Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 75 EMHD



"Mommy, makanlah dulu," ujar Nikita dengan mengelus lembut tangan Aisyah. Gadis kecil itu bersama Anna Peminov membawakan bermacam-macam makanan dalam sebuah nampan ke depan Aisyah. Perempuan itu hanya menatap Nikita kemudian memeluknya erat. Ia kembali menangis. Rasa sedih kembali menghampiri hatinya.


"Mommy, kamu seperti Daddy yang selalu memelukku seperti ini, aku kan tidak bisa bernafas." gerutu Nikita sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Aisyah.


"Mommy minta maaf ya Niki. Karena membawamu kesini tanpa izin Daddy." ujar Aisyah kemudian menghapus air matanya yang masih saja terus menetes di pipinya yang mulai tirus karena kesedihan tak berkesudahan. Ia juga jarang makan.


"Tidak apa mommy, aku juga marah sama Daddy. Aku tidak mau bertemu Daddy lagi. Dia jahat." ujar Nikita dengan mata berkilat marah.


"Hush. Jangan berkata seperti itu, sayang." ujar Aisyah sembari meraih tubuh Nikita agar duduk disampingnya. Ia juga marah dan benci pada suaminya itu, tetapi kalau ia mendengar ada orang lain yang mengatakan hal yang sama, ia justru tidak suka. Hanya ia yang berhak marah dan benci pada Alex.


"Daddy tidak sayang sama kita kan, mom? lihat ia bersama para wanita-wanita nakal itu. huuuuu." Nikita akhirnya meraung dengan keras. Ia sangat sedih akan kelakuan Alexander Smith sang Daddy yang selama ini ia percaya hanya menyayangi dirinya dan mommy Aisyah.


Perempuan cantik bersatus istri Alexander itu kembali menitikkan air mata, hatinya hancur sehancur-hancurnya. Ia merasa dihianati oleh ketua klan Smith itu. Bayangan foto-foto itu berkelebatan lagi dalam ingatannya. Bagaimana Alex sang suami mencium mesra seorang perempuan cantik di depan umum dimana ada Maksim dan Albert di sana.


Mereka semua tahu kelakuan bejat sang suami tapi tak ada yang menceritakannya padanya. belum lagi perempuan-perempuan lain yang telah mengaku kalau menjadi simpanannya selama ini.


"Nyonya, makanlah dulu. Beberapa hari ini anda cuma minum susu saja." ujar Anna Peminov sembari membuka penutup makanan yang menampilkan makanan kesukaan nyonya Smith itu. Seketika Aisyah menutup mulutnya dan langsung mual. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Anna langsung memanggil bibi Sarah yang selama berada di dapur untuk meminta pertolongan.


Perempuan paruh baya itu segera masuk ke kamar keponakannya dengan membawa minyak kayu putih untuk dibalurkan pada tubuh Aisyah yang ia yakini sedang masuk angin.


Bibi Sarah meminta Anna Peminov, gadis cantik dan tomboi itu untuk menunggu di luar saja. Ia belum terbiasa dengan gadis asing yang menemani Aisyah datang ke Dagestan ini tanpa Alex, suaminya. Meskipun Aisyah sudah mengatakan kalau gadis itu adalah orang kepercayaan suaminya.


Ia mulai membuka pakaian yang dipakai Aisyah agar bisa bebas mengurut tubuh anak perempuan Mohammad Yusuf itu.


"Kamu sepertinya masuk angin karena tidak pernah makan sayang." ujar bibi Sarah yang terus mengurut punggung Aisyah.


"Mommy, kamu sakit karena Daddy." ujar Nikita yang ikut memijat kaki Aisyah. Ia mulai ingin menangis lagi karena mommynya selalu menangis saja dan berakhir muntah-muntah.


"Nikita sayang, aku semakin mual kalau kamu menyebut daddymu di sini." ujar Aisyah sembari menutup matanya menikmati sentuhan lembut tangan bibi Sarah pada punggung dan seluruh badannya. Ia merasa santai sekarang.


"Kamu makan ya, semakin hari badanmu semakin kurus. Lihat, tulang-tulang ini semakin menonjol di bagian sini." ujar Bibi Sarah sembari meraba tulang selangka Aisyah yang memang semakin kentara karena mulai mengurus. Sudah hampir 1 bulan ia ada di Rumah Ayahnya dan hanya menangis serta muntah saja yang ia lakukan.


