Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 113 EMHD



Makan malam menyambut kedatangan Mohammad Yusuf dan juga bibi Sarah berlangsung di sebuah ruangan luas dan juga mewah dengan meja yang cukup besar dan panjang.


Terdapat menu beraneka ragam di sana dan juga beberapa pelayan yang berdiri sekitar 3 meter dari meja bersiap melayani keperluan tuan rumah dan juga tamu.


Hampir semua orang berusaha mengambil hati Nikita, gadis mungil berambut pirang dengan sebuah pita indah di kepalanya. Ia tampil sangat cantik malam itu berkat polesan dari seorang agen cantik bernama Anna Peminov.


Begitupun Anna, rambutnya ia tata sedikit agar kelihatan rapih dan tampak manis. Hanya mereka berdua disana yang tidak memakai hijab selain para pelayan.


"Niki mau makan yang mana sayang?" tanya Aisyah pada putri ciliknya itu. Nikita tersenyum bahagia. Mommynya kembali memperhatikannya setelah sekian lama ia diabaikan.


"Mommy, aku sudah besar sekarang, aku sudah bisa makan sendiri." balas Nikita dengan wajah ramah. Tetapi Aisyah tetap berkeras menawarkan banyak menu kepada gadis kecil itu karena merasa bersalah telah mengabaikan putrinya itu.


"Mommy makanlah yang benar, adek kecil di dalam perutmu pasti sudah sangat lapar." tolak Nikita halus. Ia tak mau mengganggu semua orang dengan tingkah mommy Aisyah yang menurutnya berlebihan.


"Mari silahkan menikmati makan malamnya." ujar Alex cepat agar pandangan semua orang tidak berpusat pada istri dan anaknya saja.


Tak adalagi pembicaraan di meja makan itu, semuanya makan dengan tenang. Kecuali Aisyah yang masih merasa tidak nyaman. Ia tiba-tiba menjadi sangat perasa dan bersedih karena sang putri kecilnya terasa berbeda sekarang. Hubungan mereka jadi agak renggang karena keegoisannya memiliki Alex seutuhnya.


Setelah acara makan malam yang tenang dan damai itu, Mereka semua berkumpul di sebuah ruangan besar, theater Home. Seperti sebuah bioskop mini.


Mereka duduk berdampingan dan mulai menonton sebuah video tentang Kegiatan Nikita di sekolahnya yang tampil dalam sebuah pementasan seni.


Semua orang terpukau atas kehebatan putri dari Alexander Smith itu. Nikita sangat terharu dan memeluk sang Daddy, ia mencium seluruh permukaan wajah Daddynya seperti biasa.


"Terimakasih dad, aku sayang padamu." ujar Nikita sembari menghapus air matanya.


"Berterimakasih lah pada mommymu, ia yang mempunyai ide ini. Kamu tahu? ia sangat menyayangimu sayang. Semua orang di sini mencintaimu Niki, ingat itu." Alex balas mencium putrinya lembut. Nikita melepaskan diri dari rengkuhan sang daddy kemudian memeluk Aisyah,


"Aku mencintaimu mom. Aku rindu masa-masa kita selalu bersama." Nikita menangis.


"Maafkan mommy sayang, kamu lihat kan, kondisi mommy bagaimana sekarang. Nikita pasti bisa paham kan? mulai sekarang kita akan tidur bertiga." ujar Aisyah sembari menghapus airmatanya. Wajah Alex langsung berubah masam, tetapi untungnya ia cepat tersenyum.


Malam itu mereka lalui dengan canda dan tawa, Nikita berdiri di depan semuanya sembari bernyanyi dan memperlihatkan semua kebolehannya menghibur semua orang. Sampai ia mulai menguap dan mengantuk.


Aisyah yang melihatnya langsung dengan cepat mengajak putrinya itu untuk tidur di kamar utama. Tetapi Nikita menolak.


"No, mommy. Malam ini aku sudah berjanji dengan Anna akan tidur bersamanya." ujar Nikita menolak dan menghampiri Anna yang sedari tadi diam saja.


"Anna aku ngantuk, ayo kita tidur." ajak Nikita dengan cara menarik tangan gadis itu agar berdiri dari duduknya.


Gadis itu duduk di sudut paling belakang sendiri dan hanya memperhatikan aktivitas semua orang. Seperti pekerjaannya yang seorang agen, untuk memastikan keluarga Smith baik-baik saja. Ia membatasi geraknya karena tak mau menjadi perhatian semua orang, terutama dokter Omar yang selalu menatapnya dari jauh.


"Baiklah Niki, aku juga sudah mengantuk. Ayok..." ujar Anna kemudian berpamitan pada semua orang. Ia membawa Nikita ke kamarnya dan bersiap untuk tidur.


Maksim dan Maryam juga pamit kembali ke kamarnya. Begitupun Albert. Pria itu ingin segera kembali ke kamarnya dan melakukan panggilan video bersama Reisya sang kekasih hati. Yang tersisa di ruangan itu adalah Alex beserta keluarga dari istrinya.


"Bagaimana pekerjaanmu Omar, lancar?" tanya Mohammad Yusuf pada putra pertamanya itu.


"Alhamdulillah lancar, berkat doamu ayah."


"Kamu tidak lihat bagaimana bahagianya semua orang di sini jika berkumpul bersama keluarga mereka? dan mempunyai anak seperti Nikita?"


"Maksud ayah apa?" tanya Omar tak mengerti perkataan sang ayah.


