
Nikita menyimak kalimat-kalimat permintaan maaf yang diucapkan oleh William Anderson.
Pria tua yang sedang berbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit itu tampak sangat menyesal dan juga sangat menderita.
Selama hampir 20 tahun ia menghabiskan waktunya sendiri dan tidak menikah lagi.
"Maafkan ayahmu ini Pal, ibumu pasti sangat menderita sekali saat itu," ujar William Anderson sembari menyusut airmata yang tiba-tiba memaksa keluar dari pelupuk mata tuanya.
Nikita hanya diam tetapi merasakan hatinya juga menghangat. Entah perasaan apa yang ia miliki pada pria tua ini tetapi ia merasa sangat dekat dengannya seperti perasaannya pada kakek Mohammad Yusuf.
Ah, tiba-tiba saja matanya juga berkaca-kaca. Ia rindu pada sosok kakek Mohammad Yusuf yang seumuran dengan pria tua ini. Kakek yang selalu memberinya cinta dan kasih sayang seluas samudera.
"Apakah kamu memaafkan ayahmu ini Pal?" tanya William Anderson saat melihat Nikita ikut menyusut airmatanya.
Pria tua itu menggapai tangan gadis itu berniat ingin menggenggamnya, tetapi Nikita bergeming hingga ia merasakan sebuah moncong pistol kembali menyentuh bagian pinggangnya barulah ia bergerak membalas genggaman tangan William Anderson.
"Iya ayah, aku memaafkanmu, dan cepatlah sembuh." ujar Nikita pelan dan bergetar menahan rasa yang ia tidak tahu apa. Hatinya benar-benar seperti sedang berada dalam dua dimensi.
"Apa kamu sudah menikah nak? kenapa wajahmu masih sama seperti 20 tahun yang lalu?"
Deg
Crisstoffer Anderson merasakan jantungnya berhenti berdetak.
Apa mungkin mata tua itu masih bisa membedakan mana gadis muda dan juga mana yang seharusnya tua.
Nikita juga merasakan dadanya berdebar hebat karena sepertinya penyamarannya akan segera ketahuan.
Dan ia berharap akan membongkar saja semuanya agar pria psikopat ini merasa malu dengan perbuatannya membohongi kakeknya sendiri.
"Ah ayah, aku..." belum juga ia melanjutkan kata-katanya, Crisstoffer Anderson langsung memotong kata-katanya.
"Kakek, kamu lupa bagaimana kehebatan teknologi sekarang ini. Orang tua bisa menjadi muda dan bahkan bisa berubah jadi bayi." William Anderson tersenyum tipis kemudian kembali menatap wajah Nikita yang ia sangka Paula.
"Ada yang ingin kamu katakan Pal?" tanya William Anderson sembari meringis. Ia sepertinya merasakan sakit lagi pada tubuhnya. Penyakit kanker prostat yang ia alami sekarang ini sudah pada stadium lanjut.
"Kakek, sebaiknya kamu istirahat. Yang terpenting sekarang adalah bibi Paula sudah berada di sini bersamamu." ujar Crisstoffer Anderson kemudian memperbaiki posisi tidur sang kakek.
"Iyyakan bibi?" tanya Crisstoffer Anderson sembari menyeringai kejam pada Nikita. Gadis itu langsung membuang muka ke samping. Baru kali ini ia membenci orang sampai ke tulang-tulangnya.
"Iyya betul itu ayah, aku akan menemanimu di sini sampai kamu sembuh." ujar Nikita dengan senyum tipis dibibirnya.
"Kakek, aku ada urusan di luar sebentar. Nikmati harimu bersama dengan bibi Pal." ujar Crisstoffer Anderson sembari menatap tajam wajah Nikita. Ia memberi pesan pada gadis itu agar berhati-hati berlaku di depan pria tua itu agar tidak ketahuan.
"Cepatlah kembali, dan antar bibimu pulang ke rumah."
"Iya kakek," jawab Pria itu dan langsung meninggalkan ruang perawatan kakeknya. Ia sedang ada urusan di Rumah Sakit itu karena ia juga menjadi dokter umum di tempat itu.
Nikita mengikuti langkah Crisstoffer Anderson lewat pandangan matanya. Pria itu berjalan ke arah pintu dan tak sengaja matanya bertemu pandang dengan Andreas, asisten Wiliam Anderson.
Pria paruh baya itu mengangguk pelan dan Nikita pun melakukan hal yang sama.
"Apa yang kamu butuhkan ayah?" tanya Nikita saat memandang kembali wajah pria tua itu yang nampaknya belum mau tidur atau beristirahat.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu. Entah siapa kamu sebenarnya. Karena kehadiranmu di sini membuat rinduku sedikit terobati."'
