
Albert yang sudah lama duduk dengan rasa penasaran yang tinggi di ruang tunggu segera mendatangi panitia kursus seni.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya panitia itu dengan sopan. Sedari tadi ia perhatikan pria ini pasti sedang dalam masalah karena ia hanya sibuk mondar-mandir tidak jelas.
"Oh iya betul. Saya sedang butuh informasi tentang seorang perempuan muda berhijab yang masuk ke kantor ini tadi." jawab Albert sembari mengingat ciri-ciri khusus dari Aisyah yang ia lihat tadi. Panitia itu langsung berpikir sejenak.
"Namanya tuan, apakah anda tahu namanya siapa, kebangsaannya apa? karena hari ini kami banyak menerima tamu dari peserta kursus."
"Namanya Aisyah dan ia adalah orang Rusia. Usianya sekitar 23 tahun."
"Mohon maaf, anda siapa kalau boleh tahu? kami tidak bisa memberikan informasi tentang data seseorang sembarangan."
"Saya saudaranya, Albert Smith." jawab Albert mantap.
"Oh baik." jawab Panitia itu kemudian membuka daftar peserta kursus hari ini.
"Mohon maaf tuan, tidak ada peserta kursus yang bernama Aisyah di sini." jawab Panitia setelah membuka catatannya tentang daftar nama-nama peserta kursus.
"Bagaimana dengan daftar tamu yang datang, pasti ada kan? karena saya melihatnya tadi masuk ke kantor ini." ujar Albert lagi dengan kesan terburu-buru.
Panitia itu tersenyum dan kembali membuka buku tamunya.
Drrrrrt
Drrrrrt
Drrrrrt
Bunyi handphone Albert begitu mengganggu suasana ruangan yang hening itu. Dengan segera ia mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Omar.
"Waalaikumussalam. Ada apa tuan Omar?"
"Oh masih ada masalah ya. Saya akan segera kesana. Tunggu saja beberapa menit." jawab Albert setelah tahu Omar masih berada dalam masalah yang membelitnya. Setelah itu ia pun menutup panggilan telepon itu kemudian segera berlari keluar ruangan dan mengambil mobilnya. Ia harus segera ke Rumah Sakit tempat saudara laki-laki Aisyah itu bekerja.
"Tuan Smith. Ini daftar tamunya!" teriak sang panitia saat melihat ada nama Aisyah di sana. Tetapi tubuh Albert sudah semakin jauh. Pria itu begitu cepat langkahnya sudah menghilang.
"Ya sudah." ujar panitia itu dalam hati.
🍁
Aisyah masih menunggu di luar kelas dengan hati berdebar tak karuan. Tangannya sampai berkeringat dingin dibuatnya. Reisya jadi merasa khawatir karena sahabatnya itu mondar mandir di depan kelas seperti itu dengan wajah tak biasa.
"Duduk dulu lah, ada apa sih?" tanya Reisya khawatir. Gadis itu memberinya sebotol air mineral agar Aisyah bisa menenangkan dirinya.
"Tidak apa, aku hanya merasa mengenali seseorang di dalam sana. Seorang peserta kursus angklung." jawab Aisyah dengan perasaan lebih tenang setelah meminum air putih itu.
"Oh, yang itu. Sabar saja dulu mereka akan keluar dari kelas setelah pukul 12.00. jadi bagaimana kalau kita cari makan dulu, aku lapar." ujar Reisya kemudian menarik tangan Aisyah yang masih terasa dingin itu ke kantin.
Putri Mohammad Yusuf itu menolak dan bertahan tak mau ikut, ia takut Nikita akan pergi tanpa ia bisa lihat lagi kalau ia meninggalkan tempat itu.
"Hey tenanglah, mereka masih lama belajarnya. karena mereka cuma masuk 2 kali sepekan." jelas Reisya memberi alasan.
"Hum, baiklah aku ikut denganmu." ujar Aisyah pada akhirnya karena gadis itu pasti akan memaksa nya juga akhirnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Reisya pada saat mereka sudah sampai di kantin. "Semua masakan Indonesia ada di sini. Jadi kami yang perantau masih bisa mengobati rindu dengan kampung halaman jika makan di tempat ini."
"Makanan apa saja namanya?" tanya Aisyah penasaran.
"Nih menunya," Reisya menyerahkan daftar menu itu ke tangan sahabatnya itu.
"Bakso, sepertinya enak." ujar Aisyah saat melihat gambar di dalam daftar menu itu.
"Oh iya itu bagus untuk menghangatkan tubuh seperti sup Borscht yang enak dimakan hangat-hangat." jawab Reisya semangat. Ia seperti seorang duta kuliner masakan Indonesia yang sibuk menjelaskan ini dan itu.
