Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 149 EMHD



Diluar sana, pemandangan malam begitu indah. Cahaya bulan purnama menyinari malam yang semakin larut itu dengan cahayanya yang begitu indah.


Hanya ada kesepian dan kesunyian yang menyelimuti malam bertabur bintang di langit.


Deburan ombak di pinggir pantai yang disertai dengan angin yang cukup kencang malam itu seakan mewakili gelora hasrat yang dialami beberapa pasangan di setiap kamar di Resort itu.


Mereka seakan berlomba memacu dan menggapai nirwana bersama pasangan-pasangan sah mereka.


Bukan cuma pengantin baru yang terbakar gelora kenikmatan dunia itu. Maksim yang juga sangat merindukan sang istri telah berhasil membuka semua penghalang dari tubuh sang istri yang masih tertidur itu.


Dengan penuh rasa rindu, ia mendatangi sang istri dengan penuh kelembutan.


Dimulai dari kedua kelopak mata Maryam ia kecup hingga berhenti di bibir yang sangat ranum itu. Ia meluumatnya hingga si empunya bibir terbangun karena merasa dingin dan juga kehabisan nafas.


"Max, aku dingin," ujar Maryam sembari merapatkan dirinya yang tak berpakaian itu ketubuh suaminya yang juga berpenampilan sama dengannya.


"Aku akan memanaskanmu sayang, nikmati saja okey?" Maryam tersenyum tipis kemudian mencari sesuatu yang bisa mengantarkan panas yang begitu dahsyat kedalam tubuhnya.


"Max,?" pandangan mereka berdua bertemu dengan senyum samar dibibir sang suami.


"Itu milikmu sayang, lakukan dengan lembut ya?" Maryam kembali tersenyum dan mulai berani menggerakkan tangannya yang membuat Maksim mengerang nikmat.


"I Love You Maryam, yes hemm I Like it, aaaakh..." Maksim meracau tak jelas. Maryam sang istri benar-benar sudah pintar memanjakannya.


Sementara itu dikamar pengantin baru, Albert ingin berlama-lama bermain-main dengan sang istri agar Reisya lebih nyaman dan menikmati permainannya. Ia tak mau terburu-buru, malam ini masih panjang dan akan ia habiskan semalam suntuk bersama Reisya tersayang.


"Al, Aaakh plis," suara Reisya bergetar memohon. Ia sudah sampai ke puncak berkali-kali hanya dengan permainan jari sang suami.


"Tidak semudah itu sayang, kamu tak akan kulepaskan begitu saja," bisik Albert ke kuping istrinya yang sudah nampak tak bertenaga.


Pria tampan itu mengangkat tubuh istrinya yang sudah lemas itu ke atas ranjang dan mulai membuka pakaiannya satu-satu.


Ia kemudian membuka perlahan pakaian Reisya yang sudah sangat berantakan itu dengan lincah. Sesuatu yang sering ia lakukan dulu ketika masih menjadi Cassanova nakal.


Hingga mereka berdua sudah tampak polos tanpa penghalang sedikitpun.


"Reisya, kamu indah sekali sayang," puji Albert dengan pandangan mata memuja kepada sang istri yang nampak sangat cantik dengan posisinya sekarang.


Kulit asli orang Indonesia yang eksotis dan juga bentuk yang sangat proporsional di mana-mana. Alber tersihir dan mulai mengikis jarak diantara mereka berdua.


Tetapi Reisya segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia merasa risih ditatap oleh mata lapar sang suami.


Matanya sendiri tak lepas memandang pahatan tubuh kekar dihadapannya yang begitu sempurna.


Roti sobek yang pastinya digilai semua perempuan termasuk dirinya kini terpampang nyata dihadapannya seakan meminta untuk disentuh dan dimiliki.


Hingga pandangannya semakin ke bawah dan membuatnya tercekat dan merinding.


"Al, kamu membawa rudal dari Rusia ke sini?" tanya Reisya dengan semburat merah diwajahnya. Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak kuat akan pesona pria tampan dihadapannya yang membuatnya lupa diri.


Gelenyar aneh kembali merambat ke saraf-sarafnya, ia diam-diam memuja Albert cilik dalam hati tetapi juga Ada rasa khawatir dengan ukuran senjata yang dimiliki oleh suaminya itu.