"Apa maksudmu ayah?" tanya Nikita tidak mengerti akan apa yang diucapkan oleh pria tua itu.
Deg
Nikita merasakan dadanya kembali berdebar. Rupanya pria tua ini tahu siapa dirinya. Tetapi ia kemudian tersenyum karena ia yakin ia pasti bisa segera pulang ke rumahnya sendiri setelah ini.
"Anak nakal itu berani membohongiku, padahal aku tidak mungkin salah mengenali orang. Putriku seharusnya berusia hampir 40 tahun sekarang ini dan kamu pasti usiamu baru sekitar 18 tahun, iyyakan?"
"Kenapa tebakan anda bisa tepat sekali tuan?" tanya Nikita yang sekarang merubah panggilan ayah menjadi tuan. Karena ia tahu sudah tidak berguna lagi ia melakukan penyamaran yang sudah terbongkar.
"Aku ini pernah jadi pencuri dan penipu sampai puluhan tahun dan aku sudah biasa dengan penyamaran." Nikita tersenyum lebar dengan pengakuan pria tua dihadapannya. Pria yang sangat bangga telah melakukan banyak kejahatan.
"Crisstoffer itu lupa kalau aku adalah masternya, hahaha, aaaakh."
"Tuan..." Andreas segera mendekat karena sepertinya William Anderson sudah terlalu banyak bicara hari ini. Pria tua itu langsung mengangkat tangannya pada asistennya itu. Menunjukkan kalau ia masih bisa menahan rasa sakitnya.
"Siapa namamu nona?" tanya William Anderson pada Nikita.
"Aku Nikita Smith dari Moskow." jawab Nikita dengan wajah gembira. Setidaknya ia akan menunjukkan dirinya yang sebenarnya sekarang ini meskipun ia belum tahu apakah ia akan segera kembali ke rumahnya atau tidak.
"Oh Moskow? aku punya banyak kenangan di kota itu. Aku jatuh cinta dengan gadis Moskow dan mempunyai dua orang anak. Ayahnya Crisstoffer dan juga Paula."
"Tetapi sebuah peristiwa besar yang membuat aku meninggalkan Paula dan ibunya sedangkan aku membawa ayah Crisstoffer bersamaku," William Anderson tiba-tiba merasakan sakit yang teramat sangat dibagian bawah tubuhnya sampai ke kakinya.
"Andreas panggilkan dokter!" teriaknya pada asistennya.
"Baik tuan," pria paruh baya itu segera keluar dari ruangan perawatan itu untuk memanggil dokter.
"Apa yang bisa aku lakukan tuan?" tanya Nikita dengan wajah khawatir. Ia segera menghampiri pria tua itu dan berniat untuk memberikan perawatan.
"Apa kamu mau merawat aku di sini, nona? aku hanya ingin menikmati masa-masa sebelum ajal menjemput dengan merasakan sebuah keluarga yang utuh, meskipun itu tak mungkin." tanya William sembari menatap mata gadis cantik itu yang sangat mirip dengan Paula. Nikita tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah, aku akan berada di sini menemanimu, tapi bolehkah aku meminta sesuatu tuan?" tanya Nikita dengan pandangan memohon.
"Katakanlah," William Anderson merasakan dadanya berdebar. Mata gadis itu dan pandangannya mengingatkannya pada putrinya, Paula. Cara putrinya itu menatap dan juga memohon.
"Aku muslimah tuan. Dan aku ingin beribadah sesuai keyakinan aku dengan bebas, bolehkan?" tanya Nikita dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Hati William Anderson kembali menghangat. Ingin ia memeluk gadis asing ini karena merasa nyaman dan juga rindu. Mereka berdua begitu sangat mirip.
Apa mungkin gadis ini adalah putri dari Paula? batinnya.
Itu berarti mungkin saja gadis ini adalah cucunya sendiri.
Tapi ia seorang muslimah, ah tidak mungkin. Kami dari dulu tidak memiliki keyakinan. Kami tidak mempercayai Tuhan dalam hidup kami.
"Baiklah, kamu bebas melakukan ibadahmu."
"Terimakasih banyak tuan, semoga hatimu dilembutkan untuk menerima hidayah dari Tuhan, aamiin."
William Anderson hanya terdiam. Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh gadis cantik itu. Karena sesungguhnya ia dan keluarganya tak pernah mengenal Tuhan selama ini. Mereka hanya mengenal cara bertahan hidup dengan menghancurkan kehidupan orang lain.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