"Okey aku pesan bakso dengan saus pedas." ujar Aisyah sembari tersenyum. Ia ingin merilekskan otak dan perasaannya untuk sementara waktu dengan memakan makanan berkuah.
Setelah beberapa menit menunggu. Pesanan mereka pun datang.
"Ini untuk apa?" tanya Aisyah lagi bingung.
"Rasa bakso tak akan lengkap kalau tidak ada jeruk nipisnya." jawab Reisya kemudian menghirup kuah bakso yang masih berasap itu dengan sangat nikmat.
"Hem, sedaap." lanjutnya lagi dengan ekspresi yang sangat menarik layaknya seorang bintang iklan makanan. Aisyah turut mencicipi kuah bakso nya dan langsung melotot lucu.
"Masya Allah, Ini enak sekali." ujar Aisyah meniru gaya Reisya makan.
"Negara kami terkenal dengan rempah-rempahnya dan juga bumbu dapurnya. Hingga banyak negara asing yang menjajah Indonesia karena ingin mengambil kekayaan alam kami." jelas Reisya sambil mengunyah bulatan-bulatan daging itu dengan nikmat.
"Aku percaya sekarang. Ini baru bakso ya, sebentar kita pesan yang lain. Aku mau mencoba gado-gado." ujar Aisyah sembari ikut mengunyah bulatan bakso itu yang terasa sangat nikmat dilidahnya.
Setelah mereka makan satu porsi. Aisyah benar-benar memesan gado-gado karena penasaran dengan rasanya.
"Alhamdulillah, begitu banyak nikmat yang Allah berikan." ujarnya setelah menghabiskan seporsi gado-gado itu. Reisya sampai tertawa dibuatnya.
"Kamu tahu? kamu seperti gadis yang tidak pernah makan selama seminggu, hahaha." ujar Reisya dengan tawa lucunya.
"Aku terlalu tegang karena akan berjumpa dengan seseorang, jadi aku imbangi dengan makan yang banyak." jawab Aisyah dengan dada berdebar. Ia melihat jam tangan kecil dipergelangan tangannya.
"Sepertinya kita harus kembali ke kelas itu lagi. Takut anak itu pulang dan aku tak bisa bertemu lagi dengannya." ujar Aisyah kemudian melangkah ke arah kasir untuk membayar makanannya tadi.
"Hey, aku yang traktir. Lain kali kalau kamu mengajakku makan makanan khas negara ini, baru kamu yang bayar, okey?" ujar Reisya dan menyerahkan uang Aisyah ke telapak tangan gadis itu.
"Baiklah, terimakasih." ujar Aisyah tersenyum sambil memikirkan makanan apa yang cocok untuk lidah orang Indonesia seperti Reisya.
Setelah urusan pembayaran selesai, mereka berdua melangkah dengan cepat ke arah kelas Nikita. Sisa 5 menit lagi anak itu keluar dari kelasnya. Aisyah menunggu dengan harap-harap cemas.
Tringgggg!
Bel berbunyi panjang menunjukkan waktu belajar kursus seni itu selesai. Anak-anak peserta kursus langsung berhamburan keluar ruang kelas. Aisyah menunggu di depan pintu dengan dada berdebar hebat. Ia tak sabar memeluk gadis kecilnya itu yang sudah lama ia rindukan.
"Nikita!" serunya saat melihat gadis kecil berambut pirang itu keluar dari pintu. Nikita yang dipanggil langsung menoleh dan menatap Aisyah dengan wajah bingung.
"Anda siapa? apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nikita dengan pandangan polosnya.
Deg
Tubuh Aisyah menegang, debaran di dadanya semakin menggila. Tak terasa air matanya jatuh.
"Nikita tidak mengenaliku lagi, ia melupakanku." bisiknya dengan hati pilu.
"Aku..."
"Nikita, ayo kita makan di kantin dulu baru pulang." ajak seorang gadis seumuran dengan Nikita yang langsung menarik tangan gadis itu menjauh dari tempat Aisyah menunggu. Nikita menjauh tanpa merespon kembali ucapannya.
Aisyah merasakan langit runtuh di depannya. Air matanya semakin keluar menganak sungai di pipinya. Ia berlari dari tempat itu ingin menenangkan diri. Ia terlalu sedih karena dilupakan.
Bugh
Tak sadar ia menabrak tubuh tinggi besar seseorang di hadapannya.
"Aisyah?"
----Bersambung---
Siapakah yang ditabrak oleh Aisyah????
Nantikan kisahnya sebentar sore hehehehe.
Yang penasaran ayok bagi bunga sekebon dan juga kopi secangkir biar othor semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