"Reisya," panggil Albert dengan suara pelan, ia membuka telapak tangan sang istri dengan hati-hati.


"Ada apa sayang?" tanyanya pada perempuan yang sudah sah ia sentuh itu.


"Aku..."


"Kenapa? takut?" Reisya mengangguk dengan wajah malu. Albert segera meraih tangan istrinya itu dan mengarahkannya pada inti dirinya yang Reisya bilang Rudal Rusia itu.


"Ia sudah lama menantikanmu Reisya, berkenalanlah, Hem." bisik Albert dan langsung meraih bibir Istrinya itu dengan ciuman panas.


Sedangkan tangannya sendiri bergerak bebas mencari gundukan lembut dan kenyal yang begitu menantangnya ingin diremasss. Mata Reisya membola tak percaya dengan apa yang ia pegang sekarang. Ribuan rasa kembali menghantamnya.


Racauan dan dessahan semakin membuat dirinya frustasi.


Ia Heran kenapa sang suami belum juga move on dari cumbuan dari seluruh tubuhnya padahal mereka berdua sudah sangat siap. Sampai ia merasakan nikmat dan lelah yang sangat.


"Al, plis..." Sekali lagi ia memohon dengan menjambak rambut suaminya yang tak bosan menghissap dirinya yang sudah tak berdaya.


"Here we go honey, be relax okey? bisik Albert dan mulai membuka tubuh istrinya.


"Al! stop it! You hurt me!" teriak Reisya tak sadar hingga suaranya bukan lagi desssahan tetapi benar-benar teriakan di tengah malam yang sunyi itu.


Tangannya mencakar bahu Albert dengan keras karena merasakan sakit yang teramat sangat di daerah intinya ketika di Rudal itu benar-benar mendarat dan menukik tajam ke dalam dan dengan sekali hentakan merobek selaput daranya.


"Al, stop it, please. You hurt me!" teriak Reisya sekali lagi dengan air mata yang mulai berlinang di pelupuk matanya.


"Sssst! Every one can hear you honey," bisik Albert kemudian mencium bibir sang istri lama, agar ia kembali relax.


"Hentikan Al, aku tidak kuat..." ujar Reisya dengan bisikan disela-sela ciuman suaminya. Rasa perih semakin terasa kini.


"Aku tidak bisa berhenti sekarang sayang, sabar yah, kamu bisa menggigit ini untuk sementara waktu," ujar Albert sembari memberikan selembar kain yang ternyata adalah bra berenda milik istrinya sendiri.


Antara merasa lucu dan juga sakit. Reisya mengikuti saran suaminya. Ia benar-benar mengigit benda itu agar ia tidak berteriak kalau suaminya kembali menggoyangnya.


Ingin ia memberontak tetapi apa daya ia tak ingin mengecewakan sang suami yang sudah membuatnya melayang berkali-kali tadi.


Sekaranglah saatnya ia menyerahkan dirinya agar Albert juga melakukan pelepasan yang nikmat didalam dirinya.


"Kamu sempit sekali Reisya, aaaakh." erang Albert sembari terus memacu dirinya. Reisya tidak bisa berkata-kata karena mulutnya ia bungkam dengan tangannya sendiri setelah melepaskan kain berenda itu.


"Panggil namaku Reisya, plis." erang Albert ketika pelepasan itu hampir sampai.


"Reisya..."


"Albert..."


Keduanya bersamaan memanggil nama sang kekasih hati ketika mereka berhasil menggapai puncak bersama.


"Love you Reisya, terima kasih." ujar Albert pelan kemudian tumbang disamping istrinya.


"Love you, too. Albert," jawab Reisya kemudian mengecup lembut bibir sang suami.


"I know it," Albert membelai rambut sang istri lembut. Ia langsung bangun dan membawa Reisya ke kamar mandi untuk membersihkannya agar bisa tidur dengan nyaman di sisa malam itu yang sebentar lagi pagi menjemput.


*Al, stop itu, You hurt me! : Al, hentikan! Kamu menyakitiku!


*Every one can hear you: Semua orang bisa mendengarmu.


----Bersambung---


Hai readers tersayangnya othor, masih semangat gak nih? jari othor kok pegal ya seperti jarinya babang Al hihihi.


Like dan komentarnya dong...


Ada bungakah???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Eits, mampir di sini dulu dong sambil menunggu babang Albert beristirahat, dijamin oke punya.