yang langsung di jawab dengan wajah cemberut Nikita sang sahabat.


"Eh ada apa?" tanya Elif dengan wajah penasaran.


"Lupakan. Aku sedang ingin bersama denganmu saja seharian ini sebelum kamu menikah."


"Ish, tapi Kak Roman belum mengatakan iya. Mungkin ia belum siap menikahiku secepat ini Niki."


"Kalau kak Roman benar-benar mencintaimu pasti ia akan datang bersama orang tuanya."


"Benarkah Niki? tapi aku merasa sangat bersalah karena mengancam seperti itu. Bagaimana kalau ia benar-benar meninggalkan aku Niki?"


"Tidak mungkin Elif. Kak Romanmu pasti akan datang."


"Tapi jarak ini sangat jauh Niki," Elif terus menerus mengungkapkan keraguannya.


"Hey, jarak Kazakhstan dan Moskow cuma sekitar 5 jam perjalanan udara. Jadi kamu tidak usah khawatir okey?" Elif mengangguk kemudian tersenyum meskipun hatinya tidak yakin.


"Dan kamu tahu sendiri kan kalau calon suamimu itu pegawai pemerintah di sana. Pasti akan gampang mengurus administrasi pernikahan kalian."


"Hum baiklah. Aku tidak akan khawatir Nyonya Anderson."


"Nah sekarang ayo kita berangkat ke Red Square. Aku ingin jalan-jalan di Mall GUM." ujar Nikita kemudian berdiri dari duduknya.


"Kamu bawa mobil kan Elif?"


"Ah iya, tapi aku tidak akan pergi bersamamu jika Pak Anderson tidak memberi kita izin." ujar Elif dengan bertahan untuk tidak bergerak dari tempat duduknya.


"Suamiku sedang ada urusan penting Elif. Dan aku tidak mau mengganggunya."


"Telpon saja dulu. Aku tidak mau ada yang terjadi sama kita berdua dan suamimu tidak tahu. Aku trauma saat penculikanmu dulu di Kazakhstan." jelas Elif masih bertahan dengan keinginannya agar Nikita meminta izin terlebih dahulu.


"Dan ternyata penculiknya adalah suamiku sendiri, iyyakan? hahahaha. Kamu mau mengingatkan betapa aku dulu membenci tuan Crisstoffer Anderson kan?" Elif tersenyum kemudian mengangguk.


"Aku pernah mengatakan kalau aku akan tertawa jika kamu mencintai pria itu. Dan sekarang apa kamu sudah jatuh cinta padanya Niki?" Nikita tersenyum lebar dan memeluk sahabatnya.


"Aku mencintai suamiku Elif tapi sekarang aku cemburu pada mantan kekasihnya itu." ujarnya dengan wajah cemberut.


"Hey, jadi karena itu kamu bersedih dan tidak mau menghubunginya Hem?" Nikita mengangguk.


"Itu kan masa lalu Niki. Dan sekarang hanya kamu seorang yang sangat dicintainya. Tuhan saja maha memaafkan kenapa kamu tidak, Niki?"


"Aku memaafkannya Elif cuma aku cemburu pada mantan kekasihnya itu. Ia lebih cantik daripada aku. Dan aku pikir mungkin perempuan itu lebih memuaskannya dari pada aku," ujar Nikita sembari menunduk dan menjalin jari-jarinya.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa Niki. Tapi coba tanyakan pada pak Anderson, tentang masalahmu itu. Jangan sampai kamu sibuk memikirkan hal yang tidak penting."


"Ini penting Elif. Aku tidak mau ia membandingkan aku dengan si Julia Webber itu. A aku..." Nikita tiba-tiba saja menangis kemudian memeluk kembali Elif.


"Ya Ampun Niki, Memangnya ia pernah menyebut perempuan itu setelah kalian menikah?"


"Tidak."


"Lalu? kenapa kamu sampai memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu pikirkan, kamu akan sakit hati sendiri nanti." Nikita terdiam. Ia mempertimbangkan perkataan sahabatnya itu.


"Entahlah, aku..."


"Sudahlah. Sekarang mana handphonemu." ujar Elif kemudian menengadahkan tangannya di depan Nikita.


"Kemarikan saja handphonemu nyonya Anderson, cepat sebelum aku berubah pikiran." Nikita membuka tasnya dan mengambil benda pipih itu dari dalam sana.