"Aku ingin kamu segera menikah dan mempunyai keluarga. Lihat adikmu saja sudah hampir memiliki anak. Jangan sampai hidupmu sia-sia saja kalau tidak mempunyai keturunan."


"Aku juga ingin menikah ayah, tetapi belum tentu ayah setuju dengan pilihanku." ujar Omar dengan wajah menunduk. Melihat Anna tadi yang begitu sangat menarik perhatiannya, membuat hatinya senang sekaligus sedih.


Mereka berbeda keyakinan, apa mungkin ia akan melanggar aturan hanya karena cinta pada seorang gadis yang ia sendiri belum mengenal asal-usul dari gadis itu. Ia merasa dilema.


"Ayah yakin yang kamu pilih pasti sudah kamu pertimbangkan baik dan buruknya. Dan jika mudharatnya lebih banyak maka tinggalkan, toh masih banyak gadis di luar sana yang pasti menginginkan dirimu." jelas Mohammad Yusuf dengan bijaksana.


"Oh, jadi kak Omar sudah punya seseorang ya di hati kakak?" Omar tidak menjawab ia hanya menunduk dan mulai mempertimbangkan perkataan ayahnya.


"Omar? kalau ia baik dan dari keluarga yang baik pula segerakan nak, agar hatimu tenang. Begitu berat menahan perasaan cinta pada seorang gadis." Bibi Sarah ikut memberikan pendapatnya sembari menyentuh tangan dokter muda itu.


"Tetapi ia berbeda dengan kita bibi." ujar Omar dengan suara pelan.


"Berbeda bagaimana maksud kamu nak?" Bibi Sarah menatap Omar dengan wajah penasaran.


"Maksudmu berbeda keyakinan Omar?" tanya Mohammad Yusuf meyakinkan. Ia sudah pernah mendengar putranya ini mengeluhkan tentang semua ini. Jadi semuanya sudah jelas sekarang, putranya menyukai seorang gadis yang ia tahu sangat berbeda dengan mereka semua. Perlahan ia menarik nafasnya untuk melonggarkan dadanya yang tiba-tiba sesak.


"Apa kami mengenalnya Omar?" tanyanya memastikan kecurigaannya. Sedari tadi ia memperhatikan perhatian Omar selalu tertuju pada Anna Peminov, gadis yang ia sayangi seperti anak sendiri karena selalu bertanya padanya tentang sesuatu hal. Gadis muda yang selalu ingin belajar tentang Tuhan meskipun ia mengaku tak beragama.


"Iya ayah." jawab Omar singkat. Ia sudah tidak kuat lagi menyembunyikan rahasia besar ini sendiri. Kejadian tadi siang di ruangannya membuatnya gila. Ia ingin memilki Anna seutuhnya tetapi tak ingin mendapatkan penolakan dari keluarga maupun dari masyarakat Apalagi dari Tuhan.


"Siapa Kak? apakah seorang perawat dari tempatmu bekerja?" tanya Aisyah antusias meskipun ia juga mencurigai Annalah orangnya.


"Anna Peminov." jawab Omar singkat dan langsung mendapat tatapan tajam dari empat pasang mata di ruangan itu.


"Oh, tidak sayang. Bibi tidak setuju. Dia gadis asing yang jelas tidak sama dengan kita." Bibi Sarah langsung berdiri dari duduknya. Ia sangat tidak menyukai gadis itu.


"Kenapa bibi? dulu Alex juga berbeda dan kita juga tidak tahu asal-usulnya, tetapi kenapa bibi mendukung hubungan kami?" tanya Aisyah sedikit kesal dengan tingkah bibinya yang menolak orang tanpa alasan yang jelas.


"Kalian berbeda sayang. Waktu itu kan Alex sudah memeluk agama yang sama dengan kita. Dan juga karena kamu sangat mencintainya, bibi tidak mau kamu bersedih dan menderita."


"Lalu bagaimana dengan kak Omar. Ia juga mencintai Anna yang sudah muallaf." timpal Aisyah lagi dengan suara sedikit lebih keras. Empat pasang mata itu melotot tak percaya dengan perkataan perempuan cantik yang sedang hamil itu.


"MasyaAllah." ujar Mohammad Yusuf sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ada sebuah getaran indah di dalam hatinya mengetahui ini semua.


"Maha besar Kekuasaan Allah, Ia akan memberi petunjuk pada orang yang dikehendakiNya." lanjutnya tanpa bisa menahan cairan bening dari pelupuk mata tuanya. Ia lantas berdiri dan memeluk tubuh putranya yang masih mematung tak percaya akan apa yang ia dengar.


"Bersyukurlah pada Allah nak, ia gadis yang baik."


"Terimakasih ayah."


"Tapi aku tidak setuju kak. Aku tetap tidak menyukainya." timpal bibi Sarah masih dengan kekerasan hatinya.


"Perbaiki hatimu Sarah, Jangan sampai rasa bencimu membuatmu tidak mau menerima kebaikan seseorang. Sungguh tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Semua orang punya sisi baik dan buruk." tegas Mohammad Yusuf sembari tersenyum.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya. Adakah Vote????


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Eits, mau promosi novel aku yang baru nih, mampir yah, cium jauh dari sini 😘😘😘😘, bercerita tentang seorang gadis sempurna yang tak percaya pernikahan karena otaknya udah dicuci oleh sebuah organisasi Emansipasi wanita. Akankah ia mau menjalin hubungan dengan lawan jenis lewat pernikahan???? yuks kepoin.