"Bibi sudah memasak bubur untukmu. Kamu harus makan supaya kuat sayang." ujar Bibi Sarah kemudian menutup tubuh keponakannya itu dengan selimut tipis. Aisyah mengangguk. Ia memang sangat lapar setelah minyak itu bereaksi dan memberikan kehangatan pada tubuhnya. Bibi Sarah berdiri kemudian keluar dari kamar itu menuju dapur untuk mengambil bubur yang sudah ia masak dengan sepenuh hati itu.


Mohammad Yusuf yang sedang duduk di depan kamar Aisyah hanya menatap Sarah adiknya yang sibuk mengurusi anak perempuannya itu dengan wajah sedih.


"Alhamdulillah, Aisyah sudah menghabiskan buburnya. Semoga ia tidak memuntahkannya lagi." jawab Sarah sembari menutup matanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ia duduki sekarang.


"Sebaiknya kita membawanya ke Rumah Sakit. Ia butuh perawatan yang terbaik." ujar ayah Aisyah itu dengan wajah khawatir.


"Kakak betul sekali, Aisyah butuh perawatan khusus, semakin hari tubuhnya lemah dan juga kurus. Dan juga sepertinya putrimu itu sedang hamil." ujar Sarah kemudian menegakkannya tubuhnya dan menatap kakak laki-lakinya itu intens.


"Hamil?" tanya Mohammad Yusuf dengan wajah kaget.


"Alhamdulilah. Kita akan segera menimang cucu. Aku akan memberi tahu Omar." lanjutnya lagi dengan wajah bahagia.


"Kenapa memberi tahu Omar, kak?" tanya Sarah bingung. "Omar kan bukan suaminya Aisyah, kenapa bukan suaminya saja?" lanjut Sarah masih dengan wajah bingungnya.


"Aku kan tidak tahu nomor telepon Alex. Biar dia saja yang memberi tahu pria itu." jawab Mohammad Yusuf dengan wajah berubah tidak enak dipandang. Ia sangat kecewa pada pria yang telah memperistri putrinya itu karena sekali lagi membuat Aisyah menangis dan menderita. Meskipun putrinya itu tidak mengatakan penyebabnya pulang ke rumah ini tanpa suaminya. Ia sudah bisa menebak kalau sebuah masalah besar pasti terjadi diantara suami dan istri itu. Apalagi ini sudah sebulan Aisyah di sini dan suaminya bahkan belum juga datang menjemputnya.


"Baiklah kakak hubungi saja Omar setelah kita pastikan Aisyah benar-benar hamil." ujar Sarah Kemudian melangkah ke kamar Aisyah lagi untuk mempersiapkannya agar mau ke Rumah Sakit terdekat untuk memeriksakan dirinya.


🍁


Sudah sebulan ini Alex bagai mayat hidup. Setelah ia mengkonfirmasi berita-berita miring tentang dirinya di sosial media. Ia menjadi pria yang sangat aneh. Kerjanya hanya mondar-mandir tidak jelas di dalam rumah.


Penampilan Alex sangat tidak terawat kini. Bulu-bulu lebat diwajahnya yang tak pernah ia cukur semakin menambah kekusutan wajah dan pikirannya. Maksim dan Albert hanya bisa menatapnya dengan wajah khawatir. Mereka berdua takut bosnya itu akan menjadi orang gila jika lama tidak bertemu kekasih hatinya.


Mereka sudah mencari informasi tentang keberadaan Aisyah dah Nikita tetapi belum juga membuahkan hasil. Mereka menaruh curiga pada Anna Peminov yang juga menghilang bertepatan dengan kedua orang kesayangan Klan Smith itu meninggalkan rumah. Hal itu membuat mereka semua menjadi mata-mata di Rumah Omar dan juga Rumah Sakit tempat Omar bekerja. Pasalnya pria itu sama sekali tidak nampak khawatir akan menghilangnya Aisyah sang adik.


Mereka mengikuti setiap pergerakan Omar. Alexander Smith mencurigai kakak iparnya itu tahu sesuatu tapi tidak mau memberi tahunya.


---Bersambung--


Like dan komentarnya dong supaya othor tetap semangat update nya,


Hadiah dan Vote sangat othor harapkan hehehe.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