"Kamu namai apa Pak Anderson di handphonemu ini Niki?"


"Kenapa kamu tanyakan itu? apa kamu ingin menelponnya?"


"Ya, aku ingin menanyakan padanya, yang mana lebih lezat kamu atau nona Julia Webber itu?" ujar Elif Kaya sembari menatap tajam wajah Nikita sang sahabat.


"Ya ampun Elif, kamu tidak malu menanyakan hal seperti itu pada suamiku? kamu kan masih gadis." Nikita membalas tatapan Elif dengan tatapan yang lebih mengintimidasi.


"Itu karena kamu merisaukan hal yang tidak penting. Cukup pak Anderson itu sudah memberikan semua cintanya padamu Niki, kamu tidak perlu lagi khawatir."


"Tapi aku cemburu pada Julia Webber, aku tidak mau suamiku membayangkan tubuh wanita itu ketika sedang bersamaku Elif," balas Nikita dengan suara tercekat Rasa cemburunya kembali memuncak dan membuatnya kesal.


"Dan darimana kamu tahu kalau ia membayangkan tubuh Perempuan lain atau di Julia Webber itu, hah? apa ia pernah menyebut namanya ketika bercinta denganmu?"


"Tidak Elif, hanya aku yang disebutnya."


"Lalu?"


"Ya aku cemburu,"


"Astagfirullah. Itu namanya cemburu buta Niki. Sangat tidak beralasan." Elif berdecak kesal dengan apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.


"Aku pikir kamu cerdas Nikita Anderson. Tapi sekarang aku baru tahu kalau kamu itu bodoh. Suamimu rela mencari dan menjemput hidayah Islam salah satunya karena kamu Niki," ujar Elif sembari menekan nomor handphone Crisstoffer Anderson yang Nikita beri nama My Heart itu.


"Suamimu tidak mengaktifkan handphonenya. Apa kamu membuatnya kesal juga?" Nikita diam. Ia merasa sangat bersalah kini.


"Tidak eh iya. Entahlah Elif. Kurasa bukan ia yang kesal tetapi akulah yang kesal padanya.


"Astagfirullah. Kamu ya?" Nikita hanya tersenyum meringis kemudian menarik tangan sahabatnya itu melangkah ke arah kantor para dosen di Fakultas itu.


"Kita mau kemana Niki?" tanya Elif dengan wajah bingung.


"Kita akan mencari suamiku di ruang kerjanya dan meminta izin padanya. Itukan yang kamu mau?" Elif tersenyum dan mengikuti langkah sahabatnya ke arah gedung perkantoran di Fakultas itu.


Setelah meminta izin kepada salah satu staf kantor administrasi dan dosen di ruangan itu, Nikita dan Elif memasuki ruang tamu di gedung itu menunggu untuk bertemu dengan Crisstoffer Anderson.


Tetapi alangkah kagetnya Nikita melihat bahwa di ruangan itu juga sudah ada Julia Webber dan Crisstoffer Anderson sedang mengobrol dengan beberapa dosen lainnya.


Nikita tersenyum kecut pada suaminya yang begitu kaget melihat dirinya tiba-tiba muncul di ruang tamu itu.


"Nikita?" ujar Crisstoffer Anderson dengan ekspresi kaget. Nikita sekali lagi menarik bibirnya untuk tersenyum terapi nampak sangat masam.


"Elif ayo kita lanjutkan rencana kita tadi," ujar Nikita sembari menarik tangan sahabatnya untuk keluar dari ruangan itu.


Rasa cemburunya kembali datang memanasi hatinya yang sejak tadi sedang galau. Elif Kaya tidak bisa berkata apa-apa. Kenyataan di depan matanya membuatnya juga merasa perlu meralat semua petuahnya pada Nikita.


"Niki tidak semua yang kita lihat sama dengan kenyataan yang sebenarnya," ujar Elif berusaha berpikir objektif.


"Tidak usah banyak bicara kamu Elif, mana kunci mobilmu. Kurasa shopping di Gum saat ini adalah hal yang sangat tepat, right?"


"Right!" jawab Elif dengan ceria. Ia ingin mengikuti saja kemauan sahabatnya itu yang penting mereka berdua bisa bersenang-senang.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